Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 46


__ADS_3

Jam 21.00


Zayn harus segera menunju bandara untuk kembali ke Batam. Ara turut mengantarnya juga meski tadi Zayn sempat melarangnya karena sudah malam.


Selama perjalanan menuju bandara itu, Zayn yang terlihat manja. Ia semakin tak rela saja berpisah kembali dengan Ara. Tangannya selalu melingkar sempurna di pinggang Ara selama berada di dalam taksi yang mengantarnya menuju bandara.


Berbalik dengan Ara yang lebih banyak diam. Pikirannya tetap tak bisa tenang setelah menyadari tamu bulanannya yang tak kunjung datang. Akibatnya Ara mulai merasa pusing sendiri karena terlalu memikirkan hal yang masih ia ragukan kebenarannya.


Gadis itu memijit-mijit pangkal hidungnya, mencoba merilekskan kembali pikiran buruk yang terus berkutat di benaknya. Hingga Zayn yang sedari tadi terpejam dalam pelukannya terhadap Ara, mulai terbangun karena pergerakan Ara yang terlihat gelisah.


"Kenapa, Sayang?" Zayn melepas pelukannya.


"Pusing." Ara menjawab singkat.


Zayn meraih tubuh Ara, merebahkannya dalam dekapan hangatnya. "Udah aku bilang jangan ikut nganterin, kamunya aja bandel."


"Kak."


"Hmm."


"Ada yang mau kamu omongin gak ke aku?"


Sebenarnya Ara sudah menaruh curiga setelah kejadian waktu ia menginap di rumah Zayn, yang sampai pada hari ini karena belum kedatangan tamu bulanannya. Makanya ia berani bertanya begitu karena ingin mengetahui mungkinkah ada sesuatu hal yang Zayn tidak ceritakan padanya.


"Ada." Ara mendongak menatap Zayn.


"Aku gak mau jauh dari kamu," ucap Zayn sambil mencuri kecupan di bibir ranum Ara.


"Ish, kak Zayn." Wajah Ara seketika memerah. Ia memukul lengan kekar Zayn yang sudah tidak mengenal tempat ketika menciumnya tadi.


Sopir taksi yang kebetulan melihat kegiatan mereka tak kuat menahan senyumnya mendapati penumpang yang sedang di mabuk asmara seperti Ara dan Zayn.


Ara memalingkan wajahnya keluar menatap kaca, menyembunyikan senyum kecilnya yang terukir di bibirnya.


"Secepatnya aku akan menabung yang banyak, trus setelah itu aku kembali kesini untuk melamar kamu. Dan kamu gak boleh menolak lagi."


Ara menoleh kepada Zayn. Sudah kesekian kalinya ia mendengar keinginan Zayn yang akan melamarnya secepat mungkin. Rasa bahagia tentu tak dapat disembunyikannya lagi, ia berhambur memeluk tubuh Zayn yang juga menyambutnya erat.


"Kamu bisa janji gak sama aku?"


"Janji apa?"

__ADS_1


"Jangan pernah tinggalkan aku, meski dalam keadaan apapun."


Zayn langsung mengangguk yakin. "Tunggu aku, secepatnya aku kembali. Dan kita gak akan berpisah lagi seperti sekarang."


"Aku akan selalu menunggumu."


Netra mereka kembali beradu pandang. Zayn yang tak kuat menatap bibir manis Ara yang sudah menjadi candu untuknya, kembali menyesapnya nikmat. Pergerakan itu semakin nakal ketika Ara menyambutnya dengan permainannya yang semakin dalam. Bersilat lidah dalam satu kecupan yang masih bertaut.


"Ehem!" Suara dehaman sopir taksi membuyarkan perbuatan nakal mereka.


"Sudah sampai, Bang," ucap si sopir taksi ketika mobil itu sudah benar-benar berhenti di tempat tujuan, bandara.


Ara terkesiap sambil mengusap bibirnya yang basah karena ulah nakal Zayn. Ia hanya menunduk malu tak kuasa menatap kepada sopir taksi yang memandangnya heran.


"Dia istriku. Abang jangan berpikir yang macam-macam dulu." Zayn mulai bersandiwara setelah mendapat tatapan heran dari sopir taksi itu.


"Pantesan, pengantin baru ya?" Sopir taksi itu mulai percaya omongan Zayn, dan Zayn hanya membalasnya dengan senyumnya.


Setelah selesai membayar ongkos taksi, mereka keluar menuju Sisil yang sudah menunggu untuk membawa Ara pulang bersamanya.


Sisil yang kebetulan sedang berada di luar ketika Ara memintanya untuk menjemputnya di bandara. Gadis itu menatap bahagia mendapati sepasang kekasih itu yang terlihat sangat mesra.


"Lo sih pake nolak Tommy." Ara balik menggoda Sisil.


"Gak usah bahas Tommy lagi bisa gak?" Nada bicara Sisil terdengar jutek tiap kali Ara menyinggung atau menyebut nama Tommy di depannya.


"Iya, iya."


"Eh, Kak. Kamu kan datang ke acara pertunangan Tommy, kayak siapa sih tunangannya? Cakepan mana sama Sisil?" Ara mulai kepo dengan wajah tunangan Tommy.


"Tunggu sebentar." Zayn mulai menggulir layar ponselnya mencari foto tunangan Tommy yang ia ambil tadi siang.


"Nih." Kemudian Zayn menunjukkan foto itu kepada Ara dan Sisil.


"Jessy!" Ara kaget tak percaya.


"Kamu kenal, Sayang?"


"Lo kenal dimana, Ra?" Sisil juga menanyainya heran.


"Dia anak hukum semester lima. Gak nyangka gue kalo tunangan Tommy itu Jessy."

__ADS_1


*Mungkin readers ada yang lupa sama scene Jessy, ada di part 23 yaa....


Oke lanjut😉


"Sayang, aku harus segera masuk." Zayn mulai pamit.


Wajah Ara seketika sendu, baru sehari mereka saling bertemu. Belum tentu di kemudian hari mereka bisa saling bertemu lagi mengingat pekerjaan Zayn yang sibuk.


"Pokoknya kalau ada apa-apa kamu harus cerita ke aku. Gak boleh di simpen sendiri." Ucapnya sambil mengelus lembut pucuk kepala Ara.


"Jaga kesehatan baik-baik ya, I love you more Aurora," pamitnya sambil meninggalkan jejak kecupan hangat di kening Ara.


"Love you too," balasnya sambil mengusap lembut pada pipi Zayn yang ia bingkai dengan tangannya.


Ara hanya bisa tersenyum pasrah ketika harus kembali berpisah dengan kekasihnya, Zayn. Ia melambaikan tangannya sampai pria itu tak lagi terlihat dari pandangannya.


"Ciyeee.... yang habis dapat kecupan perpisahan." Sisil menyikut lengan Ara.


"Cepat pulang yuk, dah malam nih." Sisil menarik lengan Ara yang sepertinya gadis itu begitu sulit melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu.


Selama perjalanan pulang ke rumah Sisil, Ara kembali terdiam. Gadis itu kembali teringat akan perihal tamu bulanannya itu. Setelah tak sengaja melewati apotik di pinggir jalan, Ara menepikan mobilnya di depan apotik tersebut.


"Mau ngapain, Ra?" Sisil bertanya heran.


"Sebentar, tunggu ya?" Ara langsung keluar dari dalam mobilnya, secepat mungkin melangkah masuk ke dalam apotik itu.


"Mbak, ada testpack?" Tanya Ara tanpa ragu lagi.


"Ada, Mbak, mau berapa?"


"Semua merk, Mbak, masing-masing satu."


"Tunggu sebentar ya, Mbak."


Sengaja Ara membeli banyak testpack, jaga-jaga takut tidak akurat. Tangannya terlihat gemetar begitu menerima lima bungkus testpack itu. Dan segera ia masukkan ke dalam tas kecilnya agar tidak di ketahui oleh Sisil.


"Sudah?" Tanya Sisil begitu Ara sudah duduk di belakang kemudinya.


Ara hanya mengangguk. Ia sudah tak sabar untuk segera sampai di rumah, untuk segera mengetahui hasil dari benda yang ia beli tadi.


*

__ADS_1


__ADS_2