
Begitu Viona sudah selesai bertemu dengan Keanu, ia langsung pulang ke rumahnya. Sedangkan Sisil juga langsung kembali pulang ke rumahnya. Karena memang semalam gadis itu tidak pulang karena menemani Viona menjaga Haris yang masih berada di rumah sakit.
"Rudi!"
Viona langsung mencari keberadaan sopirnya itu, begitu ia sudah sampai dirumahnya. Sebab ia ingin segera menginterogasinya tentang keberadaan Ara. Wanita itu sangat yakin kalau selama ini Rudi tahu dimana keberadaan putrinya itu.
"Rudi!" Viona menemukan sopirnya itu sedang bersantai di taman belakang rumahnya.
"E-eh iya, Nya." Rudi tergesa-gesa menghampirinya.
"Ada apa, Nyonya?" Tanyanya sambil menundukkan kepala, begitu mereka sudah saling berhadapan.
"Kau jemput Ara. Bawa anakku pulang sekarang!" Viona langsung mengutusnya demikian. Ia sudah malas bertele-tele lagi jika masih harus menginterogasinya.
Rudi tertegun. Dari mana Viona tahu kalau selama ini ia tahu keberadaan Ara?
Wajah Rudi mulai terlihat gusar, sebab ia masih tak yakin atas perintah Viona. Sedangkan tuannya Haris belum memberikan titah apapun padanya tentang menjemput Ara kembali.
"Apa kau mau menunggu suamiku meninggal dulu baru kau mau menjemput Ara, hah!"
"Ta-tapi, Nya--" Rudi masih tidak yakin saja, ia takut jika tuannya sudah sadarkan diri nanti ia yang akan terkena imbas kemarahannya.
"Jangan bilang kau tidak tahu dimana Ara selama ini. Kau yang mengantarnya pergi kan?"
Rudi hanya tertunduk, lelaki yg sudah berusia hampir enam puluhan itu masih merasa bimbang.
"Tolonglah, Rudi. Suamiku kondisinya sudah begitu. Aku nggak mau Ara tidak tahu kalau papinya--" Viona tak kuasa meneruskan perkataannya.
Viona mulai menangis, ia menangis bukan sekedar sandiwara agar Rudi mau menuruti kemauannya. Air matanya itu mengalir begitu saja sebagai pertanda hatinya sudah tidak kuat lagi menahan rindu yang teramat kepada putri semata wayangnya itu.
"Baiklah, Nyonya. Saya akan menjemput Neng Ara kesini, juga dengan cucu Nyonya."
Tangis Viona semakin histeris saat mendengar Rudi menyebut kata cucu. Sebenarnya ia sendiri masih belum siap menerima kehadiran cucu yang tak diharapkannya itu, akan tetapi jika sekarang ia masih meninggikan egonya dengan tidak mau menerima anaknya Ara juga, tentu Ara sendiri pasti tak mau pulang jika anaknya juga tidak dibawa pulang.
Sekecewa bagaimana pun dirinya dengan Ara, ia juga tak bisa membenci buah hatinya itu. Dan perlahan ia juga akan belajar untuk menerima anak yang telah di lahirkan oleh Ara, sebagai cucu dari keluarga Rahardian.
"Cepatlah, Rudi." Viona berucap lagi, masih dalam isak tangisnya yang belum mereda.
"Baik Nyonya. Biar saya siapkan dulu mobilnya." Rudi langsung beranjak dari tempatnya.
__ADS_1
*
*
"Eeh.... Mbak Sisil sudah pulang?"
ART yang bekerja di rumah Sisil menyapa kedatangan anak majikannya, lalu kemudian ia berjalan mendekat ke arah Sisil yang hampir saja menaiki tangga untuk menuju kamarnya berada.
"Iya, Bi. Aku langsung ke kamar dulu ya?"
Gadis itu terlihat sangat lelah, makanya ia buru-buru ingin segera ke kamarnya untuk merebahkan diri di ranjang kesayangannya.
"Gini, Mbak, semalam tamunya Mbak Sisil nitip ini sama Bibi."
ART itu memberikan sebuah kartu nama yang Zayn titipkan kepadanya semalam. Sisil langsung menerima yang diberikan oleh ART nya itu, Ia membaca nama yang tertera di kartu itu, ZAYN MALIK PRATAMA.
Gadis itu seketika mengerutkan keningnya. Ia sudah tidak asing dengan nama depan orang yang memberinya kartu pengenal itu, cuma ia masih belum begitu yakin jika orang tersebut adalah Zayn.
"Makasih ya, Bi," ujarnya kemudian.
Perlahan Sisil melangkah menaiki tangga menuju kamarnya berada, sambil sesekali ia memencet deretan angka nomor telepon yang tercantum di kartu itu. Ia sudah tidak sabar dan juga semakin penasaran, jangan-jangan semalam yang datang kerumahnya memang Zayn?
"Iiihh, apa-apaan sih ini! Ngasi nomor telepon, tapi nggak bisa dihubungi!"
Gadis itu sudah sebal sendiri. Ia pun berangsur turun lagi dari tangga itu untuk mencari keberadaan ART nya.
"Bibi," sapanya begitu ia menemukan ART nya itu sedang berada di dapur.
"Iya, Mbak Sisil."
"Apa semalam yang datang kesini ini orangnya?"
Sisil menunjukkan sebuah foto lelaki yang berada di ponselnya. ART nya itu terlihat berpikir sebentar, karena memang sedang mengingat-ingat wajah tamunya itu semalam.
"Sepertinya ia, Mbak. Cuma yang semalam itu sudah lebih gagah dari foto yang ini." Jelasnya.
Memang setelah Zayn menjadi orang terpenting kedua di Rahardian Group, pria itu menjadi berubah drastis. Di mulai dari tampilannya yang memang dituntut agar lebih elegant dan rapih. Apalagi semua itu juga ditambah dengan fasilitas lain yang dimilikinya.
Mata Sisil membulat sempurna saat mendengar jawaban dari ART nya itu, mulutnya pun tak terasa menganga saking syoknya mendengar bahwa benar semalam Zayn datang ke rumahnya.
__ADS_1
"Ada apa, Mbak? Mbak Sisil baik-baik saja?"
ART nya itu mengguncang pelan bahu Sisil. Gadis itu tersadar, lalu kemudian secepatnya ia pergi dari tempat itu untuk kembali ke kamarnya. Ia ingin secepatnya mengabari hal ini kepada Viona. Siapa tahu setelah ini tantenya itu mengurungkan niatnya itu mengenai rencananya ingin menjodohkan Ara dengan Keanu.
"Duuh tante Vi kemana sih."
Gadis itu terlihat berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, sebab panggilan bertubi-tubi darinya kepada tantenya itu belum di jawab sama sekali olehnya.
"Tante.... Pliiis, angkat dong tante."
Mungkin ini sudah ke lima kalinya ia mencoba menghubungi Viona, namun hasilnya tetap tiada jawaban darinya.
Tanpa mau mengulur waktu lagi, akhirnya Sisil mencoba menghubungi lewat nomor telepon rumah Viona.
"Mak Inah," sapanya ketika panggilannya itu dijawab oleh Inah, ART yang bekerja di rumah Ara.
"Iya, Mbak, ada apa?"
"Tante Vi ada nggak? Dari tadi aku udah nyoba ngubungi ponselnya cuma kok nggak di jawab-jawab ya?"
"Ooh, Nyonya Viona tadi langsung balik ke rumah sakit lagi, Mbak. Kalo hapenya bisa jadi tertinggal di kamar, atau Nyonya memang tidak mendengar telepon dari Mbak."
Hh, terdengar helaan nafas berat dari Sisil.
"Iya sudah, Mak Inah," Sisil langsung menyudahi panggilannya.
Sebenarnya ia sangat ingin menyusul tantenya lagi ke rumah sakit, cuma tubuhnya terlalu lelah sekarang. Biarlah, mungkin nanti sore ia bisa memberi kabar itu kepada Viona. Satu hal yang hari ini ingin Sisil lakukan ialah segera membersihkan dirinya lalu kemudian merebahkan diri di atas kasur kesayangannya itu.
*
*
Ayoo, ada yang kepo nggak Zayn kemana?
Coba tebak, apakah Zayn langsung pergi ke proyeknya atau masih mampir-mampir dulu yaa?
Silahkan komentar readersku...
Jangan lupa like dan vote nya juga yaa..
__ADS_1
Salam sayang dari Author MAY.s buat kalian readersku semua😘