Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 145


__ADS_3

"Sayang, besok kamu periksa ya?"


Semenjak mendengar perkataan Viona yang menduga Ara hamil lagi, Zayn terus terusan mengajak istrinya itu untuk memeriksakan diri.


"Periksa dalam rangka apa? Aku sudah baik baik saja loh, Mas." tolak Ara, karena memang dirinya sudah merasa membaik asal tak membuka maskernya saat berdua dengan Zayn.


"Ya periksa kondisi kamu. Apa kamu nggak merasa aneh sama diri kamu. Masak iya kamu akan terus terusan pakai masker gini kalo lagi ngobrol sama aku?"


Meski itu hanya sekedar praduga yang dilontarkan Viona tadi, akan tetapi itu cukup membuat perasaan Zayn berharap harap cemas. Andai ini memang benar pertanda kalau ia sudah dititipkan amanah lagi oleh Tuhan, tentu ia akan sangat merasa berbunga bunga.


Ara hanya bergeming dalam sesaat. Matanya menerawang entah ke atap langit langit kamarnya. Meski menyadari yang terjadi padanya itu cukup aneh, akan tetapi itu tak terlalu menjadi beban pikirannya. Selama Zayn bisa diajak kompromi. Tidak mendekatinya saat sedang berkeringat.


"Mau kemana, Sayang?" Zayn menarik tangan Ara yang mulai beranjak ingin turun dari ranjang, dimana saat ini mereka tengah menikmati malam panjangnya.


"Mau ajak Ziyyan tidur disini," jawabnya santai.


Zayn turut turun dari pembaringannya. Ia pun turut mengekor melangkah dibelakang istrinya, menuju kamar Ziyyan.


"Ziyyan sayang," sapa Ara, saat mengetahui putranya itu masih belum tidur.


"Bunda, Ayah," sahutnya riang.


"Jagoan ayah kenapa belum tidur?"


Mereka pun duduk bertumpuh diatas kasur, menemani Ziyyan yang beranjak duduk diatasnya.


"Ini Iyyan udah mau tidur. Tapi keburu bunda sama ayah kesini."


Zayn mengangkat tubuh mungil Ziyyan, membawanya duduk diatas pangkuannya. Sedetik kemudian menciumi gemas pipi putranya itu, bergantian Ara pun demikian.


"Ziyyan tidur sama bunda ayah yuk?" ajak Ara.


Bocah itu langsung menggeleng yakin. Benar benar menolak ajakan bundanya itu.


"Kenapa? Ayah sama bunda kangen, Nak, pingin tidur bareng bareng lagi. Kayak yang dulu itu loh." Zayn pun turut merayu.

__ADS_1


Lagi lagi Ziyyan menggelengkan kepalanya yakin.


Huft..


Terdengar helaan nafas panjang yang berhembus dari Ara. Rasanya baru kemarin ia melahirkan putra manjanya itu, akan tetapi lihatlah kali ini. Sungguh Ara merasa terenyuh sendiri, seakan masih tak tega membiarkan bocah yang masih belum genap lima tahun itu untuk tidur secara mandiri seperti kali ini.


Andai saja masih ada Narsih disini, mungkin Ara sedikit merasa tenang. Bukannya ia meragukan kasih sayang yang juga diberikan oleh Viona kepada Ziyyan, akan tetapi sedari bayi Narsih lah yang sudah merawat dan tentu sangat mengenal bagaimana dan apa yang dibutuhkan Ziyyan.


"Kalau Ziyyan masih tidak mau, ayah sama bunda saja yang tidur disini. Boleh?" usul Zayn.


Ara melirik sekilas kepada suaminya, bibirnya terulas senyum tipis menandakan ia juga menyetujui usulannya itu.


Terlihat Ziyyan sedang berpikir sejenak. Entah apa yang dipikirkannya itu. Kemudian bergantian ia memandangi kedua orangtuanya, lalu kemudian tersenyum begitu manis dan tentu menggemaskan.


"Boleh," jawabnya riang.


"Bunda sayang sekali sama Ziyyan.." ucap Ara diikuti pelukannya yang mendekap tubuh mungil Ziyyan.


"Ayah juga sayaaaaaang sekali sama Ziyyan." Bergantian Zayn yang juga turut mengungkapkannya.


*


Keesokan harinya, Zayn harus kembali disibukkan untuk beraktifitas kembali dikantor. Sedangkan Haris sudah berencana untuk pensiun dini dari jabatannya dan menggatikan posisinya itu kepada Zayn. Diusianya yang tak lagi muda itu, tentu Haris sudah mulai merasa ingin lebih banyak waktunya bersama keluarga kecilnya. Dapat berkumpul serta bersenda gurau dengan cucu cucu tersayang, sudah menjadi bayangan Haris dimasa tuanya mendatang.


Dan Viona menyetujui saja apa yang sudah menjadi keputusan Haris, sebab ia pun juga merasa seperti apa yang dirasakan oleh suaminya. Kehadiran Ziyyan dalam keluarga kecilnya itu, seakan menjadi pengingat bahwa usia mereka sudah tak lagi muda.


Harapan untuk bisa hidup bahagia dan damai dimasa tua, tentu juga menjadi harapan setiap orang. Maka dari itu Haris dan Viona memilih keputusan itu, sebab ia tak mau menjadi manusia yang hanya bisa meratapi sesal, saat mendapati anak keturunan kita yang menjauh akibat kurangnya kasih sayang dari diri kita sendiri.


Sedangkan Ara kali ini ia tampak kembali baik seperti sebelumnya. Tidak lagi merasa mual seperti halnya kemarin. Itu pun juga karena pengertian dari suaminya yang menghindar sendiri darinya, saat merasa tubuhnya sedang berkeringat.


Tak terasa hari pun sudah menjelang petang. Suara deru mobil milik Zayn terdengar sudah tiba. Tidak seperti biasanya saat dirinya datang bekerja istrinya itu akan menunggu diambang pintu menyambut kedatangannya, kali ini tiada bayangan dari Ara menyambutnya.


Pria itu melangkah lebar menuju kamarnya berada. Setelah sebelumnya disapa oleh Inah agar setelah ini berkumpul turun untuk segera makan malam bersama.


Ceklek.

__ADS_1


Handle pintu itu terbuka perlahan. Terdengar suara cekikikan dari seseorang yang berada didalam kamarnya. Merasa penasaran dengan siapa Ara bercanda, Zayn pun semakin melangkah masuk kedalam kamarnya.


"Astaga!" pekiknya terheran heran.


Ara dan Ziyyan sama sama menoleh ke arah Zayn berdiri.


"Sayang, Ziyyan kamu apakan?" Pria itu berjalan mendekat ke arah Ara dan Ziyyan berada.


Sebagai wanti wanti Ara pun mengenakan kembali maskernya, sebab ia merasa yakin jika saat ini suhu tubuh suaminya itu sedang berkeringat. Secara pria itu memang baru datang dari kerja.


"Ziyyan, kenapa kamu mau diginikan sama bunda?" Tanyanya gemas sendiri.


Bagaimana tidak gemas, kondisi Ziyyan saat ini sudah tebal dengan taburan bedak baby diwajahnya. Entah apa tujuan Ara melakukannya, yang pasti Ara melarang Zayn untuk menghapus itu dari wajah Ziyyan.


"Ini tuh lucu, Mas. Gumush, wangi, kayak aroma khas baby." Itulah alasan Ara melakukannya.


"Ya, tapi anak kita nggak harus digituin juga, Sayang. Ini bukan bikin gemes, malah aku lihatnya kayak gula donat." protes Zayn, merasa kasihan sendiri dengan keberadaan Ziyyan yang terlihat pasrah digitukan oleh bundanya.


Ara mencebik kesal sambil menatap Zayn. Sesaat ia melirik kepada Ziyyan yang terlihat enjoy saja meski telah dibegitukan.


"Kalau begitu..."


Tiba tiba muncul ide konyol dibenak Ara. Dari pada ia melakukan itu kepada Ziyyan, bukankah lebih seru kalau hal ini juga ia lakukan kepada suaminya?


Ara pun tersenyum devil menatap lekat pada suaminya. Zayn seketika menaruh curiga ditatap horor oleh istrinya. Pria itu pun memilih melangkah mundur, akan tetapi istrinya itu tetap mengikuti kemana langkahnya.


"Sayang, plis deh. Ini nggak lucu." ucap Zayn, ditengah kepanikannya dibuntuti Ara sambil memegang bedak baby ditangannya.


"Katanya bau keringatku nggak enak, ini kok mendekat. Aku masih belum bersih bersih loh, Sayang."


"Kalo dipakein ini pasti bau keringatnya kalah," ujar Ara, sambil memulai saling kejar mengejar dengan suaminya.


"Tidaaaaaaaaak......."


Ziyyan pun hanya bisa tertawa riang mendapati kedua orangtuanya yang bergurau tak ayalnya bocah kecil saja.

__ADS_1


*


__ADS_2