
Cup.
Tubuh Ara seakan meremang. Pikirannya telah di bawa terbang oleh perbuatan Zayn terhadapnya. Pria yang di gilainya, yang memang telah lama diharapkan agar menjadi miliknya, tanpa aba-aba tiba-tiba mencium lembut bibir Ara, walau terkesan hanya saling menyentuh.
Mulut Ara masih menganga tak percaya. Matanya pun terus menatap lekat pada Zayn yang masih memasang senyum tanpa bersalah. Sumpah! Ia ingin marah dan memukul dada bidang pria yang telah mencuri ciuman pertamanya itu, tapi mulutnya terasa tiba-tiba kelu untuk berucap. Ototnya pun terasa lemah untuk sekedar mendorong tubuh Zayn yang semakin dekat dengan tubuhnya.
Perlahan Ara mulai menundukkan kepalanya malu, meski tengkuknya terasa sangat kaku.Ia tak mau lebih larut lagi jika harus berlama-lama saling bertatapan dengan Zayn. Diam-diam Ara menyembunyikan senyumnya, mengingat dirinya tadi tak menolak ketika Zayn menciumnya tiba-tiba.
Tangan lembut Zayn meraih dagu Ara agar tidak lagi menyembunyikan wajahnya yang merona merah. Pria itu sedikit menyunggingkan senyumnya membuat Ara merasa takut untuk mengartikan senyuman itu.
Denyut jantung Ara semakin berpacu cepat saat Zayn mendekatkan wajahnya lagi padanya.
"Oh my God! Apa kak Zayn mau menciumku lagi?" Ara lagi-lagi terkesiap sampai tak terasa ia memejamkan matanya.
"Aku mau jadi pacar kamu," bisik Zayn tepat di telinga Ara, yang membuat gadis itu kembali meremang terkena hembusan suara lembut Zayn.
"Ini aku gak salah dengar kan?" Ara mulai bertanya-tanya dalam hati.
Gadis itu hanya mematung memandangi Zayn yang menunggu jawaban darinya. Ia mencoba mencari celah lewat sorot mata itu. Adakah keseriusan di dalamnya, ataukah hanya sekedar perasaan iba saja karena telah mendengar pengakuannya tadi pada Sisil?
"Aku tadi gak jelas dengernya, bisa kak Zayn ulang?" Pintanya, padahal ia hanya ingin mendengar kalimat ajaib itu lagi.
"Aku mau jadi pacar kamu, Queen Aurora Rahardian." Zayn mengulanginya lagi dengan sangat lembut.
Tiba-tiba Ara mendorong tubuh Zayn dan berpaling membelakanginya. Padahal sebenarnya Ara sudah tak bisa lagi untuk menyembunyikan senyum kebahagiaan yang ia rasakan saat ini.
"Hey, kenapa?" Zayn meraih pundak Ara, lalu membalikkan tubuhnya agar bisa saling berhadapan lagi.
Ara membuang nafasnya pelan, lalu...
"Aku gak mau!" ucapnya tegas.
Ara menepis pelan tangan Zayn yang masih memegang pundaknya. Ia bisa menangkap ada sedikit sorot mata yang telah berbeda dari Zayn.
"Aku tahu, tadi kak Zayn pasti udah denger omongan aku kan?"
Zayn hanya terdiam sambil mengerutkan keningnya.
"Aku gak mau kak Zayn mau jadi pacar aku karena hanya merasa kasihan sama aku. Kak Zayn pasti juga denger tadi kalo aku mau pacaran sama Keanu semata-mata ingin mendapat perhatian kakak. Kak Zayn pasti bercanda kan? Ini hanya ingin menghiburku kan?"
Mendapati pernyataan Ara yang seperti itu, Zayn hanya tersenyum. Ia tahu, mungkin Ara kaget atau curiga dengan pernyataannya yang tiba-tiba.
__ADS_1
Memang seharusnya perempuan itu akan lebih mengerti jika si lelaki menyatakan cintanya secara halus dan puitis ( *sedikit aja, karena kalo kebanyakan jatuhnya lebayπ), tidak to the point seperti yang di lakukan Zayn.
Apalagi ini kesannya seakan-akan Ara lah yang menyatakan cintanya terlebih dahulu.
'Aku mau jadi pacar kamu'
atau.....
'Ara, kamu mau gak jadi pacar aku?'
Sama-sama pernyataan cinta, namun beda persepsi kan?
Fix! Zayn harus meralat pernyataannya tadi. Pantas saja Ara bicara panjang lebar terhadapnya tadi, ternyata dari perkataannya lah yang membuat Ara salah paham.
"Aurora, dengar aku baik-baik karena aku gak akan mengulangnya lagi."
Ara menurut, lantas ia pun memandang Zayn yang sudah berwajah serius menatapnya.
"Setelah malam terakhir ospek itu, kamu sudah mencuri perhatianku. Setelah malam itu, kamu selalu datang dalam pikiranku. Bahkan setelah kamu mau jadian sama Keanu didepan mata kepalaku, kamu sudah berhasil membuatku cemburu mati saat itu juga."
"Kamu pasti gak nyangka kan apa yang dilakukan Tommy sama kamu itu, semata-mata karena Tommy ingin aku memperhatikan kamu terus." Zayn sedikit menyunggingkan senyumnya ketika mengingat semua ulah sahabatnya itu yang kekeh mendukungnya dengan Ara.
Gimana, Zayn gak lebay kan Reader's?
Oke lanjut......π
Puas Ara mendengarnya. Hingga tak terasa ia menganggukkan kepalanya malu-malu pada Zayn yang menatapnya penuh senyum.
Zayn merengkuh tubuh Ara, membawanya masuk dalam pelukan bahagianya. Pria itu sedikit membubuhi kecupan hangat di kening Ara yang mulai detik ini telah menjadi kekasihnya.
Cinta memang tak pernah pandang kasta atau pun usia. Dirinya yang terlahir dari keluarga sederhana telah jatuh hati pada gadis kaya yang juga membalas cintanya. Juga tak bisa menolak ketika hatinya tertarik oleh gadis berusia 19 tahun yang sedikit manja, berbeda jauh jika dibanding dengan dirinya yang sudah berusia 24 tahun, mahasiswa pascasarjana yang sebulan lagi sudah wisuda.
Tiba-tiba Ara melepas pelukannya dan lagi-lagi mendorong tubuh Zayn.
"Kak Zayn curang!" ucapnya dengan wajah manyun yang di sengaja.
"Curang apa?"
"Tadi kenapa kak Zayn tiba-tiba cium aku?" tanyanya penasaran.
"Karena aku gak tahan lihat muka kamu cemberut kayak tadi." Zayn menyahut santai.
__ADS_1
"Tapi kenapa harus bibir?" Ara menyentuh bibirnya.
"Itu kan ciuman pertama aku," ucapnya pelan namun masih bisa didengar oleh Zayn.
Dalam hati Zayn tersenyum puas karena ia sudah berhasil mencuri ciuman pertama kekasihnya itu.
"Aku gak mungkin lah cium pipi kamu. Ini tadi kan bekas mantan pacar kamu." Zayn berucap sambil mengusap pelan pipi kanan Ara.
Ara membelalakkan matanya. Ternyata dugaannya benar kalau tadi Zayn juga melihat saat Keanu mencium pipinya. Pantas saja Zayn berani menyatakan cintanya, karena tentu tadi ia juga mendengar ketika Ara memutuskan hubungan dengan Keanu.
Sedang dari sudut tempat yang tidak mereka sadari, ada sorot mata yang memandangnya turut bahagia. Sisil yang sedari tadi menyaksikan mereka berdua turut mengulas senyum ketika mendapati Ara sudah bahagia dengan pujaan hatinya, Zayn.
"Kapan ya kita seperti mereka?"
Tiba-tiba Tommy datang dan langsung merangkul bahu Sisil.
"Apaan sih!" Sisil langsung menepis tangan Tommy dari bahunya.
"Lo nggak tertarik apa? Gak pingin nyoba bahagia kayak mereka juga gitu?"
"Tapi nyobanya gak sama lo!" Sisil memandang jengah pada Tommy yang lebih mirip sebagai penguntitnya saat ini.
Tommy tak mempedulikan tolakan dari Sisil. Matanya terus saja memandang pemandangan bahagia yang di lontarkan oleh pasangan baru, yaitu Ara dan Zayn.
Dalam hati ia sangatlah senang melihat sahabatnya itu sudah menemukan cintanya dan mendapatkannya.
"Gimana sidang lo?" Sisil menanyai Tommy yang memangku skripsinya.
"Gue lulus dong." Tommy menjawabnya dengan wajah berbinar.
"Ehm, gue kira mau jadi mahasiswa abadi." Sisil sedikit mencebikkan mulutnya pada Tommy.
"Janganlah! Kalo gue gak lulus-lulus trus kapan kerjanya? Trus kapan gue bisa ngadep orang tua lo kalo gue gak punya kerja?"
Tommy sangat bersemangat menjelaskannya pada Sisil yang sudah siap beranjak pergi meninggalkannya.
"KUMAT!!!"
*
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN JANGAN PERNAH TINGGALKAN "LOVE OF AURORA"π
__ADS_1