Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 132


__ADS_3

Ara sudah terlihat turun dari undakan tangga, hanya saja kali ini auranya berubah masam. Zayn yang lumayan lama menunggu istrinya itu selesai memoles bekas kepemilikan yang ia buat, merasa sedikit heran setelah mendapati wajah istrinya yang murung.


"Bunda..." Ziyyan menghampiri Ara yang rupanya memilih duduk sedikit menjauh dari Zayn.


"Hem?" Ara menyahut tak bergairah.


"Ayo kita pergi. Tadi ayah bilang kita mau makan diluar," cicit Ziyyan begitu sumringah.


Sekilas Ara melirik kepada Zayn, pria itu tetap tersenyum manis, berbalik dengan dirinya yang menatapnya jengah.


"Kenapa dia?" Bathin Zayn bertanya-tanya.


"Apa dia masih marah karena itu?" Pria itu tentu langsung menduga berubahnya Ara sekarang akibat serangannya tadi.


Padahal bukanlah tentang itu yang membuat wanita itu berubah dingin kepadanya. Beberapa menit yang lalu, disaat Ara masih sibuk merias dirinya, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya.


Dari awal ia sudah mencoba tidak ingin mempercayai ucapan Keanu, meski sebenarnya hatinya sedikit berubah dan masih menyimpan keraguan kepada Zayn. Akan tetapi setelah sebuah foto mesra hasil tangkapan layar CCTV dari apartemen Zayn yang Keanu kirim padanya, cukuplah menjadi bukti tentang adanya sesuatu antara Zayn dan Bella.


"Ayo Bunda...." Ziyyan menarik-narik tangan Ara.


"Bunda capek. Ziyyan pergi berdua saja sama ayah ya?" Kilahnya.


"Sudahlah, pergi saja. Kasihan suamimu, Ra. Dia pasti sudah lapar. Mami suruh makan disini, dianya pingin makan diluar bareng kamu sama Ziyyan katanya," seru Viona.


"Tidak jadi, Mi. Sepertinya Ara lagi kurang berkenan." Zayn turut bersuara.


"Sayang, perginya besok besok ya? Tunggu sampai ayah datang lagi."


Bocah itu mengangguk menurut, berbeda dengan Ara yang langsung menoleh curiga kepada Zayn.


Zayn yang memang masih belum mengatakan kepada Ara jika dirinya berniat mengantar Narsih pulang sekaligus memantau proyeknya disana, karena niat itu tiba tiba muncul baru saja, setelah mendengar Narsih berniat pulang hari ini.


"Sayang." Zayn menggeser tempatnya lebih dekat kepada Ara.


"Kamu kenapa?"


Ara masih tak menyahut. Ia hanya melirik kepada Viona yang turut duduk tak jauh darinya.


Merasa mendapat lirikan yang tak enak dari Ara, tentu Viona langsung beranjak dari sana. Tak lupa mengajak Ziyyan juga, membawanya bermain ke taman belakang rumahnya.


"Besok pagi aku pergi," ucap Zayn diikuti helaan nafas beratnya.


"Masih besok? Ku kira hari ini? Huft!" Bathin Ara merasa kesal.


"Aku titip Ziyyan ya?" Zayn beralih menggenggam tangan Ara. "Mungkin sekitar dua minggu aku pergi," lanjutnya.


"Dua minggu?" Ara sudah mulai bersuara.


"Hem..." Zayn mengangguk singkat, sedang genggaman tangannya terasa semakin erat.


"Aku masih punya tanggung jawab menyelesaikan proyek disana. Rencananya besok aku berangkat sekalian aku antar bu Narsih juga."

__ADS_1


"Ooh...." Wanita itu mencoba melepas diri dari genggaman tangan Zayn, dan berhasil.


"Tunggu! Bukannya ibu rencananya pulang sekarang?" Wanita itu bermonolog lagi, dengan wajah celingukan mencari keberadaan Narsih.


"Cari siapa?" Zayn ikut melongok, mengikuti arah pandang Ara.


"Cari Ibu." Ara ingin beranjak berdiri, akan tetapi langsung dicegah tangannya oleh Zayn.


"Mungkin ibu istirahat dikamarnya," ujarnya sambil menariknya untuk kembali duduk bersama.


Wanita itu menurut, akan tetapi wajahnya itu masih saja masam. Membuat Zayn bertambah penasaran dengan apa yang membuatnya begitu.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanyanya lagi.


"Tidak kenapa." Ara hanya menyahut singkat.


"Ceritakan saja padaku. Siapa tahu aku bisa membantu." Zayn mengusap pelan pipi lembut istrinya itu.


Ara sedikit melengos, selain merasa geli, ia masih diliputi rasa penasarannya karena pesan singkat dari Keanu itu, yang membuatnya merasa malas mendapat sentuhan apa apa dari Zayn.


Terdengar helaan nafas Zayn berhembus cukup lama. Sekali lagi pria itu harus menambah stok kesabarannya untuk menghadapi istrinya itu.


"Sebenarnya aku ingin mengajakmu besok, cuma--"


"Tidak perlu." Ara langsung menolaknya.


Pria itu menghela nafasnya lagi. Sejenak mereka hanya saling terdiam. Hingga datanglah Inah yang mendekat kepada mereka.


"Neng Ara, mas Zayn, bibi sudah siapkan makannya. Silahkan segera dimakan. Ini sudah hampir waktunya makan siang loh...," ucap Inah, lalu kemudian pergi setelah mendapatkan anggukan kepala dari Ara.


"Kamu kenapa?" Tanyanya mulai panik. Tentu ia teringat akan pesan ibu mertuanya kemarin, jika Zayn suka telat makan kalau sedang banyak yang dipikirkan.


"Ah, tidak kenapa-napa," sahut Zayn dengan wajah dibuat setenang mungkin.


"Mungkin hanya maag." Batin Zayn mencoba menenangkan diri.


"Benar tidak kenapa-napa?" Ara masih mencermati Zayn begitu intens.


Ia tahu jika suaminya itu memiliki riwayat penyakit asam lambung. Makanya ia bertanya lagi karena ingin memastikan saja, andai memang sedang kambuh mungkin lebih baik makan sesuatu yang lunak dan mudah dicerna dulu.


"Iya, sayang..." Pria itu mengulas senyumnya. Lalu kemudian menarik tangan Ara, menuntunnya menuju meja makan.


Ara dan Zayn sudah sama sama duduk berhadapan dimeja makan itu. Tanpa dikomando wanita itu segera mengambilkan nasi dan beberapa menu yang tersedia di meja itu untuk Zayn.


Segera Zayn menerimanya dengan wajah begitu senang. Seakan tak lagi penasaran dengan apa yang membuat Ara dingin kepadanya tadi. Mendapati Ara yang melayaninya, menemaninya makan bersama, sudah cukup membuat perasaan Zayn berbunga bunga. Apalagi kali ini ditambah kedatangan Ziyyan, yang ikut merecoki kegiatan sarapan pagi yang sudah beranjak siang itu.


"Semoga mereka selalu begitu ya, Mas," seru Viona, yang melihat kehangatan keluarga kecil anaknya dari kejauhan.


Haris tidak menyahut, hanya senyum merekahnya itu yang mewakili jawaban darinya.


"Bagaimana kesiapannya, Mas?"

__ADS_1


"Wisnu bilang sudah hampir 80%."


Viona kembali tersenyum mendengar begitu cekatannya asisten pribadi suaminya itu untuk mempersiapkan resepsi pernikahan Ara dan Zayn tiga minggu mendatang.


"Eh, tapi mereka masih belum fitting baju pengantinnya loh Mas? Apa sebaiknya Zayn jangan mengurus proyeknya itu dulu, biar mereka bisa mempersiapkan juga?"


"Biar saja Zayn mengurus proyeknya. Biar kalau anak kita kangen dia bisa nyusul Zayn kesana. Masalah baju pengantin serahkan saja sama Wisnu."


Haris berkata begitu karena sebenarnya ia masih belum puas sebelum melihat pasangan pengantin baru itu saling bucin.


"Apa berhasil Mas? Baru saja aku perhatikan tadi Ara masih cuek tuh sama Zayn. Malah aku lihatnya kayak mau perang dingin saja."


Haris melirik kepada Viona. "Mungkin dia masih marah karena semalam habis dimakan sama Zayn," selorohnya asal, yang membuat Viona ikut terkekeh saat mendengarnya.


Sedang kondisi dilain pihak, terlihat Tommy yang hanya tertunduk lemas saat mendengar pengakuan Sisil padanya.


Disaat pria itu datang menagih jawaban dari gadis pujaannya itu, yang ada malah ia mendapatkan kabar yang sangat mematahkan hati dan perasaannya.


Sisil baru tahu semalam jika kedua orangtuanya telah lama berencana menjodohkannya dengan anak dari rekan bisnis papanya. Bisa dibilang hal ini sudah bukan rencana lagi, melainkan sudah menjadi keputusan bulat dari kedua orangtuanya tentang perjodohan itu.


Meski sebenarnya Sisil juga menyimpan rasa yang lebih kepada Tommy, akan tetapi untuk mengecewakan hati kedua orangtuanya itu tentu tidak mungkin. Setelah apa yang menimpa Haris dan Viona yang pernah dikecewakan oleh anaknya, tentu Sisil tidak mau menjadi anak pembangkang yang akhirnya hanya akan mendapat ganjaran yang buruk akibat membantah kemauan kedua orangtuanya.


Mereka duduk berdua didalam mobil, ditepian jalanan sepi yang mereka putuskan untuk membicarakan hal itu saat ini.


Dilihatnya Tommy sudah mulai menitikkan air matanya. Pria itu sudah tidak malu lagi menangis tersedu didepan gadis pemilik hatinya selama ini.


"Maafin gue, Tom." Lirih Sisil, sambil memberanikan diri menyentuh lengan Tommy yang masih tertunduk bertumpu disetir mobilnya.


"Apa sedikitpun nggak ada rasa itu buat gue, Sil?" Tommy mengangkat wajahnya, menatap Sisil dengan penuh linangan air mata.


"Sebenarnya gue juga cinta sama lo." Aku Sisil, matanya pun juga turut mengembun.


"Ayo kita perjuangkan bersama, Sil." pinta Tommy, sambil meraih tangan Sisil kemudian menggenggamnya erat.


Sisil menggeleng. "Mengertilah, Tom. Ku mohon...," ujarnya. Dan kini buliran bening itu lolos mengalir dari matanya juga.


Tommy terdiam. Hanya tetap memandangi gadisnya yang menangis semakin tersedu. Pria itu dulu juga pernah berada diposisinya, harus menerima pertunangan dengan seseorang yang telah dijodohkan oleh keluarga. Bedanya kali ini gadisnya itu terkesan pasrah saja menerima perjodohannya itu, meski tadi ia mengakui jika ia juga memiliki perasaan yang sama kepadanya.


Berbalik dengan yang dilakukan Tommy dulu. Pria itu selalu mencari cara agar pertunangannya itu gagal demi bisa bersama dengan Sisil. Setelah keinginannya itu tercapai, dan setelah sekian tahun Tommy menunggunya, yang didapatkan malah tidak sesuai harapan.


Apakah ini karma dari-Mu Tuhan?


Tommy meraung dalam diam. Pria itu beralih membawa Sisil yang masih menangis tersedu, masuk dalam pelukan hangatnya.


Mereka sama sama menangis. Menangisi takdir yang tidak menjodohkannya, menangisi hati yang tentu sangat tak rela melepaskan orang tercinta kepada orang lain.


"Aku tetap akan menunggumu, Sil." ujar Tommy, yang seketika merubah gaya bicaranya kepada Sisil.


Mendengarnya, gadis itu semakin terisak. Merasa bersalah kepadanya karena telah lama menggantung perasaannya, padahal ia merasakan rasa yang sama sudah sedari dulu, hanya terlalu gengsi untuk menyatakannya.


"Ijinkan aku tetap menunggumu. Ku mohon jangan melarangku untuk tetap menunggumu."

__ADS_1


Sebuah kecupan hangat mendarat di pucuk kepala Sisil. Gadis yang masih berada didalam pelukan Tommy itu mendongakkan kepalanya, dan langsung disambut kecupan yang lebih brutal mendarat dibibirnya. Pria itu melummat rakus, menyesapnya berulang-ulang, hingga permainannya itu terus berlanjut sampai keduanya sama sama melepas diri karena merasa kehabisan oksigen.


*


__ADS_2