
"Kamu siapa?"
Ara sudah merasa sangat penasaran dengan siapa sebenarnya gadis muda yang terlihat sangat dekat dan begitu manja dengan Zayn. Akan tetapi bukan jawaban yang ia dapat dari gadis itu, melainkan hanya senyum penuh keanehan yang dirasa oleh Ara.
Zayn yang melihat jelas ada raut tak suka dari mimik Ara kepada adiknya yang kebetulan sedang merebahkan kepalanya di dada bidangnya itu, tentu sudah ingin tertawa sepuas-puasnya. Hanya harus ia tahan sekuatnya.
"Dia siapa sih, Mas?" Gadis muda itu nampak tak mempedulikan Ara yang menanyainya, ia bahkan terlihat semakin mengeratkan pelukan tangannya di tubuh Zayn.
Sekilas Zayn sengaja menatap Ara cukup lama, lalu kemudian ia berpaling menatap gadis disebelahnya lagi sambil tanpa sungkan mencium sekilas kening gadis muda itu.
"Dia ibunya Ziyyan. Kalian mengobrollah, kenalan. Jadi nanti kalo sudah bertemu, kalian sudah bisa akrab."
Setelah mengucap demikian yang ada pria itu memilih pergi meninggalkan Ara yang terdiam memandanginya penuh rasa jengkel.
"Hai..." Cinta tersenyum lebar menyapa Ara yang sudah berwajah jutek kepadanya. Gadis itu sengaja akan membuat Ara mengakui nanti jika ia masih punya sisa rasa kepada kakaknya.
Ara sedikit membuang muka. Sebenarnya ia sudah muak melihat wajah gadis yang masih belia yang menurutnya sedikit ganjen karena begitu berani berduaan di kamar dengan lelaki dewasa seperti Zayn.
"Kenalkan ya... Namaku--"
"Aku nggak mau tahu!" Potong Ara, merasa sangat tak mau tahu siapa nama gadis itu.
"Ooh, ya sudah." Cinta hanya menanggapinya dengan senyum sedikit dibuat nakal.
"Ck!" Tak terasa mulut Ara berdecak sangat kesal melihat gadis itu semakin enjoy rebahan di kasurnya.
"Dimana Zayn?" Tanyanya tiba-tiba.
"Ada, tuh!" Cinta mengalihkan kamera videonya ke arah Zayn yang berdiri didepan lemarinya sambil bertelanjang dada.
"Sayang, kamu ditanyain nih." Cinta semakin melancarkan aksinya.
Pria itu hanya melirik sekilas ke arah ponsel yang Cinta tujukan padanya, terlihat disitu wajah Ara yang memandangnya dengan tatapan dingin.
"Kalian mengobrollah dengan santai. Aku mau mandi dulu," ujarnya sangat santai lalu kemudian benar-benar melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang juga berada di kamar itu.
Cinta kembali menampakkan wajahnya di ponselnya setelah melihat Zayn yang sudah masuk ke kamar mandi. Gadis itu kembali melempar senyum kepada Ara yang begitu kentara sangat tak suka dengannya.
"Kamu ada hubungan apa sama Zayn?" Tanyanya kemudian, sudah tanpa ragu lagi.
"Mm, aku?" Cinta sengaja tidak segera menjawabnya. Tentu ia ingin memancing rasa cemburu wanita itu lebih dalam lagi.
"Kamu kalau memang gadis baik-baik, nggak mungkin jam sekarang kamu sudah tiduran di kamar pria dewasa. Seharusnya kamu sekolah yang benar. Nggak main-main api sama om-om kayak Zayn." Cerocosnya yang keluar begitu saja tanpa bisa dikendalikan lagi.
"Wouw...... Santai, Kak!" Cinta hanya menanggapi cercaan Ara begitu tenang.
"Apa? Kamu panggil aku apa tadi?"
Sebenarnya Ara sudah dengar kalau gadis itu memanggilnya kakak tadi. Ia hanya tak suka saja dipanggil dengan sebutan itu, yang terdengar seperti ejekan dari gadis muda yang usianya jauh dibawahnya.
__ADS_1
"Kakak!" Cinta menjawab lebih santai lagi.
Rrrrggh....
Seketika rahang Ara terasa mengeras mendengar sebutan itu dari gadis yang masih memandangnya sok manis.
"Aah, sudahlah. Sepertinya kamu tak mau aku ajak baikan. Aku sebagai perempuan yang begitu berarti di hati Zayn, sebenarnya sangat sedih karena nggak bisa akrab sama ibu dari anakku."
"Tunggu! Kamu? Ibu dari anakku?" Ara semakin tak percaya dengan penuturan gadis itu.
"Iya. Aku kan nanti jadi ibunya Ziyyan juga." Cinta semakin memperkeruh suasana.
Prak.
Ara sudah sangat muak mendengarnya sampai-sampai ia sengaja membanting ponselnya hingga pecah menjadi dua bagian.
Tut... tut.... tut....
"Eh, dia cemburu beneran." Kekeh Cinta setelah mendapati Ara yang langsung memutus panggilannya setelah mendengar ucapannya tadi.
Dok... Dok... Dok....
"Abang.... Abang Zayn...."
Gadis itu terus menggedor pintu kamar mandi Zayn hingga tak lama kemudian pria itu menyembulkan kepalanya sedikit menengok Cinta yang memanggilnya.
"Kita berhasil, Bang. Do'i cemburu berat tadi." Gadis itu berujar sambil sedikit loncat kegirangan layaknya gadis seusianya.
"Iiiih.... kok cuma oh sih?" Gadis itu mulai mengerucutkan bibirnya. Tentu bukan tanggapan seperti itu yang ia inginkan dari kakaknya.
"Iya. Makasih sudah bantu abang. Sekarang kamu nggak mau mandi apa? Sudah jam berapa nih?"
"Oh iya!" Seketika gadis itu menepuk jidatnya.
"Bang, besok kalau lamaran abang berhasil, pokoknya abang harus tepatin janji abang itu loh," Gadis itu masih menagih janjinya kepada Zayn.
"Iya. Kamu terima beres lah." Kemudian Zayn menutup kembali pintu kamar mandinya untuk menuntaskan kegiatannya yang terjeda.
Dan gadis itu kini sudah keluar dari kamar Zayn sambil bernyanyi-nyanyi riang, karena merasa cita-citanya akan segera terwujud untuk bisa kuliah di tempat ia pertama kali bertemu dengan cinta pertamanya itu.
"Ta, dari tadi kamu di mana? Ibu cari nggak ada."
Setiba di ruang keluarga Cinta disapa oleh ibunya yang sedang berkemas memasukkan beberapa barang yang akan dibawa sebagai hantaran untuk melamar Ara besok.
Cinta hanya nyengir, lalu ia beranjak mendekat kepada ibunya dan kemudian merangkul tubuh ibunya begitu senang.
"Aduuuh... sudah.. sudah." Rahayu melepas tangan Cinta yang dirasa sedikit membuatnya sesak nafas.
"Cepat lah kamu beres-beres juga." Perintahnya yang kemudian gadis itu langsung menurut dan melangkah masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Sedang keadaan di rumah Ara.....
Wanita itu tertunduk penuh amarah. Rasanya ia ingin menangis saja, hanya saja masih terlalu gengsi karena tak jauh darinya ada Viona yang sedari tadi memperhatikannya. Sedangkan Ziyyan sendiri sudah dibawa Narsih untuk diajak bermain di tempat lainnya.
Viona melangkah mendekat kepada Ara yang masih tak beranjak dari tempatnya. Sedangkan tatapan putrinya itu terus mengarah pada ponselnya yang sudah patah berkeping-keping.
Viona sedikit menjongkok sambil memungut kepingan ponsel Ara yang dilemparnya tadi. Kemudian meletakkannya di atas meja tak jauh dari sana.
"Kesini lah, Sayang." Viona membentangkan kedua tangannya kepada Ara yang kemudian ibu muda itu langsung berhambur masuk ke dalam dekapan hangat maminya.
Seketika tangis Ara pecah begitu saja seiring dekapan erat dari Viona yang mengusap punggungnya penuh kasih. Ia tahu kalau kini anaknya itu sedang tidak baik-baik saja, makanya ia juga ingin menggunakan kesempatan ini untuk kemudian Ara mau menerima Zayn sebelum akhirnya hanya ada rasa menyesal darinya.
"Tenang lah. Sekarang kamu ceritakan semuanya sama mami. Ini masalah Zayn kan?" Tanyanya pura-pura tidak tahu kalau sebenarnya ia sudah tahu siapa dalang dari kesalahpahaman yang dirasa Ara saat ini.
Ara hanya mengangguk, masih dalam dekapan hangat maminya.
Viona melepas dekapannya lalu tangannya terulur mengusap bersih linangan air mata yang menetes di pipi putrinya itu.
"Kalau kamu masih tidak rela Zayn dengan perempuan lain, trus kenapa kamu menyuruhnya menghindar dari kamu, hmm?"
Ara hanya terdiam. Ia tak mau menjawab pertanyaan dari maminya itu, karena yang ia rasa sekarang ia sangat menyesal telah meminta Zayn menjauhinya saat itu.
"Sayang, jangan pernah membohongi perasaan sendiri. Kalau kamu merasa tak mau kehilangan Zayn, kamu pertahankan! Kamu rebut dia dari gadis itu."
"Tapi, Mi?" Ara masih sedikit ragu dengan usulan maminya, meski kini hatinya tak menampik lagi jika ia tidak mau kehilangan Zayn untuk yang kedua kalinya.
Viona hanya mengulas senyum hangatnya melihat Ara yang masih ragu dengan usulannya.
"Kamu nggak usah takut, nggak usah khawatir. Mami yakin, bagaimanapun gadis itu berusaha menempeli Zayn kamu tetap pemenangnya. Kamu ada Ziyyan, Sayang. Dan pasti nanti Ziyyan tetap akan memilihmu, bukan gadis itu."
Sebenarnya Viona sudah tak tahan ingin mengabari Ara kalau besok keluarga Zayn akan datang kesini untuk melamarnya. Akan tetapi sebelum ia mendengar sendiri kalimat mau membuka hatinya dari Ara, tentu ia masih harus merahasiakannya.
"Ara." Viona mengusap lembut pucuk kepala anaknya.
Ara hanya menoleh. "Jika nanti Zayn datang melamarmu, apa kamu masih mau menolaknya?"
Ara terlihat berpikir sejenak. "Entah lah, Mi," ujarnya kemudian diiringi helaan nafas beratnya.
"Loh, kok masih entah? Kamu masih ragu sama Zayn?"
"Yaaah... terpaksa dirahasiakan lagi nih tentang acara lamaran besok." Gumam Viona sedikit kecewa.
Lagi-lagi Ara memilih diam. Dalam hatinya ia tentu ingin mencoba membuka kembali pintu hatinya itu kepada Zayn. Akan tetapi ia kembali teringat dengan penuturan Hanung beberapa hari belakangan ini.
Asisten pribadi Zayn itu sering mengatakan jika Zayn kerap keluar dengan gadis muda selama berada di proyeknya. Tentu Hanung berani berkata begitu karena memang telah disuruh oleh Zayn, agar Ara bisa kembali cemburu padanya.
Bukan hanya karena ucapan Hanung itu yang masih diragukan oleh Ara. Yang menjadi puncak keraguannya adalah pesan singkat dari Keanu yang menyatakan jika Zayn masih memiliki hubungan dekat dengan Bella, mantan rivalnya semasa di kampus dulu.
Setelah Viona menjatuhkan pilihannya kepada Zayn beberapa hari yang lalu, semenjak itu pula Keanu masih berusaha menghubungi Ara meski pada kenyataannya wanita itu tak pernah menggubris panggilan telepon darinya.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya hanya pesan singkat itu yang Keanu tulis kepada Ara, yaitu masalah Bella dengan Zayn.
*Bersambung....