
"Dia siapa, Mas?" Viona langsung menanyainya begitu Zayn keluar dari ruangan itu.
"Dia calon suami Ara." Haris berkata to the point.
Viona tercengang mendengarnya. Tentu ia sangat kaget mendengar penuturan suaminya itu yang tanpa meminta kesepakatan dulu dengannya.
"Apa maksudmu, Mas? Kau mau menjodohkan laki-laki tadi itu dengan Ara?"
Haris mengangguk yakin. Yah, Haris sudah sangat yakin jika suatu saat nanti Zayn akan menyetujui permintaannya itu.
"Apa kau sudah menyelidiki bagaimana latar belakangnya? Keluarganya?" Viona makin penasaran dengan identitas calon menantu yang dipilih suaminya itu.
"Sudah." Haris menyahut singkat.
"Apa dia dari keluarga sepadan dengan kita juga, Mas?"
Viona adalah perempuan sosialita. Tentu ia sangat tak mau jika nanti calon menantunya itu dari kalangan biasa-biasa saja. Ia akan merasa gengsi besar jika nanti kabar itu didengar oleh teman-teman sosialitanya.
"Kau mau pilih yang bagaimana lagi? Putri kita keadaannya sudah begitu, apa ada laki-laki di luar sana yang mau menikahinya dengan masa lalunya itu?"
Viona terdiam saat mendengarnya, apa yang dikatakan suaminya itu memang ada benarnya juga. Cuma jika harus memilih, lebih baik Viona memilih Keanu. Bukankah selama ini pria itu juga mencintai Ara seperti yang diceritakan Sisil padanya. Mungkin pria itu juga mau menikahi Ara, seandainya saja Haris tidak terlanjur membuat keputusan sepihaknya itu.
"Awas saja kalau dia dari kalangan keluarga biasa saja. Aku gak setuju, Mas!" Akhirnya Viona mengeluarkan keputusannya.
Wanita itu berencana untuk menemui Keanu nanti, ia akan meminta bantuan Sisil untuk mengatur pertemuannya. Dari pada dirinya harus berbesan dengan orang dari kelas menengah ke bawah, lebih baik ia berbesan dengan keluarga Raditya. Meski ia tahu jika keluarga itu sering terlibat persaingan sengit antar perusahaannya, tapi itu masih mending dari pada harus menerima keputusan suaminya itu.
"Sayang," Haris meraih tangan Viona.
"Aku melakukan ini demi anak kita. Aku ingin anak kita segera berkumpul kembali bersama kita. Laki-laki tadi itu sudah bekerja di kantor kita beberapa tahun, jadi aku sudah tahu bagaimana ia selama ini. Makanya aku memilihnya."
"Tapi, Mas--"
"Sudah. Percaya saja dengan pilihanku itu. Apa kau tidak lelah selama ini membohongi teman-temanmu?"
__ADS_1
Viona dibuat tertunduk setelah mendengarnya. Memang selama ini Viona selalu memberi alasan jika Aurora sedang melangsungkan pendidikan di luar negeri, tiap kali teman-temannya menanyai keadaan putrinya yang sudah tak pernah bertemu dengan mereka.
"Baiklah. Mas sudah punya calonnya, aku juga punya calon pilihanku sendiri." Viona tetap dengan keputusannya, gengsi besar.
Haris hanya terdiam mendapati istrinya yang kali ini lebih keras kepala darinya. Hingga membuat dadanya kembali terasa sesak dan membuatnya sedikit kesulitan bernafas.
"Pak, anda kenapa?" Wisnu yang memang sedari tadi juga berada di ruangan itu merasa panik dengan kondisi Haris.
Pria itu berlari keluar ruangan untuk memanggil dokter. Sedangkan Viona sendiri sudah tak kalah panik lagi. Ia pun sempat menyesali diri karena harus terlibat perdebatan dengan suaminya, padahal sudah tahu kalau kondisinya saat ini sedang tidak stabil.
Sisil masuk ke ruangan itu, gadis itu juga ikut panik melihat kondisi pamannya yang sepertinya semakin parah. Hingga tak lama kemudian datanglah dokter dan juga perawatnya untuk memeriksa ulang kondisi Haris saat ini.
Viona dan juga Sisil terpaksa harus keluar dari ruangan itu karena dokter ingin memeriksanya secara intensif. Setelah menjalani beberapa pemeriksaan, akhirnya dokter itu keluar dengan wajah yang sendu.
"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" Viona langsung mencercanya begitu Dokter itu menghampirinya.
"Pasien harus menjalani perawatan di ruang ICU, dia mengalami gangguan sesak nafas yang akut. Jika tidak segera di pindah kami takut akan berpengaruh buruk ke jantungnya."
Viona hanya menangis tersedu mendengarnya. Ia pun sudah pasrah ketika beberapa suster dan perawat lainnya mulai memindah Haris ke ruang ICU. Terlihat saat Haris di pindah ke ruangan itu, suami dari Viona itu sudah tidak sadarkan diri lagi.
"Terimakasih, Sil. Andai ada Ara di sini." Viona tak jadi melanjutkan bicaranya. Karena ia teringat tentang rencananya itu untuk menemui Keanu.
"Sisil, Tante butuh bantuan kamu," ucapnya kemudian.
"Bantuan apa, Tante?" Sisil mendekatkan telinganya disaat Viona mengajaknya untuk berbisik saja. Setelah mendengarnya, Sisil hanya bisa mengangguk setuju.
Wisnu, pria itu hanya terdiam kaget saat mendengar perbincangan antara Haris dan istrinya tadi. Ia sangat tidak menyangka jika atasannya itu berencana menjodohkan Zayn dengan putri tunggalnya. Padahal setahunya Haris seperti tidak terlalu suka dengan Zayn, terbukti ketika ia selalu mempekerjakannya layaknya seorang budak. Wisnu tahu semua itu karena ia juga menjadi kaki tangan Haris untuk membuat Zayn tertekan, termasuk tentang kejadian wanita penggoda suruhannya kemarin.
Meski rasanya masih tak percaya, akan tetapi Wisnu tak bisa memprotes apa yang sudah menjadi keputusan atasannya itu. Ia yakin, jika Haris sudah memutuskan begitu tentu itu sudah menjadi pilihannya yang menurutnya terbaik.
*
Zayn sudah sampai di rumah Sisil, pria itu langsung duduk di ruang tamunya begitu ART yang bekerja di sana mempersilahkannya duduk.
__ADS_1
"Anu, Mas, Mbak Sisil nya lagi nggak ada di rumah." Tutur ART itu setelah datang mengecek keberadaan Sisil di kamarnya.
"Boleh saya menunggunya, Bi?"
Zayn sudah bertekad untuk menunggu Sisil. Ia tak mau menunda kesempatan ini lagi, sebelum besok ia harus segera kembali mengurus proyeknya itu. Karena ia sangat ingin segera menyelesaikan proyeknya secepat mungkin, agar setelahnya ia bisa segera mencari keberadaan Ara.
"Mmm, biar Bibi telpon Mbak Sisil dulu, Mas."
ART itu segera pergi ke ruang tengah untuk menghubungi Sisil, karena ia juga tidak tahu jam berapa Sisil akan kembali pulang. Ia tak mau membuat tamunya itu menunggu lama kedatangan Sisil.
"Anu, Mbak, disini ada tamu yang nungguin Mbak Sisil," tutur ART tersebut setelah panggilannya diterima oleh Sisil.
"Siapa, Bi?"
"Laki-laki, Mbak."
Kalau yang datang Tommy, tentu ARTnya itu akan bilang Tommy. "Suruh pulang saja, Bi. Lagian aku juga nggak bisa pulang malam ini. Aku mau nemenin Tante Viona, Om Haris di rawat di rumah sakit, Bi." Sisil langsung menyudahi panggilannya.
Sebenarnya ia penasaran dengan tamu laki-laki itu, karena ia memang jarang menerima tamu laki-laki lain selain Tommy. Hanya saja Sisil tak mau mempedulikannya, ia hanya ingin menemani tantenya malam ini yang sangat butuh dukungan semangat darinya.
Yah, setelah kejadian kissing di kantor Tommy beberapa tahun lalu itu, mereka menjadi semakin dekat. Di tambah lagi saat pria itu telah benar-benar putus dengan tunangannya. Meski sampai sekarang hubungan antara mereka masih belum ada peningkatannya. Yaitu Sisil masih belum menerima cinta Tommy, di karenakan ia sedikit kecewa dengan pria itu yang dulu mengaku telah putus dengan tunangannya, padahal saat itu masih terikat.
Meski Sisil masih menggantung hubungannya itu, namun Tommy tetap tak patah arang. Pria itu selalu mengencani Sisil ke rumahnya, sebagai tanda ia sangat serius dengan perasaannya. Yaitu memilih Sisil sebagai calon pendamping hidupnya.
.
"Mbak Sisil bilang dia nggak pulang malam ini, Mas. Katanya dia bantu jaga Omnya di rumah sakit," jelas ART itu setelah kembali menemui Zayn di ruang tamu.
Wajah Zayn langsung berubah pias saat mendengarnya. Kecewa sudah pasti. Mungkin ini sudah menjadi jalannya tidak bisa bertemu dengan Sisil sekarang, dan mungkin suatu hari nanti ia bisa kembali lagi. Setelah ia benar-benar menyelesaikan proyeknya itu terlebih dahulu.
"Kalau begitu saya titip kartu nama saya, Bi. Tolong berikan ke Sisil jika sudah pulang nanti."
Zayn memberikan kartu namanya kepada ART tersebut. Lalu kemudian ia pergi dari rumah Sisil dengan perasaan yang tak bisa di ungkapkan lagi.
__ADS_1
*