
Ceklek.
"Papiiiiii...." Tatapan Ara kembali nanar melihat perlakuan papinya itu.
Dan Zayn, pria itu malah tak terasa mengembangkan senyumnya melihat Haris yang sepertinya ikut mengambil andil agar dirinya bisa segera berbaikan dengan Ara.
Ara menoleh lagi kepada Zayn yang membuat pria itu langsung berpaling ke arah lain, karena takut ketahuan dirinya yang sedang menyembunyikan senyum senangnya.
"Tanganmu tidak terluka kan? Jadi obati saja sendiri!" Serunya sambil melipat kedua tangannya di dadanya.
Bukannya wanita itu merasa simpati dengan luka di wajah Zayn, ia malah menyuruhnya mengobati lukanya sendiri.
Zayn memandang sekilas pada wanitanya yang berubah sangat ketus terhadapnya. Ia juga tak berharap Ara akan membantunya, makanya ia pun segera mengobati luka di wajahnya itu sendiri.
"Iiissssh...." Rintih Zayn ketika lukanya itu di lumuri cairan larutan desinfektan yang ia gunakan untuk membersihkan luka robek di sudut bibirnya.
Ara yang juga melihatnya juga ikut meringis perih. Seandainya saja pria itu bukanlah orang yang pernah melukai perasaannya, tentu tanpa dimintapun ia akan membantu mengobatinya. Apalah daya hati dan perasaannya kini sedang tidak baik dengan pria tersebut.
"Bisa cepetan gak?" Ara mulai jengah melihat Zayn yang seperti sengaja berlama-lama mengobati lukanya itu.
Zayn melirik sekilas. "Kalo mau cepat ya bantuin," ucapnya kemudian.
"Iiih...." Sudut bibir Ara tertarik sinis.
"Alasan! Ini tak-tikmu kan biar bisa lama-lama disini?"
Zayn memilih tak menggubrisnya. Ia malah melanjutkan menuang cairan obat merah ke kapas yang di pegangnya. Rautnya meringis duluan membayangkan betapa perihnya lukanya jika terkena cairan itu.
"Sini!"
Tetiba Ara mengambil paksa kapas yang di pegang oleh Zayn. Ia terpaksa membantu mengobatinya agar pria itu bisa segera keluar dari kamarnya.
Gadis itu mulai mengobati luka di wajah Zayn dengan cermat. Ia juga melihat seperti ada bekas jari tangan di pipi pria itu. Kening Ara berkerut melihatnya, mungkinkah tadi ia ditampar seseorang?
Karena rasa penasarannya itu membuatnya tak terasa mengusap pelan pipi Zayn yang terkena tamparan Sisil tadi. Keningnya kembali berkerut mendapati itu adalah benar-benar bekas jari karena tamparan.
"Tadi Keanu tidak menamparnya? Bekas ini juga masih baru?" Tanyanya dalam hati.
Aroma wangi tubuh gadis itu tercium jelas dari jarak mereka yang sangat dekat, usapan lembutnya membuat Zayn kembali terbuai oleh wangi khas dari wanita yang sangat ia rindukan itu.
Pria itu perlahan memejamkan matanya, mulai menikmati wangi yang sangat dirindukannya itu sampai tak terasa senyumnya terukir jelas.
"Aauuuww...."
Rintihnya keras begitu Ara sengaja menekan lukanya dengan kapasnya itu.
"Sakit, Ra!" serunya sambil kembali beradu pandang dengannya dengan jarak yang begitu dekat.
"Aauuww... aauww..."
Lagi-lagi Ara sengaja menekan luka itu lalu ia segera menyudahi kegiatannya.
__ADS_1
"Rasain!" Umpatnya dalam hati saja.
"Kalau kamu gak ikhlas bantuin, kenapa bantuin?" Zayn bercermin di kaca rias di sana, ia memperhatikan luka di wajahnya itu dengan seksama.
"Parah!" Ujarnya sambil terus memperhatikan pantulan wajahnya.
"Sini kuncinya?" Gadis itu menengadahkan tangannya meminta kunci yang di simpan oleh Zayn.
Bukannya memberikan yang di pintanya, Zayn malah menggenggam tangan Ara dengat erat. Ia tak lagi mempedulikan betapa wanita itu memberontak ingin terlepas dari genggaman tangannya.
"Kamu mau apa lagi?!" Tanyanya dengan tatapan nanarnya.
"Dengarkan aku, aku mau jelaskan semuanya sama kamu," pintanya sambil semakin mengeratkan genggaman tangannya.
"Duh, sakit tau!" Ara meringis kesakitan, akan tetapi Zayn tetap tak menggubrisnya.
"LEPASKAN!" Kali ini suara Ara kembali meninggi.
"Kalau kamu gak mau diam, aku gak mau lepasin." Nada bicara Zayn masih terdengar pelan.
Gemuruh di dada Ara rasanya ingin meletup. Gadis itu harus pasrah menuruti kemauan Zayn agar ia bisa terlepas dari genggaman tangannya yang mencengkram erat.
Perlahan Zayn pun melepas genggaman tangannya, ia melihat Ara sedang mengibas-ngibaskan tangannya yang mungkin terasa sakit karena perbuatannya.
"Maaf, Ra." Pria itu berusaha meraih tangannya namun di tangkis lagi olehnya.
Sejenak mereka pun kembali terdiam. Suasana di kamar itu kembali hening. Hanya tatapan mata Zayn yang seakan mengatakan bahwa ia sangat menyesali sikap pengecutnya itu.
"Empat tahun lalu aku kecelakaan di Batam, tepatnya keesokan harinya setelah kamu mengantarku ke Bandara malam itu. Kamu ingat itu kan?" Zayn memulai bicaranya.
"Setelah kecelakaan itu aku di rawat di rumah sakit. Beberapa hari aku tidak sadarkan diri, setelah aku sadar baru aku tahu kalau aku kehilangan handphone. Tapi aku terus berusaha menghubungimu dari rumah sakit, sayangnya nomor kamu sudah tidak aktif lagi."
"Saat itu aku bingung mau menghubungi siapa lagi untuk menanyai kamu. Saat itu handphone, uang, semuanya hilang. Dan aku gak punya apa-apa lagi untuk kembali ke sini."
Respon Ara tetap dingin meski pria itu berusaha menjelaskan yang terjadi di masa empat tahun silam. Entah ia harus percaya atau tidak, ia sudah seakan mati rasa lagi untuk mempercayai pria di depannya itu.
"Ara, aku tidak berbohong. Kejadian ini benar-benar terjadi. Kamu boleh tidak percaya sama ucapanku, tapi Pak Haris punya buktinya." Zayn berucap sambil memegang pundaknya untuk meyakinkannya.
Ara terkesiap saat Zayn menyebut nama papinya. Sebenarnya ia sudah curiga dengan gelagat papinya dari tadi pagi saat ia mengintip obrolan Zayn dengan papinya.
Ada apa ini? Kening wanita itu kembali berkerut memikirkan sesuatu hal yang mungkin tidak ia ketahui selama ini.
"Percayalah, Ra, sama sekali aku gak ada niat menghilang dari kamu." Zayn kembali berucap.
Perlahan Ara melepas tangan Zayn yang memegangi pundaknya.
"Sudah?" Tanyanya seakan sudah enggan mendengarkan penjelasan pria itu lagi.
Zayn terdiam, ia bisa melihat kalau wanitanya itu tidak akan langsung percaya dengan penjelasannya.
"Sekarang mana kuncinya?" Tangan Ara kembali menengadah.
__ADS_1
Zayn terlihat sudah pasrah, ia pun memberikan kunci itu kepada Ara.
"Aku sudah mendengarkan penjelasan kamu, sekarang kamu keluar dari rumahku. Ini terakhir kalinya aku melihatmu disini," ucapnya sambil beranjak menuju pintu kamarnya.
Pria itu hanya bisa menghela nafas beratnya. Saat ini mungkin wanitanya itu masih belum bisa memaafkannya, tapi ia tak akan pantang menyerah untuk bisa mendapatkan maafnya itu.
Ceklek.
Pintu kamar itu telah terbuka lebar, terlihat Ara mengulurkan tangannya keluar mempersilahkan agar pria itu segera pergi dari kamarnya.
"Bundaaaa.... Ayaaaah...."
Tiba-tiba Ziyyan muncul dan langsung masuk ke dalam kamar itu juga.
Bocah itu langsung menghambur kepada ayahnya, ia melewati Ara yang sedang berdiri di ambang pintu kamarnya.
Terlihat Narsih yang kemudian menyusul bocah itu, kemungkinan tadi Ziyyan memang sudah menunggu pintu kamar itu terbuka.
Dan Narsih hanya bisa terdiam saja, ia tak tega mengajak Ziyyan pergi dari kamar itu setelah melihat cucunya itu sedang bergelayut manja dalam dekapan ayahnya.
.
.
Viona sudah kembali ke rumahnya, ia sengaja pulang lebih awal setelah mendengar kabar dari Sisil bahwa mantan kekasih Ara itu sudah kembali pulang. Ia takut kalau mantan kekasih anaknya itu bertekad menemui Ara ke rumahnya seperti yang di katakan Sisil padanya tadi. Ia pun segera turun dari mobilnya setelah melihat mobil asing yang juga terparkir di halaman rumahnya.
"Ini bukan mobil Keanu? Kemana anak itu? Jangan-jangan?" gumamnya sendiri.
Merasa penasaran akhirnya ia pun segera masuk ke dalam rumahnya. Namun keadaan rumahnya itu terlihat sepi, ia tak menemui keberadaan seluruh penghuni rumahnya itu berada atau tamu dari pemilik mobil di depan.
"Ziyyan....." Viona sedikit berteriak memanggil cucunya.
Tak lama kemudian bocah yang di panggilnya itu keluar dari arah kamar Ara.
"Iya, Nek," sahutnya sambil berjalan menuju Viona berada, di temani oleh Narsih juga.
"Uuh... Cucu nenek main dimana sih, kok nenek panggil lama jawabnya?" Viona langsung mencubit gemas pipi Ziyyan ketika mereka sudah saling berdekatan.
Ziyyan hanya tersenyum geli, "Iyyan di kamar Bunda, Nek," sahutnya masih dengan senyum imutnya.
"Ooh...." Lalu Viona mendongak ke atas melihat kamar Ara yang pintunya sedang terbuka.
"Temannya Bunda yang tadi kemana?" Tanyanya pada bocah itu.
Seketika raut wajah Ziyyan berubah marah. Karena ia kembali teringat kejadian siang tadi yang menimpa ayahnya.
"Dia sudah pulang, Nya." Narsih yang menjawabnya.
"Terus sekarang Ara dimana, Bi?"
"Bunda di kamar sama Ayah," sahut Ziyyan dengan polosnya.
__ADS_1
"APA?!!"
*