Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 110


__ADS_3

"Kakeeek..... Neneeeeek...."


Ziyyan langsung berhambur berlari kepada Haris dan Viona yang sengaja menyambut kedatangannya lagi di kediaman mereka.


"Aduuuh... Cucu nenek sudah pulang. Sini nenek peluk dulu." Viona merentangkan kedua tangannya lalu Ziyyan pun masuk ke dalamnya. Mereka saling berpelukan begitu senangnya.


Beralih kemudian ia memeluk Haris juga dengan begitu manja. "Semalam tidur dimana, hmm?" Sapa Haris pada cucunya yang sudah duduk dipangkuannya.


"Iyyan tidur di rumah ayah sama bunda juga." Akunya polos.


"Ziyyan senang nggak?" Jelas kalau Haris sengaja memancing obrolan bocah itu.


Ziyyan pun mengangguk begitu bersemangat. "Kalau merasa senang kenapa pulang kesini? Kenapa tidak temani ayah di sana?" Haris sedikit mencuri pandang kepada Ara yang kebetulan turut duduk bersama mereka.


Bocah itu hanya diam, tak tahu harus menjawab bagaimana pertanyaan kakeknya itu. Walau sebenarnya hati kecilnya juga sangat ingin berkumpul terus dengan ayahnya.


Tentu Ara sangat kaget bercampur sebal mendengar hasutan Haris kepada anaknya itu. Tapi kali ini ia memilih diam saja tanpa banyak protes. Sebab hatinya masih terasa lelah untuk berdebat. Perdebatan dengan Zayn pagi tadi saja masih terus terngiang, apalagi jika ia teringat reaksi pria itu yang langsung berubah dingin kepadanya setelah menyetujui permintaannya itu.


"Papi tidak ke kantor?" Ara sengaja mengalihkan topik pembicaraan.


"Tidak, Ra," sahutnya singkat diikuti helaan nafas beratnya.


Sedangkan Viona yang duduk berdampingan dengannya langsung mengusap punggung suaminya itu, mencoba memberinya dukungan semangat atas apa yang sedang terjadi dengan kondisi bisnisnya saat ini.


Ara memandang kedua orangtuanya sangat heran. Dari pergerakannya tentu ia sudah bisa menduga kalau mereka sedang tidak baik-baik saja.


"Mami mau keluar ya?" Wanita itu sengaja mengalihkan topik yang lainnya karena melihat tampilan Viona yang sudah rapih sekali.


"Iya, mami ada janji sama teman mami siang nanti," jelasnya.


"Ooh..." Ara melirik jam hias di dinding ruang keluarga itu sekilas, rupanya waktu sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh.


"Inah...." Viona pun sengaja memanggil Inah yang saat itu kebetulan sedang berada di dapur.


"Iya, Nyoya."


Tak lama setelah itu Inah sudah berada di ruang keluarga itu juga.

__ADS_1


"Tolong bawa Ziyyan main di taman belakang ya?" Pintanya yang langsung diangguki kepala oleh Inah.


"Ayo mas Ziyyan, kita main di taman. Di sana juga ada Uti loh," ajaknya sambil meraih tangan bocah itu dan kemudian pergi bersama ke arah taman belakang rumah itu.


Setelah Ziyyan dibawa oleh Inah, suasana di ruangan itu kembali hening. Ara sudah bisa menebak kalau orangtuanya sudah begitu tentu akan ada suatu hal yang ingin dibicarakan kepadanya.


Terlihat Viona yang masih setia mengusap pelan punggung suaminya, entah apa yang sedang mereka pikirkan. Ara hanya bisa berdo'a semoga semuanya tetap baik-baik saja.


"Yang sabar, Mas, semua pasti ada jalan keluarnya." Viona berucap begitu tentu sebagai awal dari persekongkolannya dengan Haris.


"Apa yang terjadi Pi, Mi?" Wanita itu berhasil dikelabuhi oleh kedua orangtuanya yang sedang berakting sedih.


Viona menghela nafasnya sekejap, dan Haris memilih menyenderkan tubuhnya di punggung sofanya sambil memijit pelan kepalanya yang tentu itu hanya pura-pura saja.


"Bisnis kita terancam bangkrut, Ra. Semua gara-gara video ini!" Lalu Viona memperlihatkan video Zayn dan Sisil yang kala itu sempat viral.


"Hampir semua rekan bisnis papimu mutusin kerjasamanya. Bayangkan betapa stressnya papimu ini gara-gara video itu tersebar. Kalau tidak segera ditangani mami sama papi takut bisnis kita akan benar-benar hancur. Bagaimana dengan nasib kamu dan Ziyyan kelak seandainya kita sudah jatuh miskin. Disini mami sama papi paling tidak tega membayangkan nasib hidup Ziyyan nanti." Viona semakin mendramatisir keadaan disaat Ara masih terus mengamati video tersebut.


Sorot mata Ara nyaris tak berkedip saat mencermati video itu. Sebenarnya jauh dilubuk hati terdalamnya ia merasa sedikit tak tega dengan perlakuan Sisil kepada Zayn, ditempat umum pula. Apalagi disaat melihat pria itu tak melawan ataupun membantah cercaan Sisil terhadapnya. Dari hal itu sedikit membuat hatinya tersentuh dan merasa kasihan juga.


"Ara." Viona menyapanya.


Viona masih terlihat kebingungan untuk memulai maksud tujuan aktingnya itu. Ia melirik sekilas kepada Haris, berharap suaminya itu bisa membantunya tidak hanya diam saja.


"Ehem... Begini, Nak." Beralih Haris yang kini berucap.


"Papi berencana akan menikahkan kamu dengan Zayn secepatnya. Bila perlu dalam bulan ini pernikahan itu harus sudah digelar." Haris berkata begitu enteng tanpa mempedulikan bagaimana reaksi Ara saat mendengar ucapannya itu.


"Apa! Menikah dengan Zayn?" Tentu wanita itu langsung shock mendengar ucapan papinya itu.


"Bukankah memang dia yang seharusnya menikahimu, Ra? Dia ayah kandung Ziyyan. Dan sudah seharusnya dia juga yang harus bertanggung jawab sama kamu dan Ziyyan." Viona ikut menyela.


Dan Ara hanya bisa menggeleng tak percaya. Bisnis papi bermasalah, kenapa malah bahas pernikahan aku sama orang itu?


"Aku nggak bisa, Pi. Maaf!," tolaknya tegas.


Haris dan Viona saling berpandangan begitu mendengar penolakan anaknya itu. Mereka kembali berpikir keras agar anaknya itu mau tanpa harus menyakiti perasaannya.

__ADS_1


"Apa alasan kamu menolak menikah dengannya?" Tentu Haris ingin tahu alasan utama anaknya itu menolaknya.


"Kenapa malah bahas pernikahan sih? Bukannya papi sedih karena bisnis papi?"


"Ini juga ada kaitannya sama bisnis kita, Sayang." Viona ikut menjawabnya.


"Oke! Papi akan jelaskan semuanya dari awal sama kamu."


Setelah itu Haris pun menceritakan bagaimana awalnya ia mempekerjakan Zayn di perusahaannya hingga pada jabatan yang diemban Zayn saat ini, yaitu sebagai COO. Dari jabatannya itu tentu Haris sering menyerahkan segala wewenangnya kepada Zayn dan karena itu pula kasus tersebarnya video itu tentu berdampak buruk kepada Rahardian Group.


Wanita itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya atas penjelasan Haris. Jika itu benar adanya, lantas mengapa papinya itu begitu tega membuatnya menderita selama ini. Padahal saat itu, saat Ara terpuruk dengan masa kehamilannya itu ia sempat berharap akan adanya keajaiban yang bisa membawa Zayn pergi mencarinya.


Ternyata selama ini Haris lah dalang dari menghilangnya Zayn. Karena dendam papinya itu rupanya membuat Zayn kesulitan mencari celah untuk mencari keberadaannya. Mungkin saat itu Haris sangat puas telah sengaja memisahkan mereka, padahal seandainya saja Haris tidak begitu tentu keadaannya tidak akan sampai serumit ini.


"PAPI JAHAT! EGOIS!!" Sergahnya lalu kemudian pergi begitu saja meninggalkan kedua orangtuanya yang terus menatapnya heran.


Kalau sudah tidak ada cinta, tentu tak kan semarah ini kan? Tentu akan terkesan biasa-biasa saja meski sudah mendengar semua cerita itu dari Haris. Apakah sebenarnya Ara masih memiliki sisa rasa itu?


"Mas, bagaimana ini? Ara marah sama kamu deh kayaknya." Viona merasa cemas melihat kondisi putrinya itu.


"Sudah, biarkan saja! Paling dia masih kaget saja sama omonganku." Pria itu masih dalam mode santainya.


"iih, niatnya mau mecahin masalah malah makin rumit." Viona melipat tangannya di dadanya dengan raut yang sudah kesal.


"Sayang, katanya mau ketemu Keanu? Ini sudah siang loh."


"Ah iya.. Aku sampe lupa, Mas." Viona pun beranjak berdiri.


"Bicaralah baik-baik sama dia. Usahakan jangan sampai dia menyimpan dendam sama kita atau anak kita. Tapi sebenarnya ini bukan urusanku sih."


"Mas hariiiiss..."


Viona malah akan melempar tas kecilnya mendengar pesan yang bercampur ejekan padanya. Dan Haris malah terkekeh melihat istrinya yang sudah sangat sebal kepadanya.


Tak lama setelah itu Viona sudah pergi untuk menemui Keanu ditempat yang sudah ia tentukan tadi. Yah, maminya Ara itu telah bertekad akan mengurungkan niatnya yang semula ingin menjodohkannya dengan Ara.


*Bersambung..

__ADS_1


Hayo looooh... Kira-kira Keanu terima nggak sih sama ucapan Viona nanti? Mau apa nggak yaa? Bakalan dendam nggak sih? Duuh...😬


__ADS_2