
Sebelumnya mohon maaf buat readers setia LOVE OF AURORA karena othor terlalu lama libur update nya. Maklumlah... Lebaran cuma setahun sekali jadi othor selalu menyempatkan momen tahunan ini dengan begitu maksimal. Dan alhamdulillah hari ini othor bisa menyapa readers kembali.
Mumpung masih dalam momen lebaran nih.. Othor ucapin Minal aidin wal faizin... Mohon maaf lahir dan bathin dari othor buat readersku semua. Maafin othor yaa... Siapa tahu selama ini ada tutur kata dari othor yang kurang berkenan, atau dari hasil karya othor yang kurang memuaskan kalian, othor mohon maaf yang sebanyak banyaknya.
Oke... Cukup cuap cuapnya yaa...
Mari kita lanjut baca kisah Aurora ❤ ️Zayn
*
Tak terasa resepsi pernikahan Ara dan Zayn sudah mendekati hari-H. Empat hari lagi acara yang sejatinya hanya digelar cukup sekali seumur hidup itu, seakan sudah berada diambang mata.
Selama berada di desa tempat mengelola proyek yang ditangani oleh Zayn, mereka menyempatkan waktu untuk sekedar foto prewedding di sana. Panorama alam yang masih sangat alami dan asri, membuat mereka tak mau membuang kenangan indah di sana.
Kini Ara dan Zayn sudah berada di Jakarta. Lebih tepatnya mereka berada dikediaman Haris Rahardian. Sebagian besar anggota keluarga inti dari keluarga Ara dan Zayn sudah berkumpul di sana guna mengikuti acara pengajian yang digelar oleh keluarga Haris.
Sebenarnya Malik juga berkeinginan untuk menyelenggarakan pesta pernikahan mereka di kota asal Zayn, meski mungkin tak akan semewah seperti yang digelar oleh besannya, Haris. Akan tetapi setelah melalui musyawarah bersama, lebih-lebih dari pihak mempelainya juga tidak berkenan untuk melangsungkan pesta berulang dua kali, akhirnya semua yang sudah tersusun terencana, terpaksa berubah total.
Mengingat Ara dan Zayn adalah sebagai ratu dan raja di acara itu, maka Haris tak mau memperkeruhnya, meski kerugian materi yang ia terima tidaklah sedikit, akan tetapi demi kebahagiaan dan kenyamanan mereka, Haris pun terpaksa menurutinya.
Resepsi yang sebelumnya telah disiapkan disebuah hotel berkelas itu, terpaksa dirubah tempatnya. Menjadi tempat out door yang berhiaskan pemandangan alam yang menampilkan keasliannya.
Meski sudah terjadi perubahan tempat yang terbilang mendadak itu, akan tetapi tidak mengurangi segenap tamu undangan yang turut hadir menyaksikan acara penuh bahagia itu.
Ditambah lagi gaun pengantin yang dikenakan oleh Ara kali ini terbilang lebih simple namun tetap tidak mengurangi aura kecantikannya.
Sengaja Ara memilih gaun pengantin yang terkesan sederhana, sebab ia masih merasakan rasa tak nyaman itu dikala ia mengenakan gaun pengantin yang dikenakan ketika ijab qabul kemarin.
"Selamat ya, Zayn. Selamat juga buat Ara. Semoga kedepannya keluarga kecil kalian selalu bahagia dan tentram," ucap Tommy disela-sela acara makan dan santai.
"Aamiin...." Kedua pengantin itu berbarengan mengamini do'a kebaikan dari sahabat Zayn itu.
__ADS_1
"Btw, mana nih calonnya? Bukannya gue denger-denger ada yang bakal nyusul setelah gue nikah?" Zayn sengaja menggoda Tommy yang hanya datang seorang diri tanpa adanya pendamping disisinya.
Tommy hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, diwajahnya tersirat jelas aura sendu di sana. Bagaimana bisa ia sanggup menutupi luka hatinya itu, sedangkan gadis yang selama ini ia dambakan kini datang dengan pria lain, yang bisa Tommy tebak jika pria itu adalah calon suami yang diungkapkan Sisil saat itu.
Ara yang memang masih belum tahu dengan yang terjadi sebenarnya, tentu merasa sangat heran melihat kedatangan Sisil bersama pria asing yang dilihat dari tampangnya seperti keturunan Jepang.
Zayn juga menyorot tajam ke arah Sisil yang melangkah lebih mendekat. Tangan pria itu segera menahan pundak Tommy yang terlihat keburu ingin pergi setelah melihat Sisil yang juga mendekat ke arah mereka.
"Lo sama Sisil end?" Tanya Zayn, setengah berbisik. Sengaja menggantung kalimatnya karena Zayn rasa Tommy sudah mengerti maksud pertanyaannya.
Bukannya dijawab, Tommy hanya mengulas senyum getirnya kepada Zayn sembari melepas tangan sahabatnya itu dari pundaknya. Lalu kemudian secepatnya melangkah pergi begitu saja, menyisakan tanda tanya besar antara Zayn dan juga Ara.
"Sisiiiiil," pekik Ara, begitu saudara sepupunya itu sudah berdiri didepannya.
Secepatnya Ara merengkuh tubuh Sisil kedalam pelukannya, setelah tak sengaja melihat mata sahabatnya itu mengembun tanpa sebab. Entah ia sedang merasa haru atau apa, yang pasti sorot mata itu seperti mengartikan ia sedang tidak baik baik saja.
"Lo kenapa?" Tanya Ara sepelan mungkin, masih sambil memeluk Sisil.
Sisil hanya menggeleng. Akan tetapi Ara bisa merasakan jika sahabatnya itu saat ini sedang menangis.
"Hai," sapa Zayn kepada pria asing yang datang bersama Sisil. Tentu Zayn berbuat demikian semata agar tak membuat suasana menjadi canggung.
Zayn mulai mengulurkan tangan kanannya.
Pria yang masih belum diketahui namanya itu juga menyambut uluran tangan Zayn, sembari tersenyum singkat.
"Kenzo," jawabnya kemudian.
"Oh iya, aku Ara, masih saudara sepupu Sisil."
Tetiba Ara melepas pelukannya, dan beralih menatap pria asing itu cukup intens.
Ara dan Kenzo pun saling berjabat tangan. Tak lagi menghiraukan Sisil yang terlampau sibuk menyembunyikan linangan air matanya dari hadapan kedua orangtuanya yang berjalan mendekat.
"Tante Luvi, Om Heru," seru Ara di saat adik kandung dari maminya itu berhambur memeluknya, penuh rasa bahagia.
__ADS_1
"Selamat ya Ara."
"Selamat juga buat kamu, Zayn."
Bergantian mereka saling memberi doa sembari saling berpelukan penuh kasih.
"Tante, dia?" Tanya Ara to the point, ketika mendapati Kenzo masih berdiam diri disamping Sisil.
"Kenzo adalah calon suami Sisil," tutur Heru, sangat yakin.
Seketika Ara terperangah dengan kedua telapak tangan yang menutupi mulutnya yang menganga. Berbeda dengan Zayn. Begitu mendengarnya pria itu langsung celingukan mencari keberadaan Tommy yang seakan lenyap dari pandangan.
Pasti karena hal ini lah yang membuat wajah sahabatnya itu tiada lagi ceria tadi. Rasanya ingin sekali Zayn menyusul Tommy sekarang, untuk menemaninya disaat sahabatnya itu membutuhkan dukungan hati. Akan tetapi semua ini tentu sebatas angan saja, mengingat dirinya masih menjadi raja di pesta yang digelar saat ini.
"Kalau begitu tante sama om, tinggal dulu ya."
Terlihat Heru dan juga Luvita melenggang jauh, berbaur dengan tamu undangan lainnya. Disusul pula oleh Sisil yang turut pergi, dan masih ada Kenzo disampingnya.
Huuuft......
Seketika Ara mendengus nafas panjang. Dirinya sudah sangat paham jika saudara sepupunya itu sangat tak mau dengan perjodohan itu, terlihat dari parasnya yang sama sekali tak bergairah.
"Gak kebayang kalo aku jadi Sisil," seru Ara, menatap sendu kepada posisi Sisil berada.
"Kasihan Tommy."
Zayn tak kalah sedih mengenang kisah sahabatnya itu yang ternyata berakhir sedih, tak jadi jodoh dengan gadis pujaannya.
Ara mengaitkan tangannya di lengan Zayn, dan merebahkan kepalanya di pundak suaminya itu. Ia sangat bersyukur karena Tuhan masih menjodohkannya dengan lelaki yang dari dulu menjadi cinta pertamanya.
Pria itu tak kalah romantis. Turut merangkulnya, mengusap lembut lengannya, serta membubuhi sedikit kecupannya di puncak kepala istrinya. Rasanya sudah tak sabar menunggu acara ini segera usai. Mengingat tingkah Ara yang terkesan manja saat ini, tentu sedikit memancing libidonya untuk menerkamnya kembali nanti.
"Sayang," Zayn mengguncang lengan Ara.
"Ada Keanu."
__ADS_1
Deg.
*