Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 52


__ADS_3

*Viona flashback on


Viona mendengar Inah memanggil-manggil dirinya yang sedang sibuk menata sarapan paginya di ruang meja makan.


"Ada apa sih, Bi? Kebiasaan deh kalo manggil pasti gak deketin orangnya dulu." Viona masih melanjutkan kegiatannya.


"Ini, Nyonya." Tangan Inah gemetar saat memberikan beberapa bungkus kosong testpack yang ia temukan di tempat sampah milik Ara.


Viona mengerutkan keningnya, tangannya terulur mengambil benda yang diberikan oleh Inah. "Kamu dapat ini dari mana?" Tanyanya mulai penasaran.


"D-dari sampah milik neng Ara. Bibi menemukan itu pas bersih-bersih kamar neng Ara barusan, Nyonya." Bukan hanya tangan yang gemetar, suara Inah pun juga gemetar menyampaikan penemuannya itu.


Refleks Viona menjatuhkan benda yang di pegangnya itu ke lantai. Tubuhnya tiba-tiba terkulai lemas mendengar penuturan Inah. Pikirannya langsung kacau. Andai benar benda itu milik Ara, lantas kemana dengan isinya?


Haris turun dari anak tangga bersiap untuk sarapan pagi dengan istri tercintanya. Namun semua itu urung karena melihat Viona yang gelisah dengan wajahnya yang pucat.


"Ada apa, Sayang?" Tanya Haris. Viona hanya terdiam, matanya mengarah kepada beberapa bungkus testpack yang berserakan di lantai. Haris mengikuti arah tatapan mata Viona.


"Punya siapa ini?" Haris memungut satu bungkus dan langsung menanyainya kepada Viona dan Inah.


"Itu saya temukan di kamar neng Ara, Tuan." Inah yang menjelaskan, Viona sendiri sudah terdiam dengan beribu macam pikiran kacau di benaknya.


Haris langsung meraih ponselnya berusaha menghubungi Ara, agar putrinya itu segera pulang ke rumah. Setelah beberapa kali di coba ternyata ponsel milik Ara sedang tidak aktif. Haris semakin geram. Ia pun tak kalah paniknya dengan Viona, meski hal yang ditemukan Inah itu hanya sekedar bungkusnya saja.


Pikiran kedua orang tua itu sudah buntu. Viona memandangi suaminya yang berjalan mondar mandir di depannya. Dengan tangannya yang mengepal erat, sudah dapat di pastikan suaminya itu sedang marah namun tertahan.


Ia lantas menyalakan ponselnya juga. Bukan Ara yang ia hubungi, melainkan dokter Rima. Karena setelah memeriksa kondisi Ara beberapa waktu kemarin, dokter Rima tidak mengatakan apa penyebab Ara demam tinggi. Dokter itu hanya terdiam menatap Ara dengan tatapan aneh yang penuh tanda tanya.


"Hallo dokter Rima," sapanya ketika panggilannya tersambung kepada dokter kepercayaan keluarganya.

__ADS_1


"Iya ibu Viona. Ada apa menghubungi saya sepagi ini?"


"Soal kondisi anak saya kemarin. Sebenarnya dia sakit apa? Dia tidak sedang hamil kan?" Viona sudah tidak sabar ingin segera mengetahui kepastiannya.


Dokter Rima terdiam sejenak. Mungkin ia kebingungan antara berterus terang atau tetap menunggu Ara datang dulu, seperti yang di janjikan gadis itu akan datang menemui dirinya. Nyatanya yang ditunggu tak kunjung datang juga, padahal dokter Rima ingin menjelaskan tentang kehamilannya itu.


"Dokter, Dokter Rima." Viona kembali menyapa dokter Rima yang hanya terdiam.


"Begini, Ibu," Dokter Rima menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum ia melanjutkan bicaranya yang mungkin akan membuat kaget Viona begitu mendengarnya.


"Ara memang sedang hamil. Usianya perkiraan masih enam minggu. Ibu bicarakan baik-baik dengan Ara, bagaimana jalan terbaiknya. Saya mohon Ibu jangan gegabah dalam mengambil tindakan." Jelasnya.


Seketika ponsel itu terlepas dari genggaman Viona. Ia menangis sejadi-jadinya begitu mendengar pernyataan dokter Rima bahwa putrinya saat ini benar-benar sedang mengandung.


Haris berjalan mendekati Viona. Ia membawa tubuh istrinya itu dalam dekapannya. Tanpa di jelaskan oleh Viona, Haris sudah dapat mengambil kesimpulan sendiri. Melihat dari tangis Viona yang memecah itu sudah dapat di pastikan bahwa yang didengar oleh istrinya itu sesuatu yang buruk. Sesuatu yang akan mencoreng nama baik pimpinan perusahaan Rahardian group.


Inah terkesiap, ia berlari keluar untuk memanggil suaminya. Seketika suasana menjadi hening. Rudi telah sampai didepan Haris, pria paruh baya itu tertunduk tak berani menatap tuannya yang amat marah.


"Lekas kau kemasi semua barang dan pakaian Ara. Secepatnya kau bawa turun kesini." Perintahnya yang kemudian Rudi berjalan menuju kamar Ara diikuti Inah dibelakangnya.


"Sayang, kita bicarakan baik-baik dulu dengan anak kita. Jangan langsung mengusirnya pergi dari sini." Pinta Viona, namun suaminya itu tetap tak bergeming.


"Sayang, aku mohon." Viona meraih tangan Haris. Tangisannya semakin menjadi mendapati keputusan suaminya yang sudah tidak bisa di ganggu gugat.


"Biar saja anak itu keluar dari rumah ini. Biar dia merawat sendiri anaknya. Biar dia tahu bagaimana susahnya mendidik anak yang tak patuh seperti dia. Anak tak tahu diri seperti dia harus kita lepas. Biar hidupnya semakin bebas. Nanti dia akan menyesal juga. Anak pembangkang seperti dia tak perlu dikasihani." Haris menumpahkan rasa kecewanya lewat kata-kata yang sangat menyayat di hati Viona.


Seorang ibu pastilah tidak rela jika harus berpisah jauh dengan buah hatinya. Ia tahu dirinya juga kecewa terhadap putrinya itu. Akan tetapi untuk mengusirnya pergi dari rumah ini, rasanya sangatlah berat baginya. Meski apa yang di katakan Haris itu ada benarnya juga. Tentu ia juga ingin memberi pelajaran penting untuk Ara, agar gadis itu dapat mengambil hikmah dari semua yang terjadi kepadanya.


*Viona flashback off.

__ADS_1


Suasana di kediaman keluarga Haris Rahardian begitu hening. Semua penghuni rumah itu sedang bersedih harus terpisah jauh dari Ara. Entah sampai kapan Haris akan melunakkan hatinya, agar putri semata wayangnya itu bisa kembali lagi ke rumah itu.


Sisil datang ke rumah itu setelah di hubungi oleh Inah. Setelah Viona jatuh pingsan beberapa menit dari kepergian Ara itu, Inah langsung menghubungi Sisil agar bisa menghibur hati Viona yang sedang sedih.


"Tante Viona didalam, Bi?" Tanya Sisil kepada Inah yang hanya menjaga istri majikannya itu dari luar pintu kamarnya.


Inah mengangguk pelan sambil ia membukakan pintu kamar itu untuk keponakan majikannya itu. Sisil yang masih tak mendengar kabar terusirnya Ara hanya bisa menatap heran kepada seluruh penghuni rumah yang berwajah sembab. Ada Inah, pak Asep tukang kebun, dan juga sekarang Viona.


Gadis itu mulai duduk ditepi ranjang Viona terbaring. Tatapannya sangat sedih melihat kondisi Viona yang masih meneteskan air matanya, padahal saat itu Viona sedang terlelap.


Di pegangnya tangan Viona, hingga kakak kandung dari ibu Sisil itu terbangun. "Sisil" Viona langsung berhambur memeluk Sisil.


Sisil mengusap punggung Viona, ia semakin mengeratkan pelukannya saat tantenya itu semakin terisak menangis.


"Ada apa, Tante? Tante bisa ceritakan semua pada Sisil. Jangan bersedih seperti ini, Tante."


"Ara, Sil." Perkataan Viona masih tertahan.


"Ara hamil." Viona semakin histeris.


Seketika Sisil melepas dekapannya itu. Ia menatap tak percaya atas pernyataan Viona. Ara hamil? Dengan siapa? Gadis itu mulai menoleh ke sekitarnya, tentu ia ingin tahu keadaan Ara sekarang.


"Sekarang Ara sudah pergi, Sil. Dia di usir oleh papinya. Entahlah bagaimana nasibnya nanti."


Sisil kembali mendekap Viona dalam pelukannya. Setelah mendengar kabar Ara yang telah pergi terusir karena perbuatannya itu, ia pun juga menangis. Gadis sepertinya tak bisa ikut campur dalam urusan seperti ini. Meski sebenarnya hal ini bisa dibicarakan secara baik-baik tanpa harus mengusir Ara.


Sebesar apapun kesalahan itu, Ara tetaplah anak mereka. Seorang anak yang masih sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Apalagi dalam kondisi terpuruk yang menimpanya saat ini.


*

__ADS_1


__ADS_2