
Zayn masih saja mengaduk-aduk minuman dingin yang di pesannya itu. Pria itu seakan terbawa oleh pikirannya sendiri lewat adukan sendok kecil yang di pegangnya. Seperti sedang memendam sebuah beban yang amat ia pikirkan, terlihat jelas dari kerutan tipis di keningnya.
Tommy masih menunggu Zayn memulai pembicaraannya, hingga minuman miliknya sudah tandas, ternyata Zayn belum membuka sesuatu yang membuatnya berkerut seperti saat ini. Akan tetapi pria itu memilih diam saja sebelum sahabatnya itu sudah siap untuk menceritakan kepergiannya tempo hari itu.
"Bokap gue sakit." Zayn akhirnya membuka obrolannya.
Tommy pun sudah siap mendengarkan segala curhatan Zayn lewat muka seriusnya.
"Gue harus cepet wisuda, Tom, biar gue bisa cepet cari kerja."
Tommy tersenyum mengangguk pada Zayn. Tommy menyadari pengorbanan sahabatnya itu sungguh besar, menunggu dirinya lulus bersama dan merayakan wisuda bersama juga.
"Sorry ya." Tommy berucap dengan sendu.
Tommy sangat merasa bersalah pada Zayn yang sudah sedia menunda waktu wisudanya karenanya. Meski awalnya Tommy tak setuju dengan keputusan Zayn menunggu dirinya, tapi sahabatnya itu adalah tipekal orang yang keras kepala dengan keputusan yang telah ia perbuat. Jadi tak kan semudah itu Zayn akan menyutujuinya kecuali sangat terdesak oleh keadaan seperti saat ini.
"Sepertinya gue harus terima tawaran pekerjaan di Batam itu, Tom."
Tommy mengangguk setuju. Mungkin lebih baik harus demikian.
Sebelumnya Zayn memang sudah di tawari pekerjaan yang sesuai dengan bidang keahliaannya oleh kenalan rekan bisnis pamannya untuk bekerja di sebuah perusahaan yang masih merintis di Batam. Selain gaji yang dihasilkan terdengar lumayan, jabatan yang akan ia terima di sana juga sepadan dengan otaknya yang brilian, yaitu sebagai sekretaris pribadi direktur utama.
"Bokap lo sakit apa?"
"Ginjal." Zayn menjawab singkat, namun terlihat jelas dari wajah pria itu sangat tak tenang.
Empat hari menghilangnya Zayn ialah karena ia sedang pulang ke rumahnya di Yogyakarta. Setelah mendengar bapaknya dirawat di rumah sakit, Zayn langsung menyusulnya sehingga lupa untuk sekedar memberi kabar pada Tommy.
"Tom, skripsi lo gimana? Belum ada kemajuan?" Zayn masih tidak rela kalau ia tidak bisa merayakan wisuda bareng dengan sahabatnya itu.
"Udah lulus revisi sih, tinggal sidangnya besok."
"Besok?" Zayn terlihat berbinar mendengar kabar dari Tommy. Itu tandanya berarti kalau Tommy besok dinyatakan lulus, mereka tetap bisa wisuda bareng juga.
Tommy mengangguk cemas. Ia takut besok tidak akan sesuai kenyataan dan akan mengecewakan Zayn lagi. Karena sebenarnya dirinya juga ingin merayakan wisuda bareng dengan sahabatnya itu.
"Ehem!" Tommy berdeham yang dibuat-buat.
"Semoga di Batam lo bisa nemuin cinta lo di sana. Amin," lanjutnya sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya, setelah ia memanjatkan do'a buat Zayn.
"Cinta gue tetep disini." Zayn langsung menolak do'a yang di lontarkan Tommy padanya.
Tommy tercengang mendengar ucapan Zayn. "Siapa? Lo masih ngarepin Ara?" Tanyanya penasaran.
"Emang nggak boleh? Selama janur kuning masih belum melengkung kan?"
__ADS_1
"Ya kalo itu terserah lo aja sih."Tommy tertawa kecil mendengar pengakuan Zayn yang terkesan ingin merebut Ara dari genggaman Keanu.
"Cuma pesen gue hati-hati aja."
"Santai aja lah, Tom, gue gak mungkin jadi perusak hubungan orang. Gak mau gue."
"Nah, trus?" Tommy dibuat tak paham dengan maksud terselubung Zayn.
"Gue do'ain hubungan mereka gak akan lama."
"Anjiiiirr..... Jahat bener lo!" Tommy dibuat terkekeh dengan pengakuan Zayn itu.
Semenjak mengenal apa yang namanya cinta Zayn sudah banyak berubah menurut Tommy.Ia yang pada dasarnya pendiam kini sudah mulai sedikit banyak bicara. Apalagi kalau membahas tentang Ara.
Dan juga Zayn sudah mulai tidak malu-malu lagi untuk mengutarakan apa saja yang dirasakan hatinya.
Ternyata cinta itu memang sanggup merubah karakter seseorang. Betul gak Reader's? 😁
"Eh, lo kira-kira tau gak Ara sukanya apa?" Zayn mulai kepo tentang segala yang disukai oleh Ara.
"Emm, udah mulai kepo nih?"
"Gak usah ngeledek, tinggal jawab tau apa gak, susah amat."
"Gak tau gue."
"Mending lo cari tau sendiri deh. Gue kalo udah di dekat Sisil bawaannya pingin segera halalin dia. Gemmeess!"
Zayn menatap jengah pada Tommy yang ternyata lebih parah bucinnya ketimbang dirinya yang sama-sama lagi naksir cewek.
"Eh, gebetan lo tuh." Zayn mengarahkan Tommy pada Sisil yang sedang kebingungan mencari tempat duduk di kantin ini.
"Sisil!" Tommy melambaikan tangannya, bermaksud mengajak Sisil bergabung satu meja dengannya.
Namun ternyata Sisil hanya menoleh dan enggan untuk menemui Tommy yang masih terus melambaikan tangannya.
Zayn tertawa kecil mendapati Sisil yang terlihat sangat cuek pada Tommy.
"Gue samperin aja dah." Tommy sudah mulai tak sabar.
Tak menunggu waktu lama akhirnya Tommy berhasil membujuk Sisil untuk bergabung dengannya. Terlihat pria itu membawa nampan berisi makanan dan minumannya Sisil, sedangkan gadis itu hanya mengekori Tommy dari belakangnya.
Entah jurus apa yang di pakai Tommy itu, yang pasti Zayn kagum dengan sahabatnya itu yang cukup pemberani jika menghadapi calon cintanya, tak seperti dirinya yang terlalu kaku dan pengecut.
"Cepetan gue gak banyak waktu. Entar lagi gue harus cepat pulang," ucap Sisil ketika sudah duduk bergabung dengan mereka.
__ADS_1
"Iya, minum dulu nih, biar segeran." Tommy sengaja mengulur-ulur waktu. Pria itu menyuguhkan minuman milik Sisil kepada Sisil.
"Udah, cepetan deh," ucap Sisil sambil menyeruput minuman itu karena haus, bukan karena di suguhkan oleh Tommy.
"Temen lo Ara kan udah punya pacar nih, masa lo gak mau mempertimbangkan gue gitu?" Tommy mulai melancarkan jurus gombalnya.
"Ara punya pacar?" Sisil dibuat kaget dengan pernyataan Tommy tentang Ara sudah punya pacar.
"Loh, masa lo gak tau kalo Ara udah jadian sama Keanu?" Tommy balik bertanya curiga.
Sisil hanya menggelengkan kepalanya. Gadis itu memang tidak pernah tahu dengan apa yang Tommy katakan barusan, karena Ara sendiri tidak bercerita apapun padanya.
"Waah..... mencurigakan!" Tommy mulai sok serius, padahal dirinya sedang kepo.
"Bentar deh, dari siapa lo tau kalo Ara jadian sama Keanu?" Sisil masih tak percaya mendengar berita itu. Sedangkan pandangan matanya sesekali mencuri pandang ke arah Zayn.
Sisil tahu betul kalau Ara sangat menyukai Zayn, jadi mana mungkin Ara akan menerima Keanu?
"Waaahh, dia bener-bener gak tau, Zayn." Tommy menyapa Zayn yang hanya terdiam mendengar obrolan mereka.
"Beneran. Serius, gue gak tau."
"Kapan hari itu Ara menerima Keanu persis di depan Zayn. Kalo gak percaya nih saksinya."
Sisil beralih menatap Zayn yang kemudian Zayn mengangguk membenarkan perkataan Tommy.
Gadis itu hanya terdiam. Ia berkutat dengan pikirannya pada Ara. Seputus asakah itu Ara, sehingga mau menerima Keanu yang tak pernah di cintainya? Kenapa pula harus menerima Keanu di depan Zayn? Sengajakah?
"Sil, gue anter lo pulang ya?" Tommy mulai mengalihkan pembicaraannya.
"Gak usah."
"Pliiiss........." Tommy memohon sambil bermuka sok manis agar Sisil mau menerima tawarannya.
"Jadi gak nafsu makan gue." Sisil memilih pergi. Gadis itu tak mau termakan rayuan Tommy yang entah sejak kapan pria itu demen menggodanya.
Zayn lagi-lagi terkekeh melihat aksi penolakan Sisil pada Tommy yang begitu berharap.
"Oh..... Sisil....." Tommy malah berlagak membaca puisi memanggil nama Sisil yang ternyata pindah duduk tak jauh dari tempat mereka.
"Udah, udah, bisa eneg dia denger gombalan lo terus." Sapa Zayn yang sudah tak kuat menahan tawanya melihat aksi kocak sahabatnya itu.
"Oh...... Sisil......"
Sisil akhirnya menoleh dari kejauhan.
__ADS_1
"STRESS LO!!"
*