Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 61


__ADS_3

Zayn kembali lagi menuju rumah Tommy. Dirinya yang kebingungan dengan apa yang diterimanya mengenai keputusannya menerima jabatan sebagai COO di perusahaan tempatnya bekerja, merasa butuh teman cerita sebagai tempat mencurahkan segala keputusan mendadaknya itu.


Sesampainya di rumah Tommy ia berpapasan dengan sahabatnya itu yang kebetulan akan keluar.


"Mending ikut gue aja dah," ajak Tommy pada Zayn. Tanpa banyak basa basi akhirnya Zayn ikut masuk ke dalam mobil Tommy.


Dua pria itu terlibat obrolan asyik selama perjalanan. Membicarakan tentang semua hal yang telah di lewati selama mereka tidak bertemu kemarin. Tak lama kemudian mobil Tommy berhenti didepan sebuah cafe favorit anak-anak muda saat ini.


Tommy memilih duduk ditempat paling ujung, karena sebelumnya ia memang telah berjanji bertemu dengan seseorang di tempat itu.


"Oke, lo mau cerita apa tadi?" Tommy langsung mencerca Zayn yang terlihat amat tertekan, dilihat dari wajahnya yang merengut.


Zayn menghela nafasnya berat, sebelum ia membuka obrolan seriusnya dengan Tommy.


"Gue bingung, Tom," ungkapnya lesu.


"Masalah mau mencari Ara?" Tommy mulai menerka sekenanya.


Zayn hanya menggeleng diikuti helaan nafasnya yang terdengar berat. Sedangkan Tommy hanya bisa menatap sahabatnya itu dengan rasa penuh iba.


"Sepertinya gue udah dapat karma, Tom. Gue merasa semua yang terjadi di tempat gue kerja seperti penuh tekanan."


"Iya kali, kalo kerja sama orang bukannya memang harus nurut sama empunya." Tommy menyela bicaranya Zayn.


"Iya, gue tahu. Gue cuma sebatas karyawan yang numpang makan di perusahaan orang." Zayn mengerti maksud perkataan Tommy.


"Makanya, Zayn, mending lo lanjutin bisnis bapak lo deh. Biar gak besar tapi kan lo gak kerja sama orang. Paling tidak lo gak akan tertekan dengan perintah atasan lo."


Mendengar perkataan Tommy, Zayn hanya terdiam. Memang sewajarnya jika ia meneruskan bisnis orang tuanya yang memiliki sebuah toko furniture yang tidak terlalu besar di kota asal Zayn. Hanya saja biaya pengobatan ayahnya itu sangat besar, dan tentunya sangat kurang jika hanya mengandalkan penghasilan dari toko furniture yang orangtuanya miliki.


"Sekarang keputusannya ada di lo, Zayn. Lo mau terima saran gue, gak pa-pa. Gak terima pun juga gak pa-pa." Tommy mulai menyeruput Coffe caramel yang ia pesan. Sedangkan Zayn hanya termenung memandang minumannya yang belum tersentuh sama sekali.


"Masalahnya gue udah terlanjur teken kontrak seumur hidup gue, Tom." Zayn berkata pelan yang kemudian langsung melihat ekspresi Tommy yang terperangah mendengar perkataanya.


"Kok bisa, Zayn? Gimana ceritanya coba?"


Tommy begitu seksama mendengarkan Zayn yang menceritakan bagaimana awalnya dirinya bisa berada di bawah tekanan perusahaannya itu. Hingga pada kejadian siang tadi ketika si pemilik perusahaan mempercayainya sebagai COO.

__ADS_1


"Ini bukan tekanan, Zayn. Tapi ini rejeki nomplok buat lo." Tommy sangat senang mendengar kabar sahabatnya itu memiliki jabatan yang cukup tinggi di perusahaan tempatnya bekerja.


"Bisa dibilang iya, cuma gue curiga aja sama keputusan mendadak ini. Gue rasa sepertinya gue emang di permainkan oleh seseorang yang diam-diam gak suka sama gue," ungkap Zayn.


"Emang siapa yang gak suka sama lo, hah?"


"Iya gak tahu. Bisa jadi begitu kan?" Selama ini Zayn memang sudah mencurigai tentang semua yang terjadi dengan orang-orang petinggi di perusahaannya itu. Berawal dari ketika bekerja dengan Ridwan, ditambah sekarang dengan CEO nya itu, Haris.


"Udah, mending gak usah dipikir lagi. Intinya sekarang lo udah dapat kepercayaan dari boss lo, tinggal lo nya aja yang harus benar-benar tanggung jawab. Jaman sekarang cari kerjaan bagus itu sulit."


Zayn hanya bisa mengangguk pasrah mendengar saran dari Tommy yang memang benar. Hanya saja yang masih mengganjal di hati Zayn, bagaimana ia nanti akan mencari keberadaan Ara ditengah kesibukannya yang akan lebih padat dari sebelumnya.


"Zayn." Tommy menyapanya disaat sahabatnya itu terbawa dengan lamunannya.


"Hmm...." Zayn terhenyak dari lamunannya.


"Sorry banget nih, gue lagi janji ketemu sama someone special. Jadi..."


"Gak pa-pa, Tom. Gue bisa pulang sendiri. Santai aja." Zayn menepuk pundak Tommy sambil kemudian beranjak dari tempatnya.


"Eh, tapi mending lo keluarnya lewat belakang deh. Cari aman." Tommy sedikit memelankan suaranya pada kalimat terakhirnya. Sedang matanya sudah celingukan menatap keluar arah cafe itu. Sepertinya seseorang yang ditunggu Tommy telah tiba.


"Udah lama nunggunya?" Tanyanya.


"Lumayan. Nih...." Tommy melirik pada dua cangkir kosong yang tersedia di meja tersebut.


"Saking lamanya gue sampe habis dua minuman." Akunya bohong.


"Ehmm...." Gadis itu hanya mencebikkan mulutnya pada Tommy, merasa tak percaya saja. Mendapati itu Tommy hanya bisa mengulas senyum termanisnya kepada gadis manis pemilik hatinya.


"Oh iya, katanya lo udah dapat info keberadaan Zayn. Ada dimana dia?"


"Iya, nanti gue ceritakan. Minum dulu lah...." Tommy sengaja mengulur pembicaraannya karena memang ingin lebih lama lagi bersama gadis cantik yang tak pernah membosankan itu, yaitu Sisil.


"Nggak, gue gak haus. Mending lo langsung cerita aja deh." Sisil sudah tak sabar ingin mendengar kabar Zayn itu, yang memang sebelumnya Tommy mengajaknya bertemu karena ingin memberinya info tentang Zayn.


Padahal sebenarnya itu hanyalah modus Tommy, karena hanya dengan alasan itu Sisil mau menemuinya. Meski Zayn memang sudah kembali, dirinya tak mungkin berkata yang sebenarnya kepada Sisil. Tamparan darinya tempo hari masih begitu ngeri, apalagi jika ia bertemu dengan Zayn. Tommy tak mau sahabatnya itu mengalami nasib seperti dirinya. Bukan berniat menyembunyikan keberadaan Zayn, tapi murni sebatas kasihan saja.

__ADS_1


"Begini, Sil, Zayn masih tetap ada di Batam. Di sana dia koma karena kecelakaan." Tommy memulai kebohongannya.


Sisil terhenyak mendengar kabar itu. "Beneran, Tom? Dari mana lo tau itu?" Tanyanya masih tak percaya.


"Gue dikabari oleh orang suruhan gue di sana." Tommy semakin melancarkan kebohongannya. Dirinya dapat tersenyum lega ketika melihat Sisil yang sepertinya percaya dengan perkataannya.


"Semoga Zayn gak kenapa-napa ya, Tom," ucapnya lirih. Meski sebenarnya Sisil amatlah geram dengan Zayn, setelah mendengar kabar itu dirinya tak mau calon keponakan yang di kandung Ara akan menjadi yatim.


Tommy melancarkan aksinya lagi lewat mencuri kesempatan meraih tangan Sisil, membawanya masuk dalam genggamannya.


Sisil hanya terdiam tak bisa menolak itu. Pada kenyataannya seseorang yang juga pernah singgah dihatinya itu mampu memberinya ketenangan saat suasana hatinya sedang gundah.


Seketika pandangan Tommy berubah panik disaat melihat Jessy, tunangannya keluar dari mobilnya bersama kedua orangtuanya juga. Ia mulai berkutat dengan pikirannya. Sebenarnya ini adalah moment yang tepat jika ia ingin putus dengan tunangannya itu. Hanya saja ia tak mau membawa nama baik Sisil dalam permasalahannya itu.


Tommy melihat Jessy dan keluarganya sudah mulai masuk. Matanya mulai awas memandangi rombongan calon mertuanya itu.


"Ada apa, Tom?" Sisil menanyainya penasaran. Ketika ia ikut menoleh ke arah Tommy memandang, justru tangan Tommy meraih dagunya untuk tidak menoleh kesana.


"Sorry, Sil," Tommy spontan menarik tangan Sisil untuk pergi dari tempat itu.


Sisil hanya menurut ketika Tommy menuntunnya keluar sambil tetap menggengam tangannya. Sesampainya diluar, Tommy melirik lagi ke arah Jessy duduk. Sepertinya tunangannya itu mengetahui keberadaannya.


Tommy tak mau membuang kesempatan lagi. Dan, cup....


Ciuman hangat Tommy mendarat di kening mulus Sisil. Gadis itu hanya terdiam bagai tersengat listrik yang membuat tubuhnya kaku dan tak bisa bergerak untuk sekedar mendorong tubuh pria di depannya itu.


Ciuman itu cukup lama dan terasa sangat hangat mendesir di relung hati Sisil. Hingga membuat mata gadis itu terpejam, terlena dan menikmatinya.


Tommy menyudahi ciumannya itu disaat meyakini Jessy melihat aksinya itu. Ia menyeringai puas karena setelah ini dirinya bisa terlepas dari ikatan pertunangan yang tak pernah ia mau sebelumnya.


"Sorry, Sil," ucapnya ketika hanya mendapat tatapan dingin dari Sisil.


"Kenapa dia gak nampar gue lagi? Gue kira akan marah, ternyata...." Bisik hati Tommy yang mulai berbunga-bunga mendapati tiada penolakan dari Sisil karena ulahnya itu.


"Hmm, masih modus aja lo, Tom." Zayn yang sedari tadi mengintai secara diam-diam perbuatan Tommy itu hanya bisa menahan geli melihat aksi Tommy yang tak pernah berubah merayu dan menggoda Sisil.


Tak lama kemudian Zayn pergi dari tempat persembunyiannya ketika melihat Tommy dan Sisil sudah pergi juga dari tempat itu.

__ADS_1


*


__ADS_2