
"Abang!"
Cinta berlari ke arah Zayn, gadis itu langsung berhambur memeluk tubuh kakaknya yang memang sudah cukup lama tidak pulang.
"Ibu, abang Zayn datang, Bu." Gadis itu masih berteriak memanggil Ibunya yang masih berada di dalam rumah.
Rahayu dan juga Malik, Ibu dan Ayah Zayn keluar dari dalam rumahnya. Senyum merekah langsung mengembang menyambut kedatangan anak sulungnya itu, meski sebelumnya Zayn tidak mengabarinya terlebih dahulu.
Zayn bergantian mencium takdzim kedua tangan orangtuanya itu, sambil di bubuhi kecupan hangat Zayn di pipi Rahayu.
"Badanmu panas, Nak." Rahayu baru menyadari setelah menyentuh wajah Zayn.
Cinta turut menjinjitkan kakinya, ikut-ikutan meraba kening Zayn. "Iya, Abang demam Bu," ucapnya kemudian.
"Kalau begitu istirahatlah dulu di kamarmu, Zayn." Malik mulai bersuara.
Kemudian mereka pun mulai masuk ke dalam rumahnya. Rahayu langsung menuju kamarnya, untuk mengambil beberapa obat yang kemungkinan bisa di konsumsi oleh Zayn yang memang kebetulan saat ini sedang demam. Sedangkan Cinta, gadis itu masih saja mengekori kakaknya hingga sampai Zayn merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya.
"Abang kalo sakit kenapa kesini?" Tanyanya sambil kembali menyentuh kening Zayn.
Zayn hanya menjawabnya dengan senyum hangatnya, karena yang ia rasa saat ini suhu tubuhnya sudah semakin demam.
Memang Zayn sengaja berangkat dari Jakarta menuju Yogyakarta menaiki mobilnya, dan juga pria itu sendiri yang mengendarainya tanpa adanya bantuan sopir pengganti. Seandainya saja saat ini kondisinya tidak begitu, mungkin ia akan langsung menuju ke tempat proyeknya, karena memang ia ingin segera menyelesaikan tanggungannya itu.
Jika sebelumnya ia masih kuat menempuh perjalanan darat sejauh itu seorang diri, entah mengapa saat ini ia merasa mudah ringkih lagi. Pikirannya pun mulai melayang jauh antara ingin lekas sampai di tempat proyeknya, akan tetapi kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan.
Ceklek.
Rahayu masuk ke kamar Zayn sambil membawakan obat dan segelas air putih untuk Zayn. Setelah anaknya itu meminumnya, ia duduk di tepi ranjang Zayn sambil memandangi wajah anaknya yang memang sangat ia rindukan kedatangannya untuk pulang.
"Ibu, aku cuma mau istirahat sebentar. Setelah ini aku harus segera kembali ke proyek."
"Tunggulah besok, Zayn, tubuhmu masih belum sehat begini." Rahayu begitu cemas melihat kondisi Zayn yang demikian.
"Abang kok gampang sakit-sakitan lagi sih?" Cinta yang juga masih berada di dekat Zayn tak bosan-bosannya menyentuh kening kakaknya itu.
"Hus, kamu itu! Abangmu ini lagi kecapean saja, Cinta. Lebih baik kamu keluar saja sana, dari pada bising di dekat abangmu."
Seketika gadis itu mengerucutkan mulutnya, merasa sebal karena di suruh keluar dari kamar Zayn oleh ibunya.
Mata Zayn seketika tersita oleh sebuah cincin permata yang di kenakan oleh Cinta pada jari manisnya itu.
"Dari siapa?" Tanyanya sambil meraih tangan Cinta dan memandangi begitu cermat cincin yang kira-kira harganya terbilang lumayan mahal.
__ADS_1
"Bagus nggak, Bang?" Cinta malah semakin memamerkan cincin yang di kenakannya itu kepada Zayn.
"Kamu masih memakainya, Ta? Ibu kan sudah bilang, simpan cincin itu baik-baik. Nanti kalau ada orang yang kehilangan cincin itu datang mencarinya, trus lihat cincinnya sudah rusak karena kamu pakai, gimana?"
"Gak mungkin ada yang datang cari kesini, Bu. Sudah empat tahun juga. Paling orangnya sudah pasrah kehilangan cincin ini, Bu." Rupanya Cinta sudah terlanjur sayang dengan cincin yang di kenakannya itu.
Dan Rahayu hanya bisa menggelengkan kepala tiap kali mendapati Cinta yang selalu membantah, setiap dirinya mengingatkan tentang cincin yang katanya Cinta menemukannya itu di sebuah taman kota saat ia dahulu berdarma wisata di Jakarta.
"Zayn itu lagi sakit. Kalian malah menemaninya ngobrol. Biarkan dia istirahat dulu." Malik tiba-tiba saja sudah berdiri di ambang pintu kamar Zayn.
Lantas mereka pun berangsur pergi dari kamar Zayn, agar pria itu bisa beristirahat dengan nyenyak.
Tak lama kemudian pria itu pun mulai terpejam, terbawa dalam tidur nyenyaknya yang terasa panjang.
. . .
"Ayah, Iyan sakit. Iyan nunggu ayah pulang. Kata ayah Iyan mau dibelikan mainan yang besar, kapan ayah kesini?"
Deg.
Zayn terbangun dari tidurnya. Alur nafasnya terasa tak karuan karena merasa kaget memimpikan anak itu yang selama ini menganggapnya sebagai ayahnya. Sedang peluhnya mulai bercucuran tak terasa mengalir di keningnya.
"Kenapa anak itu datang ke mimpiku?" Zayn mulai bertanya-tanya sendiri dalam hati.
Ah, bukankah kemarin ia memarahi asistennya itu? Jadi jangan berharap Hanung akan menghubunginya lagi masalah tentang Ziyyan. Meski sebenarnya perasaannya mulai sedikit resah karena mimpinya itu barusan.
Ia pun mulai melirik jam yang berada di nakasnya, ternyata sudah lebih satu jam lamanya ia terlelap. Merasa kondisi tubuhnya sudah mulai membaik ia segera turun dari ranjangnya, melangkah menuju ke kamar mandinya untuk membersihkan mukanya agar terlihat lebih segar.
Tak lama setelah itu ia pun keluar dari kamarnya, dan ia menemukan seluruh anggota keluarganya sedang mempersiapkan sarapan di ruang keluarga.
Dengan tarikan satu nafasnya yang berat, Zayn berjalan mendekati mereka. Sebab selain tujuannya datang kesini untuk beristirahat, ia juga ingin membicarakan sesuatu hal yang penting kepada kedua orangtuanya.
"Duduklah, Zayn," ajak Malik begitu mengetahui anaknya itu mendekati keberadaan mereka.
Zayn langsung memilih duduk di samping ayahnya, terlihat pria itu kebingungan harus di mulai dari mana ia akan mengatakan masalahnya itu.
"Yeiy! Semua menu sudah siap." Cinta datang sambil membawa sepiring makanan penutup yang kemudian ia letakkan di atas meja makannya.
Seluruh keluarga sudah duduk di tempatnya masing-masing. Mereka sudah siap menyantap menu makanan yang sengaja di masak spesial oleh Rahayu untuk menyambut kedatangan Zayn. Namun semua itu harus tertunda karena Zayn mulai membuka suara tentang yang menjadi uneg-unegnya akhir-akhir ini.
"Ayah, Ibu, ada yang mau aku bicarakan sama kalian."
Malik dan Rahayu sama-sama memandang serius kepada Zayn, terlihat dari mimik wajahnya sepertinya apa yang akan di sampaikannya itu sangat penting.
__ADS_1
Zayn masih berpikir sejenak. Antara harus bilang tentang rencana Haris, atau tentang masa lalunya dengan Ara.
"Mau bicara apa, Nak?" Rahayu mulai menanyainya.
"Bapak Haris ingin menjodohkanku dengan putrinya Yah, Bu."
"Waaah asyiiik! Abang mau nikah." Cinta langsung menyambut gembira apa yang di dengarnya itu.
"Cinta!" Malik menegurnya, sebab ia dapat melihat masih ada yang mengganjal yang ia rasakan dari mimik Zayn saat ini.
"Lalu bagaimana menurutmu, Zayn?" Malik mulai bertanya.
Zayn masih terdiam. Tentu yang ia rasakan ia sangat ingin menolak perjodohan itu, tapi tentunya ia juga tidak akan menceritakan resikonya itu kepada kedua orangtuanya.
"Kalau kamu berkenan, kamu bilang sama Pak Haris, tapi kalau kamu masih merasa belum siap menikah, kamu terus teranglah sama beliau. Kami sebagai orangtuamu pasrah sama kamu, Nak." Rahayu mengatakannya sambil mengusap pelan punggung tangan Zayn.
"Kalau menurutku lebih baik kamu setuju saja." Malik bersuara tegas saat mengatakannya.
Seketika Zayn menatap ke arah ayahnya itu, sesekali ia juga menoleh ke arah ibunya. Bagaimana ini? Pria itu terlihat gusar sendiri.
"Kita sudah banyak berhutang budi kepada Pak Haris. Rasanya kita terlalu tak tahu balas budi jika kita menolak keinginannya."
Malik terus mengingat semua kebaikan yang pernah di lakukan Haris kepadanya saat ia sakit dahulu. Yang karena itulah ia merasa bahwa saat inilah waktu yang tepat untuk membalas kebaikannya dengan menyetujui perjodohan darinya.
"Tapi aku tidak mau, Yah." Akhirnya Zayn berani mengeluarkan pendapatnya.
Malik menatap serius kepada Zayn. "Apa alasanmu menolaknya?"
"Abang sudah punya pacar?" Cinta ikut-ikutan bertanya.
Zayn menggeleng cepat. "Aku--"
Pria itu semakin takut untuk mengatakan hal ini. Tapi jika tidak segera ia katakan sekarang, maka selamanya ia akan menjadi lelaki pengecut yang tak berani berterus terang tentang masa lalunya yang pernah ia perbuat terhadap Ara.
"Sebenarnya aku sudah memiliki anak."
Deg.
*
*
Yang nanya-nanya tentang kenapa kok scene Ara lama nggak di munculin? Jawabannya, di tunggu saja yaa..☺
__ADS_1
Biarkan Zayn menyelesaikan dulu masalahnya, setelah itu baru deh scene Ara dan Zayn akan banyak kalian temukan di part-part berikutnya. So, bersabarlah☺