
Pagi ini tibalah saatnya hari yang di tunggu-tunggu oleh peserta wisudawan dari Universitas Z, sebab di hari inilah mereka akan menggelar wisuda akbar yang akan mereka ikuti secara khidmat dan tentunya penuh dengan rasa kebahagiaan.
Senyum sumringah dari para wisudawan hari ini begitu ceria. Apalagi Tommy yang juga tak lepas dari senyum kebahagiaannya, terkenang kembali masa-masa kesulitan dirinya terhempas berulang-ulang dari revisi skripsinya.
Sedangkan Zayn, pria itu tak tahu harus berekspresi seperti apa saat ini. Antara harus senang atau sedih. Senang karena bisa lulus dengan predikat yang memuaskan di kampusnya, tapi juga merasa sedih karena akan terpisah jarak dengan kekasihnya setelah acara ini selesai.
Namun yang begitu kentara di raut Zayn yaitu rasa sedihnya. Pria itu hanya tersenyum ketika disapa oleh orang-orang di sekitar, namun kembali terdiam disaat semua orang beralih dengan kesibukannya masing-masing.
Ayah, ibu dan juga adik Zayn yang turut mendampingi acara wisuda itu tidak begitu mempermasalahkan dengan wajah kusut putra mereka. Sebab setahu mereka saat ini Zayn sedang tidak enak badan akibat muntah-muntah semenjak bangun tidur tadi pagi.
Untung saja pria itu masih kuat dan bisa berdiri di saat dirinya di panggil ke depan untuk menyampaikan pidatonya sebagai perwakilan mahasiswa yang meraih predikat Cumlaude tahun ini.
Rasa mualnya kembali melanda sesaat setelah dirinya selesai memberikan sambutan di depan. Zayn segera berlari menuju toilet terdekat, tak bisa kembali mengikuti gelar wisudanya secara khidmat.
Huek..... huek.....
Lagi-lagi Zayn memuntahkan isi perutnya yang sebenarnya sudah kosong terkuras. Gejolak di perutnya itu sudah mulai kemarin pagi di rasa, dan yang membuatnya heran gejolak itu akan hilang sendiri saat matahari sudah semakin panas.
Pria itu sampai-sampai tak terasa meneteskan air matanya saking tidak kuatnya menahan rasa mual yang begitu menyiksanya. Ia berdiri mematung di depan cermin, memandangi tampilan dirinya yang sudah acak-acakan. Sedikit menghela nafasnya perlahan setelah merasakan gejolaknya mereda.
Cinta, adik Zayn merasa cemas dengan kondisi kakaknya. Makanya ia berencana menyusul kakaknya dan mencarinya ke tempat yang masih asing bagi gadis remaja itu.
Langkah Cinta semakin jauh dari gedung tersebut, gadis bertubuh mungil itu masih saja berusaha mencari keberadaan kakaknya tanpa menanyai kepada orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Alhasil, Cinta sepertinya kesasar dan tak tahu lagi arah untuk kembali ke gedung tempat acara wisuda itu di gelar.
Ia pun mulai berlari kecil tanpa melihat sekitar disaat mendapati tatapan nakal dari beberapa lelaki yang memandanginya. Rasa was-was begitu kentara di raut gadis yang masih remaja itu, hingga akhirnya....
"Aduh!"
Cinta menubruk tubuh seseorang yang sedang membawa segelas es cappucino di tangannya, hingga membuat baju yang di kenakan Cinta dan pria yang kini menatap Cinta dengan heran, menjadi kotor dan basah.
"Yaaah, basah deh." Cinta membersihkan bajunya sendiri dengan tangan kosongnya, tanpa memperdulikan pria yang berdiri di depannya.
Setelah dirasa percuma tak bisa membersihkan baju yang sudah terlanjur kotor itu, akhirnya Cinta baru memandangi sosok pria yang masih saja berdiri menatapnya.
Mulut Cinta terperangah begitu menyadari sosok pria yang berdiri di depannya itu kali ini mirip seperti sosok idola K-pop yang di gemarinya.
"Oppa Jung Kook!" Cinta menutupi mulutnya dengan sebelah tangannya setelah menyebut nama tersebut.
__ADS_1
Pria itu hanya memicingkan matanya, lantas tersenyum geli mendapati pujian dari gadis remaja seperti Cinta.
"Ehem, Gimana nih?" Pria itu menunjuk bajunya yang lebih parah kotornya di banding dengan baju yang di kenakan Cinta.
"Ups, sorry." Cinta hanya menangkupkan kedua telapak tangannya kepada pria yang tak di kenalnya itu.
"Lagian kamu bocah ngapain keluyuran di kampus, heh?"
Cinta mengerucutkan bibirnya, ia tahu kalau dirinya masih berusia empat belas tahun, tapi ia tak pernah suka disebut dirinya adalah bocah. Padahal memang iya😄
"Mas!" Cinta memanggilnya membuat pria itu terbelalak mendengar sebutan dari gadis cantik dan imut seusianya.
"Eh, bukan. Om!"
Pria itu semakin membulatkan matanya mendengar sebutan Om dari Cinta. Sialan nih bocah!
"Apaa?!"
"Kamu ganteng deh. Kamu udah semester berapa?" Cinta malah mulai kepo terhadap sosok Jung kook menurut versinya.
"Mau tau aja!" Pria itu pergi, malas harus meladeni sosok cabe-cabean seperti Cinta.
"Keanu!"
Terdengar Sisil memanggil pria itu, terlihat senyum centil Cinta yang mendengarnya. "Hmm, jadi namanya Keanu."
"Baju lo kenapa?" Sisil menanyai penyebab baju Keanu yang kotor.
Keanu hanya menengok ke belakang, memandangi Cinta yang masih berdiri menatapnya.
"Ulah bocah tuh," ucapnya sambil menunjuk menggunakan dagunya.
Mendengar sebutan bocah lagi, Cinta mendekat ke arah Keanu dan Sisil yang berdiri tak jauh darinya.
"Hey, mas Keanu, dengerin yaaa.... Aku bukan bocah. Tunggu saja lima tahun lagi. Aku akan mencarimu disini!" Beralih Cinta yang pergi dengan segala rasa percaya dirinya setelah mengucapkan kalimat itu kepada Keanu.
"Oh my God!" Sisil tertawa terpingkal-pingkal setelah mendengar pernyataan gadis remaja yang polos itu berucap begitu yakin kepada Keanu.
__ADS_1
Sedangkan Keanu hanya bisa menggelengkan kepalanya, menatap heran pada gadis remaja itu yang sudah jauh pergi dari pandangannya.
Sedangkan di tempat yang lain.....
Zayn masih terdiam di dalam toilet itu. Pria itu tak lagi bergairah untuk kembali berkumpul mengikuti acara wisuda yang masih belum selesai. Perasaan gusar semakin melanda tatkala Ara, kekasihnya itu tak bisa di hubungi.
Berulang kali Zayn mencoba menghubunginya, namun nyatanya ponsel Ara sedang tidak aktif. Ada apa dengan Ara hari ini? Marahkah karena kemarin dirinya ingkar janji untuk bertemu? Atau, sakitkah?
Zayn terlihat berjalan mondar-mandir di dalam toilet itu. Meski selalu terdengar nada tidak aktif dari ponsel Ara, namun Zayn tak pernah putus asa mencoba menghubungi terus kekasihnya itu. Sebab saat inilah masa-masa terakhir mereka untuk bertemu. Rasanya pria itu semakin tak sanggup pergi mendapati Ara yang tiada kabar hari ini.
Padahal sebenarnya hari ini Zayn ingin mengenalkan Ara kepada kedua orangtuanya sebagai calon istrinya di kemudian hari, seandainya kekasihnya itu hadir seperti yang pernah di janjikan Ara bahwa gadis itu akan hadir di acara wisuda hari ini.
Nyatanya, sosok yang ditunggu kehadirannya itu tak kunjung datang dan tanpa kabar. Mungkinkah Ara balas dendam, karena kemarin telah membuatnya menunggu juga?
Yang pasti hari ini adalah menjadi hari tersedih bagi Zayn. Meninggalkan kota ini, berpisah dari kekasihnya hari ini juga, tanpa ada perpisahan yang bisa ia kenang selain kisah sedihnya hari ini.
Dering ponsel Zayn berbunyi, ternyata panggilan masuk dari Cinta.
"Abang di mana? Ayah ibu sudah nungguin abang di parkiran. Abang...!!!" Hanya terdengar lengkingan suara Cinta dari seberang, sedangkan Zayn hanya terdiam dengan langkahnya yang gontai menuju kedua orangtuanya menunggu dirinya untuk segera mengantar ke bandara hari ini juga.
[Kamu dimana, Ra?]
[Kamu kenapa?]
[Aku pamit, Sayang.]
[Tunggu aku datang kembali]
[Dan jangan pernah tolak aku lagi untuk menemui kedua orangtuamu setelah aku kembali nanti]
[ I love you Aurora]
[Love you more, my love Aurora]
[Segera balas pesanku jika kamu sudah membacanya]
[Aku selalu menunggu balasan darimu]
__ADS_1
Begitulah pesan yang Zayn kirim kepada Ara. Sebelum akhirnya pria itu pergi meninggalkan kampus ini, kota ini, dan juga cinta itu.
*