Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 66


__ADS_3

"Kenapa kau senyum-senyum kayak gitu, Nung?"


Zayn sangat penasaran ingin mengetahui hal apa yang sedang dipikirkan asistennya itu. Sebab sedari pergi dari saat bertemu bocah kecil yang memanggil Zayn dengan sebutan ayah, asistennya itu terus-terusan cengengesan. Membuat Zayn semakin jengkel melihatnya.


"E-eh, eh, tidak kenapa-napa, Pak." Hanung menjawab sedikit gugup, karena sepertinya mood bossnya itu sedang kurang baik jika di ajak untuk bercanda tentang hal yang tadi.


"Ck! Kau mengejekku ya?" Zayn masih belum puas menanyainya, kalau belum asistennya itu berterus terang tentang senyum tak jelasnya itu.


"Tidak, Pak. Mana saya berani mengejek atasan saya sendiri." Hanung berusaha kembali fokus mengendarai mobilnya, padahal sebenarnya ia merasa lucu jika teringat dengan bocah kecil tadi.


Ketika tadi bocah itu memanggil Zayn dengan sebutan ayah, wajah Bossnya itu berubah aneh. Dan karena hal itu yang membuatnya tak terasa kembali senyum-senyum sendiri.


"Kumat lagi. Kau fokus lah lihat ke depan, jangan terulang yang seperti tadi." Ternyata Zayn masih memperhatikan gerak gerik Hanung.


"Iya, ini sudah fokus, Pak." Sesaat Hanung terdiam.


Lantas ia melirik kepada Zayn lewat kaca spion depan, karena kebetulan Bossnya itu memilih duduk dibelakangnya. Sepintas Hanung merasa kasihan juga melihat nasib atasannya itu. Di usianya yang sudah matang seharusnya Zayn sudah memiliki sebuah keluarga dan juga sangat pantas jika dirinya sudah dipanggil ayah.


Namun jika diingat kembali dengan pekerjaan Zayn yang tak pernah ada jeda, mana mungkin bossnya itu ada kesempatan untuk mencari calon pasangan hidup.


"Semua ini gara-gara Pak Haris!" Diam-diam Hanung mengumpat kesal pada pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Karena perintah CEO nya itu hingga membuat Zayn menjadi jomlo abadi menurut Hanung.


"Iiih, amit-amit. Semoga Pak Zayn tidak ketularan Pak Haris. Bisa-bisa nanti aku jadi jomlo abadi juga." Hanung jadi begidik ngeri sendiri dengan apa yang sedang dipikirkannya.


"Kau kenapa lagi, Nung?"


"Sial! Si Boss merhatiin lagi!" Hanung kembali gelagapan.


"Ehm, soal meeting hari ini, Pak." Hanung malah mengalihkan topik.


"Kenapa?" Zayn menanyainya, sambil kembali melirik jam dipergelangan tangannya. Meeting nya masih kurang lima puluh menit lagi.


"Apa tidak sebaiknya meeting nya di tunda beberapa jam lagi, Pak?"


"Kau capek?" Zayn malah balik bertanya.

__ADS_1


Hanung menggelengkan kepalanya. "Saya takut anda yang capek, Pak. Lebih baik kita istirahat dulu sejenak, Pak. Setelah itu kita bisa lanjut meeting nya."


"Kenapa kau jadi mengguruiku?" Zayn menanyainya heran. Yang lantas ekspresi Hanung berubah menjadi serba salah, takut-takut usulannya itu membuat Zayn merasa tersinggung.


Hanung hanya terdiam, tak berani berucap apa-apa lagi.


"Terserah kau lah." Zayn menyahut pasrah.


Sebenarnya ia tahu jika asistennya itu amat perhatian terhadapnya. Kebetulan juga moodnya hari ini sedang tidak fokus, disebabkan kejadian tadi. Sungguh, sebutan ayah dari bocah kecil itu cukup menyita pikiran Zayn saat ini. Entah mengapa mendengar sebutan itu tadi membuat perasaannya muncul rasa aneh, yang sangat sulit untuk diartikan.


*


Ara sudah sampai didepan rumah makannya. Lantas ia segera menenteng barang belanjaannya, setelah sebelumnya ia turun dari Abang tukang ojek yang mengantarnya dari pasar.


"Bunda......" Ziyyan berlari menyambutnya.


Ara hanya tersenyum riang melihat raut bahagia yang dipancarkan anaknya itu.


"Tadi Ayah datang, Bunda." Ziyyan berucap, membuat Ara tak sengaja menjatuhkan barang bawaannya begitu mendengar pengakuan dari Ziyyan.


"A-ayah?" Ara menanyainya heran. Dan Ziyyan hanya mengangguk senang.


"Ibu," sapanya dengan alur nafas yang tidak stabil.


"Sudah datang, Nak." Narsih mengambil dua kantong kresek besar yang dipegang Ara.


"Tadi Ziyyan...." Ara tak berani melanjutkan ucapannya. Mendengar pengakuan anaknya saja tadi, membuatnya terasa gemetar tak percaya.


"Ooh, gak usah didengar. Ziyyan mungkin salah orang." Narsih menuntun Ara untuk duduk disampingnya.


"Maksud Ibu?"


Narsih kemudian menceritakan semua yang terjadi. Kebetulan tadi Ara sedang tidak ada saat kejadian itu. Setelah mendengarnya, akhirnya Ara kembali bernafas lega.


Semula dirinya berpikir kalau ada seseorang yang datang dan mengaku sebagai ayahnya Ziyyan. Tapi setelah mendengar cerita dari Narsih, ia hanya bisa menatap iba kepada Ziyyan yang sedari tadi bermain didekatnya.

__ADS_1


"Entah sampai kapan kamu akan tahu siapa ayahmu sebenarnya, Nak. Bahkan sampai sekarang pun ayahmu tidak mencari keberadaan kita. Dan itu yang membuat Bunda ragu untuk berterus terang sama kamu, tentang siapa sebenarnya ayahmu."


Air mata itu kembali membanjiri wajah ayu Ara. Rasanya ia sudah tak sanggup terus-terusan membohongi anaknya itu, tiap kali bocah polos itu menanyai tentang siapa dan dimana ayahnya.


"Bunda." Ziyyan menyapa Ara.


"Hmm..." Ara terkesiap untuk segera menghapus air matanya.


"Tadi Ayah bilang mau datang lagi kesini. katanya Iyyan mau dibelikan mainan yang baru." Jelasnya begitu bersemangat.


Ara hanya bisa menghela nafas beratnya. Rasanya sangat menyesakkan dadanya setelah mendengar pengakuan Ziyyan yang sangat berharap orang itu datang kembali.


"Ziyyan, kesini, Nak." Ara menepuk pahanya, yang kemudian Ziyyan menghampirinya dan langsung duduk dipangkuannya.


Ara memeluk erat tubuh kecil Ziyyan. Air matanya kembali menetes mewakili perasaannya yang terluka akibat penyesalan di masa lalunya. Sesekali ia mencium puncak kepala Ziyyan yang berada dalam pelukannya. Beribu kata maaf terlontar dari lubuk hati terdalamnya, yang tak mampu ia ucapkan hal itu pada bocah polos seperti Ziyyan.


"Bunda kenapa menangis?" Ziyyan mendongakkan kepalanya, tangan kecilnya terulur mengusap cairan bening itu dipipi Ara.


"Tidak, Bunda tidak menangis." Berbohong satu-satunya jalan terbaik saat ini.


"Ini..?" Ziyyan masih mengusap air mata yang tak bisa di bendung oleh Ara.


"Ini karena Uti tuh." Ara mengalihkan pandangannya kepada Narsih yang kebetulan sedang merajam bawang merah.


Ziyyan terkekeh melihatnya. "Bunda cemen. Sama bawang merah saja Bunda kalah."


Ara tersenyum geli mendengar ucapan Ziyyan. Bocah itu langsung percaya dengan kebohongan yang dibuat Ara. Dan sesaat mereka pun kembali tertawa dalam canda tawa diantara mereka.


Tak lama kemudian Ziyyan memilih turun dari pangkuan Ara. "Jangan main di tepi jalan lagi ya." Ara memperingati Ziyyan yang melangkah keluar.


"Iyyan tidak mau main, Bunda. Iyyan mau nunggu Ayah disini."


Jleb.


Ara kembali terdiam untuk kesekian kalinya. Anaknya itu memang terkadang cukup keras kepala jika sudah berkeinginan. Mungkin nanti ia harus bicara dengan anaknya itu, supaya tak lagi mengharapkan kedatangan orang yang bukan ayahnya. Mungkin Narsih juga bisa membantu mengatasi ini nanti.

__ADS_1


Sedangkan Ziyyan tetap dengan wajah berserinya. Dirinya memilih duduk di kursi panjang yang memang tersedia didepan rumah makannya itu. Menunggu dengan penuh harap akan kedatangan pria itu kembali. Pria yang diakuinya sebagai ayahnya.


*


__ADS_2