
"SAH!"
"SAH!"
Dua orang saksi ijab kabul Zayn dan Ara berseru lantang ketika pria itu telah mengikrarkan ikatan pernikahannya dengan wanita yang juga duduk disebelahnya yang kini telah sah menjadi istrinya.
Lalu kemudian sang penghulu yang kebetulan juga berprofesi sebagai orang terpandang dan begitu disegani yaitu kyai Jamal, melantunkan do'a kebaikan untuk acara sakral ini yang kemudian di amini oleh semua orang yang turut menyaksikan gelaran ijab kabul Zayn dan Ara.
Zayn menundukkan kepalanya sambil menengadahkan kedua tangannya sembari tak hentinya melafadzkan kata amin dari mulutnya, Ara pun demikian. Pria itu terlihat begitu khusyuk, berbagai permintaan yang terbaik selalu ia sematkan seiring lantunan do'a yang dibaca oleh kyai Jamal.
Berbalik lagi dengan yang dirasa oleh Ara, wanita itu justru tak bisa tenang meski sangat ingin ia merasakan ketenangan itu. Setelah beberapa detik yang lalu dirinya telah sah menjadi istri Zayn, ia malah dibuat merasa semakin tak karuan. Nervous, tangan yang berkeringat dingin, nafas yang tersengal-sengal, semua itu membuatnya terlihat semakin tak tenang. Andai saja dirinya saat ini sedang tidak bermake up, mungkin wajahnya akan kentara pucat saking gugupnya yang ia rasa sekarang.
"Ara!" Suara Viona tiba-tiba membuyarkan lamunan Ara, ternyata lantunan do'a sudah selesai dibaca.
Viona sedikit menyenggol lengan Ara, memberinya kode agar segera mencium tangan Zayn yang kini sudah sah menjadi suaminya.
Wanita itu melirik sekilas, dipandangnya Zayn yang mengulaskan senyumnya begitu hangat. Akhirnya kemudian ia pun membalas uluran tangan Zayn lalu menciumnya tiga detik saja. Lalu kemudian pria itu mencondongkan wajahnya, merasa tahu kalau Zayn akan mencium keningnya ia pun hanya bisa pasrah sambil memejamkan matanya. Bukan karena ingin menikmati kecupan hangatnya, melainkan lebih ke rasa malu dan nervous yang masih sangat ia rasa.
"Alhamdulillah...."
Terdengar seruan syukur yang diucapkan oleh Haris saat Ara dan Zayn sudah resmi menjadi pasangan halal, meski masih belum terdaftar dicatatan hukum negara.
Pria paruh baya itu tak terasa menitikkan airmatanya, merasa terharu sekaligus merasa bersalah karena telah berbuat hal yang membuat anaknya menderita dahulu. Dan kini Haris telah menebusnya dengan menikahkan putrinya bersama seseorang yang seharusnya menikahinya beberapa tahun yang lalu. Meski ia juga menyadari jika anaknya itu masih belum sepenuhnya menerima Zayn, akan tetapi Haris begitu yakin jika suatu saat menantunya itu akan berhasil menaklukkan Ara lagi.
Semua tamu undangan kini tengah menikmati hidangannya masing-masing, aura kebahagiaan begitu terpancar dari para tamu undangan. Acara yang hanya direncanakan semalam terbilang cukup sukses diselenggarakan meski sangat dadakan. Beberapa kawan bisnis Haris juga sebagian kerabat terdekatnya turut hadir meski dikabarkan secara mendadak.
Hingga pada satu persatu semua tamu bergiliran pamit pulang kini tiba saatnya rombongan keluarga Zayn juga berpamitan pulang.
"Ayah pulang, Nak. Jadilah suami yang baik dan bertanggung jawab," pesan Malik disaat dirinya sudah berada diluar rumah Haris.
Zayn hanya mengangguk lalu ia pun kemudian memeluk ayahnya bergantian kemudian ibunya dan juga adiknya, Cinta.
Disusul kemudian Ara yang juga mencium tangan kedua mertuanya dan juga mendapatkan pelukan hangat darinya.
"Titip Zayn ya Nak. Dia kadang suka telat makan kalo lagi banyak pikiran," ucap Rahayu, karena merasa anak lelakinya itu sering ringkih jika sedang banyak yang dipikirkan.
"Tenang aja, Bu, bentar lagi pasti gemukan dia. Kan ada kak Ara yang merawat dan memanjakannya tiap hari," seloroh Cinta yang membuat kedua orangtuanya hanya terkekeh, tapi tidak dengan Ara.
Wanita itu sempat tertegun saat mendengar godaan dari adik iparnya itu. Memang sudah seharusnya dirinya yang melayani semua kebutuhan lahir dan bathin pria yang sudah berstatus suaminya itu. Untuk kebutuhan lahir seperti halnya memasak atau mengerjakan tugas rumah mungkin Ara sudah lihai, akan tetapi jika menyangkut dengan kebutuhan bathin?
Oh tidak! Wanita itu hanya bisa menggeleng tanpa disadarinya, bahkan ingatannya tentang mimpinya itu tiba-tiba melintas begitu saja. Membuatnya kembali termenung dengan kedua pipi yang sudah merona.
"Sayang," sapa Zayn sambil tak sungkan lagi merangkulnya, karena hanya melihat istrinya itu hanya termenung.
"Eh!" Spontan Ara menurunkan rangkulan tangan Zayn begitu saja.
__ADS_1
"Kenapa melamun?" Tanyanya berusaha tenang, karena sebenarnya ia melihat tatapan aneh dari kedua orangtuanya setelah Ara menangkis rangkulannya tadi.
"E-eeh... Aku... Aku..."
"Kamu pasti capek ya?" Tangan Rahayu terulur untuk mengusap lengan menantunya begitu hangat.
"Sudah, masuklah. Lekas istirahat. Jangan lupa makan dulu." Lanjutnya begitu sabar.
Ara hanya bisa tersenyum kecil menanggapi ucapan wanita berhijab itu, tanpa dapat mengeluarkan suaranya walau sekata.
"Zayn, ingat pesan ayah!" Malik menegaskan lagi.
"Iya, Ayah."
Lalu tak lama setelah itu anggota keluarga Zayn sudah beranjak pulang menaiki mobilnya dan terlihat sudah melaju pergi dari kediaman Rahardian.
Ting ting
Terdengar notifikasi pesan masuk yang diterima oleh Zayn. Pria itu langsung membacanya dan kemudian membalasnya dengan raut wajah yang begitu sumringah.
Menyadari Zayn yang hanya asyik saling berbalas pesan dengan seseorang yang mungkin sangat akrab dengannya, membuat Ara yang kebetulan masih berada disampingnya terpancing rasa kepo.
"Dari siapa?" Tanyanya tanpa ragu yang membuat Zayn sedikit terhenyak saat mendengar pertanyaannya itu.
"Dari cewek." Zayn menjawab sekenanya, lalu kembali fokus membalas pesan masuk itu yang terus bermunculan bertubi-tubi.
Bahkan kini ditambah Zayn semakin terkekeh sendiri dengan jarinya yang terus mengetik tanpa jeda. Nyaris ia tidak menghiraukan keberadaan Ara lagi, hingga membuat wanita itu memilih pergi dengan hentakan kakinya yang terdengar keras.
"Sayang, tunggu!" Zayn langsung meraih tangan Ara.
Ara hanya menoleh dengan tatapan dinginnya yang membuat pria itu semakin gemas melihat istrinya yang mungkin sedang cemburu hanya masih tak mau mengakuinya.
"Kita masuk bareng," ajaknya sambil menggandeng erat tangannya.
"Kamu lanjutkan saja balas pesannya, siapa tahu penting." Ara melepas lagi genggaman tangan Zayn.
"Udah selesai juga kok." Pria itu hanya menyahut enteng.
Entah mengapa rasanya kali ini Ara ingin menginterogasinya akan apa saja yang dibahas dengan teman chattingnya itu, yang membuat pria itu tadi sampai tak menghiraukan keberadaannya.
"Kamu cemburu ya?" Goda Zayn sambil menangkup pipi Ara dengan kedua tangannya.
"Nggak!" Ara mencoba menghindar dari tatapan Zayn yang seakan langsung menghunus ke netranya.
"Bilang aja kalau kamu cemburu. Aku nggak akan mengulanginya lagi. Janji!" Zayn mengangkat kedua jarinya membentuk V.
__ADS_1
"Siapa juga yang cemburu? Nggak usah geer deh!" Ara menyahut, sedang tatapannya masih terus sibuk menghindari tatapan mata Zayn yang terus mengarah kepadanya.
Zayn meraih pipi Ara lalu menangkupnya lagi dengan begitu gemas hingga membuat wanitanya kesulitan bergerak.
Cup.
Satu kecupan singkat mendarat di bibir merahnya.
"Jangan cemburu lagi. Tadi itu dari Cinta," jelas Zayn sambil mengusap pelan bibir Ara yang sedikit basah karena ulahnya.
"Dasar mesum!" Umpatnya begitu tersadar dari serangan suaminya yang sempat membuatnya sedikit tercengang tak percaya.
"Mesum sama istri sendiri kan nggak pa-pa?"
"Iiiiih......!"
Lalu Ara pergi masuk begitu saja akan tetapi Zayn masih terus mengikutinya sambil membantu memegangi gaun pengantin Ara yang lumayan panjang ekornya. Hingga sampai saat kedua pengantin baru itu akan menaiki undakan tangga, mereka disapa oleh Viona.
"Ara, Zayn, setelah bersih-bersih badan segera turun ya, kita makan bareng."
"Iya, Mi," Zayn yang menjawab, sedang Ara sendiri tetap bergeming lalu kembali melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.
Ceklek.
Kedua pasangan pengantin baru itu telah memasuki kamarnya. Jangankan berharap akan mendapatkan hal yang menyenangkan, raut wajah Ara tetap bertekuk sedari tadi.
Zayn pura-pura tak menghiraukannya, meski sebenarnya ia sudah sangat gemas melihat Ara yang menahan cemburunya. Akhirnya pria itu pun meletakkan ponselnya di meja rias, tepat dimana Ara duduk saat ini.
"Passwordnya tanggal lahir kamu," ujarnya yang seketika membuat Ara menoleh kepadanya.
"Siapa tahu kamu ingin lihat apa saja yang aku obrolkan sama Cinta tadi."
"Nggak mau tahu. Aku juga nggak penasaran kok." Beralih Cinta melepas satu persatu pengikat kain penutup kepalanya.
"Ya sudah." Tangan Zayn turut ingin membantu membukakannya.
"Kamu mau apa?" Tanyanya tak suka.
"Bantuin kamu."
"Nggak usah! Aku bisa sendiri," tolaknya sambil menurunkan tangan Zayn dari kepalanya.
"Yakin?"
Wanita itu hanya bergeming, padahal sebenarnya ia sedikit kesulitan membuka gaun yang melekat di tubuhnya itu. Hingga akhirnya Zayn telah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya, Ara masih saja disibukkan dengan melepas gaunnya itu seorang diri.
__ADS_1
Lalu kemudian bersambung...😁