
"Apa!"
Ara semakin tercengang mendengar ucapan anaknya itu. Jengkel, sudah pasti. Ia melihat Ziyyan masih terus menangis, sedangkan Zayn dengan begitu telaten tetap berusaha untuk menenangkannya kembali.
Wanita itu akhirnya memilih keluar dari kamar itu, tak peduli lagi dengan tangis Ziyyan yang semakin menjadi karena melihatnya pergi.
Muncul rasa kesal sendiri saat Zayn melihat Ara yang tak mau mengalah sedikit dengan Ziyyan. Akhirnya pria itu pun memilih turun dari ranjangnya untuk mengejar Ara, meski sebenarnya kepalanya terasa sangat pusing sekedar dibuat berjalan.
Ternyata wanita itu tak pulang, ia terlihat tengah duduk di sofa yang berada di ruang tamu apartemen Zayn. Ara masih tetap memasang muka juteknya ketika Zayn turut duduk berhadapan dengannya, sedangkan kedua tangannya terlipat didepan dadanya.
"Ara," sapa Zayn.
Ara hanya mendengus nafas kesal, tanpa menyahut apa-apa kepada Zayn.
"Bisakah kamu diam sebentar saja di sini?"
Seketika pandangan matanya menyorot tajam kepada Zayn, seakan berkata 'buat apa?'
"Kasihan Ziyyan, Ra." Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar.
Sungguh ia tak dapat memaafkan diri sendiri tiap kali melihat Ziyyan menangis merengek meminta perhatian dari kedua orangtuanya. Jika bukan karena perbuatan di masa lalunya itu, tentu hal ini tidak akan pernah terjadi.
Pria itu selalu merasa bersalah tiap kali melihat Ziyyan yang sangat menginginkan kedua orangtuanya bisa bersama kembali, makanya ia pun bertekad akan melakukan hal apapun demi bisa mewujudkan keinginan anaknya itu.
Terdengar tangis Ziyyan yang sudah berangsur mereda dari dalam kamarnya. Karena merasa cemas Zayn beranjak lagi ingin melihat Ziyyan.
Ara masih kuat dengan pendiriannya yang harus berhasil membawa Ziyyan pulang malam ini juga. Wanita itu pun ikut beranjak, bersamaan dengan Zayn yang mulai melangkah.
Ara dapat melihat dengan jelas jika Zayn sedang tidak baik-baik saja. Langkahnya berangsur pelan dan semakin pelan, sedangkan tubuhnya sudah sempoyongan tak kuat menahan berdiri.
"Kak--"
Refleks Ara langsung sigap menahan tubuh Zayn yang hampir tersungkur ke lantai. Tentu tubuh mereka saling bersentuhan, dan dari situlah Ara baru menyadari jika suhu tubuh pria itu begitu panas karena demam.
"A-a-aku..."
Zayn ingin berkata 'aku baik-baik saja'. Hanya hal itu tak dapat keluar lagi dari mulutnya, merasakan kondisi tubuhnya yang benar-benar ringkih.
Wanita itu memilih diam tanpa berucap, sambil terus membantu memapah tubuh Zayn hingga sampai di ranjangnya lagi.
"Terimakasih, Ra." Pria itu meraih tangan Ara, setelah wanita itu selesai membantunya.
Ara hanya tersenyum getir, tentu ia terpaksa menyunggingkan senyumnya karena Ziyyan sedang memandangi mereka dengan sangat senang.
"Bunda...."
Ziyyan berdiri dari atas ranjang itu, lalu berhambur mendekat kepada Ara yang hanya berdiri di tepi ranjang.
"Bunda tidur disini kan?" Tanyanya masih dalam pelukannya kepada Ara.
Ara menghela nafas beratnya, lalu...
"Iya, Bunda gak jadi pulang," ucapnya sambil mengelus lembut punggung anaknya.
Seketika bocah itu mencium pipi Ara, merasa sangat senang mendengar bundanya akan bermalam bersama ayahnya. Beralih kemudian Ziyyan menatap ayahnya yang ternyata sedang tersenyum pula kepadanya.
Teeeeet Teeeeet....
__ADS_1
Terdengar bunyi bel, pertanda ada seseorang yang sedang berkunjung kesana.
"Biar aku saja yang buka."
Ara langsung menyela Zayn yang beranjak akan membukakan pintu. Wanita itu berbuat demikian semata karena tak ingin direpotkan lagi harus memapah tubuh Zayn.
Tak lama kemudian Ara kembali masuk ke kamar Zayn. Di tangannya sudah memegang bungkusan macam-macam obat yang dikirim oleh security yang disuruh Zayn.
Ia mengulurkannya kepada Zayn, dan pria itu langsung menerimanya.
"Kenapa? Obatnya salah?" Ara menanyainya karena melihat Zayn yang terus memandangi obat yang dipegangnya.
"Bukan," sahutnya singkat.
"Trus?" Kali ini Ara meraih obat yang dipegang Zayn, ia ikut mencermati obat tersebut.
"Gak ada yang aneh. Ini kan memang obat untuk asam lambung." Gumamnya sendiri.
"Aku belum makan. Obat itu harus di konsumsi sesudah makan." Zayn berkata sedikit kikuk.
"Iyyan mau makan ayam goreng, Bunda."
Bocah itu malah ikut menyela dengan girang, karena ia mengira bundanya akan memasak setelah mendengar pengakuan Zayn yang belum makan.
Kening Ara seketika berkerut. Tentu ia paham dengan maksud perkataan Ziyyan.
"Ziyyan lapar?" Tanyanya kemudian.
Bocah itu mengangguk. "Biar ayah pesankan makanan ya?" Zayn beralih meraih ponselnya bermaksud memesan makanan secara online.
"Haddeeuh... Dasar!! Ada-ada aja kemauannya nih bocah!" Ara mengumpat sebal dalam hatinya.
"Mm, kalau begitu ayah juga mau dong nyicipin ayam gorengnya? Ya nggak Ziyyan?"
Zayn pun tak ingin membuang kesempatan langka seperti ini, makanya ia memanfaatkan kondisi sekarang dengan berpura-pura merengek seperti Ziyyan.
"Hah?"
"Yeeiy.... Horreee... Makan ayam goreng... Nyam nyam nyam...."
Yang ada Ziyyan semakin kegirangan sambil memainkan ujung lidahnya membayangkan ayam goreng kesukaannya.
"Iiih, GAK BOLEH!"
Ucapan Ara itu membuat Zayn dan Ziyyan saling bertatapan heran.
"Kamu tuh nggak boleh makan ayam goreng. Sudah tahu asam lambungnya naik masih mau makan yang kasar."
Tentu Ara sengaja mengucapkan itu kepada Zayn, karena sebenarnya ia enggan menyediakan makanan untuk mantan kekasihnya itu.
"Kalau begitu buatkan aku bubur saja." Pria itu berujar dengan santainya.
"Iiih... Gak mau! Merepotkan saja!" Ara langsung menolak. Ia pun tersadar kalau keberadaannya kini sedang dimanfaatkan oleh Zayn.
"Bunda jangan marahin ayah.." Bocah itu lagi-lagi ikut menyela obrolan antara kedua orangtuanya.
"Tauk ah!" Seketika Ara pun keluar dari kamar itu dengan langkah yang sedikit di hentak-hentakkan.
__ADS_1
Zayn yang melihatnya hanya bisa tersenyum kecil melihat muka sebal Ara yang menurutnya terlihat menggemaskan.
"Makin hari tuh anak makin banyak maunya. Jangan-jangan mereka emang sengaja sekongkol? Iiih, dasar bapak sama anak sama-sama nyebelin!"
Ara mengoceh sendiri sambil tangannya begitu terampil menyiapkan olahan masakan di dapur milik Zayn. Mulutnya memang menolak mentah-mentah tadi, tapi entah mengapa tubuhnya tak mau berhenti menyiapkan menu masakan yang diminta oleh Zayn dan Ziyyan.
.
.
"Iya, dokter Rima. Ada apa malam-malam menghubungi saya?"
Haris yang sedang duduk santai berdua dengan Viona malam itu mendapat telepon dari dokter Rima.
"Tidak ada hal yang penting kok, Pak. Cuma mau bilang saja, kok saya nggak diberi kabar kalau Ara sudah menikah? Padahal saya sangat ingin melihat pesta pernikahan Aurora?"
"Maksud Dokter apa ya? Saya belum mantu, Dok. Mm, masih sekedar berencana saja. Mungkin tidak lama lagi." Haris berkata yang sebenarnya.
Viona yang merasa penasaran dengan obrolan antara mereka mulai mendekatkan telinganya ke arah ponsel Haris.
"Ooh, kalau begitu berarti saya yang salah paham."
"Salah paham?"
"Iya, Pak. Soalnya baru saja ini Ara menelpon saya untuk datang ke apartemen. Saya kira dia yang sakit, ternyata yang sakit malah seorang lelaki. Jadi saya beranggapan kalau Ara sudah menikah, karena disitu juga ada anak kecilnya. Itu pasti anaknya Ara kan?"
Dokter Rima memang sebagai dokter kepercayaan keluarga Rahardian semenjak Ara masih kecil dulu. Jadi sudah pasti ia tak pernah merasa sungkan untuk berbicara atau sekedar berbasa-basi dengan keluarga itu.
Haris dan Viona sama-sama saling menatap heran. "Laki-laki? Siapa namanya, Dok?"
"Zayn. Dia yang sedang sakit. Untung ada Ara yang merawatnya di sana."
Hah? Mulut Viona terbuka, tercengang mendengar apa yang dikatakan oleh dokter itu.
"Baiklah, Pak. Saya mohon maaf kalau sudah mengganggu istirahat anda." Dokter itu pun akhirnya menyudahi panggilannya.
"Kok bisa secepat itu sih, Mas?" Viona langsung bertanya ketika suaminya itu benar-benar telah mematikan ponselnya.
"Cepat apanya, Vi?" Haris masih tak paham.
"Ya mereka, Mas. Kenapa juga Ara secepat itu berbaikan dengan dia. Kenapa nggak coba diuji dulu, jangan langsung memaafkan. Biar tahu, dia itu masih benar-benar tulus apa nggak sama Ara."
"Itu kan kalau kamu, Vi." Haris pun terkekeh mendengar penjelasan dari istrinya itu.
"Iih, dasar!! Emang kalau bicara sama laki-laki suka nggak nyambung. Emang dasar nggak pernah paham sama isi hati perempuan."
Haris semakin terkekeh melihat istrinya yang merajuk bagai anak muda lagi.
"Permisi Tuan, Nyonya." Tiba-tiba saja Inah menghampiri mereka berdua.
"Di luar ada tamu, mau bertemu sama Neng Ara katanya, Nya."
"Siapa, Bi?"
"Mas Keanu, Nyonya."
Waduh🙄
__ADS_1