
Pagi masih sangat buta, matahari pun belum juga menampakkan sinarnya. Terpaan semilir angin itu terus saja menembus lewat jendela kamar yang sengaja dibiarkan terbuka oleh Ara.
Setelah semalam Ara membeli lima testpack itu, ia masih menunggu Sisil terbangun dulu untuk mencobanya. Semalam gadis itu berhasil terlelap walau hanya beberapa menit saja, perasaannya yang bimbang semakin menjadi setelah mimpi buruk juga datang menghadiri tidurnya.
Mungkin karena pikirannya yang tidak tenang, sehingga membuatnya mengalami mimpi buruk yang sangat ia takutkan jika menjadi nyata. Mimpi itu seakan mengisyaratkan bahwa dirinya akan berpisah selamanya dengan Zayn.
Matanya masih terus saja menatap pesan yang ia kirim kepada Zayn yang tak kunjung mendapat balasan. Seharusnya kekasihnya itu sudah sampai di tempat tujuan, tapi mengapa satu pesan pun darinya belum juga terbaca. Mungkin Zayn masih tertidur, begitulah gadis itu mencoba menjernihkan pikirannya yang sedang kalut.
Ara melihat pergerakan Sisil yang sudah terbangun. Ia memilih pura-pura masih tertidur. Semalam saudara sepupunya itu memang bermalam dirumahnya. Tak lama kemudian Ara melihat Sisil pergi masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya, hingga sampai pada Sisil sudah selesai dari kegiatannya di kamar mandi, Ara masih pura-pura terlelap.
Cukup lama Sisil berkutat di depan cermin untuk merias wajahnya, setelah itu ia mendekati Ara yang masih terlelap berbalut selimut tebal ditubuhnya.
"Ara." Sisil mengguncang tubuh Ara.
"Hmm...." Ara sedikit menggeliatkan tubuhnya.
"Gue ke bawah dulu ya, mau bantu tante Viona masak. Lo cepat bangun gih, entar ada kelas pagi. Telat tau rasa lo kena hukuman pak Benny." Cerocosnya tak ayalnya burung berkicau di pagi hari.
"Iya, Sil." Ara berpura-pura malas untuk bangun.
Setelah itu Sisil akhirnya keluar dari kamar Ara.
Ara masih terduduk di tepi ranjangnya, memandangi lima testpack yang sudah berada di genggamannya. Rasa takut tentu sangat jelas kentara dari wajah Ara yang tidak pernah merasa pernah berbuat hal intim yang membuatnya telat datang bulan. Kecuali kejadian malam itu yang membuatnya menaruh curiga hingga saat ini.
Dengan langkah penuh ragu, berharap ini hanyalah sebatas gangguan hormonal biasa, Ara pergi melangkah menuju kamar mandi untuk menguji coba hasil dari benda pipih kecil yg di genggamnya erat.
Tanpa menunggu waktu yang lama dua garis merah itu langsung muncul ketika Ara memasukkan testpack itu. Hingga ia ulang-ulang sampai pada testpack yang terakhir, semua menunjukkan hasil yang sama.
Seluruh tubuhnya terasa gemetar begitu mendapati kenyataan bahwa dirinya sedang positif mengandung. Kakinya seketika lemas tak sanggup menopang tubuhnya yang gemetar. Ia terduduk meringkuk di sudut kamar mandi itu, memeluk tubuhnya sendiri dalam tangisannya yang mulai pecah.
Ara menangis sejadi-jadinya, meratapi masa depannya yang telah hancur karena perbuatan yang tak ia sadari kapan ia pernah melakukan itu. Sedangkan tatapan matanya terus saja memandang tak percaya pada alat testpack yang berserakan di lantai kamar mandinya.
Tok tok tok....
"Neng Ara." Suara panggilan dari bik Inah, ART yang bekerja di rumahnya membuatnya harus menghentikan tangisnya yang sebenarnya tak bisa ia hentikan.
"Iya, Bi." Ara menyahutnya dari dalam.
"Sudah ditunggu tuan sama nyonya sarapan, Neng."
__ADS_1
"Sebentar lagi, Bi, atau suruh mereka tidak menunggu, aku masih agak lama, Bi."
"Baik, Neng." Bik Inah langsung keluar dari kamar anak majikannya itu, meski sebenarnya ia sedikit curiga dengan kondisi Ara yang di dengarnya bersuara serak, seperti sedang menangis.
Ara menatap wajahnya di depan kaca besar yang berada di kamar mandinya. Mencoba mengatur alur nafasnya agar tak begitu kentara ketika ia berkumpul dengan keluarganya setelah ini.
"Yah, bisa jadi testpack ini kadaluwarsa. Gue harus memastikan dulu sama dokter Rima. Tidak, Kalau nanti dokter Rima bilang sama mami papi akan kacau. Gue harus memastikan ini sama dokter yang lain." Ara berbicara sendiri sambil kembali memunguti testpack yang berserakan itu.
Setelah itu Ara segera melakukan kegiatannya di kamar mandi secepat mungkin, Gadis itu hanya melakukan riasan tipis di wajahnya ketika ia sudah berada di depan cermin riasnya. Lantas segera menyusul untuk sarapan bersama keluarga tercintanya.
"Sudah selesai, Sayang? sini cepat, kita sudah menunggu dari tadi." Sapa Viona. Ara langsung menggeser kursi duduknya di samping Sisil.
"Nanti masuk kelas jam berapa?" Haris bersuara.
"Jam delapan, Om." Sisil menyahut.
"Kalau begitu biar papi antar kalian." Haris menyapa putrinya yang hanya terdiam.
"Memangnya Om tidak sibuk?" Lagi-lagi Sisil yang bersuara.
"Tidak. Ayo kita sarapan," ajak Haris yang kemudian Viona langsung menyuguhkan menu yang tersedia di meja makan tersebut ke piring Haris.
"Bukan, Mam, aku masih mau makan di kantin nanti." Ara berbohong.
"Ehm, dia emang suka jajan siomay, Tante. Malah paling doyan." Sisil ikut menyahut.
"Pantesan bodynya udah agak melar." Viona menggoda Ara yang memang sedikit gemuk dari sebelumnya.
Memang sebelum ini selera makan Ara sangat aneh. Dirinya yang biasanya cukup makan sehari dua kali dengan menu yang memang diatur untuk menjaga tubuhnya yang langsing, akhir-akhir ini malah selalu ingin makan dan makan.
Kecuali saat ini yang membuatnya hilang selera makan karena dua garis merah itu.
Acara sarapan pagi itu sudah selesai, tibalah saatnya Haris untuk pertama kalinya mengantar putrinya dan keponakannya itu ke kampus tempat mereka kuliah sekarang.
"Ara," sapa Haris di tengah-tengah perjalanan menuju kampus.
"Iya, Pi." Gadis itu terhenyak dari lamunannya.
"Kamu dari tadi diem terus. Ada apa? Apa ada yang dipikirkan?" Haris sangat curiga dengan perubahan sikap putri semata wayangnya itu.
__ADS_1
"Gak ada, Pi. Ara cuma mikirin tugas dari dosen pagi ini." Ara berbohong lagi.
Sisil menatap heran kepada Ara. "Iya kah? Perasaan hari ini gak ada tugas apa-apa dari pak Benny."
Seketika Ara mencubit paha Sisil. "Lo lupa ya kalo pak Benny nyuruh persentase tugas proposal kemaren itu hari ini." Ara mengedipkan matanya ke arah Sisil.
Gadis itu mulai mengerti dengan isyarat itu dari Ara. "Oh iya ya, untung lo ingetin, Ra." Sisil mengikuti arahan Ara sambil tertawa yang di buat-buat.
"Papi kira kamu kepikiran masalah cowok."
Suara Haris membuat Sisil seketika menghentikan tawanya. Ia berbalik menatap Ara lagi yang berubah panik di saat Haris menyinggung masalah cowok.
"Belajar yang rajin dulu, Ra, Sil. Masa depan kalian ada di tangan kalian sendiri. Kalian akan menyesalinya nanti kalau kalian tidak menatanya dari sekarang. Urusan cari cowok itu nanti. Kalau kalian sudah mapan, maka pasti yang mendekati kalian nanti bukan orang-orang sembarangan."
Perkataan Haris bagai hantaman batu besar di hati Ara. Bagaimana jika nanti dirinya benar-benar dinyatakan positif hamil? Bagaimana dengan luka hati kedua orangtuanya nanti?
Diam-diam Ara kembali meneteskan air matanya lagi, meratapi nasib masa depannya yang sudah hancur karena telah abai dengan pesan papinya yang sangat melarangnya untuk berpacaran ketika masih sekolah.
Sisil menyadari Ara yang sedang menangis di sampingnya. Ia meraih tangan Ara, mengusap lembut punggung tangan saudara sepupunya itu. Mencoba memberinya ketenangan atas kebohongan yang selama ini Ara simpan dari kedua orangtuanya, bahwa dirinya telah melanggar aturan tersebut dan berpacaran secara diam-diam dengan Zayn.
Nyatanya tetesan air mata itu bukan karena hal itu lagi, melainkan karena sesuatu hal yang tidak Sisil ketahui kejadiannya.
Ara segera menghapus air matanya ketika mobil itu berhenti di depan pintu masuk kampus yang selama ini mereka mengenyam pendidikan di sana.
Setelah mencium takdzim tangan Haris, mereka sama-sama keluar dari mobil itu. Dan sesegera mungkin melangkah ke arah kelas mereka.
"Sil." Ara mencegah Sisil. "Gue titip absen hari ini ya?"
"Loh, emang mau kemana lo?" Sisil menanyainya heran.
"Gue ada urusan bentar," jawab Ara sambil langsung melangkah pergi.
Sisil hanya bisa menatap heran kepada Ara, tanpa mampu berkata apa-apa lagi atau mencegahnya sekalipun.
Ini adalah kesempatan bagi Ara untuk segera menuju rumah sakit. Dan kebetulan sekali ada taksi yang baru saja menurunkan penumpang. Ara langsung masuk ke dalamnya, sudah tak sabar untuk segera sampai di tempat tujuan.
"Semoga saja hasil ini tadi tidak benar," gumamnya sambil kembali menatap testpack yang ia simpan di dalam tas kecilnya.
*
__ADS_1