
Zayn melajukan mobilnya melalui jalan pintas menuju tempat proyeknya di desa sebelah. Sengaja ia melewati jalan itu meski sebenarnya hanya sekali saja ia dan Hanung pernah lewat jalan di sana.
Niat hati ingin segera sampai di tempat tujuan, apalah daya sepertinya takdir masih mempermainkan kesabarannya. Pria itu terjebak macet di tengah segerombolan orang-orang kampung yang tengah mengadakan hajatan besar untuk merayakan kemenangan terpilihnya kades baru di desa tersebut.
"SIAL!!!" Umpatnya sangat kesal.
Berulangkali Zayn membunyikan klakson mobilnya agar supaya orang-orang yang berpawai di depannya itu memberikan sedikit celah jalan untuknya, namun rupanya hal itu sia-sia saja. Orang-orang tersebut sama sekali tak mempedulikan bunyi klakson mobil Zayn yang berbunyi bertubi-tubi.
Lagi-lagi Zayn hanya bisa menahan emosinya. Dirinya yang akhir-akhir ini memang sering berada di Jakarta, membuatnya benar-benar tidak tahu kalau di desa tempat proyeknya berlangsung sedang mengadakan pesta rakyat lima tahunan itu.
Akhirnya Zayn pun memilih menepi di tepian jalan itu, sedangkan untuk berputar arah sudah sangat mustahil. Mengingat seluruh jalanan pedesaan tersebut sangat ramai dengan pawai warga desa di sana.
Zayn meraih ponselnya lagi berniat untuk menghubungi Hanung, menanyai kemungkinan Ara yang masih menunggunya di sana.
'Telpon yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi.'
Terdengar suara notifikasi dari ponsel Hanung yang berbunyi.
AAAARRGGH....
"SIAL! SIAL!"
Tangannya mengepal erat sambil memukul-mukul gagang setirnya itu, sedang buliran bening itu tak terasa mulai menitik dari pelupuk matanya.
"Tunggu aku Ara," sebutnya dalam do'a.
Pria itu menangis seorang diri di dalam mobilnya. Ia sudah tidak kuat lagi menahan segala sesak yang menyumbat di dadanya. Rasa bersalahnya itu sangat membuatnya resah selama ini. Dan kini setelah ia mengetahui gadisnya itu sedang menunggunya di sana, rupanya takdir masih menyulitkannya untuk bertemu dengannya saat ini.
.
.
"Oh... iya, iya. Terimakasih, Wan."
Rudy menutup panggilan dari Iwan, tetangganya yang bersebelahan rumah dengan Narsih.
Pria separuh abad itu membuka pintu mobilnya untuk menyapa Ara yang duduk seorang diri sembari menunggu kedatangan Ziyyan.
__ADS_1
"Neng Ara," sapanya pelan.
Ara terkesiap mendengar sapaan Rudy, jemarinya langsung sigap menghapus jejak air matanya yang entah sejak kapan menetes di pipinya.
Mata gadis itu celingukan memandang keluar, berharap sopirnya itu memberi kabar tentang Ziyyan yang sudah datang.
"Mm, anu, Neng."
"Ziyyan datang, Pak?" Tanyanya sambil kakinya ikut beranjak akan keluar dari mobilnya.
"Den Ziyyan sudah ada di rumah. Barusan Iwan ngasi kabar sama saya," jelasnya.
Bibir gadis itu menyimpulkan senyum kecilnya, rupanya Ziyyan masih bisa kembali dalam pelukannya. Tapi kemudian parasnya kembali gelisah lagi, ia merasa was-was jangan-jangan Zayn juga menunggunya di sana.
"Mm, apa kita tetap mau menunggu boss nya Hanung, neng Ara?" Rudy menanyainya lagi.
Ara langsung menggeleng cepat. Siapa juga yang sudi menunggu dan bertemu dengan pria itu lagi. Ia rela menunggunya di sini hanya demi Ziyyan saja. Karena ia sangat takut Zayn akan mengambil Ziyyan darinya.
Mendapati respon seperti itu Rudy langsung masuk ke mobilnya dan segera menyalakannya.
"Apa tidak perlu pamit dulu sama Hanung, Neng?" Tanyanya lagi.
Ia memandang sekilas kepada pria yang akhir-akhir ini sangat gencar mendekatinya. Awalnya ia merasa biasa-biasa saja ketika Hanung mendekatinya dan Ziyyan. Akan tetapi setelah ia tahu bahwa pria itu adalah asisten pribadi Zayn, rasa tak suka itu tiba-tiba menyeruak saja kepada Hanung. Sudah pasti pria itu mendekatinya atas suruhan Zayn, itulah yang di rasa Ara saat ini.
Dan akhirnya Rudy melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan kencang, sebab nona majikannya itu memintanya demikian agar bisa segera sampai ke rumahnya. Kepergiannya itu tentu tidak di sadari oleh Hanung, sebab pria itu tadi terlihat sibuk berbincang dengan seorang tamu penting yang berkunjung ke proyek tersebut.
Perjalanan yang di lewati Rudy terbilang ramai dan lancar, karena jalanan yang di lewatinya itu cukup jauh dari balai desa setempat. Hingga membuat perjalanan mereka terbebas dari arak-arakan pesta rakyat itu. Dan tak lama kemudian akhirnya mereka kembali sampai di rumah Narsih.
Ara segera turun dari mobilnya, ia sedikit berlari untuk masuk ke dalam rumahnya menemui Ziyyan. Dan ternyata anaknya itu saat ini sedang tidur sangat lelap, yang membuat gadis itu dapat bernafas dengan lega setelah mendapati anaknya itu baik-baik saja.
"Tadi ayahnya langsung mengantarnya kesini," sapa Narsih kepada Ara yang duduk termenung memandangi Ziyyan.
"Ibu sudah berkemas?"
Bahkan gadis itu tidak sudi lagi menanyakan bagaimana tentang Zayn. Ia sudah sangat ingin segera pulang, bisa di katakan pula ingin segera menghindar dari Zayn. Lalu kemudian gadis itu beranjak mengangkat tubuh Ziyyan ke dalam dekapannya.
"Sudah," Narsih menjawabnya telat di iringi helaan nafas beratnya.
__ADS_1
"Entahlah, Nak, seandainya aku juga berada di posisimu, mungkin aku juga akan seperti kamu. Tapi jika aku melihat Ziyyan, rasanya kamu juga tidak akan tega memisahkannya dengan ayahnya sendiri. Aku harap kamu bisa membuka pintu maafmu buatnya, ini demi Ziyyan juga. Meski tidak harus kembali bersama dengannya, karena aku tahu ini akan sulit bagimu menerimanya kembali. Singkirkanlah dulu egomu itu, Nak, demi Ziyyan!"
Narsih kembali termenung dengan segala harapan di hatinya untuk Ara, memandang sendu kepada Ara yang sudah bergegas akan segera kembali pulang ke rumahnya.
"Ayo, Mbak yu."
Kali ini sudah bukan suara Ara lagi yang mengajaknya. Terlihat Rudy sudah menenteng tas besar milik Kakaknya itu untuk segera di masukkannya ke dalam mobil yang ia bawa.
"Tunggu sebentar, Rud, aku mau pamit dulu sama Iwan," tuturnya kemudian.
Rudy hanya mengangguk, lalu pria itu memilih menunggunya dari dalam mobilnya. Karena tadi ia sudah terlebih dahulu berpamitan dengan tetangga terdekatnya itu. Dan Ara tentu sudah berpamitan juga tadi, sebelum ia masuk ke dalam mobil yang akan membawanya pergi dari desa yang penuh kenangan pahit dan manis di sana.
Terlihat Narsih membisikkan sesuatu kepada Iwan. Entah apa yang di bahasnya, yang pasti Ara tidak akan peduli jika yang di bahas itu adalah Zayn.
Bayangan tentang segera sampai ke rumahnya sudah terngiang indah di benaknya. Meski awalnya ia merasa ragu dan takut untuk kembali pulang, rasa keberanian itu tiba-tiba saja menguatkannya. Apalagi kalau bukan karena kehadiran pria yang ingin ia jauhi itu.
Beralih Ara menatap sendu kepada anaknya yang tetap tidur begitu nyenyak dalam pangkuannya. Ia mencermati wajah anaknya itu, lalu...
"Iiish, kenapa kau bisa mirip dengan dia? Kenapa tidak satu pun bagian wajahmu yang mirip denganku? Wajahmu itu membuat Bunda sulit melupakan dia! Ayahmu yang ingin Bunda lupakan itu!" Protesnya yang hanya terdengar olehnya sendiri.
Ara menyentuh lembut wajah anaknya itu, yang begitu pantas jika di sebut dengan sebutan junior Zayn yang terlahir kembali.
Narsih turut masuk ke dalam mobil tersebut, dan memilih duduk di samping Ara duduk.
"Ibu," sapanya setelah mobil itu mulai melaju pergi.
"Iya, Nak," sahutnya lembut.
"Aku boleh protes nggak sama Tuhan?"
Narsih menyipitkan matanya ketika mendengar pertanyaan konyol Ara itu. "Mau protes yang apa?" Tanyanya heran, ada-ada saja nih anak.
"Aku yang mengandungnya selama sembilan bulan, trus kenapa Ziyyan nggak ada mirip-miripnya sama aku sama sekali?"
Seketika Narsih langsung terkekeh, "Kamu baru menyadarinya sekarang, kalau wajah Ziyyan nggak mirip kamu?"
Ara hanya terdiam. Bukannya ia baru menyadarinya, cuma makin kesini wajah anaknya itu semakin mirip dengan wajah Zayn.
__ADS_1
Aah, sudah lah! Author sudahi sampai disini dulu yaa...
*Bersambung.