
Siang itu Viona dan Sisil sudah berada di sebuah restoran cepat saji tempat mereka membuat janji bertemu dengan Keanu. Sambil menunggu kedatangan pria itu, Viona sedikit mulai menceritakan keluh kesahnya tentang rencana Haris mengenai perjodohan Ara itu kepada Sisil.
Sisil hanya bisa mendengarkan saja tanpa berani memberikan masukan apapun darinya. Sebab ia sangatlah tahu bagaimana watak pamannya itu. Jika ia sudah membuat keputusan tentu itu harus terjadi sesuai dengan keputusannya juga.
Gadis itu sangatlah tahu jika Haris adalah seseorang yang hatinya sulit melunak jika mengenai apa yang sudah menjadi keputusannya. Baginya yang terpenting saat ini adalah ia sangat merasa senang mengetahui bahwa pamannya itu sudah mulai mau membuka hatinya untuk menerima Ara kembali, meski dengan cara perjodohan ini.
"Kasih masukan dong, Sil, Tante pusing nih harus bagaimana caranya biar Om mu itu ngebatalin perjodohannya itu." Viona mulai merasa sedikit frustasi, ditambah yang diajak bicara seperti Sisil tidak bisa memberi pendapat apapun.
"Mm, gimana ya, Tante?" Sisil mulai berpikir sejenak. Sebenarnya ia sendiri punya usulan juga, cuma ia takut jika hal itu nanti akan dibilang lebih berpihak ke Haris.
"Gimana, gimana?" Viona sangat menunggu pendapat dari Sisil.
"Kalo menurutku sih, mending kita setuju saja dengan keputusan Om Haris, Tante."
"Ah, gak bisa gitu dong, Sil!" Viona langsung terlihat emosi saat mendengar keponakannya itu, yang ternyata juga menyetujui ide dari Haris.
"Tante kan sudah cerita tadi kalau calon yang dipilih Om mu itu cuma--" Terdengar Viona sedikit membuang nafas beratnya.
"Cuma anak orang biasa-biasa saja. Orangtuanya cuma punya satu toko furniture yang gak terlalu wah. Tauk deh, Om mu itu kesambet sama apa. Sampe-sampe mau jodohin anaknya sendiri sama orang rendahan kayak pilihannya itu." Emosi Viona sudah mulai meletup-letup karena perjodohan itu.
"Tante Vi, tante coba tenang dulu," gadis itu meraih tangan Viona, lalu mengusap-usap punggung tangan itu mencoba meredakan emosinya lewat sentuhan kasihnya.
"Alangkah baiknya sementara ini kita ikuti saja apa maunya om Haris. Bukankah kalau om sudah punya rencana begitu, itu berarti sebenarnya om sudah tahu dimana Ara selama ini. Nah, nanti setelah Ara benar-benar sudah pulang, baru deh kita mikirin bagaimana caranya supaya perjodohan itu batal."
Sorot mata Viona langsung berbinar saat mendengar usulan dari Sisil. Kenapa tidak kepikiran itu sebelumnya? Seandainya ia mau berpikir dingin sebelum berdebat dengan suaminya semalam, tentu suaminya itu tak akan mengalami masa kritis seperti halnya yang terjadi semalam.
Viona mulai berpikir sejenak. Jika memang suaminya selama ini tahu dimana keberadaan Ara, maka ia harus menanyai itu juga kepada Rudy. Sebab sopir pribadinya itulah yang dulu mengantar Ara pergi malam itu. Setelah ini, setelah Viona menyelesaikan pertemuannya dengan Keanu ia akan langsung menemui Rudy mengenai tempat keberadaan putrinya itu.
"Sisil!"
Seorang pria muda berparas sedikit lebih mirip artis Kpop itu tiba-tiba saja menepuk pundak Sisil dari arah belakang.
"Hai, Ken," sapa Sisil begitu tahu bahwa yang menyapanya itu adalah pria yang memang ditunggunya.
Sisil mempersilahkan Keanu duduk di kursi kosong yang berada tepat disampingnya, lalu kemudian ia tak lupa langsung memperkenalkan pria itu kepada tantenya, Viona.
"Ken, ini tanteku, tante Viona."
Sejenak mereka sama-sama saling berjabat tangan. Terlihat senyum merekah dari Viona karena merasa langsung cocok dengan pria yang menjadi pilihannya itu sebagai calon menantunya, jika saja pria itu nanti menyetujuinya.
__ADS_1
"Tante Viona ini maminya Ara, Ken," jelas Sisil.
Keanu sedikit tercengang saat mendengarnya. Sebenarnya semalam ia sudah merasa heran atas ajakan Sisil untuk mengajaknya bertemu, ditambah lagi sekarang ternyata juga ada maminya Ara berada disini.
"Ada apa ini?" Keanu hanya bisa bertanya-tanya dalam hatinya saja.
"Keanu." Viona mulai berkata.
"Iya, Tante." Entah, perasaan Keanu sangat aneh saat ini.
"Tante sudah tahu bagaimana kedekatanmu dengan Ara dulu. Sisil sudah banyak cerita sama tante."
Sejenak pria itu menoleh kepada Sisil, yang mana gadis itu juga terheran-heran masih tak tahu apa sebenarnya tujuan Viona ingin bertemu dengan Keanu.
"Itu dulu tante, sebelum Ara punya pilihan lainnya." Keanu mengungkapkannya sedikit kikuk.
Perasaan yang sudah lama terkubur dalam hatinya, kini terpaksa harus dibuka kembali karena maminya Ara ini.
"Seandainya suatu hari nanti Ara kembali, apa kamu masih mau menemaninya? Mm... Maksud tante, apa kamu masih mau berteman dekat dengannya?"
Pria itu hanya terdiam, sebab dalam benaknya sudah dipenuhi macam pertanyaan dari rasa penasarannya itu.
"Kamu mau nggak mendekati Ara lagi? Tidak lama lagi anak tante kembali, tante takut kalau nanti Ara akan benar-benar menikah dengan pilihan papinya itu. Tante benar-benar nggak setuju sama pria pilihan papinya itu, Ken." Viona sudah tak malu lagi menyampaikan maksud hatinya itu kepada pria yang masih baru ini saling bertemu.
Jleb.
Keanu benar-benar dibuat terdiam dalam waktu yang cukup lama. Jangankan Keanu, Sisil saja yang baru tahu dengan maksud tantenya mengajak bertemu dengan Keanu merasa sangat kaget saat mendengarnya. Gadis itu tak habis pikir dengan tawaran tantenya itu kepada Keanu.
"Bagaimana, Ken?" Viona mencoba meraih tangan Keanu.
"Kapan Ara kembali, Tante?" Akhirnya Keanu mulai bersuara.
"Secepatnya." Viona menjawab yakin.
Terukir senyum merekah dari sudut bibir Keanu. Pria itu memang sebenarnya masih belum sepenuhnya bisa move on dengan Ara, dan setelah mendengar perkataan maminya Ara itu tentu sangat membuatnya merasa senang dan bahagia. Bagaimana tidak, sebab dari perkataan maminya itu cukup menjadi kode baginya bahwa adanya lampu hijau baginya untuk bisa mendekati Ara lagi, jika nanti gadisnya itu telah benar-benar kembali pulang.
Mendapati senyuman itu, Viona sudah bisa menebak jika Keanu tidak keberatan dengan permintaannya. Ia pun dapat menghela nafasnya dengan lega karena merasa apa yang menjadi pilihannya akan segera terwujud.
Sedangkan Sisil hanya bisa tertegun tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Gadis itu sempat merutuki dirinya sendiri, sedikit menyesal telah mempertemukan mereka sekarang.
__ADS_1
Sebenarnya ia juga tidak terlalu setuju dengan pilihan tantenya ingin menjodohkan Keanu dengan Ara. Seandainya ia bisa menemukan Zayn, tentu ia lebih memilih ayah biologis anaknya Ara itu untuk bisa menikah dengan Ara. Meski dalam hatinya sebenarnya juga merasa benci dan kecewa dengan menghilangnya Zayn selama ini.
"Oh ya, Papamu bagaimana kabarnya?" Viona mulai mengalihkan bicaranya.
Pria itu hanya tersenyum getir saat Viona menanyai perihal papanya itu.
"Tante sudah sangat lama tidak bertemu lagi dengan papamu."
"Papa sudah meninggal dua tahun yang lalu Tante," ucapnya sendu.
Viona terdiam, tentu ia kaget mendengar kabar itu. Tapi entah mengapa di sudut hati yang lain Viona merasa sedikit lega, sebab satu-satunya orang yang sering menjadi pesaing bisnis suaminya itu telah tiada. Hal ini tentu tidak akan membuat Haris menolak tentang Keanu yang telah menjadi pilihan Viona sebagai calon menantunya. Sebab Keanu sendiri rupanya tidak seperti papanya yang terkesan sangat gila harta dan jabatan.
Tanpa menanyai bagaimana kronologi meninggalnya papanya Keanu, Viona malah langsung menanyakan apa yang mengganjal dihatinya saat ini.
"Trus bisnis papamu kamu yang lanjutin kan?"
Viona semakin menyelidikinya, sebab wanita itu tak mau kecewa dibelakang karena salah memilih orang yang akan sama saja dengan calon pilihan Haris itu.
Keanu menggeleng cepat. "Saham papa sudah saya jual semua, Tante."
Seketika kening Viona langsung berkerut saat mendengarnya. "Trus keluargamu sekarang lagi bisnis apa?"
"Saya membuka beberapa restoran makanan cepat saji yang hampir tersebar di seluruh Jawa."
Sebenarnya Keanu merasa risih sendiri harus mengatakan bisnisnya itu kepada siapapun. Bukan karena tidak PD dengan bisnis yang dijalaninya itu, melainkan ia tak mau terkesan sebagai pria tukang pamer atau sombong.
Padahal sebenarnya restoran yang ditempatinya sekarang itu adalah juga miliknya. Cuma memang kebanyakan seluruh pegawainya itu tidak ada yang pernah tahu dengan dirinya. Karena pria itu selalu mengutus seorang manager di masing-masing restoran miliknya, yang dipercayainya untuk membantu mengelola restoran miliknya.
Diam-diam Viona menyimpan senyum kecilnya, paling tidak ini tidak terlalu buruk dibandingkan dengan pria calon pilihan Haris itu.
"Mm, Ken. Tante mau ke toilet dulu ya?"
Tak lama setelah Viona beranjak dari tempatnya menuju Toilet, Keanu dan Sisil saling melempar tatapan tanda tanya.
"Sorry Ken, gue benar-benar nggak tahu tentang ini. Gue kira tadi tante Viona ngajak ketemu itu cuma pingin sekedar ketemu aja." Sisil langsung menjelaskannya tanpa pria itu menanyainya terlebih dahulu.
"It's okey, Sil. Mungkin ini sudah saatnya Tuhan membuka peluang ini buat gue. Thank's ya, udah pernah ceritain tentang gue ke maminya Ara."
Senyum ceria itu tentu terus terukir di bibir Keanu. Ia sangat tidak menduga cintanya itu akan menemukan jalannya sekarang, setelah sekian lama pria itu telah patah semangat karena kehilangan sosok Ara yang masih menjadi penghuni hatinya hingga saat ini.
__ADS_1
*