Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 120


__ADS_3

"Kamu?"


Seketika Ara terlihat sangat tak suka melihat wajah gadis yang selama ini dekat dengan Zayn. Sedang raut gadis muda itu masih dibuat secentil mungkin didepan Ara, padahal sebenarnya ia sangat ingin memeluk calon kakak iparnya itu.


Narsih yang melihat kondisi yang sepertinya tidak baik tentu ia langsung membawa pergi Ziyyan masuk terlebih dahulu ke dalam rumahnya.


Disusul kemudian Ara yang juga ingin masuk kedalam rumahnya, akan tetapi Cinta sepertinya memang sengaja berdiri diambang pintu itu untuk menghalangi Ara.


"Awas kau!" Wanita itu mendorong kasar bahu Cinta, hingga membuat gadis itu terhenyak kaget mendapat perlakuan kasar darinya.


Ara sudah berada di ruang tamunya, namun disitu ia tak melihat Zayn maupun salah seorang dari keluarganya. Akhirnya ia pun melangkah lagi ingin mencari keberadaan pria itu di ruang keluarganya.


"Berhenti!" Cegah Cinta begitu Ara sudah hampir sampai di ruang keluarga yang mana semua keluarganya itu saat ini sedang berkumpul di sana.


Ara langsung menoleh tak senang. Tentu ia sudah tersulut emosi oleh Cinta yang seakan begitu berwenang mengaturnya di rumahnya sendiri.


Wanita itu pun akhirnya menghampiri Cinta yang masih belum beranjak dari tempatnya. Terlihat sorot mata nanarnya yang memandang gadis yang berdiri sambil melipat tangannya di dada dengan ekspresi begitu santai.


"Mau kamu apa datang kesini, hah!" Tanyanya sambil menunjuk bahu gadis itu sedikit menekan.


"Wouw, wples, Kak." Lagi-lagi gadis itu hanya berujar santai sambil menyebut sebutan yang Ara tak suka mendengarnya.


"Kau!" Meski Ara sudah tersulut api emosi, namun ia sadar harus bisa mencegahnya. Ia tak mau saja di cap sebagai wanita yang beraninya sama gadis bau kencur seperti Cinta.


"Dimana Zayn?" Ia pun akhirnya menanyakan keberadaan pria itu yang lantas mendapat respon gerakan kepala dari gadis itu yang menandakan jika pria yang dicarinya itu sudah berada dibelakangnya.


Seketika Cinta membalik badan Ara menghadap kebelakang dan tepat saat itu juga netra Ara dan Zayn saling bersirobok.


"Kalian bicaralah baik-baik. Aku akan menunggu keputusan kalian didalam," ujar gadis itu lalu kemudian langsung pergi menuju ruang keluarga. Membiarkan dua orang itu yang masih saja saling melempar tatapan yang entah untuk diartikan.


"What? Siapa dia? Berani-beraninya ngatur-ngatur aku di rumahku sendiri?" Wanita itu hanya bisa mengomel dalam hati.


"Ara," Zayn membuka suaranya sambil mencoba meraih tangan wanitanya.


Akan tetapi Ara langsung membalik badan dan keluar begitu saja. Pria itu terus mengikuti kemana Ara pergi, yang rupanya wanita itu menghentikan langkahnya di taman samping rumahnya.

__ADS_1


"Apa maksud kamu membawa dia kesini?" Tanyanya langsung begitu mengetahui Zayn sudah berdiri dibelakangnya.


Pria itu tersenyum dalam diam. Rupanya triknya itu sangat berhasil hingga membuat wanitanya terbakar cemburu seperti saat ini.


Lalu Zayn mensejajarkan dirinya disamping Ara yang sudah melipat kedua tangannya pertanda ia sangat sebal saat ini. Ia melirik sekilas pada wajah wanitanya yang begitu ia rindukan. Jangan berharap ada sedikit senyum kecil di sana, bahkan pria itu pun tak ditoleh sedikitpun olehnya.


"Aku ingin mengenalkan Ziyyan sama dia," ujarnya yang langsung membuat Ara menoleh kepadanya.


"Apa maksud kamu?" Tanyanya, masih ingin mendengar penjelasan detail dari pria tersebut.


"Iya. Aku ingin Ziyyan bisa lebih kenal sama Cinta." Zayn semakin menjelaskan.


"Cinta?"


Entah mengapa tiba-tiba hati Ara terasa begitu sakit setelah mendengar nama gadis yang berhasil mengusik ketenangannya akhir-akhir ini. Rasanya ia sudah tak kuat lagi menahan rasa yang membuatnya sesak dan kesulitan tidur nyenyak belakangan ini.


"Kalau kamu ingin mengenalkan gadismu sama Ziyyan, kamu tidak perlu repot-repot membawanya kesini. Kalian kan bisa saling bertemu di apartemen kamu." Wanita itu menghela nafasnya sebentar sebelum ia kembali melanjutkan uneg-unegnya itu.


"Dan juga selamat ya..." Ia pun memberanikan diri mengulurkan tangannya kepada Zayn.


"Bukannya kamu mengenalkan gadismu itu karena kalian akan segera menikah? Dia calon ibu tiri Ziyyan kan?" Tebaknya sendiri, yang sebenarnya dadanya terasa gemetar saat mengatakan firasat Zayn yang akan menikah dengan gadis itu.


Zayn hanya merespon prasangka Ara dengan senyum manisnya, yang membuat wanita itu semakin yakin jika pria itu benar-benar sudah berpaling darinya.


"Lepaskan!" Sergahnya begitu menyadari tangannya masih digenggam oleh Zayn.


Pria itu hanya menggeleng tanpa berucap apa-apa. Sedang bibirnya masih terus mengukir senyum yang membuat hati Ara semakin terluka karena mengira Zayn telah bahagia dengan gadis pilihannya itu.


"Lepas!" Ara kembali memohon setelah mendapati pria itu semakin mengeratkan genggamannya.


"Nggak mau!" Akhirnya Zayn bersuara.


"Sebenarnya mau kamu apa sih?" Ara sudah bertambah sebal.


Perasaannya yang sudah tak karuan itu semakin tak tenang setelah harus berlama-lama saling bertatap dengan pria yang berhasil membangunkan rasa cintanya lagi kepadanya.

__ADS_1


"Aku mau kamu minta maaf sama Cinta!" Zayn semakin menggoda wanitanya agar kembali terpancing cemburu kepadanya.


"Buat apa?" Wanita itu langsung bersuara tinggi, terlihat jelas raut keberatan itu darinya.


"Biar kamu tidak salah paham lagi sama dia..." Entah mengapa saat ini Zayn sangat suka melihat kecemburuan Ara yang belum juga mengakuinya.


"Salah paham? Siapa yang salah paham?"


"Kamu!"


Seketika Ara berkerut kening. Ia tak habis pikir saja dengan apa yang dimaksud Zayn saat ini.


"Kamu cemburu kan sama dia?" Tiba-tiba Zayn mendekatkan wajahnya kepada Ara.


Deg.


Denyut jantung wanita itu kembali berpacu lebih cepat. Ia tak suka suasana seperti saat ini. Suasana yang mampu membuatnya merasakan desiran pompa jantung yang berdetak diluar kendalinya.


Mencari aman akhirnya Ara memilih memalingkan wajahnya dari Zayn. Ia tak mau terjebak dengan perasaannya sendiri kepada pria yang sudah disangkanya telah memilih gadis lain.


Mendapati Ara yang begitu Zayn pun lantas kembali berdiri tegak. Ia pura-pura tak lagi melihat kepada Ara.


"Bilang saja kalau kamu cemburu. Susah amat!" Suara Zayn terdengar begitu santai saat mengucapkan perkataannya itu.


"Siapa yang cemburu?" Tentu Ara harus kembali saling bertatapan dengan Zayn.


"Kamu!" Zayn kembali menatap lekat netra wanita itu.


Sejenak mereka pun saling terdiam dengan tatapan yang masih saling beradu. Tersirat pancaran bahagia ditatapan Zayn, berbalik dengan Ara yang kesulitan menyembunyikan sakit hatinya itu.


"Cinta itu adikku, Ra," jelas Zayn kemudian, karena sudah tak tega terus terusan memancing rasa cemburu Ara yang sudah kentara.


"Apa!"


*

__ADS_1


__ADS_2