Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 67


__ADS_3

Udara malam di pedesaan itu terasa lebih dingin. Sudah lama Zayn tak pernah merasakan udara sejuk seperti yang ia rasa saat ini. Setelah satu jam yang lalu ia menyelesaikan meeting pertamanya dengan team yang akan bekerjasama dalam penanganan proyek yang akan ia laksanakan beberapa waktu ke depan, ia memilih duduk menyantaikan diri di kursi taman sebuah villa yang ia tempati saat ini.


Angin berhembus begitu semilir, sedang cuaca langit malam ini sangat cerah. Zayn sangat menikmati suasana sunyi seperti saat ini, dimana ia tak lagi mendengar suara bising dari aneka kendaraan yang berlalu lalang seperti di kota.


Cukup lama ia berdiam seorang diri, hingga akhirnya Hanung datang menghampirinya sambil membawakan secangkir kopi hitam panas minuman khas desa tersebut.


"Terimakasih, Nung," ucap Zayn saat asistennya itu meletakkan kopi itu di meja.


"Nung, temani aku, duduklah di sini," pinta Zayn.


Hanung sedikit tercengang, karena tak biasanya Bossnya itu mengajaknya duduk bersama. Biasanya Zayn selalu menyuruh Hanung agar beristirahat, jika memang sudah tidak ada hal yang dikerjakan lagi.


Hanung duduk di kursi kosong sebelah Zayn. Ia menatap dengan seksama kepada Zayn. Berbagai pikiran bimbang perlahan menghantuinya, takut-takut Bossnya itu akan memberinya ultimatum mengingat dirinya yang terkadang sering ceroboh dalam bertindak.


"Kau tak buat kopi juga, Nung?"


"Sudah tadi." Hanung menjawab sekenanya.


"Gak usah tegang gitu, aku cuma mau ngajak ngobrol sebentar." Zayn beralih menatap Hanung.


Terlihat asistennya itu menghela nafasnya lega, dan Zayn hanya bisa tersenyum getir melihatnya.


"Mau?" Tiba-tiba Zayn mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya. Yang kemudian ia mengambil sebatang dan menyalakan ujung rokok tersebut dan langsung menyesapnya begitu rileks.


"Anda....?" Lagi-lagi Hanung tercengang. Selama kurang lebih tiga tahun dirinya menjadi asisten pribadi Zayn, baru sekarang inilah ia melihatnya demikian.


"Gak usah kaget gitu. Aku cowok, Nung. Kalau aku cewek kau masih pantas kaget begitu."


Dan Hanung hanya bisa manggut-manggut mendengarnya.


Sejenak mereka sama-sama terdiam. Dan hal itu tentu membuat Hanung merasa tak nyaman. Karena baru pertama inilah Zayn mengajaknya menemaninya tanpa ada obrolan penting yang dibahasnya.


Dari pada boring hanya melihat Bossnya menikmati rokok hingga habis dua batang, Hanung memilih membaca novel online kesukaannya.


Cerita yang sedang dibaca oleh Hanung kebetulan bertema komedi romantis. Hingga sesekali membuatnya tak sadar senyum-senyum sendiri, bahkan terkadang tertawa kecil. Menyadari itu Zayn hanya ikut tersenyum. Asistennya itu memang kadang suka lupa waktu jika sudah membaca novel online kesukaannya.


Ayoo, siapa nih yang kalo baca Novel sering lupa waktu dan keadaan seperti Hanung?๐Ÿ˜„


"Lucu ya, Nung?" Pertanyaan Zayn membuat yang ditanya bereaksi gelagapan.

__ADS_1


"E-eh, eh, iya, Pak. Eh, tidak."


"Lihat kau bisa enjoy seperti itu aku iri, Nung." Sesekali Zayn menghela nafasnya, membuat Hanung memilih menyudahi kegiatannya karena tiba-tiba merasa iba mendengar ungkapan Zayn.


"Kenapa berhenti? Kau lanjutkan bacanya." Zayn mengambil sebatang rokok lagi untuk ia nikmati lagi.


"Pak, anda sudah habis tiga batang rokok loh." Hanung berkata sangat pelan, takut Zayn merasa tak enak karena ucapannya.


Dan Zayn hanya menanggapinya dengan senyum getirnya. "Kau tak pernah merokok?"


Hanung langsung menggelengkan kepalanya. "Aku merokok kalau sedang banyak pikiran saja, Nung." Terlihat Zayn sangat menikmati kegiatannya itu.


"Tentang proyek ini, Pak?" Sikap kepo Hanung mulai muncul.


"Bukan." Zayn menyahut singkat.


"Tentang anak kecil yang memanggil anda ayah?" Hanung mengecilkan suaranya di kalimat terakhirnya. Biarlah ia dibilang tak tahu diri dengan atasannya menanyai hal yang tadi, ia hanya ingin lebih akrab dengan atasannya itu.


Seketika Zayn menoleh menatap Hanung. Awalnya tatapannya itu begitu dingin, hingga membuat Hanung merutuki dirinya sendiri karena iseng menanyakan hal yang tadi. Tapi ternyata sesaat kemudian Zayn terkekeh sendiri.


"Apa aku sudah pantas menjadi ayah, Nung?"


"Kalau ternyata aku memang sudah punya anak, bagaimana menurutmu?"


Hanung tercengang mendengarnya. Namun tak lama ia pun tertawa lepas sampai tak terasa ia menepuk-nepuk pahanya sendiri saking terpingkalnya.


"Apa ada yang lucu sama pertanyaanku, Nung?" Zayn merasa curiga dengan aksi Hanung itu.


"Bapak sedang halu ya?" Hanung malah menanyainya setelah ia bisa berhenti dari tawanya.


"Tidak." Zayn menjawab enteng.


Hanung terdiam. Ia menatap serius kepada pria yang tiba-tiba terbuka dengannya saat ini. Biasanya Zayn tak pernah ngobrol selama ini dengan Hanung, Jika tidak tentang masalah pekerjaan. Sekarang kenapa tiba-tiba Bossnya itu care kepadanya?


"Sudah, jangan dipikirkan. Aku cuma gurau."


Tangan Zayn terulur mengambil kopi yang sudah mulai dingin, meminumnya hingga tersisa separuh.


"Kirain beneran, Pak." Hanung hanya bisa nyengir.

__ADS_1


"Bapak gak ada niat mau cari calon istri?" Hanung semakin berani menanyai hal yang pribadi kepada atasannya itu.


Zayn melirik kepada Hanung, lalu pria itu hanya bisa tersenyum tipis kepada asistennya yang mulai kepo dengan kehidupan pribadinya. "Sudah ada. Tapi sekarang masih hilang entah kemana," sahutnya enteng.


"Hilang? Maksudnya?"


"KEPO!!"


Hanung hanya bisa mendengus kesal karena merasa sedang dikerjai oleh Zayn. Dan Zayn hanya bisa tertawa geli melihat reaksi lucu dari asistennya itu.


"Tahu dikerjain gini mending aku lanjut baca novel." Hanung menggerutu tak jelas. Lalu kemudian ia kembali menyalakan ponselnya, mencari judul novel baru yang kemungkinan belum ia baca.


Suasana kembali hening. Zayn masih nikmat dengan batang rokok yang entah sudah ia hisap ke berapa kalinya, sedangkan Hanung lagi-lagi terbawa dalam kehaluannya membaca novel baru yang ia temukan di aplikasi biru yang ada di ponselnya.


Namun kali ini ekspresi Hanung berubah sendu, mungkin reaksi dari yang dibacanya itu. Hingga membuat Zayn tergoda lagi untuk mengganggunya.


"Baca apa lagi, Nung?" Zayn pura-pura kepo. Padahal ia hanya ingin mengganggu keseriusan Hanung saja.


"Ceritanya bikin baper, Pak." Ekspresi Hanung mulai sendu.


"Ceritanya ada anak kecil yang rindu dengan ayahnya. Sampai-sampai anak kecil itu menganggap orang lain sebagai ayahnya, yang memang tidak ada kabar sama sekali." Hanung menceritakannya tanpa diminta.


"Memang ada cerita kayak gitu?"


"Ada, Pak. Nih, judulnya LOVE OF AURORA"


๐Ÿ˜œ


Wkwkwk....


Sekalian sambil promosi ๐Ÿ˜…


Yuk ah, ramein komentarnya dong....


Like dan komentar dari kalian sangat berarti bagi Author๐Ÿ˜Š


Yang belum masukkan ke rak favoritnya, pliiiss masukkan dong....


Salam sayang buat readers semua๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2