Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 37


__ADS_3

Tiga hari menjelang wisuda.


Zayn dan Ara semakin terlihat sering berdua, mereka seakan tak mau berpisah setelah Zayn berterus terang akan kepergiannya bekerja di Batam kepada Ara setelah acara wisuda itu selesai.


Meski keputusan itu di rasa sangatlah berat oleh mereka berdua, akan tetapi Ara lah yang mendukung kekasihnya itu untuk menata karier di sana, meski taruhannya adalah hubungan mereka yang harus LDR.


Gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Zayn. Terlihat jelas kalau sebenarnya ia tak rela untuk berpisah jarak dengan kekasihnya itu. Mulutnya mungkin berkata rela, tapi tidak dengan hatinya. Kendati begitu Ara tetap harus merelakannya, ini demi masa depan mereka nanti, demi mencapai restu dari Haris, papinya Ara.


Zayn menengadah menatap langit siang yang terasa seperti sore karena mendung yang mulai petang. Terlihat beberapa orang sudah berlalu lalang di hadapannya untuk pulang dan sebagian lagi mencoba mencari tempat meneduh ketika nanti mendung itu sudah menumpahkan airnya.


Berulang kali ia mengajak Ara untuk pulang, namun selalu kekasihnya itu menolak. Entahlah apa yang membuat gadis itu bertahan di tengah gerimis yang mulai menitik di permukaan bumi.


"Kita cari tempat berteduh yuk?" ajak Zayn.


Ara hanya menggeleng, tanpa mengurai sedikitpun dari sandarannya di pundak Zayn.


"Ini tambah deras, nanti kamu sakit gimana?"


Gerimis pun berganti menjadi hujan yang cukup lebat. Tapi pasangan sejoli itu tetap duduk tanpa suara lagi di tengah-tengah taman kota itu.


Zayn merengkuh tubuh Ara ke dalam pelukannya, ia tahu apa yang di rasakan Ara saat ini. Seandainya Ara tahu bahwa sebenarnya yang di rasa Zayn jauh lebih pedih dari saat ini, namun nyatanya pria itu masih belum berterus terang juga kepada Ara tentang kejadian semalam itu.


"Dulu aku gak suka hujan." Ara mulai bersuara.


"Dulu aku selalu ngomel kalo tiba-tiba hujan. Tapi sekarang aku baru tahu, hujan mampu menyamarkan hati yang sedang sedih. Sedih harus berpisah jauh sama kamu."


"Maka ijinkan aku untuk bertemu orangtuamu, agar aku bisa menikahimu dan kita bisa pergi bersama, tanpa harus berpisah jarak."


Ara beralih menatap lekat netra Zayn yang juga menyorot tajam menatapnya. Gadis itu ternyata sedang menangis namun tersamarkan oleh derasnya hujan yang membasahi tubuhnya.

__ADS_1


Ia mendekatkan wajahnya kepada Zayn, gadis itu memberanikan diri mencium bibir Zayn. Ciuman secepat kilat, yang kemudian di sambut oleh Zayn dengan lumatannya yang hangat.


Zayn melepas ciumannya sekedar mengambil nafas yang sempat tersengal, lalu kemudian kembali menyesap bibir ranum Ara begitu rakus, membawa gadis itu turut larut dalam lumatannya yang terasa nikmat.


Ara melenguh, gadis itu sedikit mendorong dada bidang Zayn agar kekasihnya itu memberinya jeda untuk sekedar bernafas. Sesaat mereka saling pandang, dan lagi-lagi mereka mengulang ciuman di tengah hujan itu, seakan memberi kenangan terindah yang tak akan mereka lupa nanti ketika sudah berpisah jarak.


Zayn menangkup wajah Ara dengan jemarinya yang sudah terasa dingin. "Kita pulang ya," ajak Zayn sekali lagi.


"Jangan antar aku pulang ke rumah."


Zayn mengangguk lantas tangan itu meraih tangan Ara, menggenggamnya dan menuntunnya untuk pergi dari taman kota yang telah memberi mereka kenangan termanis.


Ara tetap memeluk posesive ketika Zayn membawanya melaju dengan motor yang di bawanya.


"Kak."


"Hmm."


Zayn hanya terdiam. tiba-tiba pria itu kembali di ingatkan dengan memori malam panjang itu.


"Aku ingin makan nasi goreng buatan kamu." Suara Ara terdengar sedikit menggigil.


Zayn menambah kecepatan laju motornya agar bisa segera sampai di rumahnya.


Lima belas menit perjalanan, motor itu sudah terparkir di halaman rumah Zayn. Pria itu segera memasuki rumahnya untuk mengambilkan Ara handuk kering dan pakaian ganti agar kekasihnya itu tak lagi merasa kedinginan dengan pakaiannya yang basah kuyup sedari tadi.


Tubuh Zayn sebenarnya sudah menggigil, tapi ia membiarkan Ara untuk membersihkan badannya terlebih dahulu, karena tadi Zayn melihat wajah Ara sudah terlihat sangat pucat.


Sambil menunggu Ara selesai membersihkan badannya, Zayn menyeduh secangkir kopi creemer hangat dan juga susu coklat hangat kesukaan Ara.

__ADS_1


"Kamu minum dulu ya mumpung masih hangat." Pria itu berucap ketika mendapati Ara yang sudah keluar dari toilet dan kemudian di ganti olehnya untuk segera membersihkan badannya juga.


Tak berselang lama Zayn sudah selesai dengan kegiatannya di toilet, pria itu segera keluar dari sana karena merasa tidak ada pergerakan apa-apa dari Ara yang sudah tidak ada lagi di ruang makan itu.


Ara tiba-tiba menghilang, segelas susu coklat hangat kesukaan Ara belum di minumnya, malah kopi creemer hangat milik Zayn yang tersisa tinggal separuhnya.


"Sayang," panggil Zayn sambil mencari keberadaan Ara yang ternyata sudah terbaring sambil memejamkan matanya di atas ranjang kamar Zayn.


Mata Zayn terhenyak kaget begitu melihat Ara yang berbaring tanpa berdosa di atas ranjang miliknya. Kepala Zayn menggeleng-geleng ketika memori itu kembali terngiang. Bagaimana bisa lupa dengan kejadian itu, ditambah lagi kini ia kembali melihat paha mulus Ara yang terekspos nyata, memakai kemeja miliknya yang kebesaran di badan Ara, membuat tampilan gadis itu semakin terlihat seksi dan menggoda iman.


"Tahan, Zayn, tahan! Ingat, jangan ulangi kesalahan itu. Kamu sendiri pengecut, sampai sekarang pun kamu masih belum jujur sama dia." Suara bathin Zayn mengumpat diri dengan kata pengecut.


Zayn mendekat ke arah Ara yang sedang berbaring, setelah ia menghela nafasnya yang tiba-tiba terasa membuncah tadi. Pria itu mencoba menutupi tubuh kekasihnya itu dengan selimut yang ia simpan di dalam lemari nakas miliknya.


Suara gesekan pintu kayu nakas membuat Ara terbangun dari tidur kilatnya.


"Aku capek," lirihnya sambil mata itu kembali terpejam.


"Tidurlah!" Zayn menyelimuti tubuh Ara dengan selimut tebal miliknya.


"Kamu tidur sini." Ara menepuk bantal kosong di sampingnya.


Zayn menggeleng menolak.


"Temani aku berbaring saja, Kak, aku percaya kamu, kamu gak mungkin macem-macem kan?"


Zayn menelan salivanya terasa sulit. Ucapan Ara itu terasa begitu menghantam dada Zayn yang membuat pria itu tak terasa menitikkan air matanya di depan Ara.


"Hei, kenapa menangis?"

__ADS_1


***


See you next part Reader's😘


__ADS_2