Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 106


__ADS_3

Zayn melangkah menuju ke kamarnya sekedar ingin memastikan kalau Ara dan Ziyyan sudah terlelap. Perlahan ia membuka pintu kamar yang rupanya tidak terkunci, ia masuk secara mengendap agar tidak membangunkan tidur dua orang yang begitu ia sayangi.


Senyumnya selalu mengembang begitu menyaksikan keduanya yang tidur saling berpelukan. Andai saja diantara mereka sudah terikat pernikahan, tentu ia juga berada satu kasur dengan mereka.


Cukup lama pria itu berdiri sambil memandangi keduanya tanpa bosan. Angan-angan tentang membina rumah tangga bersama wanita itu terus saja menggoda benaknya. Hingga akhirnya lamunannya itu terpaksa buyar karena bunyi ponselnya yang berdering.


Zayn langsung sigap mengambil ponselnya yang kebetulan tergeletak di atas nakas samping ranjangnya. Ia terpaksa segera menolak panggilan itu karena takut Ara ataupun Ziyyan terbangun.


Akhirnya pria itu memilih keluar dari kamarnya, berniat ingin menghubungi ulang orang yang telah menghubunginya itu.


"Assalamu'alaikum, Pak," sapanya sopan begitu telponnya dijawab langsung oleh Haris.


"Wa'alaikum salam, kau sudah sehat, Zayn?" Haris langsung menanyai keadaannya.


Zayn terdiam sejenak. "Dari mana pak Haris tahu kalau aku lagi sakit?" Batinnya bertanya-tanya.


"Jangan terlalu banyak pikiran. Makan yang teratur. Apa masih belum cukup istirahatnya dari pekerjaan di kantor?"


"Aah?" Zayn tergagap sendiri saat Haris menyinggung masalah pekerjaannya itu.


Setelah Haris memantapkan niatnya untuk memilih Zayn sebagai calon menantunya, Boss nya itu berubah lebih care terhadapnya. Berbeda dengan istrinya yang terlihat tak suka dengannya karena telah memilih Keanu sebagai pria pilihannya. Tanpa ia tahu bahwa ternyata maminya Ara kini telah berubah haluan kepadanya.


"Kau masih belum bilang bagaimana kondisimu sekarang? Apa masih sakit?" Tanya Haris lagi.


"Alhamdulillah saya sudah mendingan, Pak." Kilah Zayn agar tak membuat Haris banyak bertanya lagi tentang kondisinya sekarang.


"Kalau sudah mendingan kenapa Ara masih belum pulang?"


"Hah?!" Zayn terperangah lagi.


"Pak Haris tahu dari mana lagi kalau Ara ada di sini? Apa dia mengirimiku mata-mata?" Bathin Zayn semakin heran dan bertambah curiga.


"Hei, aku tahu kalau Ara mungkin menginap di apartemenmu. Tapi awas saja kau curi kesempatan lagi sama dia!" Kali ini terdengar suara Viona yang berucap kepadanya.

__ADS_1


Memang Haris sengaja mengeraskan suara panggilannya agar istrinya juga bisa mendengar percakapan suaminya dengan Zayn.


"Sa-saya...." Tentu yang dirasa Zayn saat ini seperti sedang mati kutu.


Sesaat terdengar suara Haris dan Viona saling menggerutu samar. Entah apa yang sedang mereka uringkan.


"Zayn." Haris menyapanya lagi.


"Iya, Pak."


"Sekarang Ara sama Ziyyan di mana?"


"Mm, mereka sudah tidur di kamar, Pak."


"Lalu kau tidur di mana?" Viona ikut menyela percakapan diantara mereka lagi.


"Saya tidur di luar, Bu. Maksudnya tidur di ruang tamu."


"Bukannya kamu lagi sakit, Zayn? Kenapa malah tidur di ruang tamu?" Haris bertanya karena merasa kasihan saja.


"Bukan begitu maksudku, Vi." Haris mencoba menenangkan kecurigaan istrinya itu.


"Ini kenapa malah mereka saling berdebat sendiri? Apa memang sengaja biar aku bisa mendengar perdebatan mereka?" Bathin Zayn semakin tak paham dengan tujuan Haris menghubunginya tadi.


"Zayn." Haris kembali menyapanya.


"Iya, Pak."


"Aku titip Ara. Tolong bersabarlah kalau dia masih belum memaafkanmu. Aku juga minta sama kamu untuk secepatnya berembuk dengan orangtuamu. Aku ingin kalian menikah secepatnya juga. Aku ingin kalian menikah dalam bulan ini."


Deg.


Menikah? Bulan ini? Mana mungkin? Ara saja tadi memintanya untuk tidak mengganggu kehidupannya lagi? Pria itu terdiam dengan segala kegundahan di hatinya.

__ADS_1


"Aku percaya sama kamu, Zayn. Berjanjilah! Kalau kamu akan menebus semua perbuatanmu yang dulu dengan membahagiakan Ara dan juga Ziyyan. Jangan kecewakan dia lagi. Dia sudah cukup menderita karenamu, karena aku juga." Suara Haris terdengar gemetar saat mengucapkan kalimat terakhirnya.


Setitik buliran bening seketika lolos keluar dari pelupuk matanya. Haris menangis, teringat akan keegoisannya dahulu terhadap putri semata wayangnya.


"Iya, saya berjanji, Pak. Saya janji, saya akan memenuhi permintaan anda." Pria itu berkata tanpa ragu lagi.


"Baiklah, kalau begitu kau istirahatlah biar lekas sembuh. Nanti kalau sudah sembuh segera kembali ke kantor. Banyak pekerjaan yang kau tinggal. Apa kau tidak kasihan sama asistenmu itu?"


"Baik, Pak. Akan saya usahakan untuk segera kembali ke kantor."


Sebenarnya Zayn tak begitu senang disuruh kembali bekerja di sana, karena poin terpentingnya saat ini adalah mengejar kembali cinta Aurora agar kembali bersemi kepadanya. Bukan kembali sibuk bekerja yang hanya akan menguras otaknya demi pekerjaannya itu.


Lalu tak lama setelah itu Haris menyudahi dulu panggilan telponnya. Zayn kembali termenung dalam waktu yang cukup lama. Terngiang akan permintaan Haris yang mendesaknya untuk bisa segera menikahi Ara.


Urusan berbicara kepada orangtuanya sudah tak jadi masalah lagi bagi Zayn, karena jauh sebelumnya orangtuanya memang mendukung perjodohan Haris terhadapnya.


Masalahnya kali ini adalah Ara. Bagaimana ia bisa menaklukkan hati wanitanya itu agar tak lagi menolak ketika dirinya melamarnya nanti. Rasanya ini masih akan sulit untuk menghadapinya, di saat wanita itu meminta dirinya menjauh seperti yang diucapkannya tadi.


Krucuk krucuk... Krucuk krucuk...


"Iiish, lapar!" Zayn mengusap-usap perutnya yang terasa amat lapar.


Zayn teringat kalau bubur buatan Ara masih belum ia makan tadi. Ia pun melangkah menuju meja makannya dan masih menemukan bubur itu di sana. Tak membuang waktu lagi segera ia melahap bubur yang tak lagi hangat itu. Perutnya sudah terasa sedikit lebih baik sampai tak terasa bubur itu sudah tandas. Lantas kemudian ia juga tak lupa meminum beberapa resep obat dari dokter yang memeriksanya tadi.


Setelah semua kegiatannya selesai Zayn kembali menuju ke kamarnya. Dilihatnya wanita itu tertidur sangat lelap. Sepintas akal modusnya kembali muncul menari-nari indah di benaknya.


Awalnya Zayn sempat ragu untuk melancarkan apa yang sedang berada di benaknya itu. Hanya jika ia tidak berani mencobanya, lantas dari mana ia bisa mendapatkan kesempatan itu.


Yach! Sleep Walking!


Istilah tidur sambil berjalan, alasan itu yang akan Zayn gunakan besok, jika wanita itu sudah terbangun dan protes macam-macam.


Tanpa ragu lagi Zayn melangkah semakin dekat ke arah wanita itu terbaring. Perlahan ia pun turut naik dan langsung tidur tepat disebelahnya.

__ADS_1


Apa yang akan terjadi besok? Kita lihat saja!


*


__ADS_2