
Dengan alur nafas yang di buat serileks mungkin, Ara mulai memasuki pintu rumahnya. Suasananya sangat sepi, jam segini pasti Haris sudah berangkat ke kantor. Kalau Viona mungkin saja sedang keluar berkumpul dengan teman-teman arisannya. Bik Inah dan suaminya pak Rudi, mungkin mereka sama-sama sibuk di belakang. Hal ini tentu membuat gadis itu menghela nafas lega, sebab ia tak perlu membuat drama sepagi ini di rumahnya atas ketidak pulangannya semalam.
Ara berjalan melenggang di rumah yang ia kira penghuninya sedang tidak ada. Langkahnya baru tiba di ruang tengah rumah besar itu, ternyata keluarganya sedang berkumpul di sana dengan tatapan yang tak dapat di artikan menyorot tajam kepadanya.
"Mami, Papi." Ara menyapa kedua orang tuanya, namun tak ada respon balik dari mereka.
"Kok tumben papi gak ke kantor?" Tanyanya pada Haris sambil melangkah mendekat ke arah mereka duduk.
Haris dan Viona tetap membisu. Semakin dekat Ara berdiri di dekat mereka, Ara baru menyadari kalau mata Viona begitu sembab. Kenapa mami begitu sedih? Batinnya mulai bertanya-tanya sendiri.
Sedang tatapan Haris kepadanya sudah seperti tiada belas kasih lagi terhadapnya. Sorot matanya begitu dingin. Ara tidak bisa mengartikan lebih arti tatapan tajam dari papinya itu, sebab dirinya yang memang telah berbuat salah menjadi semakin takut dengan tatapan dingin dari kedua orangtuanya itu.
"Ehm, aku ke kamar dulu ya, Pi, Mam."
Baru selangkah gadis itu beranjak, ia di buat gemetar dengan suara Haris yang mencegahnya.
"Kamu tetap disini!" Ujarnya tegas namun seperti sedang menyimpan sebuah amarah menurut Ara.
Ara menurut, ia hanya mematung tak berani ikut duduk di antara kedua orangtuanya yang kemungkinan saat ini sedang marah terhadapnya.
Tak lama kemudian bik Inah turun dengan menenteng tas besar di tangannya, di ikuti pula oleh pak Rudi yang menyeret koper milik Ara. Mereka turun dari tangga itu sambil terisak begitu melihat Ara yang sudah datang.
Ara memandang heran kepada kedua pekerja rumahnya itu, bergantian ia juga memandang penuh tanya kepada kedua orangtuanya yang tetap membisu.
Sebuah koper dan tas besar milik Ara sudah berada di samping gadis itu berdiri. Sedang bik Inah semakin histeris menatap anak majikannya itu yang benar-benar harus pergi dari rumah itu karena kecerobohan dirinya.
Tadi pagi seperti biasanya bik Inah selalu rutin membersihkan kamar Ara. Ia yang sudah bekerja di sana semenjak Ara masih kecil sudah tidak sungkan lagi masuk ke kamar itu walau tanpa ijin dari sang pemilik sebelumnya.
__ADS_1
Setelah selesai merapikannya, bik Inah berniat membuang sampah yang ada di dalam kamar mandi milik Ara. Alangkah terkejutnya ia setelah melihat bungkus testpack yang sudah tanpa isi berada banyak di dalam keranjang sampah tersebut.
Dirinya yang gegabah langsung memanggil Nyonya Viona, bermaksud memberitahukan penemuannya itu. Padahal seandainya dirinya bisa tutup mulut dan menunggu Ara kembali ke rumah, mungkin hari ini gadis itu masih bisa aman menutupi kehamilannya. Hingga sampai rahasia itu terbongkar oleh Ara sendiri.
"Maafkan bibi, Neng." Bik Inah langsung menjatuhkan tubuhnya, bersimpuh di depan Ara yang tak mengerti apa-apa.
"Ini ada apa, Bi?" Ara meraih tubuh wanita paruh baya itu untuk kembali berdiri.
Bik Inah tak menjawab apa-apa, karena tuan majikannya sudah menyorot tajam menatapnya untuk tak banyak bicara.
"Ini ada apa sebenarnya, Mam, Pi?" Ara menanyakan kepada kedua orangtuanya. Tangis Viona sudah mulai pecah. Wanita itu sesekali mengusap dadanya dengan tangisannya yang semakin menjadi.
"Mami." Gadis itu melangkah mendekati Viona namun kembali di cegah oleh Haris.
"Kamu tetap di situ!" Suaranya sudah meninggi.
"Rudi! Kamu bawa anak tak tahu malu ini keluar dari rumah ini. Jangan sampai aku melihat kamu membawanya lagi ke rumah ini." Suara haris penuh penekanan dan sangat menggelegar di telinga yang mendengarnya.
Ara hanya terdiam. Gadis itu meski masih tak mengerti penyebab apa yang membuat papinya tega mengusir dirinya, hanya bisa menumpahkan air matanya yang sudah tak bisa terbendung lagi.
"Kamu masih tunggu apa, Rud! Cepat bawa anak ini pergi dari rumah ini sekarang!" Haris semakin emosi karena orang yang disuruhnya tetap terdiam saja.
"B-baik, Tuan." Rudi mendekat ke Ara. Tangannya mulai menenteng tas besar itu, sedang sebelahnya lagi bersiap menyeret koper yang sudah terisi pakaian Ara.
"Tunggu dulu, Pi, coba jelaskan sama Ara apa maksud papi mengusir Ara dari rumah?" Gadis itu berjalan mendekat kepada kedua orangtuanya.
"Kamu yang seharusnya jelaskan sama kita. Siapa yang menghamili kamu?!" Haris menunjuk tepat ke wajah Ara.
__ADS_1
Gadis itu langsung bersimpuh begitu mendengar ucapan Haris yang ternyata telah mengetahui tentang kehamilannya. Ia hanya bisa menangis, tak dapat menjelaskan apa dan siapa yang telah menghamilinya.
"Anak tidak tahu diri! Hanya bisa mencoreng nama baik keluarga! Sebaiknya kamu pergi dari rumah ini!" Haris sudah bulat dengan keputusannya untuk mengusir anak semata wayangnya itu.
Tangis Viona semakin menjadi. Walau sangat ingin dirinya memeluk putrinya, namun hal itu tertahan begitu saja. Tertutupi oleh rasa kecewa yang teramat dalam kepada perbuatan Ara.
"Maafkan Ara, Mami, Papi." Dalam maaf yang terucap sebenarnya Ara telah mengakui kebenaran itu. Ia hanya bisa pasrah menghadapi resiko yang harus ia jalani, meski pilihannya harus terusir dan jauh dari keluarganya untuk selamanya.
"Anakku Ara." Tangan Viona terulur ingin menggenggam tangan Ara untuk yang terakhir kalinya. Namun semua itu tak teraih setelah Haris menangkis kasar tangan Ara yang menyambut uluran tangan Viona.
"Cepat kau pergi dari rumah ini! Sebelum aku berubah pikiran untuk menghabisimu dan pacarmu itu!" Haris menatap tajam kepada Ara, membuat gadis itu spontan berdiri ketakutan.
Isak tangis itu semakin menjadi disaat Ara benar-benar melangkah pergi dari rumah itu. Dirinya bahkan sudah tak menoleh lagi kepada kedua orangtuanya yang sebelumnya sangat menyayanginya.
Gadis itu sungguh sama keras kepalanya dengan Haris. Keputusannya untuk menanggung segala resiko itu seorang diri, membuatnya tak mau lagi menyatakan pembelaan darinya yang hanya sebagai korban kebiadaban seorang Zayn. Karena semua itu terjadi bukanlah atas dasar suka sama suka, melainkan ulah Zayn yang mengambil kesempatan di tengah ketidaksadaran dirinya.
Andai ia mau jujur dengan Haris siapa ayah dari janinnya itu, mungkin saja Haris bisa membantunya. Mencari keberadaan Zayn yang hilang tanpa kabar.
Viona memegang erat tangan Haris, bersimpuh sambil memohon agar ia melunakkan hatinya supaya putrinya kembali ke rumah ini. Meski demikian semua itu sungguh tak bisa menggoyahkan keangkuhan hati seorang Haris yang teramat kecewa dan terluka dengan anak semata wayangnya, satu-satunya pewaris tunggal dari beberapa perusahaan miliknya.
Ibarat kata nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Semua yang telah terjadi, tak akan pernah kembali sama seperti sedia kala.
Haris melangkah pergi meninggalkan Viona yang masih bersimpuh dengan isakan tangisnya yang tak berhenti. Menuju ruang kerja yang sunyi untuk menenangkan pikirannya yang sebenarnya tak bisa tenang untuk beberapa waktu ke depan.
Sebenarnya di balik keangkuhannya itu, terselip rasa perih harus kehilangan jauh dengan buah hatinya. Dalam diam Haris pun mulai meneteskan air matanya. Menumpahkan rasa sedihnya lewat memandang foto anak gadisnya yang terpajang di meja kerjanya.
*
__ADS_1