Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 154


__ADS_3

Pagi sudah menyapa kembali dengan sinar suryanya yang mulai muncul dilangit. Seharusnya pagi ini menjadi awal hari yang penuh semangat dan juga bahagia, karena Ara dan Zayn berencana akan memberitahu kehamilannya itu kepada Haris dan Viona pagi ini, saat sarapan bersama nanti.


Akan tetapi semangat itu tiba tiba kendor setelah lagi lagi Zayn merasakan tubuhnya yang tak bisa dikompromi. Setelah tadi ia dibuat pusing karena kembali merasa mual, padahal tak ada apapun yang bisa dikeluarkan dari dalam perutnya itu. Makanya saat ini Zayn hanya bisa berbaring lagi, merasakan tubuh yang sudah lemas tak bergairah.


"Mas, setelah ini kamu periksa ya?" Ara yang turut mendampingi Zayn merasa sangat khawatir melihat kondisinya yang begini lagi seperti kemarin pagi.


Zayn menggeleng pelan. "Sebentar lagi pasti membaik sendiri," sahut Zayn, merasa yakin. Karena kemarin ia juga begitu, kembali membaik setelah matahari pagi mulai meninggi.


Ara hanya mendesah pelan ketika mendapati Zayn yang angkuh tak mau diajak periksa. Tetapi ia tak mau diam saja, ia pun diam diam menghubungi dokter Rima setelah ia berada diluar kamar, sembari beralasan ingin mengambilkannya air minum hangat buat Zayn.


"Buat mas Zayn lagi, Neng?" tanya Inah, ketika lagi lagi menjumpai Ara menuang air hangat kedalam gelas.


"Iya, Bi," Ara menyahut lemas.


"Neng Ara sepertinya kurang fit ya? Biasa sih Neng, orang hamil muda memang kadang suka begitu," Inah yang bertanya, dia pula yang menerka sendiri kenapa pagi ini Ara terlihat sayu.


Ara hanya tersenyum tipis menanggapi omongan Inah. Kemudian ia menoleh ke sekitar mencari keberadaan mami dan papinya, beruntungnya mereka tidak ada di sana.


Masalah kabar dirinya yang hamil lagi, tentu ia tidak mau menomorduakan kedua orangtuanya. Inah tahu dirinya hamil karena tidak sengaja menemukan testpack itu. Makanya ia terlihat sedikit tak tenang jika Inah menyinggung tentang kehamilannya itu. Sebab memang Haris dan Viona masih belum tahu kabar itu.


"Bi Inah, bisa buatkan bubur ayam nggak buat mas Zayn?" Ara segera mengalihkan ke topik lainnya dengan meminta Inah membuatkan bubur ayam.


"Bisa dong, ditunggu saja ya, Neng."


"Nanti diantar ke kamar saja ya, Bi."


"Siap, neng Ara. Neng mau bibi buatkan juga?"


"Boleh," sahutnya, lalu kemudian pergi dari dapur itu untuk menemui Zayn lagi.


"Selamat pagi sayangnya bunda," sapa Ara, ketika tak sengaja berjumpa dengan Ziyyan dan Haris ketika akan menaiki undakan tangga.


"Pagi, Bunda."


"Mau kemana?" tanyanya, karena saat ini kakek dan cucu itu sedang memakai setelan yang senada.


"Mau jogging dong, ya nggak Ziyyan." Haris ikut menyahut.


"Mm, baiklah." Ara mencium kedua pipi anaknya itu, sebelum kemudian melihat mereka pergi sambil bersenda gurau begitu riangnya.

__ADS_1


Ara kembali melangkahkan kakinya menuju kamar. Setelah sampai di kamarnya, suaminya itu masih terbaring lemas di atas kasur. Sepeninggal Ara tadi rupanya Zayn lagi lagi merasakan perutnya yang bergejolak, membuatnya bolak balik ke kamar mandi dengan tubuh yang cukup lemas.


"Mas tambah pucat, diminum dulu ya," Ara memberinya segelas air hangat yang ia bawa itu kepada Zayn, lalu pria itu meminumnya hingga tandas, karena memang kerongkongannya terasa kering dan tak enak.


"Sayang, ada makanan yang manis manis nggak?" ucapnya, ketika merasa sedikit segar efek kemasukan air hangat ditubuhnya.


"Yang manis?"


"Cake yang coklatnya lumer gitu, tiba-tiba pingin, kayaknya enak deh makan itu."


"Nggak ada, Mas, nggak sedia. Aku buatin dulu ya?"


"Nggak usah deh, entar kamu repot." ujarnya sambil meraba perut rata Ara, mengusapnya pelan dan penuh kasih.


"Aku pesan online ya, mau?" Ara meraih ponselnya. Ia sudah sibuk mencari cake seperti yang diinginkan Zayn sebelum pria itu menyetujuinya.


"Terserah kamu lah," sahutnya pasrah, setelah melihat Ara begitu bersemangat memesankan cake yang tiba tiba ia sangat ingin memakannya pagi ini.


Zayn berbaring lagi, tapi kali ini posisinya sedang berbaring di atas paha Ara menghadap ke perut. Sesekali pria itu mengendus nakal dan menciumi perut yang masih rata itu secara bertubi tubi.


"Geli, Mas," ucap Ara, mendapati ulah suaminya yang mulai merusuh di pagi hari.


"Selamat pagi buah cinta ayah bunda." Zayn malah terlihat asyik berbicara sendiri dengan mengusap-usap perut Ara.


Tok... tok... tok....


Mereka sama sama menoleh ke arah pintu yang sedang diketuk. Lalu kemudian Ara menyusul membukanya.


"Siapa yang sakit, Ra?" Viona muncul dari balik pintu bersama dokter Rima.


"Mas Zayn, Mi," sahutnya, lalu Viona dan dokter Rima turut masuk ke kamar itu.


Dokter Rima sudah mulai memeriksa kondisi Zayn, sesekali terpasang raut yang serius lalu berubah tersenyum dari wajah dokter Rima.


"Permisi, Neng Ara." Tiba-tiba Inah muncul diambang pintu dengan membawa nampan berisikan dua mangkuk bubur ayam.


"Masuk saja, Bi." Inah pun kemudian ikut masuk, setelah diperintah masuk oleh Ara.


Inah turut mencermati kegiatan dokter Rima yang sedang memeriksa menantu majikannya itu. Terlihat jelas wajah Zayn yang terlihat sayu dan lemas. Karena masih penasaran dengan diagnosa dari dokter Rima, Inah pun memilih tak segera pergi dari kamar itu. Jiwa keponya kambuh lagi. Dasar!

__ADS_1


"Mm, sepertinya tidak ada gejala yang tidak perlu dikhawatirkan. Ini seperti gejala syndrom cauvade saja." tutur dokter Rima, setelah selesai memeriksa Zayn, tak luput lirikan matanya ia tuju kepada Ara yang juga sedang menatapnya.


"Syndrom cauvade lagi?" Zayn terhenyak kaget sendiri.


"Lagi?" Ara yang tak paham apa-apa pun turut bertanya.


"Iish, sialnya aku!" Zayn menepuk keningnya sendiri, sambil menatap pada langit langit kamar.


Diagnosa itu pernah ia alami sekitar lima tahun silam, dimana saat itu kemungkinan Ara sedang mengandung Ziyyan. Ia tak pernah menyangka akan mengalami hal serupa seperti dulu. Merasakan semua gejala orang hamil muda, seperti mual, pusing, ngidam, Zayn pernah merasakan itu dulu. Bahkan dulu bobot tubuhnya sempat sedikit kurus efek tidak selera makan pasca terkena syndrom cauvade.


"Ini ada apa sih, Mas? Syndrom cauvade? Aku nggak ngerti istilah ini, Dok, tolong jelaskan." tentu Ara masih kebingungan sendiri. Apalagi setelah melihat wajah dokter Rima yang tidak ada panik-paniknya sama sekali, semakin bingung lah dia.


"Ara, kamu hamil lagi, Nak?" Tetiba Viona berjingkrak histeris sambil mengguncang bahu Ara.


Viona tahu hal itu karena tadi sambil mendengarkan diagnosa dari dokter Rima itu ia segera mencari tahunya lewat google. Dan begitu senangnya ia setelah mengetahui definisi dari istilah syndrom cauvade itu sendiri.


"Ara, Zayn, ayolah... Terus terang sama mami," Viona terlihat begitu semangat menunggu jawaban dari mereka.


Sejenak Ara dan Zayn saling bertatapan, kemudian mereka berdua saling melempar senyum kepada Viona.


"Iya, Mi. Ara hamil." Zayn yang menjawab, pria itu saat ini sedang menggenggam tangan Ara begitu penuh kasih.


Viona yang mendengar kabar gembira itu tentu merasa sangat bersyukur. Senyum merekahnya tak pernah pudar darinya. Bergantian ia merengkuh tubuh Ara dan Zayn ke dalam pelukannya, sembari terucap kata selamat untuk mereka.


Dan Inah yang juga menyaksikan kebahagiaan itu, tak terasa meneteskan air matanya. Dua kali ia menjadi saksi atas kabar kehamilan anak majikannya itu. Dulu semasa kehamilan Ziyyan, dan sekarang pula.


"Aku harus memberitahu kabar ini sama jeng Rahayu. Dia pasti senang juga." Viona sangat berantusias sekali. Ia pun melenggang pergi dari kamar itu sambil berusaha menghubungi besannya, ibunya Zayn.


Sedangkan Ara dan Zayn hanya bisa tersenyum senang mendapati Viona yang begitu berbahagia setelah mendengar kabar kehamilannya itu.


"Selamat ya neng Ara, mas Zayn," ucap Inah.


"Terimakasih, Bi," sahut mereka hampir bersamaan.


"Entar kalau ngidam apa-apa bibi siap bantu kok," tutur Inah, tak kalah semangat juga.


"Eh... Sayang, cake nya udah datang belum?" Tetiba Zayn teringat lagi tentang cake coklat lumer yang diinginkannya itu.


"Oh, tunggu, aku cek lagi," kemudian Ara memeriksa ponselnya lagi.

__ADS_1


"Terbalik. Istri yang hamil, suami yang ngidam." gumam Inah, setelah itu ia pun keluar juga dari kamar itu.


*


__ADS_2