Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 156


__ADS_3

Menginjak usia kandungan Ara yang sudah berjalan sepuluh minggu, rupanya ngidam yang dialami Zayn berangsur mereda. Pria itu mulai aktif lagi bekerja di kantor, meski begitu setiap harinya ia sudah tidak bisa terlambat pulang dikarenakan Ara yang selalu merajuk tak jelas tiap kali Zayn telat pulang meski hanya sekitar sepuluh menitan.


Bisa jadi ngidam itu sudah berpindah kepada Ara, sebab akhir akhir ini memang Ara lah yang terkesan sangat manja melebihi biasanya.


Ziyyan yang sudah mengetahui bahwa dirinya akan memiliki seorang adik tentu sangat bahagia. Apalagi ketika teringat akan ucapan temannya semasa di kampung ibu Narsih dulu, bahwa jika sudah memiliki adik tidak boleh manja dan merepotkan ayah bunda, maka Ziyyan melaksanakan seperti yang sering diucapkan Nabil padanya dulu. Sungguh bocah itu sudah benar benar tumbuh menjadi anak mandiri yang sepatutnya diusia sepertinya masih banyak yang suka mengekor kemana orangtuanya pergi.


Berbicara tentang ibu Narsih, Ara dan Ziyyan sangat merindukan sosok ibu angkat penuh kasih dan penyabar seperti beliau. Maka setelah Zayn mengagendakan untuk mengambil cuti kerja dan berencana menyambangi ibu Narsih, mereka pun berangkat kesana.


Puas menyalurkan rasa rindu kepada ibu Narsih setelah bermalam dirumahnya selama empat hari, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Zayn. Karena memang selama mereka menikah, baru kali inilah Ara bisa bersilaturrahim kepada mertuanya itu.


"Bagaimana kandungannya, Nak? Sehat kan? Di jalan tadi mual atau pusing nggak?" cerca Rahayu, ketika mereka sudah sampai dirumah sederhana milik keluarga Zayn.


"Alhamdulillah nggak rewel, Bu," sahut Ara, sangat ramah.


Tangan Rahayu terulur untuk mengusap perut rata Ara, senyum tipisnya tetap terpasang seakan sedang menyapa cucu yang masih berada dikandungan menantunya itu.


Zayn yang melihat secara langsung merasa terenyuh sendiri. Betapa bersyukurnya ia karena memiliki keluarga yang saling mengasihi dengan tulus.


"Sayang, aku beres-beres dulu ya.." sapa Zayn sambil menyeret dua koper berukuran tanggung berisi pakaian mereka, bersiap melangkah menuju kamarnya.


"Biar aku bantu Mas.." Ara beranjak berdiri, tetapi langsung dicegah oleh Narsih dengan gelengan kepalanya.


"Biarlah," ucapnya lembut. Tentu Rahayu tidak mau menantunya itu nanti akan merasa kelelahan yang nanti akan berpengaruh buruk terhadap kandungannya.


Membiarkan Zayn berbenah seorang diri bukan karena tega karena sama sama capek melakukan perjalanan jauh. Akan tetapi keberangkatan mereka kesini diantar oleh Rudy sebagai sopirnya, dan sudah pasti Zayn tidak terlalu merasa lelah ataupun penat.


"Bagaimana sikap Zayn selama kamu mengandung? Perhatian atau malah menyebalkan, hem?" tanya Rahayu, berusaha membangun komunikasi apik dengan menantunya itu.


"Perhatian sih perhatian, cuma baru akhir-akhir ini saja, Bu." Mulut Ara mulai mengerucut, teringat betapa manjanya Zayn disaat sedang syndrom cauvade kemarin.


Rahayu hanya tersenyum tipis. Ia sudah mendengar juga dari Viona jika yang sering ngidam itu adalah Zayn, dan sudah bisa dibayangkan bagaimana riwehnya mengurusi orang yang sedang ngidam.


"Tapi yang penting sekarang Zayn sudah nggak ngidam aneh-aneh lagi kan?" Rahayu menyentuh lengan Ara sambil mengusap lembut penuh kasih.


Ara mengangguk saja. Senyum tipisnya terukir dari sudut bibirnya mengingat betapa Zayn memanjakan dirinya akhir-akhir ini, bahkan rela melakukan apapun demi kenyamanan bumil tersebut.


"Sudahlah, kamu istirahat dulu dikamar. Ibu nanti siapkan sarapan dulu. Kamu pingin makan apa?"


"Tidak perlu repot repot, Bu. Aku makan yang ibu masak saja. Masalah makanan alhamdulillah aku nggak terlalu rewel. Bagaimana kalau aku bantu ibu masak, boleh ya?"

__ADS_1


Rahayu menggeleng pelan. Bagaimana pun ia tidak akan membiarkan menantunya itu kelelahan dan membuatnya stress. Biarlah ia akan dianggap sebagai mertua yang memanjakan menantu, paling tidak ia tidak akan merasa menyesal bila nanti terjadi hal buruk akibat membiarkan Ara beraktifitas lebih.


"Masa aku cuma diem aja, Bu. 'Kan badan pegel semua kalau nggak dibawa gerak." Ara masih berusaha ngeyel, merasa tak enak hati menjadi menantu yang tak tau diri menurutnya.


"Urusan membantu biar Cinta yang membantu ibu. Dah, kamu pokoknya diem, istirahat, jaga kandungan baik baik," Kedua kalinya Rahayu mengusap pelan pada perut Ara.


Cinta yang kebetulan mendengar obrolan keduanya langsung mengacungkan jempol kepada Ara.


"Serahkan semuanya sama aku, Kak.." serunya, saat ini posisi gadis itu sedang memangku Ziyyan dan terlibat candaan seru dari keduanya.


Alhasil Ara hanya bisa pasrah, meski sebenarnya hatinya merasa tak enak mendapat perlakuan bak seorang ratu dari keluarga Zayn.


"Sayang," Zayn kembali menyapa. Kali ini pria itu berdiri diambang pintu kamarnya sambil melambaikan tangan kepada Ara, isyarat mengajaknya mendekat.


Ara lekas beranjak begitu mendapat anggukan dari Rahayu. Wanita itu menatap curiga pada Zayn yang sepertinya sedang memasang kode aneh dari tatapannya.


"Ada apa, Mas?" sapanya, begitu Zayn sudah menariknya masuk kedalam kamar.


"Bobok yuk.." Kedua tangan Zayn sudah melingkar manja dipinggang Ara, dengan dagu yang menopang dipundak istrinya itu.


"Ini masih sore loh, Mas.."


"Hem, manjanya kumat lagi." Ara membalik posisinya saling menghadap kepada Zayn, dan ia pun melingkarkan tangannya dileher Zayn.


Cup. Cup. Cup.


Zayn mencium gemas pada seluruh wajah Ara. Entah mode apalagi yang sedang menimpanya kali ini.


"Uuh... Gemmes deh," ucap Zayn, setelah puas menghujani wajah Ara dengan ciumannya.


"Bobok yuk?" ajaknya lagi, kali ini tangannya itu menarik pergelangan tangan Ara, menuntunnya duduk diranjang.


"Aku bersih bersih badan dulu, Mas. Rasanya sudah lengket semua, asem lagi." Spontan Ara menciumi area keteknya sendiri.


"Yang asem ini yang enak," Zayn menarik tubuh Ara lagi, membuat rusuh pada tubuh istrinya dengan mengendus nakal pada daerah ketiak istrinya.


"Apaan sih, Mas? Jorok, iiih..." Wanita itu sedikit menggeliat geli mendapati perlakuan Zayn yang terbilang sangat sangat aneh.


"Jangan mandi dulu ya? Aku masih ingin menghirup bau segar ini." Lagi lagi Zayn mengulangi kegiatannya yang semula, mengendus nakal hingga membuat keduanya ambruk ke kasur.

__ADS_1


"Aneh kamu, Mas. Hentikan, Mas... Geli tauk!" Ara berusaha menghindar dari kegiatan Zayn yang sangat merusuh.


Terdengar suara gelak tawa dari Ara, karena tak kuat menahan rasa geli. Dan Zayn sama sekali tak mengindahkan seruan Ara yang menyuruhnya berhenti. Hingga sampai pada Zayn yang sudah merasa puas menciumi aroma asam yang bersarang dari ketiak itu, maka setelah itu Zayn menyudahi kegiatan anehnya itu.


Ara terduduk diatas kasur, menatap risih pada suaminya yang ia yakini pasti sedang ngidam barusan.


"Mas.." Ara menyapa Zayn yang masih merebah disampingnya.


"Iya, Sayang.." Zayn beranjak duduk saling berhadapan dengan Ara.


"Kita menginap disini agak lama ya?"


"Boleh. Selama kamu betah, dimanapun aku temani."


"Aku suka keluarga kamu. Mereka sangat menerima aku sebagai menantunya. Makanya aku ingin berlama-lama disini, biar aku tambah kenal dan dekat sana keluarga kamu, Mas..." tutur Ara, dengan raut yang sangat berbinar.


Zayn mengusap pucuk kepala Ara, lalu mendaratkan kecupan hangatnya dikening Ara.


"Terimakasih, Sayang. Kamu telah mau menerima keadaan keluarga aku yang jauh sederhana dibanding keluarga kamu. Semoga kelak keluarga kita tetap begini ya, romantis, penuh kasih, dan tetap saling menyayangi walau bagaimanapun nanti."


Ara mengangguk sambil kemudian merengkuh tubuh Zayn kedalam pelukannya.


"Aku juga terimakasih, Mas. Kamu telah bertahan dengan rasa cinta kamu kepadaku. Sudah berjuang sepenuh hati demi mendapatkan aku lagi. Terimakasih telah memberiku kebahagiaan yang sangat berarti dalam hidupku. Hidup bersama kamu adalah harapanku dari dulu, sejak dari pertama aku mengenalmu."


Zayn tersenyum tipis mendengarnya. Memori disaat masa masa kuliah dan pertemuan pertama dengan Ara kembali terngiang indah. Hingga pada masa ketika mereka di uji dengan perpisahan jarak dalam kurun waktu yang cukup lama, dengan berbagai macam kejadian yang berhasil mereka lewati bersama.


Hingga akhirnya kini mereka sudah bisa membuktikan betapa kuatnya rasa cinta yang mereka miliki, dengan terikatnya sebuah pernikahan yang kini sedang merasa bahagia menunggu hadirnya buah hati kedua mereka.


*


Hai readersku semua... Bersyukur sekali othor bisa menyelesaikan novel ini meski sebelumnya sempat rehat sebulan lamanya. Huh..!🙈 Maaf✌


Terimakasih ya buat kalian semua yang sudah mendukung karya amatiran ini dari awal hingga akhir. Semoga kalian tidak kecewa dengan ending dari kisah Ara dan Zayn.


Yang masih penasaran bagaimana akhirnya Tommy, Sisil, dan Bella. Tenang, othor dah siapkan novel khusus mereka. Jangan lupa entar dukung lagi ya..?


Oh, iya... Buat kalian yang juga gemar baca cerpen othor juga punya loh. Kalian bisa langsung klik profil othor dan kalian akan menemukan karya othor disana. Jangan lupa juga, budayakan tekan like dan komentar dari kalian. Othor tunggu yaa...


Salam sayang dari author MAY.s😘

__ADS_1


__ADS_2