
Zayn terdiam menatap keluar kaca mobilnya. Pandangannya terfokus kepada jalanan ramai yang membawanya pergi ke bandara. Selama perjalanan itu Zayn tak berucap satu apapun. Hingga akhirnya ibunya benar-benar mencurigai perubahan sikap putranya tersebut.
"Kenapa, Nak?" Rahayu, ibu Zayn menyapanya sambil merangkul pundak putra sulungnya itu yang kebetulan duduk berjejer dengannya di kursi belakang kemudi.
Zayn hanya menghela nafas beratnya, sebentar ia menoleh kepada ibunya lantas kemudian kembali menatap keluar kaca mobilnya.
"Hmm, abang pasti lagi galau tuh." Goda Cinta yang duduk di kursi paling belakang, atau tepat di belakang Zayn duduk.
Zayn tak menyahut apa-apa, ia hanya mengacak lembut pucuk kepala Cinta yang sedang bergelayut pada leher Zayn dari belakang.
"Ayo, cerita sama ibu. Atau kalau kamu memang gak mau kerja di sana ngomong sekarang, mumpung belum berangkat."
"Tidak kenapa-napa kok, Bu." Zayn beralih menatap lembut sosok ibunya yang begitu sabar.
"Zayn." Malik, ayah Zayn yang duduk di kursi depan menemani sopir pribadinya, menyapanya.
"Iya, Ayah."
"Ingat pesan ayah, kalau kamu ingin sukses kamu harus berani susah, laki-laki harus kuat tahan banting."
Zayn memilih diam. Pria itu kembali fokus menatap layar ponselnya berharap pesannya di baca oleh Ara, namun ternyata masih belum terbaca juga oleh Ara.
"Wiih, abang punya pacar, Bu." Cinta yang ternyata ikut memperhatikan kegiatan Zayn itu, menangkap foto Zayn dan Ara yang terpasang di ponsel Zayn.
"Ish, kamu godain abangmu terus." Rahayu malah menepuk pelan tangan Cinta yang tetap merangkul Zayn dari belakang.
Sedangkan Zayn tetap bergeming saja. Ia semakin cuek terus memandangi foto Ara tanpa peduli lagi dengan sekitarnya yang memperhatikan sikapnya yang begitu heran.
__ADS_1
"Kapan mau di kenalkan ke kita?" Rahayu mengelus pundak putranya itu penuh kasih.
"Rencananya tadi, tapi ternyata gak bisa datang, Bu. Dia sakit." Zayn berbohong.
Rahayu tersenyum mendengar kejujuran Zayn yang telah mengakui bahwa dirinya sudah menemukan tambatan hatinya. Karena baru pertama kali inilah putranya tersebut memiliki kekasih, dan juga di usia Zayn itu sudah sepantasnya memiliki calon pendamping hidup.
"Lain kali kalau ada waktu kenalkan ke kita ya?"
Zayn mengangguk. Pria itu lantas menghela nafasnya, membuang segala beban yang selama ini di embannya dan dapat tersenyum lega ketika mendengar ibunya merestui dengan pilihan hatinya.
"Tapi kamu harus sukses dulu. Ayah tidak mau putra ayah belum jadi apa-apa sudah berani melamar anak orang." Malik bersuara.
Zayn terhenyak mendengar ucapan ayahnya. Bukan karena tuntutan untuk menjadi orang sukses, akan tetapi dirinya kembali teringat tentang peristiwa malam panjang itu. Bagaimana jadinya seandainya kini Ara mengandung, sedangkan keadaan dirinya masih seperti ini?
Pria itu mengusap frustasi wajahnya dengan kasar, mencoba menutupi dirinya yang sudah tak kuat menahan segala gejolak di dadanya. Dan setitik air mata itu kembali lolos menetes dari pelupuk matanya. Merutuki sebuah perbuatan yang menyisakan penyesalan yang amat dalam.
Zayn terkesiap, lantas ia menyapu bersih air mata yang sempat membasahi pipinya itu sambil tersenyum menatap adiknya.
"Abang."
"Hmm."
"Nanti kalo udah lulus SMA aku mau kuliah di tempat abang." Cinta mengucapkannya begitu semangat.
"Di Yogya aja, sambil jagain ayah ibu."
Seketika Cinta mengerucutkan mulutnya kepada Zayn. "Abang gak adil deh, entar kalo aku dah kuliah giliran abang sama istri abang yang jagain ayah ibu. Aku kan juga pingin kayak abang, menjemput oppa Jung kook aku disini." Cerocosnya, yang kemudian hanya di tanggapi senyum geli oleh ayah, ibu dan juga Zayn.
__ADS_1
"Belajar dulu yang rajin. Kurangi nonton oppa-oppa apalah itu." Malik kembali bersuara, Lelaki itu memang sangatlah disiplin jika mengenai pendidikan untuk anak-anaknya.
Seketika semua kembali hening ketika mobil itu telah sampai di bandara.
Karena jadwal penerbangan Zayn yang sudah mepet, maka pria itu tak bisa berlama-lama lagi untuk bersama dengan keluarganya. Setelah melepas pelukan perpisahan dari orang-orang terkasihnya itu, Zayn langsung menuju ruang waiting room. Melangkah dengan cepat namun begitu berat, teringat kembali akan kekasihnya yang tak kunjung ada kabar hingga detik ini.
*
Ara merasakan ada sesuatu yang mengganggu tidurnya, hingga membuatnya terbangun dengan ekspresi yang begitu kaget.
Gadis itu terlonjak duduk ketika teringat bahwa dirinya sedang ditunggu Zayn hari ini.
"Mau kemana, Sayang?" Viona yang sedari tadi duduk menunggui Ara menanyainya sangat khawatir, karena setelah subuh tadi putri semata wayangnya itu terkena demam yang cukup parah. Hingga membuat Ara tertidur pulas setelah mendapatkan suntikan vitamin dari dokter yang memeriksanya tadi pagi.
Ara meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakasnya. Ia terlihat sebal karena ternyata ponselnya dalam kondisi non aktif. Mungkin Viona yang melakukannya, karena tidak ingin istirahatnya Ara terganggu karena bunyi panggilan masuk yang bisa mengganggu tidur nyenyak putrinya tersebut.
Mata gadis itu melotot sempurna begitu menyadari ada banyak panggilan masuk dari Zayn. Berulang-ulang Ara mencoba menghubunginya namun ponsel Zayn sudah tidak aktif, mungkin kekasihnya itu sudah berada di dalam pesawat.
Ara sudah tidak dapat membendung buliran air matanya lagi ketika membaca pesan masuk buatnya dari Zayn. Gadis itu meringkuk memeluk kakinya, menangis terisak sejadi-jadinya. Kenapa harus sakit? Kenapa semua ini terjadi seakan-akan memang mengharuskan dirinya terpisah tanpa ada kata perpisahan dahulu?
"Kenapa, Sayang?" Viona menanyai Ara yang masih saja menangis.
Yang ada Ara tak menyahut apa-apa. Ia memilih kembali merebahkan tubuhnya yang dirasa masih pusing, menutupi tubuhnya dengan selimut tebalnya, menyembunyikan tangis kepedihannya itu di balik selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya.
Viona terdiam, ia membiarkan saja putrinya menangis. Mungkin lewat tangisnya itu sedikit membuatnya merasa lega nanti, dan tentu ia akan menanyai penyebab Ara menangis sendu hari ini di kemudian hari.
*
__ADS_1