Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 57


__ADS_3

Menjadi karyawan di perusahaan Rahardian Group ternyata tak seperti bayangan Zayn. Di sana dirinya bisa bekerja lebih rileks dari pada saat dirinya bekerja di perusahaan cabangnya kemarin. Meski setiap hari kerjanya memang terlampau sibuk dan banyak tugas yang harus kejar target, tapi paling tidak disaat waktunya istirahat ataupun jam pulang kerja dirinya tak lagi mendapat tambahan kerja lembur seperti saat dibawah pimpinan Ridwan.


Hari ini adalah minggu pertama dirinya bisa merasakan libur layaknya karyawan pada umumnya. Setelah seminggu ini ia kembali ke Jakarta, dirinya baru bisa menyempatkan waktunya saat ini untuk bertemu dengan sahabatnya, Tommy.


Ia sudah memarkirkan motor butut yang ia sewa di agen tempat penyewaan motor gadaian rumahan itu tepat di halaman rumah Tommy. Dirinya mematung cukup lama memandangi bangunan rumah mewah yang terakhir ia datang kesana saat Tommy menggelar acara pertunangan.


"Eh ada Mas Zayn," sapa seorang ART yang kebetulan sedang keluar sambil menenteng kresek hitam di tangannya.


Zayn hanya menanggapinya dengan tersenyum. "Tommy ada Mbak?" Sapanya, karena memang dirinya datang itu tanpa ada janji temu dulu dengan Tommy.


"Ada, Mas, ada. Mari masuk dulu, Mas, biar Den Tommy nya tak panggilin dulu." Lalu kemudian ART itu kembali masuk di ikuti Zayn yang mengekor di belakangnya.


Zayn langsung duduk di sofa mewah nan empuk di ruang tamu rumah Tommy. Sedangkan ART itu ia lihat sudah menaiki tangga menuju kamar Tommy berada.


Tak lama kemudian ART itu turun dan melangkah menuju Zayn.


"Sambil menunggu, Mas Zayn mau Mbak buatin minum apa?" ART itu menyapanya sopan.


"Terserah Mbak saja dah. Sebelumnya makasih ya, Mbak."


Mendengar ucapan Zayn ART tersebut langsung pergi untuk melaksanakan tugasnya.


Sekitar hampir dua puluh menitan Zayn masih menunggu Tommy. Dirinya yang mulai tak sabar pergi menuju dapur tempat ART itu berada.


"Mbak," sapanya dengan wajah yang sudah gelisah.


"Iya, Mas."


"Kok Tommy belum turun juga ya?"


"Adduuuh, Den Tommy tuh. Maaf, Mas, palingan Den Tommy ketiduran lagi. Maklum, Den Tommy baru pulang tadi jam 5 Mas. Biar Mbak bangunkan lagi ya."


"Eh, biar tidak usah, Mbak." Cegah Zayn.


"Nenek sama Om mana mbak, kok tumben gak ada?" Sebenarnya Zayn mencari mereka bermaksud meminta ijin ingin langsung menemui sahabatnya itu ke kamarnya.


"Lagi di luar kota, Mas." Dan Zayn hanya manggut-manggut mendengarnya.


"Ehm, Mbak. Apa aku boleh langsung masuk ke kamar Tommy?"

__ADS_1


Zayn masih merasa sangat sungkan meski ia sudah sering main ke rumah Tommy dulu. Dirinya yang tidak memang selevel dengan sahabatnya itu harus pandai menjaga sikap agar tidak di anggap seperti orang yang tak tau diri oleh keluarga Tommy. Padahal sebenarnya dari keluarga Tommy sendiri tak pernah keberatan anaknya bergaul dengan Zayn yang hanya terlahir dari keluarga sederhana.


"Silahkan, Mas. Mas Zayn kayak gak pernah main kesini saja." Zayn pun tersenyum mendengar ucapan ART itu.


"Sekalian bawa ini juga Mas." ART itu menyodorkan sebuah mangkuk berisi air kepada Zayn.


"Buat apa, Mbak?" Zayn terheran, tapi turut mengambil mangkuk itu juga.


"Buat cipratin ke mukanya Den Tommy." Sejenak ART itu terkekeh. "Belakangan ini Den Tommy sering uring-uringan, Mas. Dia selalu pulang pagi kalau Tuan sama Omah keluar kota." ART itu sedikit berbisik kepada Zayn.


"Baiklah, Mbak. Kalo gitu aku langsung ke atas ya." Zayn langsung melangkah begitu mendapat anggukan dari ART itu.


Zayn sudah berada didalam kamar luas milik satu-satunya pewaris kekayaan dari keluarganya itu. Terlihat Tommy yang ternyata masih tertidur pulas dengan posisi tubuh yang terlentang.


Ia berjalan perlahan menuju sahabatnya itu yang masih terlena dengan alam mimpinya. Dan tanpa ragu lagi dirinya mulai mencipratkan air yang dibawanya itu tepat ke muka Tommy.


"Hhmmm..." Tommy hanya menggeliatkan badannya. Lagi-lagi Zayn mengulangi kegiatan isengnya itu.


"Apa sih, Nek?" Tommy terpancing bangun sambil mengusap wajahnya yang basah dengan kasar.


"Woi, udah siang nih. Masih molor aja kerjaan lo."


"Apa kabar, Tom?" Zayn mengulurkan tangannya yang kemudian dibalas dekapan hangat dari Tommy.


"Gila lo! Kemana aja lo ngilang gak ada kabar?" Cerca Tommy begitu mereka sudah melepas dekapan rindunya.


"Ceritanya panjang Tom." Lalu....


BUG!!


Tommy meninju perut Zayn, membuat tubuh pria itu doyong karena tak siap menerima tinju dari Tommy yang sebenarnya tidak terlalu keras.


"Brengsek lo!" Umpat Tommy pada Zayn yang seketika berwajah heran mendengar ucapannya itu.


"Lo buntingin anak orang trus main hilang gak ada kabar. Pengecut lo!" Tommy memang menunggu moment ini tiba.


"Maksud lo apa, Tom?" Zayn masih berusaha sabar. Kemudian ia turut duduk disebelah Tommy yang masih tak turun dari ranjang besarnya.


"Ara hamil Zayn." Suara Tommy berangsur pelan.

__ADS_1


Jleb.


Zayn terdiam. "Ara hamil anak lo kan?" Tommy menatap Zayn yang terlihat menyeka air matanya.


Zayn tetap terdiam. Mulutnya seakan telah terkunci untuk berkata-kata lagi. Tertutup penuh oleh rasa penyesalan yang teramat besar memenuhi ruang hati dan pikiran Zayn.


Air mata yang dicoba tertahan itu akhirnya tumpah seiring pengakuan Zayn kepada Tommy. Pria itu semakin mengusap wajahnya kasar setelah mendengar kabar bahwa Ara telah diusir oleh orangtuanya karena kehamilannya itu.


Rasa bersalahnya semakin mendalam setelah mendengar pengakuan Tommy bahwa sampai kini tak ada satu orang pun yang tahu Ara pergi kemana. Termasuk orang tua Ara sendiri.


Zayn semakin terisak. Akibat hasrat sesaatnya itu telah membuat kehidupan Ara hancur. Bahkan sekarang dirinya tak tahu lagi harus mencari kemana kekasihnya itu berada. Dan lagi sampai sekarang nomor ponsel Ara tetap tidak aktif. Mungkin gadis itu kini benar-benar ingin menghilang dari siapapun.


Terlalu banyak luka yang telah Zayn torehkan di hati Ara. Sikapnya yang tak berani berterus terang dulu membuatnya pantas bergelar sebagai lelaki paling pengecut di muka bumi ini.


Tommy mengusap pelan punggung Zayn. Walau ia tak pernah berada di posisi seperti Zayn saat ini, tapi dirinya juga bisa merasakan apa yang dirasa oleh sahabatnya itu.


Tommy pun beranggapan tidak bisa menyalahkan siapa-siapa dengan kejadian ini. Setelah mendengar pengakuan Zayn atas kecelakaan yang menimpanya itu, Tommy pun dapat mengambil kesimpulan diri kalau sebenarnya Zayn tidak ada niatan untuk lari dari tanggung jawabnya.


Meski demikian, apa yang telah terjadi sudah tidak dapat terulang kembali. Ara sudah terlanjur terusir, dan Zayn hanya bisa seperti ini. Tak leluasa dengan waktunya lagi untuk menjadikan dirinya sebagai musafir untuk mencari kekasihnya yang hilang.


Bagai memakan buah simalakama. Jika berhenti bekerja, ia tidak akan punya uang untuk membantu biaya pengobatan ayahnya. Tetapi jika tidak mencari keberadaan Ara, ia takut tak akan bisa menemuinya lagi sampai selamanya. Terus terang dirinya takut dengan aturan ketat dan disiplin dari perusahaan tempat bekerjanya saat ini.


"Selama ini gue udah nyuruh orang buat cari info keberadaan Ara. Cuma masih belum menemukan hasil, Zayn." Tommy berucap lagi setelah mendapati Zayn yang sedikit mulai berhenti dari tangisnya.


Zayn beralih menatap Tommy. "Terimakasih, Tom." Ujarnya singkat, lalu kemudian kembali tertunduk menyembunyikan wajahnya yang kembali menangis.


Entah berada dimana Ara saat ini. Sampai nanti, sampai bila dirinya tidak dapat menemui Ara kembali, ia telah bersumpah tak akan mencari wanita lain sebelum ia menemukan kekasihnya itu untuk menebus segala kesalahannya kepada Ara dan calon buah hatinya itu.


*


*Tommy flashback on


Satu hari setelah terusirnya Ara dari rumah....


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2