Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 48


__ADS_3

Ara sudah memasuki ruang dokter spesialis obgyn di rumah sakit yang ia tuju. Gadis itu memakai masker kain penutup wajah agar tidak di ketahui oleh orang-orang yang mungkin mengenalinya.


Dengan perasaan yang sudah tidak bisa di gambarkan lagi saking paniknya, ia pasrah saja ketika dokter yang seumuran dengan Viona itu mulai melumaskan cairan gel dingin di perutnya yang masih rata.


"Usia kandungannya sudah memasuki 6 minggu. Kondisinya sangat baik, Bu," ucap dokter itu sambil mengukir senyum tipisnya kepada Ara.


Ara hanya terdiam, tak dapat lagi berucap apa-apa ketika dokter itu menyatakan dirinya benar-benar tengah berbadan dua. Tanpa ia sadari tetesan air mata itu mengalir kembali di pipinya, masih tak percaya akan kenyataan yang harus ia jalani.


"Kenapa, Bu?" Dokter itu menyapa Ara yang sedang menangis.


Ara terkesiap, lantas ia segera menghapus air mata itu yang nyatanya tak mudah untuk ia menghentikan tangisan itu.


Tatapan dokter itu mulai curiga, sepertinya dokter itu mulai paham akan kondisi Ara yang mengandung di luar nikah.


"Keluarga sudah ada yang tahu?" Tanyanya penuh perhatian. Sedang tangan dokter itu terulur mengelus punggung tangan Ara.


Ara menggeleng, tangisnya semakin pecah ketika mendengar pertanyaan dokter itu yang seakan mengerti dengan kondisinya.


Spontan dokter itu merangkul Ara dalam dekapannya, mencoba memberinya kekuatan atas apa yang di alaminya.


"Kalau misalnya janin ini saya gugurkan apa masih bisa?" Ara sudah mulai putus asa. Bagaimana tidak, hingga detik ini pun kekasihnya itu belum juga bisa dihubungi lagi. Selalu saja ada notifikasi sedang tidak aktif dari ponsel Zayn.


"Lebih baik bicarakan dulu dengan keluarga atau dengan ayah dari bayi ini. Saya harap jangan gegabah dalam mengambil tindakan. Di usia ibu yang masih muda sangat beresiko besar kalau mengambil tindakan aborsi." Jelasnya begitu perhatian.


Dokter itu melepas dekapannya pada Ara yang tangisnya berangsur mereda. Ia menuju ke meja kerjanya untuk menulis resep untuk Ara. Di ikuti gadis itu yang turut duduk berhadapan dengan sang dokter.


"Ini resep vitamin untuk ibu. Di minum tiga kali sehari ya? Ibu bisa kembali lagi kesini jika ada hal yang ingin ibu konsultasikan."


Ara mengangguk pasrah. Tangannya terulur mengambil resep obat itu.


"Dan ini hasil foto USG kandungan ibu ya."


Dalam tangisnya yang kembali pecah Ara mengambilnya. Ia menatapnya cukup lama, sekeras apapun ia tidak mau mempercayainya, nyatanya janin itu telah benar-benar tumbuh di rahimnya.


"Saya permisi, Dokter," pamitnya.


Dokter itu hanya menganggukkan kepalanya, menatap iba kepada Ara yang sama seumuran dengan anaknya.


Ara melangkah gontai menyusuri tiap koridor rumah sakit itu. Meski dokter itu memberinya resep vitamin tadi, ia sudah bertekad untuk tidak menebusnya. Pikirannya sudah terlanjur buntu untuk menerima kehadiran janin itu di rahimnya.


Di pandanginya lagi ponselnya yang ternyata tak kunjung juga ada balasan pesan atau panggilan masuk dari Zayn. Kenyataan itu membuatnya semakin putus asa untuk tak segan lagi membuang janin yang tak berdosa itu.

__ADS_1


"My Queen."


Ara menghentikan langkahnya ketika mendengar suara yang tak lagi asing baginya, berdiri tepat di depannya.


Gadis itu mulai panik menyembunyikan mata sembabnya dari Keanu yang entah sejak kapan berada di depannya.


"Hay," Sapa Ara sambil mendongakkan kepalanya yang sedari tadi menunduk.


Keanu terlihat menutup mulutnya, sesekali pria itu menepuk-nepuk mulutnya yang tak bisa kompromi menyebut nama Ara dengan sebutan sayangnya dulu, my Queen.


"Dari mana?" Tanya Keanu.


"Eh, ini dari--" Ara kebingungan mencari alasan.


"Eh, lo ngapain disini?" Ara mengalihkan pertanyaan Keanu.


"Gue nungguin mama." Keanu menunjuk lorong jalan menuju ruang mamanya yang sedang dirawat.


"Ooh....." Ara mengangguk pelan. Setahunya memang mamanya Keanu sering sakit-sakitan.


"Gue boleh jenguk?" Mungkin ini bisa di jadikan alasannya juga kepada Keanu mengapa dirinya bisa berada di rumah sakit sekarang.


Mereka berjalan beriringan menuju ruang mamanya Keanu di rawat. Dalam diam ia berharap semoga saja setelah ini pria itu tak lagi menanyainya tentang kedatangannya ke rumah sakit.


"Lo tadi habis periksa atau gimana, Ra?"


"Sial! Masih kepo juga nih orang," umpat Ara dalam hatinya.


"Gue tadi di suruh mami buat nebus obat ini." Gadis itu menunjukkan lembaran resep obat itu sekilas kepada Keanu.


Keanu hanya mengangguk, rasanya gampang sekali untuk mengelabuhi pria itu.


"Gimana hubungan kalian sama kak Zayn? Pasti sering telponan dong?"


Ara memilih tersenyum simpul ketika mantan kekasihnya itu menanyai hubungannya dengan Zayn. Dari yang Ara lihat, sepertinya Keanu telah benar-benar move on darinya. Kecuali tadi, mungkin lidah pria itu sedikit keseleo hingga memanggilnya lagi dengan sebutan my Queen.


"Silahkan masuk." Keanu membuka pintu kamar mamanya di rawat.


Ara mengekori langkah Keanu di belakangnya, terlihat senyum hangat dari wanita yang berbaring di atas ranjang pasien itu menyambut kedatangannya.


"Siapa, Ken?" Sapanya lembut.

__ADS_1


"Dia teman Keanu, Ma. Namanya Aurora." Keanu memperkenalkan Ara kepada mamanya, lantas gadis itu mencium takdzim punggung tangan wanita yang mungkin seumuran juga dengan mami Viona.


"Tante bagaimana kondisinya, sudah mendingan?"


"Yah, beginilah kondisi tante sekarang. Cuma bisa berbaring di bantu cairan infus ini biar lekas sembuh." Wanita itu berujar dengan sorot mata yang sendu.


"Kamu sudah kenal lama sama Keanu?"


"Kita sudah berteman semenjak SMA, Tante."


"Ara ini putrinya bapak Haris Rahardian, Ma." Keanu semakin memperjelas identitas Ara kepada mamanya.


"Oh....." Tangan mama Keanu terulur meraih tangan Ara. Ia tentu tahu nama itu, sebab Keanu pernah bercerita kepada mamanya bahwa ia pernah memiliki hubungan yang kandas dengan putri relasi bisnis papanya oleh sebab campur tangan papanya yang sangat ambisi dengan jabatan dan harta.


"Maafkan kesalahan papanya Keanu ya," ucap mama Keanu sambil memegang tangan Ara.


"Hal itu sudah berlalu, Tante. Sebaiknya jangan di ingat-ingat lagi." Sebenarnya Ara sangatlah kikuk saat ini. Bagaimana tidak, ternyata Keanu menceritakan hubungan yang pernah terjadi di antara mereka kepada mamanya.


"Terimakasih karena masih mau berteman dengan anak tante setelah kejadian itu."


Ara hanya mengulas senyum hangatnya kepada mama Keanu, lantas ia berbalik menatap Keanu yang juga tersenyum kepadanya.


"Di mana papa--"


"Jangan tanyakan dia." Keanu langsung memotong ucapan Ara yang menanyai keberadaan papanya. Nada bicara Keanu terdengar sebal bercampur amarah.


"Ken." mamanya Keanu langsung mengusap punggung tangan Keanu.


Ara semakin kikuk. Lebih baik ia pamit saja. "Eh, Ken, Tante, aku pamit ya?"


"Baiklah, terimakasih sudah sempat menjenguk tante, Ara."


"Sorry, Ra, gue gak bisa anter sampe depan." Ujar Keanu sambil membukakan pintu kamar rawat itu.


"Gak pa-pa, Ken." Akhirnya Ara keluar juga dari ruangan mama Keanu di rawat, menjenguk yang tanpa di rencanakan sebelumnya.


Keanu hanya bisa memandangi punggung Ara yang sudah berjalan jauh darinya. Menatap penuh heran, sebab tadi ia melihat jelas mata sembab itu. Sorot mata itu tadi begitu kentara menandakan adanya kegelisahan yang teramat di dalamya, meski mungkin tadi gadis itu berusaha menutupinya darinya.


"Apa yang sebenarnya lo sembunyikan, Ra?" Lirih hati Keanu begitu mendapati Ara yang sudah benar-benar hilang dari pandangannya.


*

__ADS_1


__ADS_2