
"Aaaaaarrhh........."
Desah panjang itu keluar nikmat dari mulut seorang pria yang baru saja menuntaskan permainan panasnya, seiring cairan bibitnya menyembur ke dalam rahim wanita yang telah memberinya kenikmatan surgawi yang tiada tara. Bahkan ini sudah ketiga kalinya pria itu memainkan perannya yang selalu diakhiri dengan pelepasan kenikmatan darinya juga dari wanita yang mendesah lemah yang masih berada dibawah kungkungannya.
Seluruh tubuh Zayn bercucuran keringat, pun demikian dengan Ara. Ditatapnya wajah istrinya itu begitu dalam. Menciumi kedua pipinya, mengecup keningnya begitu lama, bibirnya pun tak luput ia cumbu mesra.
"Terimakasih, Sayang," ucapnya senang, masih tak mau merubah posisinya yang mengungkung wanitanya begitu posesive.
Ara tetap bergeming. Rasanya ia sangat malu dan ingin sekali membenamkan wajah dan tubuhnya dibalik selimut, andai selimut itu tidak teronggok di lantai akibat ulah brutal mereka barusan.
Zayn menyeringai bangga. Ia sama sekali tidak menyangka jika istrinya itu terkesan begitu pasrah ketika tadi dirinya mengajaknya untuk unboxing lagi. Meski sebenarnya tidak ada sahutan kata persetujuan darinya tadi, akan tetapi gerak tubuhnya itu yang tak bisa menolak perbuatan nakal Zayn yang membuat wanita itu menggelinjang berulang-ulang.
Kini mereka sudah bisa dikatakan sebagai pasangan suami istri yang sebenarnya. Saling melayani apa yang menjadi haknya masing masing, juga menjalani kegiatan nikmat yang bisa tercatat sebagai ladang ibadah bagi pasangan suami istri itu.
"A-aku mau ke kamar mandi." Ara bersuara lemah, ia sedikit mendorong dada telan jang suaminya agar tak lagi mengungkungnya.
Zayn menoleh ke arah kamar mandi, lalu beralih menatap kembali kepada istrinya yang jelas terlihat sangat kelelahan.
Pria itu pun menggeser tubuhnya, duduk di tepian ranjangnya, dan kemudian mengulurkan sebelah tangannya kepada Ara.
"Sini aku bantu," ucapnya lagi, dan kemudian langsung menarik tangan Ara karena tak segera menyambut uluran tangannya.
"Aku bisa sendiri," tutur Ara. Ia juga sudah duduk di tepi ranjangnya.
"Yakin?" Zayn mencermati tubuh polos istrinya lagi, membuat si empunya tubuh seketika menutupinya dengan kedua tangannya yang menyilang di dada.
Pria itu terkekeh geli melihat kelakuan istrinya yang masih malu-malu ditatap seperti itu olehnya. Perlahan tangan Zayn terulur mengusap puncak kepala Ara, lalu kemudian membawa tubuh polos itu masuk ke dalam pelukannya.
"I love you Aurora. Love you more," ujarnya, masih dalam posisinya memeluk posesive tubuh istrinya.
Ara mendongakkan kepalanya, menatap lekat netra Zayn dan kemudian menyunggingkan senyum manisnya kepada pria yang baru saja memberinya kenikmatan tiada tara.
"I love you too, mas Zayn," jawabnya, masih dengan mode malu-malu.
Pria itu seketika mengerutkan keningnya. Seharusnya ia senang Ara sudah mau memanggilnya dengan sebutan umum layaknya kebanyakan istri memanggil suaminya. Dan tentu hal itu pula menimbulkan tanda tanya dibenak Ara. Apa ada yang salah dengan ucapanku?
"Jangan panggil aku mas!" ungkapnya tak setuju.
__ADS_1
"Lalu? Aku harus memanggilmu apa?"
"Apapun. Asal jangan mas." Zayn sangat kentara tidak menyukai sebutan itu.
Ara melerai pelukannya. Ia beralih menangkup pipi suaminya dengan kedua tangannya, serta memberinya kecupan kilat dibibir sekzi pria itu.
"Sebutan mas itu mirip seperti kata emas. Kamu tahu emas kan? Emas adalah sebuah perhiasan yang sangat diminati oleh setiap wanita. Bahkan begitu dihargai dan selalu membuat semua mata wanita berkilau karena menariknya emas itu. Kamu pun ibarat seperti itu, Mas. Aku selalu mengharapkanmu, menginginkanmu, kamu satu satunya yang berharga dan mampu membuat mataku silau yang tak bisa lagi memalingkan wajahku pada pria lain."
Zayn mendesah pasrah. Apapun perumpamaan dari istrinya itu, masih membuatnya tidak terlalu senang dengan sebutan itu.
"Sayang." Ara mengguncang pelan lengan Zayn.
Seketika raut wajah Zayn mulai berbinar mendengar sebutan lain dari istrinya.
"Itu lebih baik dari pada sebutan mas," ujarnya penuh senyum.
"Kenapa sih kamu nggak suka banget aku panggil Mas?" Ara sudah kepo dengan rasa keberatan suaminya dengan sebutan itu.
Zayn menarik tubuh Ara, membaringkannya lagi diatas ranjang bersprei lusuh akibat kegiatan yang menguras tenaga dan juga keringat.
"Kamu memanggil Hanung dengan sebutan mas. Kalau begitu apa bedanya aku sama Hanung?"
"Kamu cemburu sama Hanung?" Ara sedikit tergelak saat mendengar pengakuan Zayn tadi.
"Nggak juga. Aku sama sekali nggak cemburu sama dia. Hanung itu bukan sainganku. Dia mana berani merebut kamu dari aku. Yang harus aku waspadai itu Keanu."
Ara terhenyak sesaat. Kembali ia menatap lekat netra suaminya. Lalu sedetik kemudian ia mencondongkan wajahnya lebih dekat kepada wajah Zayn dan tanpa sungkan lagi memulai ciuman itu di bibir Zayn dan pria itu menyambutnya begitu dalam.
"Jangan bahas Keanu. Selama aku menjadi milikmu, maka aku akan selalu setia sama kamu," tutur Ara disaat ia sudah melepas diri dari pagutan yang ia mulai.
"Uluuuuuh.... So sweet banget istriku." Zayn mencoba mencuri ciuman itu lagi akan tetapi langsung dihindari oleh Ara.
Merasa ditolak, pria itu tetap berusaha kembali. Yang ada kini mereka seperti bocah yang bergurau saling mengindari tembakan, lengkap dengan tawa cekikikan mereka yang menggema diruang kamar itu.
"Sayang." Zayn menyeru lagi.
"Hmm?"
__ADS_1
"Sudah nggak capek?" Tanyanya sambil mengerlingkan matanya kembali.
Ara merengut seketika. Ia sudah tahu apa maksud dari kerlingan suaminya itu.
"Udah keras lagi nih, gimana dong?" Pria itu mulai mendengus nakal di ceruk leher istrinya.
"Aku capek, Mas. Punggungku saja masih nyeri."
Setelah pergulatan tiga ronde yang mereka lampaui tadi, tentu sangat membuat tubuh Ara kelelahan dan masih terasa lemas. Anehnya, kenapa pria itu masih baik-baik saja? Padahal gerakan memompanya tadi cukup gesit dan energik. Membuat wanitanya mengerang nikmat akibat pelepasannya yang keluar berulang-ulang.
Apalagi sekarang pusat intinya itu terasa perih dan sedikit berdenyut, efek tak pernah terpakai lagi selama kurang lebih empat tahunan.
"Aku bantu pijit ya?"
Bukan tubuh bagian lainnya yang pria itu pijit, melainkan dua gundukan kembar itu yang ia rem mas rem mas.
"Iiissh.... Ini sih maunya kamu!" Ara sedikit menangkis tangan Zayn dari dad@nya.
"Boleh ya? Ya... Ya...." rengeknya lagi, bak anak kecil yang kekurangan mimik susssu.
"Tidak!" Wanita itu masih menolaknya dengan suara lembut.
"Huuuu....." Pria itu mulai mengerucutkan bibirnya.
"Ya sudahlah. Katanya tadi mau ke kamar mandi?" Dibalik suruhannya itu tersimpan modus licik lagi di sana.
Ara bergerak cepat. Ia tak mau berlama-lama lagi dengan kondisi tubuhnya yang masih polos tanpa sehelai benang pun. Perlahan wanita itu menurunkan kakinya dari ranjang itu, sedikit meringis karena merasa berdenyut dari pusat intinya.
Hap.
Seketika Zayn membawa tubuh istrinya dalam gendongannya ala ala bridalstyle.
"Mas!"
"Tenang lah, aku hanya ingin membantumu berjalan," ujarnya yang kemudian segera membawa masuk ke dalam kamar mandinya.
Mau tahu apa yang terjadi lagi di sana? Tentu jawabannya kalian sudah tahu kan? Kalau pun ada yang tak tahu, kalian bebas mau menebak bagaimana. Wokey readers😉
__ADS_1
Bye.... Bersambung lagi✌