
Setelah mendapati tawaran untuk menjadi menantu Haris, rupanya membuat hubungan antara Zayn dan atasannya itu semakin dingin. Ia masih berada di Jakarta, karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus ditanganinya. Haris seakan sengaja menahannya disini, mungkin sampai Zayn memberinya alasan yang tepat karena telah menolak tawaran darinya.
Sore itu Zayn berjalan gontai menuju apartemen miliknya. Tenaga dan juga perasaannya sedang tidak bersemangat sama sekali. Rasa hampa seakan memenuhi ruang hatinya saat ini. Apalagi jika teringat tentang nasibnya kedepan.
Zayn masih berdiam diri menatap pintu apartemennya, ia sengaja berlama-lama memandanginya sebelum apartemennya itu laku terjual. Senyum getirnya seketika terukir, teringat bahwa tak lama lagi dirinya akan kembali menjadi dirinya yang dulu. Meski rasa kecewa itu sebenarnya ada, namun inilah satu-satunya jalan terbaik yang ia punya saat ini.
"Semangat Zayn. Cukup sekali saja kau jadi lelaki pengecut. Sekarang kau harus merelakan semuanya. Pengorbanan ini masih terlalu kecil jika dibandingkan dengan luka hati yang kau lakukan pada Ara." Lirih hatinya bersuara.
"Zayn."
Suara seorang perempuan menyapanya dari ujung koridor apartemennya. Ia pun menoleh ke arah suara tersebut, karena merasa tak asing lagi dengan pemilik suara itu.
Gadis itu berlari ke arah Zayn dan seketika memeluk erat tubuh pria itu dengan begitu posesive. Sedang Zayn sendiri yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa tertegun tanpa bisa menolak.
Bella tersenyum merekah kepada pria yang dulu pernah menjadi incarannya semasa di kampus. Bahkan ia nyaris tak mengedipkan matanya setelah menyadari tampilan pria itu yang semakin mempesona.
"Kapan lo datang dari London?" Zayn menanyainya sambil melepas pelan pelukan Bella yang dari tampilannya sudah banyak perubahan. Tatto ditubuh seksinya itu yang membuat tampilannya semakin brutal.
"Kemarin lusa." Lagi-lagi Bella melingkarkan tangannya ke pinggang Zayn. Empat tahun tak bertemu dengannya, nyatanya Bella tetap sama. Tetap agresif kepada Zayn.
"Lo gak mau nawarin gue masuk?" Bella melirik ke arah pintu apartemen Zayn yang masih tertutup rapat.
Zayn menghela nafas pasrah. Meski sebenarnya ia tidak ingin ada yang mengganggunya saat ini, tapi ia pun tak tega jika langsung mengusir tamu yang tak diharapkan itu.
Ceklek.
Pintu itu sudah terbuka lebar, Bella langsung menyerobot masuk meski sang pemilik belum mempersilahkannya. Mata gadis itu langsung menyapu bersih seluruh ruangan apartemen Zayn. Sesekali ia berdecak kagum karena melihat tatanan ruang itu sangat rapi dan beraroma wangi.
"Lo sekarang sudah sukses ya." Gadis itu berangsur duduk di sofa empuk berwarna abu-abu.
"Dari mana lo tahu tempat gue?" Zayn menanyainya sambil berjalan menuju dapur, berniat akan membuatkan Bella minuman.
"Apa sih yang gak bisa gue cari kalo itu tentang lo."
__ADS_1
Zayn menoleh sekilas pada Bella yang masih tersenyum kepadanya. Meski sebenarnya ia masih heran dari mana Bella tahu alamat apartemennya, ia tak mau mempedulikan itu saat ini. Satu hal yang ingin ia perbuat, bagaimana caranya agar Bella secepatnya pergi tanpa menyinggung perasaannya.
Lalu kemudian Zayn melangkah ke arah gadis itu duduk, tangannya membawa sebuah jus jeruk dingin untuk ia suguhkan kepada Bella.
Zayn memilih duduk berhadapan dengannya. Namun sebelum itu ia melepas jas yang ia kenakan, menyisakan sebuah kemeja berwarna navy. Melepas dua kancing teratas kemejanya itu, lalu kemudian melipat lengan kemejanya hingga sebatas sikunya. Andai tak ada gadis itu sekarang, biasanya Zayn hanya bertelanjang dada. Seperti kebiasaannya tiap datang dari kantornya.
Sorot mata Bella lagi-lagi tak berkedip. Ia semakin takjub memandangi tubuh pria yang dulu sangat ingin ia cicipi, meski hanya terbuka sedikit. Beberapa tahun tak saling berjumpa, membuatnya kembali berhasil menghidupkan rasa yang dulu pernah ada.
Bukannya Zayn tak menyadari tatapan itu, hanya ia tak mau peduli saja.
"Lo belum bilang pertanyaan gue tadi. Dari mana lo tahu tempat gue?"
"Ooh..." Bukannya segera menjawab, Bella malah meminum jus jeruk itu.
"Feeling aja!" jawabnya santai, sambil tangannya memainkan gelas itu.
Zayn mengerutkan keningnya. Biarlah Bella tak mau berterus terang tak apa, ia hanya tak mau bertambah pusing saja dengan kehadiran sosok masa lalunya itu.
Mereka pun kembali terdiam cukup lama. Zayn hanya tertunduk sambil mencari ide agar Bella bisa secepatnya keluar. Tak berani menatap gadis yang didepannya, yang cukup meresahkan jiwa lelakinya jika ia terus menatap paha mulus berbalut rok mini ketat yang sengaja diekspos olehnya. Sedangkan gadis itu terus saja memandanginya semakin lekat.
"Zayn."
Seketika Zayn memalingkan pandangannya. "Lo mau apa, Bel?" Tanyanya tak suka dan tentu sudah mulai risih.
"Apartemen lo panas. AC lo rusak ya?" Padahal itu hanya alasannya saja.
Zayn beranjak, ia memilih berdiri agar bisa menjauh dari Bella yang ternyata turut berjalan mendekatinya.
"Kita keluar yuk," ajaknya sok bersuara manja. Sedang kedua tangannya lagi-lagi melingkar sempurna di pinggang Zayn yang sedang berdiri membelakanginya.
"Gue capek, Bel. Sorry, gue mau istirahat." Zayn melepas paksa tangannya.
Bella mulai mengerucutkan bibirnya saat mendengar penolakan dari Zayn. Dan Zayn tetap dengan posisi awalnya, tak berani menoleh pada perempuan nekat seperti Bella.
__ADS_1
"Zayn." Lagi-lagi tangan Bella mulai agresif, ia meraba punggung pria itu dengan begitu lembut.
"Plis, Bel. Gue butuh istirahat sekarang." Tolaknya lagi, sedang tangan Zayn mulai memijit pangkal hidungnya yang tiba-tiba merasa pening. Bukan karena merasa lelah karena pekerjaannya lagi, kali ini ia pusing sendiri karena ulah nakal gadis itu.
"Gue punya obat vitamin kalo emang lo butuh."
"Gak perlu." Zayn melangkah lagi untuk menghindar darinya, namun kali ini Bella tak lagi mengejarnya. Ia tetap ditempatnya sambil tersenyum devil menatap pria yang tetap keras kepala terhadapnya.
"Oke!" Bella meraih kaosnya lagi, kemudian kembali memakainya.
"Ini terakhir kalinya gue gak akan ganggu lo lagi. Asal--" Bella sengaja menggantung bicaranya.
Zayn pun kembali berani menatapnya, sambil menunggu maksud bicaranya itu.
"Asal malam ini kita keluar." Senyumnya mengembang sempurna saat mengutarakan kemauannya itu.
Zayn sedikit terkesiap. Dulu ia pernah dijebak oleh gadis itu hingga hal itu menyebar luas di kampus, jadi kali ini ia harus lebih wanti-wanti terhadapnya. Tak mau lagi ia masuk ke lubang yang sama dengan gadis arogan seperti Bella.
"Kemana?" Tanyanya pasrah.
Bella tak menyahut. Ia malah beranjak mendekati pria itu berdiri dan langsung mengaitkan tangannya ke lengan Zayn.
"Nanti lo tahu juga," ujarnya begitu sumringah.
"Tapi lo harus tepatin perkataan lo yang tadi."
Dan Bella pun mengangguk senang.
Zayn melepas lagi tangan Bella. Ia memilih jalan terpisah dengan gadis itu, hingga ia dan Bella sudah benar-benar keluar dari apartemennya.
"Umpan tertangkap!"
Bella mengirim pesan singkat kepada seseorang di sana.
__ADS_1
*