
Keanu sudah bersiap-siap berangkat ke tempat yang telah disepakati oleh Ara sebagai tempat pertemuan mereka. Pria itu tentu sangat berantusias sekali ketika semalam wanita itu mengiriminya pesan singkat tentang ajakannya untuk bertemu.
Sebuah hadiah berbagai jenis mainan juga telah ia siapkan untuk Ziyyan, karena ia menduga jika wanita itu datang akan membawa serta anaknya.
Bukan lagi tentang soal ingin mengambil hati Ara sebagai tujuannya, melainkan lebih ke rasa peduli dan ingin berbagi kepada anak dari seseorang yang pernah menjadi tambatan hatinya.
Pria itu sudah sampai disebuah restoran cukup elite yang dipesan oleh Ara. Terlihat wanita itu telah menunggunya disebuah kursi paling ujung. Rupanya Ara datang hanya seorang diri tanpa mengajak Ziyyan, tapi meski begitu hadiah yang telah disiapkannya itu tetap ia bawa masuk. Karena apa yang sudah menjadi niat baik itu pantang untuk diurungkan.
"Pak Ken." Seorang manager restoran itu tiba-tiba menyapa ramah ketika tak sengaja berpapasan dengan Keanu.
"Sssssttt....." Keanu hanya menempelkan jari telunjuk di bibirnya, pertanda menyuruh manager itu untuk bungkam.
Manager wanita itu langsung mengangguk paham, dan langsung hengkang dari sana ketika Keanu mengibaskan tangannya kepadanya.
"Kalo Tahu Boss bakal datang kita kan bisa mempersiapkan diri." Salah seorang pramusaji wanita berbisik kepada sesama temannya, sambil merapihkan penampilannya yang tentu tujuannya itu karena ingin menarik perhatian ownernya itu.
"Udah telat juga. Yuk ah balik kerja."
"Aaah.... My boss Keanu. I love you Boss."
Begitulah selentingan celotehan dari pegawainya yang mengetahui siapa dan seperti apa owner dari restoran yang memiliki banyak cabang dipusat ibu kota.
Keanu yang memiliki paras tampan dan juga terkesan dingin itu, tentu membuat sebagian pegawai perempuannya semakin penasaran dengannya. Meski begitu, dari beberapa restoran yang ia miliki rupanya hanya beberapa pegawainya saja yang mengetahui siapa sebenarnya boss besar mereka. Selebihnya mereka tidak mengetahuinya. Karena setiap Keanu berkunjung ke cabang restorannya, pria itu tak pernah menampakkan jika dirinya adalah owner nya.
Keanu melangkah sudah semakin mendekat kepada Ara. Sebelumnya pria itu sudah menata hati dan perasaannya agar tetap bisa santai dan juga harus ikhlas untuk menghadapi wanita yang sangat sulit ia keluarkan dari kerajaan hatinya. Satu hal yang harus ia ingat tiap kali hatinya menyeru nama Ara, bahwa wanita itu kini sudah menjadi milik orang lain.
Tujuan ia mengirim foto Zayn dan Bella itu semata bukan karena ia ingin merebutnya dari Zayn atau bahkan mau merusak hubungannya dengan Zayn, ia hanya ingin agar Ara kembali menimangnya sebelum semuanya sudah terlanjur kepalang. Karena menurutnya kini, mencintai Ara ialah cukuplah ia melihat wanita itu bahagia bersama pilihannya, dan tak harus memilikinya.
"Assalamu'alaikum, my Queen."
Pria itu menyapa Ara sambil menepuk pundaknya. Tak lupa senyum manisnya itu selalu mengembang dari sudut bibirnya.
Ara terperangah, tentu ia merasa heran dengan perubahan Keanu sekarang. Pria yang dulu selalu menyapanya sekena mulutnya, kini berubah sedikit alim didengarnya.
"Menjawab salam wajib loh, Ra." Pria itu kini mendudukkan diri tepat berhadapan dengan Ara.
"Wa alaikum salam." Ara pun menjawab telat.
Sejenak pria itu hanya terdiam sambil terus menatap lekat kepada Ara. Dan otomatis membuat yang ditatap merasa heran bercampur tak enak ditatap seperti itu oleh Keanu.
"Kenapa? Ada yang aneh sama gue?" Ara turut memperhatikan dirinya sendiri, merasa mungkin Keanu melihat di tubuhnya ada sesuatu yang aneh.
"Kamu cantik," pujinya kemudian.
__ADS_1
Dipuji begitu, wanita itu malah berkerut kening. Degup jantungnya terasa was-was, merasa jika pria didepannya itu mulai melancarkan modus kepadanya.
"Tuhan, maafin aku." Bathinnya tentu tak tenang. Dirinya yang sudah menjadi istri orang, merasa bersalah saja pada diri sendiri.
"Hey, my Queen."
Ara terhenyak ketika pria itu sudah mengibas-ibaskan tangannya didepan wajahnya.
"Eh, ehm--" Ara masih gelagapan, berbeda dengan Keanu yang langsung terkekeh melihat Ara yang begitu.
"Ken," sapa Ara.
"Iya," sahutnya masih dengan senyumnya yang melekat.
"Oh iya, my Queen, aku punya sesuatu buat Ziyyan. Nih," Pria itu menyodorkan dua paperbag berukuran lumayan besar kepada Ara.
"Apa ini, Ken?" Ara meraih pemberian pria itu lalu meletakkannya di kursi kosong disebelahnya.
"Buat Ziyyan."
"Kenapa harus repot begini sih?" Ara melirik sedikit isi dalam paperbag itu.
"Nggak repotlah. Justru yang repot itu mendapatkan cinta kamu."
Seketika Ara menoleh kepadanya. "Dah, pokoknya harus diterima. Aku nggak mau dengar kata penolakan sekarang. Cukup perasaanku saja yang kamu tolak."
"Apaan sih!" ucap Ara, merasa telah digoda oleh Keanu.
"Hei, kamu sudah--" Keanu tak jadi melanjutkan pertanyaannya, matanya terus saja menatap lekat kesebuah cincin yang bersemat di jari manis wanita itu. Ada hati yang tiba-tiba tergores kembali, andai prasangkanya itu benar adanya.
"Ooh, bukannya lo sudah tahu?" Ara malah membalikkan pertanyaan kepadanya.
Keanu masih bergeming. Pria itu sudah tahu jika Ara sudah bertunangan dengan Zayn, akan tetapi dilihat dari cincin yang dipakai Ara itu, terlihat berbeda dengan cincin pertunangan yang sempat diposting oleh Sisil saat itu.
"Tentang foto itu, dari mana lo dapat, Ken?" Ara sudah tak mau berbasa-basi lagi akan tujuan awalnya menemui Keanu.
"Ooh, foto itu." Pria itu mundur perlahan, menyandarkan punggungnya di sandaran kursinya.
"Sebelumnya sorry banget, Ra. Bukan maksudku mau mengacaukan, cuma--" Pria itu terlihat menghela nafasnya terlebih dahulu.
"Cuma aku nggak mau kamu tertipu sama dia. Sebelum kamu terlanjur menikah sama dia, sebaiknya kamu cari tahu dulu. Foto itu masih sekitar dua bulan ini. Aku dapatin itu berkat bantuan temenku. Dia masih tetangga di apartemen Zayn."
Keanu memang dibantu oleh Reno, tentu juga melalui penjaga keamanan di apartemen itu. Karena Reno memakai alasan untuk menangkap basah perlakuan serong pacarnya, makanya petugas keamanan itu dengan mudahnya memberinya foto tangkapan layar itu.
__ADS_1
Ara mendesah pelan. Apa yang diucapkan Keanu itu sudah percuma. Dirinya kini sudah terlanjur menikah dengan Zayn, meski hanya secara agama saja.
"Kamu bisa cari bukti lainnya didalam apartemennya. Ku rasa didalam sana ia juga menaruh CCTV." Keanu memberinya solusi, yang membuat wanita itu seketika mengangguk setuju.
Pria itu tersenyum lebar. Entah akhirnya nanti akan menemukan bukti baru atau tidak, yang ia mau hanyalah tak ingin melihat Ara kecewa dan menangis lagi dikemudian hari.
"Tapi percuma. Dia sekarang ada mengurus proyeknya. Bagaimana caranya gue bisa masuk dan mencaritahu kesana?"
Keanu terlihat ikut berpikir keras. Untuk meminjam kunci duplikatnya kepada petugas di sana, tentu harus menyertakan alasan yang benar benar akurat agar bisa diberi pinjam duplikatnya.
"Aah, tunggu dia datang saja. Kamu bisa bilang kalau kamu ingin berkunjung ke apartemennya. Gimana?"
"Masalahnya kalo nunggu sampai dia datang, pernikahanku sudah kurang seminggu dari kedatangannya!" Wanita itu mengoceh sendiri dalam hati, penuh kebimbangan.
"Gimana my Queen?" Keanu kembali menyapa.
"Gue pikir pikir entar deh," ucapan Ara terdengar pasrah begitu saja, padahal hatinya kini tengah bergejolak penuh dengan tanda tanya kepada Zayn.
"Trus lagi, gue nggak mau lo manggil manggil gue my Queen lagi."
"Ini juga yang terakhir kok. Sorry ya kalo kamu ngerasa nggak enak." Keanu memberanikan diri menyentuh tangan Ara, kemudian mengusapnya lembut.
"Mungkin ini juga yang terakhir aku bisa menyentuh tanganmu seperti ini," gumamnya dalam hati.
"Oh ya, sorry ya aku tinggal dulu," pamit Keanu seketika. Karena jika berlama-lama lagi pria itu takut tak bisa mengontrol diri. Sudah susah payah ia berusaha tegar menghadapi nasib cintanya yang harus kandas. Rasanya dari sudut hatinya itu ada yang melirih sendu, menangis dalam diam.
"Ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan sekarang juga. Sorry ya, Ra."
"Oh, okey. Gak papa kok," sahutnya ramah.
"Oh iya, sebenarnya sekarang ini bisnis lo apa sih? Ngelanjutin punya bokap?" Ara bertanya demikian karena sekedar ingin tahu saja.
"Bisnisku buka warung makan. Lain kali mampir ya," akunya sekenanya. Padahal restoran yang kini disinggahinya itu adalah milik Keanu.
"Semoga kamu selalu bahagia, Ra," ucapnya lagi, sambil beranjak pergi dan menyempatkan diri menyentuh pucuk kepala Ara, juga mengusapnya pelan.
Ara hanya tersenyum, tentu langsung mengamini ucapan dari Keanu itu. Dan tak lama setelahnya pria itu akhirnya melangkah dengan cepat, meninggalkan Ara seorang diri.
"Huuuft!" Terdengar helaan nafas berat berhembus kasar dari Keanu.
"Ternyata aku bisa!" Bathinnya menyemangati dirinya sendiri.
Meski telah begitu, ternyata buliran bening itu lolos mengalir juga. Disaat pria itu telah memasuki mobilnya, ia menumpahkan tangisannya di sana.
__ADS_1
"Aku yakin. Dibalik semua ini Tuhan pasti telah mempersiapkan yang terbaik untukku. Semoga saja jodoh itu datang di saat aku sudah benar benar bisa melupakannya. Dan entah kapan itu akan tiba."
*