
"Makasih, Ra." Tangan Zayn tiba-tiba melingkar sempurna di pinggul wanita yang tepat berdiri disebelahnya.
Ia membenamkan mukanya di perut wanitanya yang ternyata tak ada penolakan lagi darinya.
Ara terdiam. Ia pun tak paham lagi dengan hati dan tubuhnya yang tak singkron. Sekelibat bayangan masa lalu saat bersama dengan Zayn seketika melintas lagi. Membuat perasaannya kembali bergejolak, apalagi saat teringat kejadian saat dirinya diusir oleh Haris saat itu.
Wanita itu mencoba melepas tangan Zayn dari pelukannya, yang ada pria itu malah semakin mengeratkan lingkaran tangannya.
"Maafkan aku, Ra. Maaf..." Zayn tak pernah bosan memohon maaf itu dari Ara. Samar-samar terdengar suaranya yang parau, pria itu menangis lagi.
"Aku sudah memaafkanmu." Akhirnya Ara mengungkapkan apa yang seharusnya ia katakan.
Seseorang pasti pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya, dan jalan damai satu-satunya adalah mencoba memaafkannya. Meski tak akan pernah bisa kembali seperti dulu lagi.
Itulah yang sedang dirasakan oleh Ara saat ini. Ia tak mau terus menjalani kehidupannya dengan hati yang penuh dendam. Memaafkan seseorang yang pernah menyakiti atau mengecewakan, mungkin sangat berat. Akan tetapi jika ingin hidup menjadi lebih tenang, maka ia harus bisa memaafkannya. Lebih tepatnya belajar memaafkan.
Zayn menengadahkan kepalanya menatap Ara, masih dalam posisinya yang tetap memeluk wanita itu. Matanya terlihat sembab oleh karena air mata yang menetes. Senyumnya terukir indah ketika mendengar kata ampunan maaf dari wanitanya itu.
Perlahan Ara melepas tangan Zayn dari tubuhnya, dan pria itu kini mau melepasnya.
"Aku sudah memaafkanmu. Jadi aku mohon jangan ganggu hidupku lagi. Aku ingin tenang tanpa bayangan masa laluku. Aku harap kamu mengerti dengan ucapanku." Ara berkata penuh penekanan.
"Tidak, Ara!" Pria itu terus menggelengkan kepalanya, masih tak percaya dengan apa yang telah diucapkan oleh wanita itu.
"Aku sudah memaafkanmu. Kita sudah impas. Lupakan semua yang pernah terjadi diantara kita. Ku mohon..."
Zayn tak dapat berucap apa-apa lagi. Hatinya terasa sangat sakit saat mendengar permintaan dari wanitanya yang tak kan sanggup ia wujudkan. Tubuhnya yang masih belum sehat, tentu bertambah lemah seiring dengan perasaannya yang tersakiti.
Pria itu menangis lagi, dan semakin menjadi. Bahkan ia memeluk wanita itu lagi semakin posesive, meski Ara terus mencoba melepasnya namun percuma. Karena Zayn telah menguncinya dengan lingkaran tangannya yang mengerat.
"Apa lagi yang kamu mau dariku? Kamu minta maaf, aku sudah memaafkan. Aku hanya meminta jangan dekati aku lagi. Itu saja Kak!"
Baru kali ini Zayn mendengar Ara menyebut panggilannya, setelah selama ini ia bercakap tanpa mau menyebut namanya.
__ADS_1
"Aku nggak bisa, Ra. Aku nggak sanggup!" Zayn berkata sambil membenamkan wajahnya lagi di perut wanitanya.
"Jangan begini, Kak." Wanita itu sedikit mendorong bahu Zayn karena merasa risih dengan perlakuannya yang tentu menimbulkan sedikit rasa geli.
"Tidak! Kamu jangan pergi. Aku nggak mau jauh dari kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu lagi. Ku mohon, Ra." Suara pria itu semakin terdengar berat karena ia berucap sambil berderai air mata.
Ara mengangkat wajah Zayn yang sedari tadi mengendus perutnya. Terlihat pria itu sedang tidak baik-baik saja, tangan Ara yang menyentuh pipinya pun sangat merasakan kalau suhu tubuh Zayn sedang demam.
Ia pun perlahan menghembus nafas beratnya berulang. Menganggap apa yang diracau Zayn mungkin karena efek tubuhnya yang sedang demam tinggi. Maka perlahan wanita itu melepas tangan Zayn yang melingkar di pinggangnya, masih dalam tatapan yang saling bertautan.
Zayn menurut saat Ara melepas pelukannya, ia pun berdiri dan terus menatap lekat netra wanita itu. Sesaat mereka hanya saling terdiam dalam pandangan mata yang begitu lekat.
Zayn dapat melihat jika wanita itu masih belum bisa membuka hatinya kembali kepadanya. Berbeda dengan yang dilihat Ara, ia masih bisa merasakan cinta itu begitu kuat dari sorot mata Zayn. Akan tetapi hatinya terlalu angkuh untuk membuka kembali rasa cinta itu darinya.
Cup.
Seketika Zayn mendaratkan ciumannya di bibir wanita yang selama ini ia rindukan. Ia melu matnya dengan begitu rakus dan semakin dalam. Sungguh Ara sudah tidak bisa terlepas dari tautan bibirnya itu, karena pria itu menyesapnya sedikit lebih kasar sambil menahan tengkuknya agar pagutannya tidak mudah terlepas.
Ara pasrah, namun ia tidak mengikuti permainannya. Ia diam bukan berarti rela begitu saja. Ia hanya ingin membiarkan pria itu melakukan itu hingga puas sendiri, sebagai imbalan ciuman terakhir darinya sebelum semuanya berakhir.
"Kak!" Sekuat tenaga Ara mencoba menahan tubuh Zayn yang ambruk.
Wanita itu tentu kebingungan sendiri harus bagaimana yang akan ia lakukan. Perlahan ia pun menyeret tubuh Zayn untuk di rebahkan di sofa yang ada di ruang tamunya.
Setelah berjuang seorang diri akhirnya Ara berhasil membawa tubuh Zayn tidur di sofa tersebut.
Sorot matanya begitu panik melihat Zayn yang tiba-tiba pingsan. Ia pun dengan sigap mencari minyak angin di seluruh ruang apartemen itu, namun yang dicarinya ternyata tidak ada.
Kembali ia melihat kondisi Zayn dengan begitu cemas. Tangannya terulur untuk menyentuh keningnya, merasakan suhu tubuhnya yang semakin panas.
Beralih ia menuju dapur untuk mengambil air agar bisa mengompres dan menyeka tubuh Zayn. Harapannya agar pria itu bisa segera sadarkan diri. Setelah apa yang diambilnya selesai, ia pun mendudukkan diri disamping pria itu sambil memulai mengompres tubuhnya dengan telaten.
Sebuah handuk kecil sudah berada di kening Zayn, tinggal tubuhnya yang belum ia kompres. Tanpa ragu lagi ia memasukkan tangannya yang memegang handuk kecil di balik baju pria itu. Ia melakukannya semata karena ingin menyelamatkannya, bukan karena hal yang lain.
__ADS_1
Hingga sampai beberapa menit kemudian masih belum ada tanda-tanda pria itu akan sadarkan diri. Ara merasa lelah, tak tahu harus berbuat apalagi. Untuk sekedar menghubungi dokter Rima lagi ini sudah terlalu malam.
Ia pun sempat bertanya sendiri dalam hatinya, mengapa Zayn bisa sampai terkena sakit seperti ini. Apa karena memang pola hidupnya yang tak baik, atau karena pikiran yang stress hingga membuatnya sakit begini.
Sesekali wanita itu menguap tak kuat menahan rasa kantuknya yang melanda. Ia masih berusaha untuk tak tertidur di sana, akan tetapi rasa lelah tubuhnya membuat wanita itu mudah terlelap saat matanya tak sengaja ia pejamkan.
Satu jam kemudian...
Zayn tersadar. Ia mengerjapkan matanya berulang-ulang mencoba mengingat apa yang terjadi padanya. Hingga pada ia teringat saat ia mencium Ara dengan sangat rakus. Ia pun terlonjak kaget karena merasa sudah ditinggal pergi oleh Ara. Tapi ternyata wanita itu sedang tertidur tepat disampingnya.
Senyum Zayn mengembang lagi saat menyadari wanita itu tertidur sambil menggenggam tangannya. Seandainya saja Ara mau membuka kembali hatinya, tentu hal seperti ini akan selalu ia dapatkan darinya.
"Aku mencintaimu, Ra," ungkapnya sambil mengusap pelan kepala Ara yang berbantal lengannya sendiri.
Hingga membuat wanita itu terbangun dan seketika tersenyum saat melihat Zayn yang sudah sadarkan diri.
"Sejak kapan kamu sudah sadar?" Tanyanya langsung.
"Baru saja." Tangan Zayn masih tetap membelai kepala wanitanya dengan lembut.
"Baiklah. Kalau begitu aku pulang." Wanita itu mulai beranjak namun lekas dicegah lagi oleh Zayn.
"Ini sudah malam. Kamu tidurlah di kamar temani Ziyyan. Aku akan tidur disini."
Seketika Ara mengerutkan keningnya.
"Hanya malam ini, Ra. Setelah itu aku nggak akan minta apa-apa lagi sama kamu."
Akhirnya wanita itu menyetujui permintaannya setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan pria itu padanya.
Lalu Ara pun segera masuk ke kamar untuk menemani Ziyyan di sana. Ia pun segera merebahkan tubuhnya disamping anaknya dan segera terlelap kembali saking lelahnya.
Zayn masih termenung. Pikirannya kembali terngiang akan kejadian sebelum ia pingsan. Sesaat senyumnya menyungging tipis ketika sekelibat akal modusnya tiba-tiba muncul dibenaknya.
__ADS_1
*Bersambung