Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 98


__ADS_3

Malam sudah semakin larut. Setelah merasa puas mengajak Ziyyan bermain di taman kota akhirnya Zayn dan Tommy memutuskan untuk pulang. Tommy yang saat itu langsung kembali ke rumahnya, sedang Zayn dan Ziyyan juga langsung kembali ke apartemennya.


Ayah dan anak itu sampai di apartemennya tepat pukul sembilan malam. Merasa jam seperti itu sudah saatnya Ziyyan untuk tidur maka Zayn pun segera membantu Ziyyan untuk menggosok gigi dan membasuh muka serta mencuci kaki dan tangannya sebelum ia mengajaknya tidur.


Setelah semuanya selesai Zayn pun menemani anaknya tidur di sampingnya, agar bocah itu bisa cepat terlelap. Tapi ternyata tak semudah itu untuk menidurkan Ziyyan. Bocah itu masih terlihat sama sekali tidak mengantuk, terlihat dari binar matanya yang seakan melayang dengan pikirannya sendiri.


"Ziyyan," sapa Zayn sambil membelai pipi lembut anaknya.


"Iya, Yah," sahutnya.


"Kamu tidak mengantuk? Ayo tidur, Nak? Ini sudah malam," ajaknya sambil memberinya sebuah kecupan di pipi mungilnya.


Bocah itu lalu menggelengkan kepalanya, terlihat dari sorot matanya sepertinya ada sesuatu yang sedang di pikirkannya.


"Ayah," ucapnya kemudian.


"Hmm...." Zayn mengusap lembut pucuk kepala Ziyyan.


"Kenapa ayah sama bunda tidak tidur bareng?" Tanyanya sangat polos.


Zayn terkesiap saat mendengarnya. Bocah sepolos itu menanyakan hal seperti itu? Dari mana dia tumbuh pikiran semacam itu? Zayn mulai sedikit kebingungan untuk menjawab pertanyaan Ziyyan.


"Ziyyan kangen bunda?" Tanyanya mulai mengalihkan topik ke yang lain.


Ziyyan menggeleng cepat. "Aku pernah lihat bapak ibuknya Nabil tidur bareng," jelasnya.


Zayn mulai memicingkan matanya. Pikirannya pun mulai berarah kemana-mana. Jangan-jangan?


"Tidur bareng?" Tanyanya penasaran.


Ziyyan mengangguk, lalu kemudian ia terduduk sambil merubah posisi bantalnya di sejejerkan rapi.


"Disini ayah, sini Iyyan, dan disini bunda," ujarnya sambil menunjuk masing-masing bantal yang sudah di tatanya itu.


Ziyyan berkata dan berbuat seperti itu karena dulu ia pernah tak sengaja menjumpai Nabil, teman bermainnya saat di kampung, tengah tidur bersama kedua orangtuanya. Dan posisi Nabil saat itu berada di tengah-tengah atau di apit oleh kedua orangtuanya.


Melihat itu semua, tentu ia pun juga menginginkan hal itu terjadi padanya. Merasakan kasih sayang yang utuh dari kedua orangtuanya. Karena sekarang bocah itu beranggapan ayahnya sudah kembali pulang kerja, makanya ia menanyakan hal itu kepada Zayn.


Zayn pun terbangun dari pembaringannya. Ia baru paham akan maksud pertanyaan anaknya itu. Menurutnya, mungkin Ziyyan pernah melihat salah satu temannya dulu saat di kampung sedang tidur bersama kedua orangtuanya.


Perlahan Zayn nerengkuh tubuh mungil Ziyyan, membawanya dalam pangkuan kasih sayangnya dan menciuminya dengan bertubi-tubi.


"Ayah, Iyyan geli." Kekehnya saat Zayn masih terus menciuminya.


Zayn menatap netra anaknya itu, ia pun tak terasa mulai berkaca-kaca merasakan betapa malangnya Ziyyan selama ini. Karena ulahnya, karena sikap pengecutnya itu hingga membuat Ziyyan merasakan kekurangan kasih sayang dari sebuah keluarga yang utuh.


"Ziyyan mau ayah sama bunda bareng lagi?"


Bocah itu mengangguk semangat.

__ADS_1


"Do'akan ayah ya," ucapnya sambil menangkup pipi Ziyyan dengan kedua tangannya.


"Ayah bertengkar sama bunda?" Tanyanya lagi yang membuat Zayn kembali kebingungan harus menjawab bagaimana pertanyaannya itu.


"Kenapa tadi bunda sama ayah nangis?"


Kejadian saat Ara dan Zayn tadi siang itu cukup membuat bocah itu penasaran. Menurut pemikiran polosnya, jika ada kedua orang yang sedang berdebat dan kemudian menangis pasti mereka sedang bertengkar. Seperti saat ia bermain dengan teman-temannya semasa di kampung.


"Ayah sama bunda tidak bertengkar." Zayn segera membaringkan kembali tubuh mungil Ziyyan.


"Ayo tidur. Ini sudah malam Ziyyan." Kini Zayn mengusap lembut punggungnya.


Dan Ziyyan masih belum juga memejamkan matanya.


Zayn pun merasa kalau anaknya itu teramat sulit untuk tidur mungkin karena belum terbiasa tidur dengannya. Atau bisa juga karena sudah terbiasa tidur ditemani oleh Ara.


"Besok pagi-pagi ayah antar Ziyyan ke rumah kakek Haris. Berarti besok Ziyyan bisa ketemu bunda lagi. Ayo tidur!"


Zayn berkata demikian tujuannya agar Ziyyan bisa segera terlelap, tak lagi teringat dengan bundanya.


"Nggak!" Ziyyan segera menggelengkan kepalanya.


"Iyyan gak mau pulang. Iyyan mau sama ayah di sini," ucapnya kemudian.


"Loh, nanti bunda bagaimana?" Zayn bertanya penasaran.


Namun Ziyyan sengaja tak menjawabnya. Bocah itu teringat akan janjinya dengan Tommy untuk tidak bilang-bilang tentang kesepakatannya itu. Karena sebenarnya Tommy lah yang menyuruh bocah itu untuk tetap berada di rumah Zayn, jika ingin melihat kedua orangtuanya bareng lagi.


.


.


Sedang di tempat yang berbeda....


Ara terlihat sangat gelisah malam ini. Tubuhnya terus bergerak berubah-rubah, dari tidur dengan telentang, miring ke kiri lalu berbalik berubah ke kanan hingga terlentang lagi. Ia yang sudah terbiasa tidur bersama anaknya itu, tentu saat ini merasa khawatir sekaligus kangen dengan tingkah polosnya itu. Padahal ini masih sehari ia tak bersama dengannya.


"Lo kenapa sih, Ra?"


Sisil yang kebetulan juga sedang tidur di sebelahnya merasa terganggu dengan pergerakan Ara yang kentara sangat gelisah.


Setelah tadi mereka kembali bertemu, akhirnya Sisil memutuskan bermalam di rumah Ara. Ia sudah sangat kangen dengan sahabat yang juga sekaligus saudara sepupu dengannya.


"Gak nyenyak tidur gue, Sil," sahutnya sambil memiringkan tubuhnya agar bisa saling berhadapan dengan Sisil.


"Iya, kenapa?"


"Kangen Ziyyan," ujarnya sambil tak terasa buliran bening itu sudah meremang di matanya.


Sisil menghela nafas beratnya. Tentu ia tak mampu berkata apa-apa lagi kalau sudah menyangkut tentang Ziyyan. Dimana-mana seorang ibu pasti ada rasa kecemasan tersendiri dengan anaknya yang jauh dari pandangan matanya.

__ADS_1


"Tadi Zayn bilang kapan mau ngantar Ziyyan?"


"Besok pagi sih," jawabnya lemas.


"Ya elaaah.... Tinggal nunggu besok pagi aja lo! Pake mau mewek segala."


"Tapi gue beneran kepikiran banget sama dia, Sil. Gimana nanti kalo dia mau makan, kalo dia mau mandi, ganti baju, mau bobok." Setetes air matanya pun akhirnya lolos.


"Udah, gak usah terlalu dipikirin. Ziyyan kan lagi sama bapaknya tuh, biarin aja dia tahu gimana repotnya ngurus anak sendirian. Kalo perlu gue doakan semoga Ziyyan di sana rewel, biar kewalahan dia menjaga Ziyyan sendirian." Sisil berkata panjang lebar.


"Jangan gitu dong, Sil." Ara merasa keberatan mendengar ucapan Sisil yang mendoakan Ziyyan biar rewel di sana.


Sisil terlonjak kaget mendengar ucapan Ara. "Jadi lo gak terima gue doakan Zayn kewalahan ngurusin Ziyyan?"


"Bukan yang itu maksud gue!" Ara menatap geram kepada Sisil saat mendengar pertanyaannya itu.


"Ya kali aja lo masih ada sisa rasa buat orang itu."


Ara melengos sebal saat mendengar Sisil yang menduganya masih memiliki rasa kepada Zayn. Ia pun memilih memunggungi gadis itu dari pada harus meladeni omongannya yang sudah menjurus tentang pria yang sangat malas ia membahas tentangnya.


"Ara..." Sisil menyentuh pundak Ara yang sedang membelakanginya.


"Hmm...." Ara masih tetap di posisinya.


"Sebelum tante Vi ngomong, gue mau ngomong sesuatu sama lo."


"Ngomong apa?" Ara menyahut malas.


"Tentang rencana perjodohan lo sama." Sisil masih ragu untuk mengatakannya.


Mendengar kata perjodohan Ara kembali berhadapan ke arah Sisil. Ia memandang lekat kepadanya, menunggu untuk melanjutkan perkataannya itu.


"Tante Vi berencana menjodohkan lo sama Keanu." Sisil mengatakannya dengan penuh keyakinan.


"Keanu?" Kening Ara seketika berkerut saat Sisil menyebut namanya.


Dan Sisil hanya bisa mengangguk saja.


"Pantas saja tadi Keanu tiba-tiba sudah datang kesini? Jadi itu karena mami memang sengaja mengundangnya?" Ara mulai berkutat dengan pemikirannya sendiri.


"Hei, lo mau kan sama Keanu?"


Kenapa mesti Keanu? Kenapa gak yang lainnya saja, coba? Andai bukan Keanu, mungkin Ara akan mempertimbangkannya. Walau sebenarnya hatinya masih sulit untuk terbuka dengan pria manapun.


"Menurut pribadi gue sih, mending lo mau aja deh sama Keanu. Secara do'ikan masih cinta tuh sama lo, apalagi yang mau diragukan darinya?" Jelas sekali jika Sisil mendukung Ara untuk memilih Keanu.


Terlihat Ara hanya menghela nafas beratnya. Terus terang ia belum siap dengan semua rencana maminya itu. Dalam diam barulah ia tersadar bahwa mereka menjemputnya kembali pulang semata karena mau menjodohkannya, lalu kemudian menikahkannya.


Huft! Ara merasa sedikit kecewa dengan rencana keluarganya yang di bocorkan oleh Sisil itu.

__ADS_1


*


__ADS_2