Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 25


__ADS_3

Tok... Tok... Tok...


Tommy terus menggedor pintu rumah Zayn, yang kurang lebih sudah sepuluh menitan ia di sana. Panggilan telepon darinya tak di jawab sama sekali oleh Zayn. Tommy sangat gusar memikirkan bagaimana keadaan Zayn saat ini.


Pria itu terlihat mondar-mandir tak ubahnya mirip setrika yang lagi bekerja. Otaknya sudah di penuhi dengan hal-hal negatif tentang Zayn. Mungkinkah sahabatnya itu akan berbuat nekat karena masalah patah hati saja? Rasanya tidak mungkin.


Tommy sangat tahu bagaimana Zayn sesungguhnya. Pria itu adalah sosok yang sangat tangguh dengan apapun yang menimpanya. Bahkan sahabatnya itu sudah cukup terlatih dengan keadaan hidupnya yang memang sederhana, tak seperti kebanyakan teman-temannya di kampus yang hidup berkemewahan.


Tommy mulai sedikit merasa tenang, ketika pikirannya kembali teringat tentang perjuangan Zayn hidup seorang diri di ibu kota ini. Yach, Zayn lelaki kuat. Tommy sangat yakin dengan itu. Jadi, tak akan semudah itu Zayn akan frustasi dan lantas berbuat nekat?


"Zayn! Zayn!"


Lagi-lagi Tommy menyeru nama Zayn yang tak kunjung ada jawaban.


"Gak ada, Mas, orangnya keluar." Seorang penjual bakso keliling menyapa Tommy.


"Kira-kira keluar kemana ya, Pak?"


"Gak tahu juga, Mas.Tadi mas Zayn keluar naik motor bawa ransel. Akang gak sempat nanya, kayaknya mas Zayn terburu-buru."


"Zayn minggat?" Tommy bertanya-tanya dalam hatinya.


"Mari ya mas Tommy." Lelaki paruh baya itu pamit pada Tommy yang masih bengong karena alibinya sendiri.


"Oh iya, Pak." Tommy menyahut telat.


Kemudian Tommy berlari ke arah mobilnya yang ia parkir di tepi jalan. Teringat sesuatu kalau Ia juga memiliki kunci cadangan rumah yang di tempati Zayn itu.


Ceklek.


Pintu itu mulai terbuka lebar. Tommy memasuki rumah itu yang sebenarnya masih sah milik neneknya. Zayn benar-benar sudah pergi, ketika Tommy melihat pintu lemari pakaian Zayn yang mungkin lupa tertutup.

__ADS_1


"Tumben-tumbenan hilang tanpa kabar? Tahu gitu gue gak akan nyuruh dia ngedeketin Ara, kalo tau Zayn akan begini jadinya."


Tommy terus berkecamuk dengan pikirannya. Apa yang terjadi saat ini bukan salah Ara atau pun Zayn. Ara memiliki hak untuk memilih siapapun yang akan menjadi kekasihnya, Zayn pun demikian.


Tommy hanya bisa merutuki dirinya sendiri yang pernah menyuruh bahkan sangat mendukung Zayn untuk mencoba menjalin hubungan dengan Ara. Kalau sudah begini jadinya,bsiapa yang salah?


"Jelas ini salah gue!" Tommy menggaruk kepalanya frustasi.


*


Tak seperti kebanyakan pasangan yang sedang kasmaran, yang biasanya tak mau berpisah dan pingin nempel terus, bucin atau apapun itu yang biasanya di rasakan oleh orang-orang yang baru pacaran, justru yang dirasakan Ara malah sebaliknya.


Gadis itu lebih banyak diam empat hari belakangan ini. Apa lagi saat ini dia sedang merasa hubungannya dengan Keanu sia-sia saja karena seseorang yang ingin ia pamerkan di depannya tidak pernah muncul lagi.


Kepergian Zayn yang tiada kabar ini membuat Ara semakin gelisah. Ia berkutat dengan pikirannya sendiri yang seakan menyalahkan semua ini adalah karenanya. Kali ini ia benar-benar sudah terjebak dengan permainan yang ia buat sendiri.


Sedangkan untuk menanyai kemana Zayn pada Tommy itu tidaklah mungkin ia lakukan. Mengingat Tommy selalu memasang muka tak suka tiap kali tak sengaja menjumpai dirinya sedang berdua dengan Keanu.


"My Queen."Keanu tiba-tiba saja sudah duduk disamping Ara.


"Eh......" Gadis itu terkesiap melihat kedatangan Keanu yang duduk sambil merangkul pundaknya, lantas ia segera memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil miliknya.


"Semoga saja Keanu gak lihat tadi, "batin Ara mulai merasa bimbang.


"Dari tadi gue perhatiin kok bengong aja, lagi mikirin apa emang?"Keanu menanyainya penuh perhatian.


Keanu tak menyangkal atas perubahan Ara akhir-akhir ini. Gadis itu lebih banyak diam dan juga sedikit bicara. Membuat dirinya harus lebih agresif lagi untuk menghidupkan kembali semangat Ara yang seakan telah pudar.


"Kita nonton yuk?" Keanu bergelayut manja di bahu Ara, pria itu sesekali mendengus membuat Ara merasa geli sekaligus risih mendapati perlakuan Keanu yang bucin padanya.


"Sorry, lagi gak mood nonton." Ara menolak ajakan Keanu dengan suara manja yang ia buat-buat.

__ADS_1


Lantas Keanu menangkup wajah Ara dengan kedua tangannya, terlihat ia begitu gemas melihat wajah Ara yang tak pernah membosankan menurutnya.


"Gemmeeess," ujarnya sambil terus-terusan mengunyel pipi lembut Ara.


"Apa sih, Ken." Ara melepas tangan Keanu dari wajahnya.


"Malu tau di lihatin banyak orang," ucapnya lagi.


"Biarin aja!" Keanu sangat cuek dengan keadaan sekitar yang sudah memandangi mereka dengan tatapan ikut baper, melihat mereka yang seakan benar-benar sedang di mabuk asmara.


"Tadi lo lihatin apa?"


Sebenarnya Keanu tahu tadi kalau Ara sedang melamun sambil memandangi foto seseorang, cuma tangkapan matanya tadi kalah cepat.


"Lihatin apaan?" Ara sengaja berbalik tanya, padahal ia sengaja mengulur waktu agar bisa menemukan alasan yang tepat.


"Tuh, lo terus lihat HP lo tadi." Pria itu menunjuk dengan memanyunkan mulutnya.


"Oh, gue tadi mau nelpon papi, tapi gak jadi." Ara memulai drama kebohongan lagi.


"Oh ya, papi lo masih belum ngijinin lo pacaran ya?" Keanu teringat tentang alasan Ara dulu semasa SMA tak mau pacaran karena orang tuanya belum memberinya lampu hijau.


"Belum." Ara menyahut sambil menggelengkan kepalanya.


"Hah, berarti kita bakalan backstreet nih..." Keanu menggaruk kepalanya gusar.


"Begitulah." Ara hanya menyahut singkat.


Meski di kemudian hari orang tua Ara memberinya ijin untuk pacaran, tapi Ara memang tidak berniat untuk memperkenalkan Keanu kepada kedua orangtuanya. Selain ia memang tidak memiliki perasaan apa-apa kepada Keanu, tentu ia juga tak ingin kedua orang tuanya tahu kalau ia memiliki hubungan spesial (Red:*Hubungan bo'ongan๐Ÿ™ƒ) dengan anak dari relasi bisnis papinya.


Menurut Reader's Aurora jahat gak sih?

__ADS_1


Silahkan Coment yaa....๐Ÿ˜


__ADS_2