Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 96


__ADS_3

Siang masih terasa begitu terik. Udara panas di ibu kota terasa sangat menguras peluh yang terus menetes. Dua orang insan tengah duduk di dalam mobil tanpa percakapan apapun. Sudah satu jam mereka berada di area taman kota itu, dan selama itu pula hanya ada tatapan kecewa dari raut gadis yang juga berada di dalam mobil tersebut.


"Sil, udah dong ngambeknya?"


Tommy mulai menyapanya lagi untuk yang kesekian kalinya.


Dan lagi-lagi Sisil membuang muka keluar kaca mobil yang di tumpanginya itu.


Tommy mendengus pasrah sambil terus memandangi wajah gadisnya yang membisu setelah bertemu dengan Zayn tadi. Jelas dari raut wajahnya jika ia sedang marah dan kecewa terhadapnya. Karena selama ini ia memang sengaja menyembunyikan keberadaan Zayn darinya.


"Sil," Tommy meraih pundaknya, ternyata tak ada penolakan lagi darinya. Tak seperti tadi yang selalu menangkis kasar tiap Tommy mencoba menyentuhnya.


"Sayang," Kali ini Tommy mengeluarkan kata pamungkasnya.


Ia tahu betul kalau Sisil tak senang jika ia memanggilnya dengan sebutan itu, dan lihatlah nanti Sisil pasti menoleh.


"Apaan sih!" Sahutnya kesal, tanpa menoleh kepadanya.


"Mm, rupanya minta di pancing lagi?" Bathin Tommy mulai menyeringai licik.


Cup.


"TOMMY!!!"


Sisil pun menoleh setelah pria itu sengaja mencium pipinya. Ia menatap geram kepadanya, yang sempat-sempatnya berbuat seperti itu dikala dirinya sedang marah terhadapnya.


"Makanya jangan ngambek terus dong." Tommy mulai tersenyum lebar karena ternyata umpan terakhirnya mampu membuat gadis itu kembali berbicara.


"Gue marah sama lo!" Sisil menatap lekat netra pria itu.


"Iya, gue tahu." Tommy hanya menyahut santai.


"Kalau sudah tahu, kenapa gak lo coba ngertiin posisi gue? Kenapa lo malah bela teman pecundang lo itu?"


"Sil, gue tau kalo lo marah sama Zayn. Cuma gak harus di depan umum juga lo permalukan dia kayak tadi."


Lantas Tommy menunjukkan sebuah video yang langsung viral di sosial media hari ini. Tentu video itu adalah rekaman Sisil yang sedang menampar Zayn tadi, yang sudah di unggah oleh salah satu orang yang berada di sana, dan kemudian dibagikan berulang-ulang oleh yang lainnya sehingga video itu bisa menjadi viral.


"Biarin! Gue gak peduli! Mau dia malu, mau image dia tercoreng, BODO AMAT!"


Sisil sangat tak peduli dengan video yang sudah terlanjur tersebar itu. Ia malah terkesan menyoraki Zayn yang seakan pantas di perlakukan seperti itu. Bahkan kalau bisa ia akan melakukan hal yang lebih parah lagi, andai dirinya tadi tidak di cegah oleh Tommy. Sebab ia sudah terlanjur muak dengan pria itu yang sudah membuat Ara menjadi seperti halnya sekarang.


"Oke! Kita gak usah bahas Zayn dulu sekarang. Karena sebenarnya yang terkena efek besar dari video ini bukan Zayn, tapi keluarga lo sendiri." Tommy berucap penuh penekanan.


Sisil menoleh tak paham padanya, ia menunggu Tommy melanjutkan maksud dari perkataannya itu.

__ADS_1


"Video ini sudah terlanjur menyebar. Menurut gue video ini gak begitu berpengaruh buat Zayn. Dia hanya orang biasa, bukan artis pula. Justru bahayanya itu buat keluarga lo sendiri, apalagi buat keluarganya Ara. Karena secara gak langsung lo sengaja ngumbarin aib keluarga Ara di depan umum. Lo tahu kan bagaimana pengaruhnya jika hal ini bocor ke rekan-rekan bisnis keluarganya Ara?"


Sisil dibuat terdiam oleh perkataan Tommy. Memang penyesalan selalu datang di akhir, ia pun baru menyesalinya setelah pria itu menjelaskan dampak buruknya buat keluarga Ara akibat emosinya yang tak terkendali itu.


"Matilah aku kalau Om Haris lihat video ini!" Gadis itu mulai berpikir dengan gelisah.


Tommy meraih tangan Sisil, ia menggenggamnya sambil terus mengusap lembut punggung tangannya itu.


"Tom, gue jadi takut mau ketemu Om Haris. Gimana nih?"


Tommy menatap lembut pada wajah gelisah gadisnya itu. "Satu-satunya jalan keluarnya mereka harus segera dinikahkan. Masalah gimana nantinya, serahin saja sama keluarganya Ara."


"Ah, gak bisa! Udah telat Tom!"


"Telat bagaimana?" Tommy bertanya tak paham.


"Ara sudah terlanjur di jodohkan sama Keanu," aku Sisil dengan sendu.


"Apa!" Mata Tommy seakan hampir terlepas dari tempatnya saking kagetnya.


"Semalam Ara sudah kembali pulang. Tante Vi sengaja menjemput Ara karena memang berencana mau menjodohkannya dengan Keanu," jelas Sisil.


"Ara sudah pulang?" Tommy tercengang mendengar kabar kembalinya Ara.


"Iya, Tom. Makanya tadi gue ngajak lo ke toko mainan itu karena gue mau beli sesuatu buat anaknya Ara."


"Keanu mau dengan perjodohan ini?"


Tommy tiba-tiba teringat tentang rencana perjodohan antara Ara dan Keanu. Bisa gawat kalau Keanu setuju dengan perjodohan itu. Bagaimana dengan Zayn nanti?


Sisil mengangguk yakin.


"Aaaah... S*AL!" Pria itu ikut frustasi. Tak bisa membayangkan bagaimana jika kabar ini didengar oleh Zayn.


"Ara gimana? Dia juga mau dijodohkan sama Keanu?"


"Sebaiknya dia juga mau. Karena menurut gue dia lebih baik menikah sama Keanu dari pada sama teman lo itu."


Tommy menatap jengah pada gadisnya itu. Bagaimana pun dia ingin membela dan mendukung Zayn, gadisnya itu sudah terlanjur tak suka lagi kepada sahabatnya itu.


Drrrrt... Drrrrrt.....


Ponsel milik Sisil berdering, terlihat nama Viona yang tertera di layar ponselnya itu.


"Udah di jawab aja." Tommy berusaha memberinya semangat dari raut gadisnya yang kentara gelisah untuk menjawab panggilan masuk dari Viona.

__ADS_1


"I-iya Tante Vi," sapanya sedikit gugup.


"Sisil, kamu dimana?" Terdengar suara Viona yang memelas menanyai keberadaan Sisil.


"A-aku lagi di luar, Tante." Sisil melirik sekilas pada Tommy, dan pria itu semakin mengeratkan genggaman tangannya agar gadisnya tak lagi gugup.


"Tolong datanglah ke sini, Sil. Tolong tenangkan Ara. Ajak dia keluar bareng. Tante gak tega lihat dia nangis terus dari tadi."


Huft! Ternyata bukan masalah video itu. Akhirnya Sisil bisa kembali bernafas lega.


"Iya, Tante. Aku segera kesana." Jawabnya begitu bersemangat dan segera menyudahi panggilannya.


"Kenapa?" Tommy mulai kepo dengan wajah gadisnya yang sudah sumringah.


"Anterin gue ke rumah Ara ya?" Sisil memohon.


"Baik." Lantas Tommy segera menyalakan mesin mobilnya.


"Tapi ada syaratnya!" Tommy masih tak langsung melajukan mobilnya.


"Apa?"


"Kapan kita bisa menikah?" Tommy langsung to the point.


Pria itu sudah tidak sabar lagi dengan hubungan tak jelas antara dirinya dengan Sisil. Berulangkali ia mengutarakan isi hatinya itu selama lima tahun belakangan ini, Sisil selalu menggantung status hubungannya ini. Menolak tidak, diterima juga tidak. Tapi mereka selalu bersama.


"Apaan sih bahas-bahas nikah segala?"


"Sil, gue serius." Tommy terus menatap lekat pada netra gadisnya itu.


"Mm...."


Sebenarnya Sisil tahu kalau pria itu sangat serius kepadanya. Ia pun berpikir dalam, sampai tak terasa bibir bawahnya ia gigit saking seriusnya berpikir.


Tommy pun terkesima melihat Sisil yang demikian. Perlahan ia mencondongkan badannya, berniat ingin mencicipi manisnya bibir ranum Sisil yang tiba-tiba menggodanya.


"Stop!!" Sisil mendorong pelan bahu pria itu.


"Antar gue ke rumah Ara sekarang. Mm.., masalah pertanyaan lo itu gue akan jawab setelah masalah Ara selesai," ucap Sisil dengan yakin.


Akhirnya Tommy bisa mengembangkan senyum lebarnya. Sebab gadisnya itu sudah memberinya jawaban meski masih harus menunggu lagi. Dan tak lama kemudian mereka akhirnya pergi dari tempat itu untuk menuju ke rumah Ara.


*


Maaf kalau Author kadang gak update🙏 Kesibukan di real life Author terlalu padat dan semakin bertambah😇

__ADS_1


Tapi Author akan selalu usahakan agar bisa update tiap hari lagi.


Salam sayang dari Author MAY.s buat kalian semua😘


__ADS_2