
Zayn dan Ara menikmati hubungan mereka dengan begitu bahagia. Di tengah kesibukannya masing-masing dua sejoli itu, jika tidak bisa bertemu di kampus maka mereka akan selalu menyempatkan diri untuk saling bertemu di luar. Seperti ke Cafe, Bioskop, atau ke tempat manapun yang mereka suka.
Sungguh pasangan yang tengah di mabuk asmara itu terlihat selalu menempel dan nyaris tak ada waktu untuk sekedar berkumpul lagi dengan sahabat mereka Sisil dan Tommy.
Hari-hari yang mereka lewati selama dua minggu ini terasa amat sempurna. Apalagi ketika mereka sudah tidak sungkan lagi untuk saling memperkenalkan hubungan mereka kepada teman-teman seangkatan Zayn dan juga sebaliknya Ara pun demikian.
Hubungan yang mereka jalani memang tidak seperti kebanyakan pasangan yang terkena bucin pada awal-awalnya. Ara dapat menerima Zayn yang tak bisa berperan romantis, sebaliknya Zayn juga selalu berusaha bisa mengimbangi sifat kekanak-kanakan Ara yang kadang muncul. Akan tetapi mereka berdua dapat menerima karakter masing-masing, sehingga membuat hubungan mereka semakin erat.
"Entar malam Tommy ngadain acara party kecil-kecilan sama teman-teman, kamu mau ikut gak?"
Zayn menawari Ara untuk ikut serta di pesta perayaan kelulusan Tommy yang rencananya akan di adakan di sebuah Club malam.
Ara terlihat berpikir sambil mengaduk-aduk es coffe yang ia pesan di Cafe tempat mereka bertemu saat ini.
"Ehm, gimana ya?"
Gadis itu masih berpikir. Bilang gak ya?
"Kamu ada rencana lain?" Tanya Zayn sambil tangan itu masih setia menggenggam tangan Ara.
"Entar malam tuh aku sudah terlanjur janji sama Mira mau datang ke acara pesta ultahnya." Ara akhirnya berterus terang kepada Zayn.
"Mira?" Tanya Zayn yang tak pernah mendengar nama itu sebelumnya.
"Mira itu teman sekelas aku pas SMA. Kita dulu tuh pernah deket, jadi rasanya gak enak kalo aku gak datang."
"Jadi yang datang teman-teman SMA kamu?"
Ara hanya mengangguk.
"Keanu juga?" Zayn mulai memasang wajah curiga.
"Gak, Kak, pesta entar malam tuh khusus cewek, jadi Keanu gak di undang."
"Ooh....."
Ekspresi Zayn kali ini membuat Ara terkekeh melihatnya.
__ADS_1
"Kamu cemburu?"
Ara menggoda Zayn yang hanya terdiam dan menikmati es coffenya.
"Kamu jangan nakal ya di partynya Mira itu," pesan Zayn yang kemudian mendapat senyuman manis dari Ara.
"Iya, lagian kan pestanya juga khusus cewek kok. Kamu tenang aja, di sana tuh gak ada cowoknya, jadi aman." Ara sedikit mengerlingkan matanya berusaha meyakinkan kecemasan Zayn padanya.
"Justru party yang khusus cewek itu yang kadang sering kelewat batas."
"Kok bisa?" Ara mulai mengernyitkan keningnya.
"Entar malam tuh bukan party bikini kan?" Zayn mencondongkan wajahnya pada Ara yang sudah terperangah mendengar pertanyaannya.
"Ish, kamu jangan mesum deh, ehm," ucap Ara sambil membubuhi cubitan nakal di pipi Zayn.
"Jadi bener ya gak bisa ikut ke partynya Tommy?"
Ara kembali mengangguk meyakinkan. "Sorry ya," ucapnya kemudian sambil tangan itu mengelus lembut pipi kiri Zayn, bekas cubitannya tadi.
Sebenarnya ia tidak begitu memaksa Ara untuk bisa ikut dirinya ke sebuah Club malam itu. Karena yang ia rasa tempat itu terlalu vulgar untuk Ara yang masih terlalu polos menurutnya.
.
Jam 23.30 WIB.
Suara musik DJ di Club malam itu sudah semakin menggema sehingga terasa memekakkan telinga. Zayn tak bisa menikmati pesta malam ini. Tidak seperti teman-temannya yang lain, yang sudah mulai turut terbawa suasana.
Empat dari tujuh teman seangkatan yang khusus di undang oleh Tommy ke pesta malam ini sudah mulai turun ke lantai dansa. Selebihnya, Zayn, Tommy, dan satu teman cowok lagi masih stay duduk menikmati suasana Club yang semakin malam terasa semakin panas.
Sebenarnya Zayn tak begitu tertarik dengan suasana Club malam yang penuh dengan hingar bingar. Kalau bukan karena Tommy, mungkin ia akan berpikir tujuh kali untuk mau datang ke tempat yang penuh godaan iman bagi kaum cowok melihat banyaknya gadis yang berpenampilan begitu vulgar di Club ini.
"Nih....."
Untuk kesekian kalinya Tommy menyodorkan segelas wine kepada Zayn, yang selalu ditolak oleh Zayn.
"Minum dikit gak mungkin teler," ucap Tommy yang ternyata dirinya sudah di ambang ketidaksadaran.
__ADS_1
Zayn meraih gelas berisi wine itu, karena terasa menghalangi pandangannya. Ia meletakkan kembali wine itu di atas meja didepannya.
Tommy menepuk agak keras di pundak Zayn. Terlihat mata Tommy sudah sedikit memerah, roman-roman sudah mulai teler.
"Eh, Zayn, lo takut mabok karena lo takut kebablas nyium cewek orang lagi kan?" Tommy berkata sambil tertawa-tawa sendiri, khas orang mabok.
Zayn menatap jengah pada Tommy. Bisa-bisanya sahabatnya itu membuka aibnya ditengah ketidaksadarannya. Sial!
Memang dulu Zayn pernah mabok dan hal itu tak akan ia ulangi lagi seumur hidupnya. Pria itu dulu nyaris di pukul bertubi-tubi oleh seorang preman, karena tak sengaja Zayn yang sedang mabok berat mencium kekasihnya. Untung saja saat kejadian itu banyak yang melerai, hingga membuat Zayn terselamatkan.
Zayn tak lagi menghiraukan racauan Tommy yang sudah berada dibawah pengaruh minuman keras. Sahabatnya itu terlihat berjalan sempoyongan untuk bergabung dengan yang lain di lantai dansa.
Pria itu sedikit menyunggingkan senyumnya melihat Tommy mulai beraksi dengan dance ala maboknya. Ia jadi teringat dulu ketika Tommy pertama kali mengajak dirinya pergi ke tempat ini hingga terjadi hal yang tidak mengenakkan itu.
"Dasar Tommy!" Zayn dibuat terkekeh geli melihat aksi dance Tommy yang semakin menjadi.
Pandangan Zayn kembali disibukkan untuk melihat teman-teman yang lainnya, yang tak jauh berbeda kondisinya dengan Tommy.
Mungkin benar tujuan mereka datang kemari untuk menghilangkan segala frustasi yang menumpuk akibat skripsi yang selalu terkena revisi. Dan disini lah mereka membuangnya di saat mereka sudah dinyatakan lulus, maka tak heran jika mereka terlihat seperti orang gila saat ini.
"Zayn............."
Tommy berteriak memanggil nama Zayn mengajaknya untuk turun ke lantai dansa.
Zayn berjalan ke arah Tommy, dan sahabatnya itu tersenyum puas karena menyangka Zayn mau ikut ajakannya untuk dance.
Tapi ternyata Zayn terus menyerobot masuk lewat celah orang-orang yang sudah beraroma wine dan sejenisnya itu.
Tommy tak menghiraukan lagi kemana Zayn akan pergi, ia kembali asyik dengan suara musik DJ yang semakin menjadi.
Zayn terdiam. Pria itu menatap lekat pada sosok yang tadi sepintas samar-samar ia lihat dari kejauhan. Dan ternyata benar dugaannya itu,
"Aurora......."
*
*See you next part reader's🤗🤗🤗
__ADS_1