
*Tommy flashback on
Satu hari setelah terusirnya Ara dari rumah.
"Permisi, Pak, diluar ada yang mencari Bapak." Seorang perempuan muda yang menjadi sekretaris Tommy di perusahaannya itu menyapa Tommy yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Tommy menoleh sejenak pada sekretarisnya itu, lalu matanya kembali fokus memandangi beberapa berkas yang ada di mejanya.
"Bilang saja kalau saya lagi sibuk," ucapnya tanpa menoleh ke sekretarisnya itu.
"Baik, Pak."
Belum sempat sang sekretaris keluar dari ruang kerja Tommy, tiba-tiba.....
Brakk!!!
Seseorang membuka pintu itu dengan kasar. Tommy langsung menyeringai ketika mengetahui siapa yang berkunjung ke ruangannya itu.
Sisil memandang geram pada Tommy. Gadis itu masih terpaku ditempatnya berdiri. Melalui isyarat matanya sekretaris itu keluar dari ruang kerja anak pemilik perusahaan itu.
Tommy melangkah mendekati Sisil, ia memasang senyum termanisnya kepada gadis yang masih bertahta menempati ruang hatinya itu.
Sisil memicingkan matanya, merasa jengah dengan tingkah Tommy yang seakan tak mengerti dengan ekspresinya yang sangat marah.
Plakk!!
Sebuah tamparan keras tiba-tiba mendarat di pipi Tommy. Pria itu sangat kaget, namun tetap ia tak bisa marah kepada Sisil.
"Ada apa?" Tanyanya berusaha sabar. Ingin rasanya ia mengelus pipinya sendiri yang terasa panas efek tamparan dari gadis yang dikenal lembut itu, cuma ia masih gengsi. Takut terlihat lemah didepan gadis pemilik hatinya itu.
"Kemana teman brengsek lo itu? Lo bilang sama dia ya, jangan kabur setelah merusak Ara!" Suara Sisil langsung meninggi.
Tommy mengernyitkan keningnya, "Maksud lo-- Zayn?"
"Siapa lagi?!!" Kesabaran Sisil sepertinya sudah diatas puncaknya.
Tommy meraih pundak Sisil, menuntunnya untuk masuk karena sedari tadi gadis itu hanya berdiri di ambang pintu ruangan kerjanya. Sisil hanya menurut ketika Tommy merubuhkan tubuhnya untuk duduk di sofa, dan beralih Tommy beranjak untuk menutup pintunya.
Gadis itu sepertinya sangat marah, terlihat jelas dari sorot matanya yang nanar. Tommy turut duduk tepat disebelahnya, ia hanya memandanginya tanpa berani menanyai kenapa tadi ia ditampar. Padahal dilihat dari perkataannya tadi, sudah nyata kalau gadis itu sedang marah kepada Zayn. Bukan pada dirinya.
Sisil masih tertunduk, namun Tommy dapat melihat gadis itu sedang menangis. Perlahan ia memberanikan diri membawa tubuh Sisil dalam pelukannya. Mendapati itu, yang ada tangis gadis itu semakin pecah.
Tommy membelai kepala Sisil yang bersandar di dada bidangnya itu. Gadis itu sedang sedih bercampur marah. Hanya saja mungkin tadi ia terlepas kontrol saja, hingga melayangkan tamparannya kepada Tommy yang tidak tahu apa-apa.
"Maaf, Tom." Sisil mendorong dada Tommy. Ia langsung mengusap air matanya begitu sadar telah mendapat tatapan aneh dari Tommy.
"Sudah puas?" Pertanyaan Tommy terdengar penuh penekanan.
"Maaf, tadi aku khilaf." Sisil mengapitkan kedua tangannya kepada Tommy. Dan Tommy hanya menanggapinya dengan senyum getirnya.
"Sakit loh, Sil. Perih!" Tommy berucap sambil meraih tangan Sisil, meletakkannya di pipi bekas tamparannya tadi.
"Iya, maaf." Gadis itu berucap lirih.
"Tanggung jawab!" Tommy pura-pura merajuk. Ia sangat gemas saja melihat wajah Sisil yang merasa bersalah terhadapnya.
Sisil menarik tangannya dari genggaman pria itu. Tujuan awalnya sebenarnya ingin menanyai keberadaan Zayn yang menghilang tanpa kabar, malah sekarang dirinya yang terkena gombalan Tommy.
__ADS_1
"Zayn kemana?"
"Apa tadi maksud lo bilang Zayn merusak Ara?" Tommy balik bertanya.
Sisil menghela nafas beratnya. "Ara hamil."
Bola mata Tommy membulat. Ini tidak salah dengar kan?
"Kemarin Ara diusir oleh papinya. Makanya gue kesini mau tanya dimana Zayn bersembunyi. Dari kemarin gue telpon Zayn dan Ara tapi sama-sama gak aktif." Wajah Sisil kembali sendu.
Tommy masih terdiam dengan wajah bingungnya. Kabar itu membuatnya masih tak percaya dengan kebenarannya. Setahunya, Zayn adalah lelaki kuat. Termasuk kuat dalam berbagai jenis godaan dari para gadis yang mengejarnya dulu. Rayuan maut dari Bella pun dulu ditampiknya mentah-mentah. Dan sekarang yang di dengarnya kini ternyata sahabatnya itu menghamili kekasihnya.
Tommy beranjak menuju meja kerjanya, ia meraih ponselnya kemudian mencari nama Zayn dan segera mencoba menghubunginya.
"Iya, beneran gak aktif, Sil," ucap Tommy setelah berulangkali mencoba menghubungi nomor telepon sahabatnya itu.
Sisil tertunduk sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia sangat ingin Ara kembali lagi. Harapannya telah musnah. Padahal jika saja Zayn datang untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya itu, mungkin Ara bisa kembali lagi ke rumahnya.
"Tapi lo kok bisa yakin kalo Ara hamilnya sama Zayn?" Tommy menanyainya gamblang. Seketika Sisil melemparinya dengan bantal kecil yang ada di sofa itu.
"Lo pikir Ara cewek murahan apa, hah?!" Sisil langsung nyolot.
"Ya kali aja dia pernah ngelakuinnya sama yang lain," ucapan Tommy mengalir seakan tanpa dosa.
"Sialan lo!!!"
Sisil beranjak pergi sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal. Percuma saja kedatangannya kali ini. Yang ada hasilnya akan menambah emosi saja jika ia tetap berada di sana. Bersama pria rese yang super nyebelin menurut Sisil.
Tommy mengejar langkah Sisil yang sudah hampir sampai di pintu. Ia langsung meraih tangan Sisil, mencegahnya untuk tidak pergi.
"Pliss, tetap disini." Pintanya sambil tak sungkan memeluk erat tubuh Sisil dari belakang.
"Lepaskan, Tom." ucapnya masih tetap memunggungi Tommy.
Tommy tak menyahut, malah ia membenamkan wajahnya di tengkuk gadis itu yang beraroma sangat menggoda.
Sisil memberontak. Ia risih dan juga merasa geli karena ulah Tommy itu.
"Kenapa hari itu lo gak datang, Sil." Tommy mengingatkan lagi pada acara pertunangannya itu.
"Gue kayak orang gila nunggu lo datang." Diam-diam Tommy menghirup lama tengkuk Sisil.
"Iish, geli, Tom." Sisil menggeliat hingga membuatnya membalikkan tubuhnya menghadap Tommy.
Pria itu begitu cekatan untuk mencuri ciuman dari bibir gadis yang terpampang di depannya. Ia menyesapnya rakus meski gadis itu memberontak dengan suaranya yang tak keluar akibat terkunci oleh ciuman brutalnya.
"Auww...." Tommy terpaksa melepas pagutannya ketika secara sengaja Sisil menggigit bibir pria nakal itu.
Plakk!!!
Kedua kalinya tamparan itu mendarat di pipi Tommy. Pria itu hanya terdiam sambil meringis kesakitan karena bibirnya terluka dan sedikit mengeluarkan darah.
Sisil menatapnya dengan sangat marah. Ciuman pertamanya telah di ambil paksa oleh pria yang sudah memiliki tunangan. Dadanya bergemuruh menahan marah melihat Tommy yang seakan tak merasa bersalah karena melakukan itu.
"Gue udah putus sama tunangan gue." Tommy bersuara, membuat Sisil terperangah mendengar pengakuannya.
"Nih, kalo gak percaya." Tommy menunjukkan tangannya yang tidak memakai cincin pertunangannya lagi.
__ADS_1
"GUE MASA BODO!"
Sisil pergi dan Tommy sudah tidak mengejarnya lagi. Ia hanya tersenyum sendiri teringat dirinya yang telah berhasil mencuri ciuman gadis itu.
"Bagaimana pun caranya, gue harus segera putus sama cewek tomboy itu." Ucapnya sendiri sambil memegang cincin pertunangannya yang ternyata ia simpan di saku celananya.
*Tommy flashback off....
.
.
"Gue pulang, Tom." Zayn pamit kepada Tommy yang sedari tadi terlena dengan lamunannya sendiri.
"A-ah, keburu amat?"
Zayn tak menyahut. Ia hanya ingin segera pergi ke rumah Sisil untuk menanyai langsung kepadanya, barangkali ada perkembangan mengenai keberadaan Ara saat ini.
"Setelah ini lo mau kemana?" Tommy mengekori Zayn yang melangkah cepat keluar dari kamarnya.
"Mungkin ke rumah Sisil, Tom."
"Jangan!" Zayn menoleh mendengar larangan Tommy.
"Percuma lo datang kesana, Zayn. Dia saja gak tau Ara ada dimana sekarang. Lagian lo juga gak mau kan kalo tiba-tiba dia laporin lo ke polisi atas tuduhan pemerkosaan."
"Gue gak perkosa Ara, Tom." Zayn membuat pembelaannya.
"Jadi maksud lo kalian begituan karena sama-sama mau?" Tommy mulai kepo.
Sebenarnya dari awal mendengar Zayn menghamili Ara, dirinya sudah kepo dengan cerita bagaimana awalnya pria pendiam seperti Zayn berhasil membobol gawang pertahanan milik Ara. Sedangkan dirinya yang dikenal bobrok masih kuat mempertahankan keperjakannya sampai detik ini.
Zayn tak menggubris lagi pertanyaan unfaedah dari Tommy. Ia kembali melangkah lebar menuju teras depan.
"Motor lo mana?" Tommy bertanya heran kepada Zayn yang datang menaiki motor butut ke rumahnya.
"Udah gue jual." Motor kesayangan Zayn itu benar-benar telah terjual. Hasil dari jual motornya itu ia kirimkan kepada Ibunya sebagai tambahan biaya pengobatan ayahnya. Selebihnya ia sisakan untuk menyewa motor yang ia gunakan itu.
Tommy menggelengkan kepalanya merasa iba. Lantas ia masuk ke rumahnya dan secepat mungkin ia kembali sambil menyodorkan sebuah kunci mobil kepada Zayn.
"Nih, lo pake mobil gue dulu."
"Gak usah. Makasih." Zayn menolak halus tawaran sahabatnya itu.
"Lo pake aja. Paling tidak lo terhindar dari panas saat lo cari Ara nanti."
Zayn menghela nafasnya. Sahabatnya itu memang sangat baik meski kebaikannya itu tertutupi karena sifat usilnya.
Tiba-tiba ponsel milik Zayn berdering. Ia langsung menerima panggilan itu begitu melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.
Setelah bercakap-cakap cukup singkat dengan seseorang yang menelponnya itu, Zayn langsung duduk di kursi motornya dan menyalakannya.
"Sorry, Tom. Gue harus cepat-cepat pergi." Ucapnya sambil langsung melajukan motornya keluar dari pelataran luas milik Tommy.
Menaiki motor adalah solusi yang terbaik saat ini. Dirinya harus segera sampai di tempat tujuan, setelah seseorang yang menelponnya tadi menyuruhnya datang.
Dengan perasaan bimbang, Zayn harus segera sampai ke tempat tujuan.
__ADS_1
*