
Hari ini benar-benar telah mengubah kehidupan seorang Aurora. Dirinya yang terbiasa hidup mewah dan selalu berada dalam rengkuhan kasih sayang dari kedua orang tuanya, semua telah berbalik keadaan disini.
Di sebuah kota kecil, di sebuah desa yang cukup jauh namun menampilkan panorama yang begitu asri nan sejuk, disinilah gadis itu akan menjalani kehidupannya yang baru.
Setelah menempuh perjalanan darat beberapa jam lamanya, ternyata sopir pribadi papinya itu membawanya pergi ke rumah kakaknya. Rudi menitipkan Ara kepada kakak kandungnya yang hanya hidup seorang diri.
Hal ini tentu disambut bahagia oleh Ibu Narsih, kakaknya Rudi. Dirinya yang telah lama hidup seorang diri setelah suaminya meninggal beberapa tahun yang lalu merasa sangat senang begitu mendengar Ara akan tinggal bersamanya sampai waktu yang cukup lama. Ibu Narsih yang tidak bisa memiliki anak itu sudah pasti akan merawat dan menjaga Ara seperti anak kandungnya sendiri.
"Neng Ara boleh panggil saya Ibu. Ibu senang sekali akhirnya do'a Ibu terkabul. Sudah lama Ibu pingin punya anak Neng, hari ini tuhan mengabulkan do'a Ibu." Wanita paruh baya itu merangkul Ara yang sedang duduk berjejer dengannya.
"Terimakasih Bu, sudah mau menerimaku disini." Ara mengelus tangan Ibu Narsih.
Ara menghela nafas beratnya. Ikhlas dan pasrah. Satu-satunya kunci yang harus ia pegang teguh dalam menjalani kehidupan barunya disini.
Beruntunglah Rudi masih berinisiatif membawanya untuk bersama dengan Ibu Narsih. Entah muncul ide dari mana lelaki setengah umur itu membawanya kesini. Dan tentu hal itu ia lakukan tanpa setahu majikannya.
"Neng Ara jangan sungkan-sungkan lagi sama Ibu. Kalau butuh apa-apa bilang saja sama Ibu. Mohon maaf Neng, rumah Ibu sangat kecil. Mungkin Neng Ara akan merasa tidak nyaman tinggal disini." Narsih mulai beranjak untuk merapihkan kamar tidur yang akan ditempati Ara.
Ara mengekor dibelakang Ibu Narsih sambil membawa tas dan koper yang cukup berat.
"Biar Ibu yang bawa, Neng." Narsih mengambil koper itu dari tangan Ara.
"Jangan, Bu, ini berat." Ara menolaknya secara lembut.
"Kamu tidak boleh terlalu capek. Takut cucu ibu yang didalam perut nanti rewel."
Ara membulatkan matanya begitu mendengar penuturan Ibu Narsih.
"Rudi sudah cerita banyak tadi sama Ibu." Narsih membawa koper itu masuk ke dalam kamar itu, meninggalkan Ara yang masih berdiri mematung memandangi pergerakan Ibu Narsih yang begitu antusias dengan kedatangannya.
__ADS_1
"Disinilah aku akan memulai kehidupanku yang baru. Dari sini pula aku akan melupakan semuanya. Selamat tinggal semua kenanganku. Selamat tinggal Zayn." Lirih hati Ara.
Ara mengusap perutnya yang masih rata. Linangan air matanya kembali menetes di pipinya. Merasa tak percaya ternyata masih ada orang baik yang mau menerimanya dengan statusnya yang hamil diluar nikah.
"Sudah, Nak, jangan menangis lagi. Kita rawat anak itu bersama-sama ya?" Narsih turut mengelus perut rata Ara. Terlihat jelas dari wajahnya, Narsih begitu mendambakan hadirnya seorang anak. Apalagi kini yang datang bukan hanya anak gadis, melainkan juga dengan adanya calon bayi yang berada di perut gadis itu. Yang akan Narsih anggap sebagai cucunya sendiri nanti.
Narsih merengkuh tubuh Ara yang sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang dalam keadaannya yang seperti ini. Wanita itu telah benar-benar akan menganggap Ara sebagai putrinya sendiri. Hingga sampai kedua orang tua Ara akan mengambilnya kembali nanti. Jika itu harus terjadi.
*
Selang infus masih merekat ditangan seorang pria muda yang sudah tiga hari ini tidak sadarkan diri. Beberapa bekas luka ditubuhnya masih terbungkus kain perban. Setelah menjalani operasi di kepalanya karena penggumpalan darah efek benturan keras akibat kecelakaan beruntun yang menimpanya beberapa hari yang lalu, baru hari inilah pria itu mulai menunjukkan tanda-tanda sadarkan diri.
Pria itu mengerjapkan matanya perlahan. Melihat ke sekelilingnya yang masih asing. "Ini rumah sakit." Gumamnya dalam hati.
Seorang Dokter dan juga perawatnya yang kebetulan sedang memeriksa kondisinya langsung tersenyum begitu mengetahui pria itu sudah sadarkan diri.
"Syukurlah sudah siuman." Dokter itu menyapa.
"Tiga hari."
Pria itu mengernyitkan kening tak percaya. Ternyata cukup lama juga ia tak sadarkan diri. Ia beranjak duduk namun langsung di cegah oleh Dokter itu.
"Dimana hape saya, Dok?" Pria itu kebingungan mencari ponselnya.
Dokter itu menoleh ke perawat yang selama ini bertugas merawat pria asing yang tanpa identitas tersebut. "Tidak ada, Dok. Kalaupun memang ada hape atau kartu identitas lainnya, pasti sudah ada keluarganya yang datang kesini."
Dokter dan perawat itu menatap iba kepada pria malang yang tiada satu orang pun datang menjenguknya selama pria itu berada di rumah sakit ini. Lantas Dokter itu menepuk pelan bahu pria itu, seraya tersenyum memberinya semangat dan juga merasa takjub karena pria itu masih bisa selamat dari kecelakaan beruntun yang menewaskan banyak orang pada saat itu.
Pria itu terlihat bingung. Terlihat jelas dari keningnya yang berkerut, pertanda pria itu sedang berkecamuk dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
"Kamu ingat kenapa kamu bisa berada disini?" Dokter itu menguji ingatan pria itu.
"Tentu." Pria itu menjawab yakin. Bagaimana mungkin ia akan lupa kejadian naas yang menimpanya itu.
"Kalau begitu, siapa namamu?"
"ZAYN."
Dokter itu kembali tersenyum. Ternyata tidak ada hal lain lagi yang perlu di khawatirkan.
"Apakah nanti bisa menghubungi keluarganya kesini?"
Zayn mengangguk perlahan. Cuma ia tidak tahu harus menghubunginya dari mana, sebab ponsel dan barang berharga miliknya seperti kartu identitas dan juga ATMnya sudah raib. Mungkin telah diambil orang yang tidak bertanggung jawab pada saat kejadian kecelakaan itu.
Zayn memegang kepalanya yang terasa sangat sakit karena terlalu keras dirinya berusaha mengingat nomor ponsel milik orang-orang terdekatnya. Semakin ia berusaha mengingat, yang ada kepalanya terasa semakin mau pecah.
Dokter menyadari keluhan yang dirasa Zayn. Lantas ia menyuruh Zayn untuk kembali beristirahat sambil kembali mengingatnya besok secara perlahan. Tak lama kemudian Dokter dan perawat itu keluar dari ruangan Zayn dirawat.
Zayn masih tak dapat memejamkan matanya. Dirinya yang sudah tiga hari ini tiada memberi kabar kepada keluarganya pasti mereka akan merasa khawatir dengan keadaannya. Pria itu masih berusaha mengingat deretan angka nomor telepon milik ayah, ibu, atau siapapun yang mungkin ia akan ingat.
"Aurora!" Zayn terhenyak ketika pikirannya kembali teringat akan kekasihnya itu.
"Bagaimana kabarnya sekarang?" Pria itu semakin gelisah. Ia mencoba turun dari tidurnya, namun ternyata kakinya terlalu sakit untuk ia gerakkan.
"Sial!" Zayn mengumpat marah pada dirinya sendiri. Ia memandang sebelah kakinya yang terbungkus perban hingga lututnya. Dirinya baru sadar bahwa terlalu banyak luka ditubuhnya akibat kecelakaan itu.
Ia menoleh ke sekeliling ruangan itu, namun tak ada satu benda pun yang bisa membantu menopang tubuhnya untuk berjalan. Padahal saat ini ia sangat ingin menghubungi kekasihnya itu.
Lantas kemudian ia hanya bisa kembali pasrah untuk berbaring lagi di ranjang pasien itu. Menunggu besok pagi tiba. Meski sebenarnya ia sangat berharap akan ada perawat yang datang kembali mengunjunginya, yang bisa membantunya membawanya ke depan untuk menghubungi kekasihnya itu.
__ADS_1
*
Yang kemarin nanya-nanya Zayn ada dimana, silahkan komen sepuas-puasnya😅