
Sedari pagi Hanung telah berkeliling desa untuk mencari sebuah motor yang mungkin bisa disewa olehnya. Sebab semalam Zayn memberinya perintah itu karena memang butuh. Menaiki motor di desa tentu mempermudahnya untuk beraktifitas dalam meninjau proyeknya.
Hingga pagi sudah beranjak siang, namun yang dicari masih belum dapat. Seandainya ia mau mencarinya ke kota, sudah pasti ia dapatkan. Akan tetapi ia sendiri terlalu malas untuk pergi kesana.
Hanung menghentikan pencariannya tepat didepan sebuah rumah makan. Suara bunyi perutnya yang menuntut untuk diisi membuatnya langsung masuk ke rumah makan tersebut.
"Ibu," sapa Hanung dengan ramah ketika si pemilik rumah makan menyambut kedatangannya.
Narsih balas tersenyum ramah kepadanya. "Sendiri saja?" Tanyanya sambil melongo kedepan.
"Iya, Bu." Jawabnya sambil meraih sebotol air mineral yang tersedia di mejanya, lalu kemudian menengguknya hingga tersisa separuh.
"Mau pesan makan apa, Nak?"
"Apa saja, Bu. Yang penting enak dan bikin kenyang." Hanung kembali mengambil sebuah roti dan kemudian langsung melahapnya dengan beberapa gigitan saja. Cacing di perutnya benar-benar sudah menuntut untuk diisi.
"Cucu Ibu kemana?" Hanung menanyai keberadaan bocah kecil yang kemarin membuat heboh perasaan Bossnya itu, selagi menunggu pesanannya selesai.
"Cucu Ibu di rumah, dia lagi sakit, Nak."
"Sakit apa, Bu?"
Entahlah, tiba-tiba saja Hanung merasa kangen dengan Ziyyan.
"Hanya demam, Nak." Narsih menyajikan makanan yang dipesan oleh Hanung. Lantas kemudian pria itu segera melahapnya nikmat.
"Alhamdulillah," serunya nikmat setelah selesai melahap habis makanannya.
"Bu, Nama saya Hanung. Mungkin dalam beberapa waktu ke depan Ibu akan sering bertemu dengan saya. Soalnya masakan Ibu mantap, bikin nagih terus, Bu," ujarnya bersemangat.
"Terimakasih, Nak, sudah suka masakan sederhana Ibu. Kamu boleh panggil saya Bu Narsih."
Sejenak mereka pun sama-sama saling tersenyum ramah.
"Rumah Ibu jauh dari sini?"
"Lumayan lah."
"Sebenarnya saya disuruh Boss cari sewaan motor, Bu. Tapi ya gitu, masih gak dapat."
"Kebetulan di rumah Ibu ada motor, Nak, sudah lama gak dipake juga. Tapi mesinnya masih bagus kok." Narsih begitu berantusias, karena ia juga butuh tabungan demi menyekolahkan Ziyyan tahun ini.
"Waah, boleh itu, Bu." Hanung langsung berbinar mendengarnya.
Narsih segera merapikan makanan beserta meja dan kursi. Lantas ia pun mulai menutup kain gorden sederhana di jendela itu.
"Kok sudah mau tutup, Bu?" Hanung melirik jam di layar ponselnya. Ternyata masih jam sepuluh siang.
"Iya, Nak. Ibu kasihan sama anak Ibu di rumah sendirian jagain Ziyyan."
"Kalau gitu, biar saya antar ya, Bu. Sekalian mau lihat motornya, boleh nggak?" Tawarnya yang kemudian langsung mendapat anggukan dari Narsih.
Setelah Narsih mengunci pintu rumah makannya itu, ia masuk ke dalam mobil yang dibawa oleh Hanung. Lalu kemudian mereka pun menuju rumah Narsih.
__ADS_1
Tak lama mobil Hanung berhenti disebuah rumah yang terbilang sederhana namun tetap asri dipandang oleh mata. Sebab di halaman rumah itu banyak tertanam bunga bermekaran indah.
Hanung langsung mengumbar senyum manisnya tatkala seorang wanita cantik yang ia duga masih gadis membukakan pintu rumah tersebut begitu mengetahui kedatangannya bersama Ibu Narsih. Bahkan matanya nyaris tak berkedip melihat kecantikan alami yang di pancarkan oleh wanita manis yang ternyata ibu dari Ziyyan.
"Loh, kok Ziyyan tidak tiduran di kamar?" Narsih menyapa cucunya yang ternyata sedang duduk di kursi yang berada d iruang tamunya.
"Ayah tidak ikut, Om?" Bocah itu malah menanyai Hanung yang kebetulan turut duduk berhadapan dengannya.
Tatapan Narsih dan juga Ibu dari Ziyyan seketika berubah sendu. Hanung menyadari hal itu. Meski sebenarnya perasaannya teramat ingin tahu mengapa Ziyyan beranggapan Bossnya adalah ayahnya, tapi ia tak sampai hati menanyai hal tersebut. Ditambah lagi kali ini bocah itu menangis sesenggukan.
"Ziyyan, cup ya." Ara mencoba menenangkannya. Bukan diam, malah tangisan Ziyyan semakin menjadi.
Hanung hanya celingukan tak bisa berbuat apa-apa. Pria itu tentu sangat kasihan melihat Ziyyan menangis seperti saat ini. Walau sebenarnya ia juga ingin mencoba menenangkan Ziyyan, tapi niat itu selalu urung.
Narsih pergi ke ruang belakang. Hanung dapat melihat wanita paruh baya itu sedang menyembunyikan tangisnya. Rasa penasarannya semakin menjadi, hingga membuatnya beranjak menyusul Narsih berada. Dia harus tahu alasannya mengapa Ziyyan menganggap Zayn sebagai ayahnya, karena hal ini sangat bersangkutan dengan Bossnya juga.
"Bu Narsih." Hanung menepuk pelan bahu Narsih.
Narsih menoleh sambil menghapus air matanya. "Eh, iya. Maaf, Nak," ucapnya sambil mempersilahkan Hanung duduk bersamanya.
"Mohon maaf juga, Bu, jika saya lancang menanyakan hal ini."
"Soal Ziyyan?" Narsih seakan sudah tahu tentang uneg-uneg pria muda yang menatap lekat kepadanya.
Hanung mengangguk singkat. "Sebenarnya di mana ayahnya Ziyyan, Bu? Mengapa ia mengira Boss saya sebagai ayahnya?" Tanyanya tanpa ragu lagi.
Terlihat Narsih menghela nafas beratnya, sebelum ia memulai bicaranya. "Ayahnya Ziyyan tidak ada, Nak," lirihnya sendu.
"Innalillahi! Ayahnya Ziyyan meninggal, Bu?"
"Ibu juga tidak tahu di mana keberadaan ayahnya Ziyyan. Dari Ibunya mengandung Ziyyan, ayahnya memang sudah tidak ada kabar," jelasnya.
Hanung manggut-manggut setelah mendengar penjelasan dari Narsih, yang ternyata Ziyyan hanya sedang salah sangka mengira Zayn adalah ayahnya.
Sesekali Hanung melongo ke depan, ternyata Ziyyan sudah terlelap dengan mata yang sembab dan masih dalam dekapan ibunya.
Diam-diam Hanung mulai menaruh harapan pada ibunya Ziyyan. Hatinya seakan tergetar karena kecantikan ibu muda itu. Apalagi setelah mendengar penjelasan Narsih tadi, yang dari penjelasannya itu Hanung dapat menyimpulkan sendiri bahwa putri ibu Narsih sedang tidak bersuami, alias sudah janda. Jadi akan sah-sah saja jika ia mencoba mendekatinya bukan?
Hanung beranjak mendekat ke arah Ara dan Ziyyan berada. Dan tanpa ragu lagi ia pun turut duduk berhadapan dengan gadis muda yang belum dikenalnya itu.
"Sudah tidur, Mbak?" Tanyanya mulai sok dekat.
Ara hanya mengangguk sambil sedikit menyunggingkan senyum kecilnya.
"Alamaaak... Cantik banget!" Puji Hanung hanya dalam hati saja.
"Biasanya Ziyyan sukanya apa?"
Ara hanya mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan dari pria yang tak dikenalnya itu. Sedangkan yang dipandangnya demikian hanya bisa senyum-senyum tak jelas.
"Dia Hanung, Nak. Tempo hari yang Ibu ceritakan itu." Tiba-tiba Narsih datang sambil membawa secangkir teh hangat untuk Hanung.
Lagi-lagi Ara hanya bisa melempar senyum kecilnya setelah mendengar penjelasan dari Narsih.
__ADS_1
"Sumpah! Nih janda cantik banget. Apapun caranya, pokoknya aku harus dapetin nih cewek. Biarpun sudah punya anak yang penting senyumnya ngademin hati. Aku mah gak mau terus-terusan jomblo kayak Pak Boss." gumamnya sendiri.
"Ayah..... Ayah...."
Ziyyan terbangun lagi sambil mengigau memanggil ayah. Dan seketika tatapannya itu langsung mengarah kepada Hanung.
"Om," kata Ziyyan menyapa Hanung.
"Iya, Ziyyan." Hanung menyahut sambil tangannya terulur menyentuh pipi bocah ringkih itu.
"Ayah kenapa tidak ikut, Om?"
"Ayah tidak ada, Ziyyan." Tangan Ara menangkup pipi mungil Ziyyan, sambil menatap lekat pada netra putranya itu.
"Kemaren ayah janji mau belikan Iyyan mainan baru, Bunda." Lagi-lagi mata Ziyyan mulai mengembun.
Ara terdiam. Sungguh, ia tak bisa berkata apa-apa lagi saat ini. Hanya bisa membawa tubuh kecil Ziyyan dalam pelukan hangatnya, tiap kali mendengar anaknya itu mengigau tentang ayahnya lagi.
Hanung sudah semakin tak tega melihatnya. Lantas kemudian ia merogoh ponselnya berniat menghubungi Zayn.
Dua hingga tiga kali panggilan darinya selalu di reject oleh Zayn. Kemungkinan Bossnya itu sedang sibuk, hingga membuat Hanung menghentikan panggilannya.
"Ziyyan, Besok Om yang akan belikan mainan yang baru buat Ziyyan ya?"
"Gak mau!" Ziyyan langsung menolak dengan gelengan kepalanya juga.
Hanung hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ternyata bocah kecil ini cukup keras kepala juga sampai-sampai ia merasa kewalahan untuk mengambil hatinya.
"Kalau begitu Ziyyan maunya apa? Coba bilang sama Om."
"Iyyan mau Ayah!"
"Om Hanung saja ya yang jadi ayahnya Ziyyan." Pria itu berucap tanpa sungkan lagi. Meski dihadapannya ada Narsih dan juga Ara yang memandangnya dengan heran dan tentu kaget.
"Gak mau! Om jelek! Orang bilang ayah Iyyan ganteng kayak Iyyan. Om jelek!" Ziyyan langsung melengos dari tatapan Hanung.
Hati Hanung sedikit kecewa mendengarnya, cuma ia tak mau menyerah begitu saja. Menghadapi anak kecil sepertinya memang membutuhkan stok ekstra kesabaran yang banyak.
"Jangan di ambil hati omongan Ziyyan, Nak." Narsih ikut bicara, karena mendapati ekspresi Hanung yang pias begitu mendengar ucapan dari Ziyyan barusan.
Yang ada pria itu malah tersenyum lebar.
"Oh iya, katanya mau lihat motor. Ayo ikut Ibu."
"Oh iya, Bu." Hanung mengekor dibelakang Narsih. Wanita paruh baya itu menuntunnya ke sebuah gudang yang berada disamping rumahnya itu.
Begitu melihat motor yang di maksud, Hanung langsung menyetujui untuk menyewa motor milik peninggalan suami Narsih itu. Karena memang kondisinya masih cukup terawat dan tentu layak pakai.
Setelah mereka berdua sepakat dengan biaya sewa motor tersebut, Hanung menuju ke mobilnya. Karena uang untuk membayar sewa motor itu tertinggal didalam mobilnya.
Belum sempat Hanung membuka pintu mobilnya, ponselnya berbunyi menandakan sebuah panggilan masuk untuknya.
"Wisnu?"
__ADS_1
*