Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 113


__ADS_3

"Hai..."


Tiba-tiba seorang pria menyapa Cinta yang sedari tadi berdiri menunggu kedatangan Zayn didepan pintu apartemennya.


Cinta memicingkan matanya sejenak pada pria tampan yang sedang tersenyum kepadanya. "Oh my god.... Ganteng banget!" pujinya dalam hati saja.


Senyum centil khas gadis delapan belas tahun itu pun turut mengembang, terpesona akan ketampanan pria yang tak dikenalnya itu.


"Lagi nunggu Zayn?" Tanyanya seakan pria itu sudah mengenal kakaknya, Zayn.


Dan Cinta pun hanya mengangguk tanpa membuang pandangan binarnya pada pria yang menatapnya dengan tatapan yang tiba-tiba berubah aneh.


"Tunggu! Dia kenapa menatapku seperti ini?" Gadis itu mencermati tubuhnya sendiri yang mana pria itu saat ini juga sedang memandangnya nakal.


Menyadari perubahan senyum pria itu membuat perasaan Cinta sedikit takut. Seketika ia teringat akan pesan salah satu sahabatnya di sekolah kalau cowok-cowok ibu kota lebih ganas dan sadis. Disini posisinya saat ini sedang sepi dan kebetulan hanya mereka berdua yang ada di sana. Membuat langkah Cinta sedikit bergerak mundur agar tidak mudah dijangkau pria yang menatapnya semakin tajam.


"Kenapa?" Pria itu malah ikut bergerak maju lebih mendekat ke arah Cinta yang sudah bersandar di dinding.


Cinta menggeleng panik. Tentu ia sangat takut melihat tatapan pria di depannya itu yang semakin nakal dan sepertinya pria itu sedang di bawah pengaruh alkohol.


"Jangan takut sayang. Aku tidak akan mengganggumu. Aku cuma mau--"


Cup.


Tiba-tiba pria itu menarik tengkuk Cinta dan membungkam mulut Cinta dengan bibirnya yang terus melu mat rakus. Pria itu terus menyesapnya lebih dalam meski gadis itu tidak menyambutnya.


Cinta tertegun sambil membulatkan matanya dengan sempurna. Gadis itu tetap mematung tanpa bisa melawan perbuatan pria yang telah mencuri ciuman pertamanya.


Menyadari pria yang mengambil ciuman pertamanya adalah pria tampan, gadis itu pun mulai tersenyum tipis tanpa ada sesal sedikitpun telah diperlakukan demikian oleh pria asing itu.


Perlahan ia pun mulai terbuai dengan ciuman pria itu. Tanpa disadarinya gadis itu pun memejamkan matanya dan mencoba menikmati tiap sesapan dari bibir pria tampan itu. Ia berusaha mengimbangi permainan pria itu meski masih sangat kaku. Mendapati gadis itu ikut menyambut ciumannya pria itu pun semakin memperdalam lagi sesapannya.


Hingga sampai saat pria itu menaikkan level mainannya lewat mulai meraba gunung kembar milik gadis itu, dan....


Dug.


"Aauuw!!!"


Pria itu meringis kesakitan saat Cinta sengaja menghantam kening pria itu dengan ponselnya yang kebetulan memang dipegangnya. Pria itu mengusap keningnya yang memerah sambil menatap heran pada gadis di depannya yang ternyata berani memperlakukannya seperti itu.


"Dasar mesum!" Umpatnya kesal.


Pria itu malah tersenyum nakal dan kembali ingin mengulang pergulatan bibirnya tadi. Akan tetapi Cinta segera menghindar yang ternyata pria itu semakin mencondongkan wajahnya semakin dekat.


"Emmm...." Seketika gadis itu membungkam mulutnya sendiri begitu menyadari ada aroma aneh yang keluar dari mulut pria itu.


"Apa jangan-jangan dia lagi..." Gumamnya.


"E...e...ek..." Pria itu tertarik mundur oleh karena seorang pria asing lagi yang datang sambil menarik krah baju pria mesum di depannya itu.

__ADS_1


"Dia lagi mabok. Sorry ya," ujar pria itu sambil menyeret lengan pria yang ternyata benar sedang terpengaruh minuman keras. Lalu terlihat pria itu membawa masuk ke dalam apartemen yang tak jauh dari apartemen Zayn.


"Hei!" Seseorang tiba-tiba menepuk bahunya dari belakang.


Gadis itu terperanjat dan seketika menoleh kepada asal suara itu.


"Abang!" Cinta langsung menghambur memeluk tubuh Zayn yang juga meyambut dengan pelukan hangatnya.


"Yuk masuk," ajaknya kemudian.


Begitu sudah masuk ke dalam apartemen itu seketika Cinta menghempas tubuhnya di sofa yang berada di ruang tamu Zayn. Helaan nafasnya terdengar sangat lelah, dan Zayn masih menyibukkan diri dengan membuatkan minuman segar untuk adiknya itu.


"Maaf kalo abang lama." Zayn turut duduk disebelah Cinta berbaring sambil meletakkan minuman buatannya di meja.


Gadis itu tak merespon apa-apa. Pandangannya seakan terbuai lagi dengan kejadian yang menimpanya beberapa menit yang lalu.


"Abang," sapanya sambil tetap menatap pada langit-langit ruangan itu.


"Hmm..." Zayn hanya berdeham.


"Cowok yang tinggal disebelah, Abang kenal?"


Zayn terlihat berpikir. Meski ia sudah cukup lama tinggal di apartemen ini, akan tetapi ia tak terlalu mengenal siapa-siapa yang menjadi tetangganya.


"Nggak kenal," sahutnya singkat.


"Beneran nggak kenal dan nggak tahu, Sayang." Zayn mencubit hidung bangir Cinta.


"Iiiih...." Cinta pun menangkis tangan Zayn dari hidungnya.


"Tadi juga Abang manggil-manggil aku sayang. Geli dengernya tau!" Gadis itu langsung protes dan Zayn hanya terkekeh saja.


"Mm, pasti lagi drama ya? Pasti tadi didekat Abang ada cewek yang Abang taksir trus Abang sengaja mau bikin dia cemburu. Gitu kan?"


"Pinter banget sih adeknya abang." Lagi-lagi tangan Zayn mencubit hidung Cinta.


"Tunggu deh, kamu kesini pamit nggak sama ayah ibu?" Zayn mulai mencerca kedatangan adiknya yang tiba-tiba datang tanpa memberitahu sebelumnya.


"Pamit dong, Bang."


Memang gadis itu sebenarnya sudah dari kemarin berada di Jakarta ikut temannya yang sedang berkunjung ke rumah neneknya yang sedang sakit. Saat ini temannya itu pun masih berada di rumah neneknya. Karena merasa jenuh hanya berada di rumah neneknya tanpa bisa berkeliling kota, ia pun berinisiatif mengunjungi Zayn dan sebelumnya sudah ijin terlebih dahulu kepada temannya itu dan juga kepada ayah ibunya.


"Besok kita balik." Ucapan Zayn membuat Cinta menatapnya heran.


"Iya! Besok pagi kita pulang bareng. Kebetulan abang juga mau kerja lagi. Proyek abang yang di sana masih terbengkalai."


"iiiih.... Abang!!" Seketika gadis itu cemberut sambil melipat kedua tangannya di dadanya.


Musnah sudah bayangannya akan dibawa keliling Jakarta oleh kakaknya. Hilang sudah angan-angannya untuk menyelidiki pria yang tinggal disebelah apartemen kakaknya itu.

__ADS_1


Zayn melirik kepada Cinta yang wajahnya sudah berlipat-lipat. Sebenarnya ia tak tega juga, akan tetapi berkat kedatangannya itu yang seketika membuatnya muncul niat ingin kembali mengurus proyeknya yang hanya diurus oleh Hanung.


"Sudah sana bersih-bersih. Abang mau pesankan makanan dulu," ujarnya sedikit berbohong.


Ia pun kemudian melangkah pergi menjauh dari Cinta karena sebenarnya ingin menghubungi seseorang yang begitu penting menurutnya.


"Hallo, Pak," sapanya sopan begitu panggilannya itu sudah terhubung kepada Haris.


"Iya, ada apa, Zayn?"


"Saya mau bekerja lagi besok."


"Baguslah." Pria diseberang sana langsung mengulaskan senyumnya begitu mendengar Zayn akan kembali bekerja.


"Proyek yang di Jawa itu akan saya urus lagi, dan saya tidak akan kembali sebelum proyek itu selesai," ujarnya mantap.


Haris terdiam. Antara senang dan juga heran tiba-tiba merasuki benaknya. "Kenapa kau tiba-tiba ingin menyelesaikan proyek itu? Kau tidak kenapa-napa kan?"


"Saya hanya merasa saya harus bertanggungjawab dengan pekerjaan saya, Pak." Tentu itu hanya sebagian dari alasannya saja. Padahal sebenarnya ia pergi kesana karena ingin menjauh dari Ara, sesuai dengan permintaannya.


"Baiklah kalau begitu." Suara Haris terdengar pasrah.


"Zayn."


"Iya, Pak."


"Selagi di sana sempatkan kau bicara dengan orangtuamu masalah Ara. Sesuai keinginanku, aku ingin kalian segera menikah bulan ini juga."


"Tapi, Pak? "


"Kenapa? Ara masih tak mau menerimamu? Atau kau pergi ini karena memang dia yang memintamu menghindarinya?"


Zayn hanya diam tanpa menyahuti tebakan Haris yang benar adanya.


"Masalah Ara biar aku yang urus. Aku ingin kau segera datang kesini bawa serta orangtuamu. Bagaimana, Zayn?"


"Baik, Pak!" Akhirnya pria itu menyahut pasrah.


Sekarang tinggal caranya bagaimana agar Ara bisa menerimanya kembali. Tanpa adanya paksaan ataupun tekanan dari siapapun. Ia tentu ingin wanitanya itu menerimanya kembali dengan setulus hatinya.


Sedang keadaan di apartemen sebelah Zayn...


"Kau berat sekali!" Reno menghempas tubuh Keanu ke sofa begitu saja.


Ia terus memandang heran kepada Keanu yang sudah terlelap begitu saja. Entah apa yang membuat temannya itu datang lagi dengan kondisi kacau seperti ini. Dan beruntung saja saat itu ia kebetulan akan keluar dan langsung memergoki perbuatan mesum pria yang sedang mabok itu.


Andai ia tidak datang tepat waktu, entah apa yang akan menimpa gadis itu selanjutnya. Mungkin kejadiannya akan lebih parah dari yang terjadi tadi, andai tidak dilerai olehnya.


*

__ADS_1


__ADS_2