Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 70


__ADS_3

"Kau menikahlah dengan anakku."


Deg.


Zayn mendongakkan kepalanya sembari refleks berdiri dari tempat duduknya. Sebenarnya ia sudah mendengar rumor itu dari beberapa pegawai yang menggosipkan dirinya, tapi jika sekarang Haris benar-benar telah mengatakannya itu berarti bukanlah sekedar isapan jempol belaka.


Haris masih tetap diam membelakanginya, sedang tangan Zayn seketika mengepal erat. Bukan karena ia marah, melainkan karena ia sedang menahan egonya sendiri untuk tidak mengatakan apa yang menjadi uneg-unegnya selama ini. Yang selalu urung ia ungkapkan tiap kali teringat akan kebaikan Haris kepadanya.


Haris memang dikenal sebagai sosok yang dingin dan suka memerintahnya secara semena-mena. Bahkan sering pula Haris bersikap acuh kepadanya saat suatu ketika mengetahui Zayn sedang kurang enak badan. Yang intinya Haris tak mengenal toleransi apapun kepada Zayn. Tentunya hal itu hanya berlaku kepada Zayn saja, sedangkan kepada pegawai yang lain Haris tidak searogan itu.


Meski demikian Haris tetaplah menjadi orang terbaik yang pernah dikenalnya. Kalau perlu ia pun tak akan bisa membalas budi semua kebaikan Haris kepada keluarganya.


Disaat Ayahnya membutuhkan transplantasi ginjal beberapa tahun yang lalu, Haris lah yang membantunya mencarikan donor ginjal untuk ayahnya. Bahkan saat itu Haris juga yang membiayai semua perawatan ayahnya ketika menjalani perawatan di sebuah rumah sakit yang berada di Singapore. Karena saat itu keadaan finansial Zayn masih kurang mapan, membuatnya tak bisa menolak tawaran dari Haris saat itu.


Bukan hanya itu, tentang siapa yang membantu dirinya ketika terkena kecelakaan beruntun yang menimpanya ketika berada di Batam dulu, itu juga Haris yang menanggung semua biayanya. Ia mengetahui semua itu setelah tak sengaja mendengar obrolan Wisnu dengan Ridwan beberapa saat yang lalu.


Walau sebenarnya akhir-akhir ini Zayn berusaha mengganti semua biaya yang dikeluarkan oleh Haris meski tidak bisa membayar sepenuhnya, namun selalu ditolak mentah-mentah olehnya. Alasannya mungkin karena hal ini. Ternyata Haris ingin Zayn menebusnya dengan menjadi menantunya.


Bukankah yang demikian lebih mirip barter bagi Zayn? Dirinya, bahkan hatinya harus ditukar dengan permintaan Haris yang tak mungkin ia kabulkan.


Kalau sudah begini, apa yang harus ia lakukan? Untuk menolaknya, membuatnya terkesan seolah Zayn tak tahu balas budi. Tetapi jika menerimanya, hati dan perasaan Zayn masih utuh milik kekasihnya yang dahulu, Aurora.


"Bagaimana, Zayn?" Haris membalikkkan tubuhnya menatap lekat kepada Zayn yang hanya terdiam.


"Kau tidak mau?" Haris sudah mulai tak sabar.


"Maaf, Pak." Hanya kata maaf yang dapat Zayn lontarkan, meski sebenarnya hatinya ingin langsung berkata ' iya, saya menolaknya.'


"Cih!" Haris berdecih mengumpat. Senyum devil pria itu menatap kepada Zayn.

__ADS_1


"Apa tidak akan kau pikirkan dulu permintaan saya ini?" Rupanya Haris masih berharap pria itu menyetujui permintaannya.


Dan Zayn hanya terdiam dengan kepala tertunduk, tak berani lagi menatap sorot mata Haris yang begitu nanar menatapnya.


"Kau boleh pergi." Suara Haris seakan terdengar pasrah. Tanpa berpikir lama Zayn langsung hengkang dari ruangan Haris yang seketika berubah menegangkan.


Haris memandang bayangan Zayn yang telah benar-benar keluar dari ruangannya. Seketika senyum liciknya terukir puas disaat melihat ekspresi kebingungan dari Zayn tadi.


Haris meraih ponselnya, lalu kemudian ia mengirim pesan singkat kepada seseorang. Yang kemudian Haris langsung mengembangkan senyum lebarnya begitu seseorang yang ia kirimi pesan itu membalas pesannya.


Tangan Haris terulur membuka laci yang berada di meja kerjanya itu. Diambilnya sebuah bingkai foto yang mana disitu terdapat foto putri semata wayangnya, Aurora.


"Papi kangen kamu, Nak," ucapnya lirih.


"Maafkan papi yang terlalu egois sama kamu. Apa kamu masih bisa memaafkan papimu yang keras kepala ini?"


Tak terasa tetesan air mata itu mengalir deras di pipi Haris. Kerinduannya kepada Ara sudah teramat dalam. Bahkan semenjak dirinya mengusir Ara dahulu, hubungannya dengan istrinya sedikit merenggang. Dikarenakan Viona berubah dingin kepadanya. Dan mungkin mereka akan mengobrol jika sedang penting saja.


*


Ternyata CEO nya itu amatlah licik. Bagaimana tidak, dirinya harus rela dilaporkan ke pihak berwajib atas tuduhan penggelapan dana kantor yang tak pernah sama sekali ia perbuat. Tawarannya jika ia ingin bebas dari tuduhan itu, maka ia harus mau menerima tawaran dari CEO nya itu.


"Aaaaaarrrrgh......"


Zayn menjambak keras rambutnya sendiri. Ia duduk bersimpuh di atas lantai, sedang bulir air matanya sudah mulai mengalir. Semua yang terjadi saat ini terasa begitu amat menyesakkan dada.


"Aku bukan budaknya kan? Aku hanya berhutang budi saja. Apakah ini karma, Tuhan? Tolong, tolong aku agar bisa terlepas dari jeratan ini. Aku sudah tidak tahan."


Zayn hanya dapat bergumam sendiri. Pria itu sungguh sudah tidak kuat menjalani kehidupannya yang selalu berada di bawah kungkungan Haris.

__ADS_1


Ia berpikir sejenak, mungkin jika ia menjual apartemen dan mobil miliknya serta ditambah simpanan tabungannya mungkin ia bisa menebus semua biaya yang pernah dikeluarkan oleh Haris dulu. Dan tentunya secara tak langsung ia sudah menebus hutang budinya itu. Sehingga membuatnya tak lagi merasa sungkan untuk segera resign dari Rahardian Group.


Yach, tekad Zayn sudah bulat. Ia beranjak berdiri untuk duduk di kursinya. Kemudian ia menyalakan ponselnya untuk bisa menawarkan properti miliknya di lapak jual beli yang tersebar luas di sosmed.


Tak mengapa ia harus kehilangan semua yang dimilikinya itu, yang ia dapatkan berkat kerja kerasnya selama ini. Terlepas dari beban hutang budi kepada Haris saja adalah keinginan terpendamnya selama ini. Dan setelah itu ia akan menjadi Zayn yang dahulu. Zayn yang sederhana, yang hanya mencintai kekasihnya dengan sepenuh hatinya hanya kepada Aurora.


"Setelah ini aku akan mencarimu, Ara. Sampai dimanapun, aku akan mencarimu."


Zayn memandang satu-satunya foto Ara dengan dirinya yang masih tersimpan di galeri ponselnya. Setelah kehilangan ponselnya dahulu, hanya satu foto itu yang tersisa. Yang pernah sekali ia unggah di laman sosial media miliknya dahulu.


Sebuah panggilan masuk dari Hanung tertera di layar ponselnya.


"Ada apa, Nung?" Tanyanya dengan suaranya yang serak.


"Anda baik-baik saja, Pak?"


Hanung menanyainya bukan karena inisiatifnya sendiri. Melainkan karena disuruh oleh Wisnu, yang ingin mengetahui bagaimana keadaan Zayn setelah mendengar kabar mengejutkan itu.


"Ehem, ehem.... suara saya sedikit serak, Nung. Tenggorokan terasa agak gak enak." Zayn sengaja berbohong.


"Lebih baik anda istirahat yang banyak, Pak. Soal proyek disini biar saya yang urus. Anda tidak perlu khawatir. Semoga Bapak lekas sembuh."


"Terimakasih, Nung. Sudah memperhatikan keadaan saya sejauh ini."


"Sudah seharusnya, Pak. Karena kalau nanti ada apa-apa dengan anda, bukankah saya terkena imbasnya juga?"


Zayn pun terdiam mendengar perkataan asistennya itu. Jika ia sudah resign nanti, bagaimana nasib Hanung? Bukankah Hanung bekerja karena menjadi asisten pribadinya?


"Hallo.... Hallo, Pak...."

__ADS_1


Suara Hanung kembali menyapanya. Namun Zayn memilih diam saja. Hingga panggilan itu terputus begitu saja, Zayn masih terdiam dengan beribu bahasa.


*


__ADS_2