Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 104


__ADS_3

"Mas, gimana nih?"


Viona mulai merasa bersalah kepada Keanu karena pernah memintanya untuk menjadi pasangan Ara, padahal sebaliknya kini ia sudah setuju Ara bersama kembali dengan Zayn.


Tatapan Haris seakan tak mau tahu meski ia dapat melihat wajah gusar dari istrinya.


"Iih, mas Haris! Bantu aku mikir dong?"


"Kamu urus saja sendiri. Bukannya aku nggak mau bantu, cuma dia itu kan calon pilihan dari kamu, jadi keputusannya ya ada di kamu." Haris kemudian sengaja pergi dari ruang tersebut, melangkah menuju kamarnya.


Viona hanya bisa menggaruk tengkuknya saat mendengar ucapan suaminya itu. Tak lama setelah itu ia pun akhirnya pergi menemui Keanu yang sedang menunggu di ruang tamunya.


"Selamat malam, Tante."


Pria itu sedikit membungkukkan badan sambil mencium telapak tangan Viona dengan sopan.


"Malam, Keanu." Viona tersenyum kikuk dengannya.


"Mm, Ara ada nggak, Tante?"


Tentu Keanu langsung menanyakan keberadaan wanita pujaannya itu karena yang keluar menemuinya adalah Viona, bukannya Ara.


"Ara tadi sore keluar, Ken. Tapi nggak tau juga kok sampai sekarang masih belum pulang." Viona berkata seadanya.


Keanu tersenyum ciut. Jauh di lubuk hatinya pria itu menahan rasa kecewanya sendiri. Karena sebenarnya ia tahu kemana wanita itu pergi.


Sore tadi pria itu tanpa sengaja melihat Ara sedang berjalan terburu-buru dari basement menuju sebuah apartemen yang Keanu masih tidak tahu tempat siapa yang Ara datangi. Kebetulan saat itu Keanu juga berada satu basement dengannya karena baru saja pulang menemui rekan bisnisnya di apartemen itu juga.


Sebenarnya Keanu sempat ingin menegur dan menyapa Ara, akan tetapi melihat pergerakan Ara yang terlihat gusar ia pun mulai curiga. Makanya pria itu tak jadi pulang dan memutuskan mengikuti Ara secara diam-diam.


Rasa penasarannya semakin berakar tatkala samar-samar ia melihat Ara sedang menyapa anak kecil yang membuka pintu apartemen itu. Sekilas bocah lelaki itu seumuran dengan anaknya Ara, cuma jika itu memang anaknya lantas apartemen siapa yang wanita itu kunjungi.


Tapi sayangnya saat itu ponsel Keanu berdering, ternyata salah seorang manager yang mengurus restoran miliknya yang menghubunginya. Membuat pria itu terpaksa pergi dan tentu tak jadi mengintai Ara lebih jauh lagi.


"Mm, apa Ara masih belum punya handphone, Tante?"


Viona terkesiap saat mendengar pertanyaan pria itu. Ia pun baru menyadari kalau ia juga masih belum menyimpan nomor telepon anaknya yang ia duga telah mengganti nomornya dengan yang baru.


"Aduh! Tante kok juga belum nanya itu ke Ara ya? Saking senengnya Ara pulang tante sampe lupa, Ken." Wanita itu terlihat salah tingkah sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Mendengar itu Keanu lagi-lagi tersenyum kecut. Pupus sudah harapan pria itu untuk mendapatkan nomor ponsel Ara yang baru. Atau bisa jadi Ara memang masih belum memiliki ponsel lagi. Hatinya pun lagi -lagi timbul rasa tak enak teringat kejadian sore tadi.


"Kalau begitu aku pamit saja, Tante."


"Oh, begitu ya?"


"Kenapa tante Viona tidak mencegahku sekedar untuk menunggu Ara sebentar saja? Sepertinya ada sesuatu yang memang disembunyikannya dariku?" Bathin Keanu semakin bertambah curiga.


Karena memang dari apa yang Keanu lihat, Viona begitu kentara seperti sedang menutup-nutupi sesuatu darinya.


"Tante, apa boleh besok aku datang lagi menemui Ara?"


"Aah? A-a.. iya boleh dong, Ken. Kenapa kamu masih bertanya sih?" Viona sedikit tergagap sambil tersenyum salah tingkah.


Keanu hanya bisa melempar senyum manisnya meski mendapati reaksi Viona yang langsung gugup saat mendengar pertanyaannya.


Tak menunggu lagi akhirnya pria itu memilih pergi juga. Hatinya telah bertekad akan kembali ke apartemen yang tadi, sekedar ingin memastikan siapa yang dikunjungi wanita itu hingga belum kembali sampai sekarang.

__ADS_1


Saat pria itu sudah berada di mobil yang dilajukannya, ia teringat kalau apartemen itu jaraknya tidak begitu jauh dengan apartemen milik rekan bisnisnya. Akhirnya pria itu pun memutuskan untuk menepikan mobilnya sejenak, sekedar ingin menghubungi rekannya lagi untuk menanyakan siapa pemilik apartemen yang dikunjungi Ara itu.


"Ada apa, Ken?" tanyanya ketika rekannya itu sudah berhasil ia hubungi.


"Kau tahu tidak siapa penghuni apartemen nomor 202?" Keanu tidak mau basa basi lagi.


"Kenapa kau menanyakan pemiliknya? Kau mau membelinya?"


"Membeli? Maksudnya?" Keanu bertambah tak paham.


"Iya, Ken. Apartemen itu aku dengar sama pemiliknya mau dijual, entah sudah laku apa tidak. Tapi sepertinya orangnya datang lagi. Itu artinya masih belum laku."


Rekan bisnis Keanu itu memang masih satu lantai dengan apartemen milik Zayn. Makanya ia juga tahu kalau apartemen itu akan dijual karena Zayn masih belum menghapus info penjualan itu dari laman sosial media jual beli rumah.


"Kalau begitu kau pasti tahu kan siapa nama pemiliknya?"


"Aku hanya tahu namanya, tapi tidak kenal juga. Namanya Zayn."


Dada Keanu seketika bergemuruh saat mendengar apa yang disampaikan rekannya itu. Deru nafasnya terdengar bergejolak keluar tak karuan. Sakit! Itu yang ia rasakan sekarang.


Sesaat pria itu membanting ponselnya ke kursi kosong disebelahnya. Tangannya mencengkram erat memegang kemudi, lalu kemudian akhirnya pria itu melajukan kembali mobilnya dengan perasaan yang masih berkecamuk. Entah akan menuju kemana ia setelah ini.


.


.


.


Menu ayam goreng serta bubur ayam sudah tersaji di meja makan. Ara kembali menuju kamar dimana anaknya juga berada di sana, sekedar ingin memberitahu kalau makanannya sudah siap.


Sedangkan Zayn sendiri juga terlihat memejamkan matanya, padahal yang sebenarnya hanya pura-pura tidur.


Melihat kondisi yang menurutnya menguntungkan, Ara pun berniat membawa Ziyyan secara diam-diam selagi Zayn sedang tidur.


Ara berjalan mendekat sepelan mungkin. Wanita itu tidak mau pergerakannya akan membuat Zayn terbangun. Perlahan Ara memindah tangan Zayn yang kebetulan sedang memeluk Ziyyan, akan tetapi...


"Mau apa?" Zayn langsung mencengkram tangan Ara.


"Kamu belum tidur?!" Wanita itu tentu sangat kaget, ternyata Zayn hanya pura-pura tidur. Sial!


Zayn hanya tersenyum kecil, lantas ia menyingkap selimutnya ingin turun dari pembaringannya.


"Mau kemana?" Ara bertanya heran.


"Makan," jawabnya enteng.


Wanita itu membiarkan saja saat Zayn melangkah pergi ke tempat ruang makannya. Terlihat pria itu berjalan masih sedikit sempoyongan, mungkin masih pusing.


Hingga sampai Zayn menghentikan langkahnya tepat saat ia berada di ambang pintu kamarnya sambil berpegangan menahan tubuhnya yang masih sakit, membuat wanita itu timbul rasa cemas. Takut-takut pria itu ambruk dan pasti dirinyalah yang akan dibuat kerepotan nanti.


Zayn menoleh kepada Ara, pandangan mereka saling membentur dalam sesaat.


"Aku pusing, Ra," ujarnya. Meminta pertolongan wanitanya untuk sekedar memapahnya lagi.


Ara tak banyak bicara, tapi ia juga berjalan menghampirinya. Sesaat setelah itu ia pun turut membantu memapahnya menuju meja makannya.


"Terimakasih, Ra," ucapnya ketika ia sudah duduk di kursi meja makannya.

__ADS_1


"Hmm.." Wanita itu hanya berdehem.


Ara masih berdiri disamping Zayn, melihat pria itu menyantap masakan yang ia buat.


Huweeek....


Baru sesuap saja berhasil masuk ke mulutnya, pria itu lagi-lagi merasakan mual.


"Kenapa? Nggak enak ya?"


Seketika Ara mendekat dan mengambil bubur yang berada didepan Zayn lalu ikut mencicipinya.


"Sudah enak kok?" Gumamnya sendiri.


"Buburnya enak, cuma perutku saja yang nggak beres." Sahut Zayn seadanya.


"Trus ini gimana? Kamu nggak jadi makan?"


"Ya harus tetap diusahakan makan biar cepat sembuh." Zayn meraih sendoknya lagi.


"Oh, silahkan!" Ara kembali beranjak bermaksud ingin mengambilkan obat Zayn yang tadi tertinggal di nakas samping tempat tidurnya.


"Ara." Zayn memanggil Ara. Wanita itu menoleh kepadanya.


"Jangan pulang. Ini sudah malam."


Ara melirik jam di layar ponselnya, waktu masih menunjukkan pukul sembilan malam.


"Maaf. Tapi aku tetap harus pulang sama Ziyyan." Wanita itu kembali melangkah masuk kamar.


Tak lama kemudian Ara kembali lagi sambil membawa bungkusan obat di tangannya. Ia meletakkan obat itu tepat didepan Zayn.


"Kenapa tidak di makan juga?" Tentu Ara merasa sedikit sebal karena ternyata bubur masakannya ternyata masih utuh.


"Sudah hilang selera!" Zayn hanya mengaduk-aduk bubur itu.


"Kamu mau menyiksa diri? Sudah tahu sakit begini."


Zayn melirik sekilas pada wanitanya yang lebih cerewet layaknya Emmak-emmak pada umumnya. Dari pada terkena omelannya lagi ia pun berusaha memakannya lagi, meski perutnya masih terasa tak enak.


Huweeek....


Belum juga bubur itu tertelan pria itu lagi-lagi merasa mual.


"Sudah jangan dipaksa." Ara menggeser mangkuk berisi bubur itu dari hadapan Zayn.


Lalu wanita itu beralih menuang air putih untuk ia berikan kepada Zayn.


"Nih, minum!" Tangannya terulur memberikan minuman kepada Zayn.


Zayn meraihnya dan meminumnya sedikit. Senyumnya mulai terukir lagi dari sudut bibirnya, mendapati wanitanya masih menyimpan sedikit perhatian terhadapnya. Karena jika tidak, tentu Ara tidak mungkin mempedulikannya seperti sekarang.


"Makasih, Ra." Tangan Zayn tiba-tiba melingkar sempurna di pinggul wanita yang berdiri tepat disebelahnya.


Pria itu membenamkan mukanya di perut wanitanya, yang ternyata tak ada penolakan lagi darinya.


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2