
Zayn berjalan gontai menuju kamarnya. Pikirannya sedang mengarah kemana-mana, tetapi ia masih berusaha untuk tetap tenang. Pria itu menatap lesu ketika mendapati istrinya tidak sedang di kamarnya, mungkin saja sedang berada dikamar Ziyyan, maka ia pun pergi menuju kamar Ziyyan.
Dibukanya handle pintu berwarna coklat itu pelan-pelan, rupanya Ara turut terlelap bersama Ziyyan, sambil memangku buku kumpulan dongeng di dadanya.
Perlahan Zayn melangkah mendekat ke arah kasur bergambarkan spiderman, tokoh superhero idola Ziyyan. Pria itu hanya memandangi dua orang insan yang selama ini menjadi prioritas kehidupannya, tanpa ingin mengganggu ketenangan tidur mereka.
Hembusan nafas berat itu sesekali keluar begitu saja dari rongga nafasnya. Sedikit ada rasa sesak yang bagai menyumbat aluran pernafasannya.
Brak!
Buku berukuran sedikit tebal itu tiba-tiba terlepas dari dekapan Ara dan teronggok begitu saja dilantai, membuat Zayn sedikit terlonjak kaget dan tentu saja saat itu Ara terbangun tak sengaja.
"Sayang," sapa Ara, beranjak duduk sambil mengerjapkan matanya yang tentu masih mengantuk berat.
Zayn hanya tersenyum tipis.
"Maaf, aku ketiduran disini."
"Nggak papa." kali ini Zayn turut duduk ditepian kasur itu.
Sejenak pria itu menatap lekat pada istrinya, tentu dengan pikiran yang sudah berkecamuk tak karuan.
"Ada apa, Mas, kok natapnya kayak gitu?"
"Mau tidur disini apa dikamar kita?" Meski sebenarnya ada sesuatu hal yang ingin ditanyakan kepada istrinya itu, namun ia mengurungkannya. Menatap wajah lelah Ara membuatnya tak tega mengajaknya mengobrol serius malam ini.
Ara melirik sekilas menatap Ziyyan yang sudah terlelap sangat pulas, lalu ia pun membetulkan selimut ditubuh Ziyyan.
"Tidur dikamar," sahutnya kemudian. Akan tetapi kali ini kedua tangannya membentang terulur kepada Zayn.
Zayn menatap tak paham akan perlakuan Ara yang sewaktu waktu berubah manja. Ia pun hanya bisa tersenyum menanggapinya, dari pada seperti kemarin yang direpotkan oleh tingkah Ara yang tiba tiba menghindarinya ketika sedang berkeringat.
"Gendong." Ara masih merengek sambil menarik-narik kaos Zayn.
__ADS_1
"Duh, manja banget istri aku."
Kemudian Zayn pun mengangkat tubuh Ara, menggendong layaknya bridalstyle, melangkah keluar menuju kamarnya berada.
Ara mengalungkan tangannya ke leher Zayn, menyandarkan kepalanya di dada, menghirup dalam-dalam aroma parfum khas yang dipakai oleh suaminya.
Entah mengapa meski Ara sudah bertingkah manja seperti itu, sama sekali malam ini Zayn tak tergoda untuk melayani istrinya. Pikirannya yang sedang kalut membuatnya sering tertegun seorang diri.
"Sayang," sapa Ara, sambil mengelus-elus manja di dada bidang Zayn.
"Hem," Zayn menyahut tak bergairah.
"Ada yang kamu pikirkan?" Sorot mata yang berbeda itu yang membuat Ara merasa was was sendiri.
"Ah, tidak." Zayn membaringkan tubuh Ara diranjangnya begitu pelan.
"Kamu tidurlah," ucapnya kemudian, setelah puas menatap lekat kepada istrinya itu.
Ara meraih tangan Zayn, begitu suaminya itu ingin beranjak dari tempatnya.
Zayn hanya menanggapinya dengan tersenyum kecil, sebelah tangannya terulur mengusap pucuk kepala istrinya, lalu kemudian meninggalkan jejak sayang di keningnya.
"Apa ini ada kaitannya dengan yang kalian bicarakan sama papi?" Ara tentu sangat penasaran atas apa dibalik aura dingin suaminya itu.
"Tidak ada. Tidurlah. Besok pagi aku harus meeting sama klien penting." Zayn membenahi selimut ditubuh Ara, akan tetapi istrinya itu seketika menarik lengan Zayn dan memberinya kecupan hangat dibibir suaminya.
Sesaat mereka pun saling bertukar saliva, mengulum nikmat pada indra perasa itu. Dan segera menghentikannya ketika sama sama membutuhkan asupan oksigen untuk bernafas.
"Good night, Sayangku." ucap Ara, sambil tersenyum merekah menatap pada Zayn.
"Good night, My wife." Zayn mengacak lembut pada kepala Ara, sama sekali tak tergoda meski telah dipancing dengan ciuman nakal dari istrinya.
Lalu kemudian Zayn mengitari ranjang berukuran besar itu dan segera menempati tempat berbaringnya. Ara segera memeluk tubuh Zayn, begitu pria itu sudah membentang disampingnya.
__ADS_1
Usapan lembut yang mendarat dipunggung Ara, membuat wanita itu lekas terlelap kembali. Berbalik dengan Zayn, pria itu kembali termenung dengan segala pikirannya yang semakin tak tenang.
Diraihnya benda pipih berwarna putih yang sedari tadi ia simpan disaku celananya. Menatap lekat pada benda yang menunjukkan hasil dua garis merah. Sepatutnya ia sangat senang mendapati kenyataan bahwa Ara sedang mengandung. Akan tetapi setelah mengingat bahwa benda tersebut ditemukan ditempat sampah oleh Inah, membuatnya kembali resah. Perasaan akan Ara yang tak menginginkan kehadiran janin itu tentu sedari tadi mengusik ketenangan jiwanya. Sebab jika Ara merasa senang atau pun menerimanya, tidak mungkin testpack ini dibuang begitu saja ke tempat sampah. Beruntung masih ditemukan oleh Inah, dan ART itu memberikannya kepada Zayn.
"Ada apa denganmu, Ra?" gumamnya, sambil perlahan melepas tangan Ara yang melingkar di pinggangnya, lalu kemudian beranjak turun dari ranjang menuju balkon, tempat ternyaman untuk merenung sambil menatap langit hitam berhiaskan bintang kemerlipan.
Udara dingin itu tak menjadi halangan Zayn untuk berdiam diri di sana. Sebelum ia menanyakan akan penemuannya itu kepada Ara, maka sudah pasti ia merasa tak tenang.
Diraihnya sebatang rokok dari bungkusnya yang memang tadi ia bawa dari dalam kamar. Membakar ujung rokok itu, lalu setelahnya menyesap nikmat tiap sesapan dari rokok itu. Begitulah Zayn, pria itu akan selalu begitu tiap kali sedang banyak hal yang dipikirkan.
Asap rokok yang terbang dibawa udara malam itu sampai pada indra penciuman Ara, sehingga membuat wanita itu terbangun karena sedikit merasa terusik akan aroma rokok itu, padahal jarak balkon kamar dengan tempat tidurnya lumayan jauh.
"Kenapa dia belum tidur? Pasti ada sesuatu yang dia pikirkan?" Ara bertanya sendiri dalam hati.
"Uwek...."
Seketika perutnya kembali bergejolak, tiba-tiba membenci bau asap rokok itu.
Ara segera mencari masker di laci nakas samping tempat tidurnya, mengolesnya dengan sedikit minyak aroma terapi sebelum akhirnya mengenakan masker itu. Dan kemudian kembali terlelap lagi setelah merasa tenang menghirup wangi lavender dari aroma terapi itu.
Zayn menyudahi kegiatan rokoknya setelah hampir menghabiskan tiga batang rokok yang ia sesap. Seandainya besok tidak ada meeting yang penting, mungkin ia masih betah untuk begadang seorang diri.
Langkah kakinya mengayun lesu menuju tempat pembaringan, dan seketika dibuat terkejut ketika mendapati Ara tidur mengenakan masker menutupi mulut dan hidungnya.
"Hah, sejak kapan dia?"
Zayn melangkah mendekat kepada Ara, ditatapnya wajah istrinya itu dengan penuh kasih.
"Jauh-jauh, Mas. Kamu bau rokok, aku nggak suka." ucap Ara, masih dengan matanya yang terpejam rapat, ketika pria itu akan mendaratkan ciuman di pipinya.
Zayn memundurkan tubuhnya, menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Tentu merasa gemas sendiri mendapati ngidam Ara yang terbilang unik. Kemarin tak suka bau keringat, lalu baik baik saja. Sekarang bau rokok Ara pun tak suka. Ah, andai Ara mau berterus terang kalau saat ini dirinya sedang mengandung?
Huft...
__ADS_1
*