Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 133


__ADS_3

Entah karena apa penyebab pastinya seharian ini Ara masih sedikit dingin kepada Zayn. Yang pasti pria itu berusaha terus bersabar dan memakluminya, karena menurutnya mungkin penyebabnya demikian bawaan PMS saja.


Hingga pada malam tiba, saat mereka sudah menjelang tidur pun, Ara nyaris mendiaminya. Sudah berbagai cara pria itu berusaha mencairkan suasana bersama istrinya itu, namun rupanya masih terlalu bungkam untuk Ara mengatakan apa yang sebenarnya membuatnya demikian.


Ara sudah menempatkan dirinya berbaring dipembaringannya. Ia langsung memejamkan matanya begitu saja meski sebenarnya masih belum mengantuk. Sedangkan Zayn hanya bisa memandanginya sembari duduk ditepi ranjang.


Pria itu sudah sangat merasa jika istrinya itu sedang memikirkan sesuatu yang mungkin sangat mengusik pikirannya. Mungkinkah karena pernikahan yang terlalu mendadak ini, atau kah karena hal lainnya, semua itu tetap akan menjadi teka teki sendiri jika Zayn tidak menanyainya sekarang juga.


Perlahan Zayn turut merebahkan diri, dan rupanya kini Ara juga merubah posisinya dengan memunggungi Zayn. Sekali lagi, pria itu hanya bisa menghembus nafas beratnya, berusaha menyabarkan diri menghadapi istrinya yang masih belum mau terbuka kepadanya.


Dengan sedikit nekat, Zayn pun menggeser jaraknya lebih mendekat kepada Ara. Dan seketika itu pula tangannya melingkar begitu saja pada pinggang istrinya, menghirup wangi khasnya yang terasa menenangkan perasaannya.


"Sayang," sapanya lembut. Pria itu yakin jika Ara sedang pura pura tidur.


"Aku tahu kalau kamu sedang ada yang dipikirkan. Aku nggak akan maksa kamu cerita, kalau kamu nggak mau menceritakannya. Tapi paling tidak, jangan bersikap dingin seperti itu sama aku." Tangan Zayn menyingkap rambut Ara, mengeksplor leher jenjangnya yang menggoda untuk disesap.


"Kalau kamu mendiamiku begini, aku merasa bahwa yang membuatmu begini pasti karena aku. Iya kan?"


Pria itu melongok sedikit, rupanya Ara masih betah tetap membungkam dengan berpura-pura sudah terlelap.


"Sayang, kamu beneran udah tidur?" Zayn mengguncang pelan tubuh Ara.


"Aku minta maaf kalau memang benar karena aku kamu mendiamiku begini. Tapi kalau kamu nggak cerita, mana aku tahu salahku dimana?"


"Apa karena ini ya?" Dengan sengaja Zayn mengusap lembut bekas ukiran bintang pemberiannya yang bersemat dileher wanitanya itu.


Ara sedikit bergerak, tentu ia sudah merasa geli karena usapan pria itu. Apalagi hembusan nafasnya terasa begitu dekat, bagai menggelitik area sensitifnya yang terasa meremang.


"Ya sudahlah." ucapnya pasrah, kemudian pria itu melirik kearah ponselnya yang teronggok diatas nakas samping ranjangnya.


Pria itu kini menyibukkan dirinya dengan memainkan ponselnya. Mengecek beberapa hal penting yang harus ia siapkan besok sebelum berangkat lagi ke proyeknya.


Denting khas pesan masuk terdengar bertubi-tubi dari ponsel Zayn. Rupanya hal itu cukup menyita perasaan Ara, membuatnya kembali curiga dengan siapa suaminya itu sedang berbalas pesan.


Hingga pada sampai suara kekehan Zayn yang terdengar samar, namun sangat membuat Ara merasa semakin penasaran.


"Tidak mungkin dari Cinta lagi kan?" Ara membuka matanya, namun masih betah memunggungi Zayn.


"Sama siapa sih? Kayaknya senang banget." Monolognya lagi.

__ADS_1


Terasa pria itu bergerak mendekat lagi, dan secepatnya pula Ara memejamkan matanya kembali.


Rupanya bukan hanya bergerak mendekat, akan tetapi Zayn membalik tubuh Ara agar posisinya bisa telentang.


"Mau apa dia?" Deru nafas Ara tiba tiba berhembus tak keruan.


Terasa hembusan nafas Zayn yang semakin mendekat ke wajahnya. Aroma mint dari mulut pria itu terasa semakin mendekat dan sedetik kemudian bibir mereka saling bertemu lagi.


Cup.


Zayn mendaratkan ciumannya lagi kepada Ara.


"Sial! Beraninya dia mencuri start lagi," umpatnya kesal, tentu itu hanya suara hatinya yang menggerutu.


"Sayang, aku pulang sekarang." ujarnya yang berhasil membuat Ara membuka matanya, karena merasa heran dengan pamitnya yang mendadak disaat malam sudah semakin larut.


Pria itu langsung mengulaskan senyumnya, begitu mengetahui istrinya terjaga dan lagi lagi mendaratkan ciumannya kembali semakin dalam dan tentu menambah durasi ciumannya hingga sampai pada Ara mendorong tubuhnya karena sudah kehabisan oksigen.


"Kamu tidurlah." ucapnya sambil mengusap pelan cairan saliva dari sudut bibir Ara.


"Aku harus pulang sekarang juga. Good night.." Kini pria itu beranjak turun dari ranjangnya.


"Kenapa mendadak?" Pertanyaan singkat dari Ara membuat Zayn kembali menengok padanya.


Kini Ara sudah duduk sambil bersandar diheadboard ranjangnya, sedangkan matanya hanya bisa mencermati pria itu mengemasi beberapa pakaian kotornya.


Setelah selesai Zayn mendekat lagi kepada Ara, duduk memandanginya dengan tatapan yang begitu dalam.


"Aku pamit ya?" ujarnya lagi, sambil membubuhi kecupan singkat dikening wanitanya.


Ara masih bergeming. Rasanya ia ingin mempercayai suaminya itu dengan alasan yang telah dikatakan padanya, tapi entah mengapa hatinya masih terlalu curiga. Bayangan foto Zayn yang digandeng mesra oleh Bella terus saja mengusiknya.


"Kamu mau ikut aku pulang?" ajaknya, karena hanya melihat Ara yang tetap bergeming.


"Atau sekalian kamu ikut besok mengantar ibu Narsih."


"Tidak." sahutnya lemah.


"Tahu nggak, kamu begini nih bikin aku makin gemes." Zayn mencapit hidung Ara dengan kedua jarinya.

__ADS_1


Ara hanya menangkisnya pelan, lalu kemudian memberanikan diri menatap lekat pada netra Zayn.


"Pulanglah... Maaf, aku nggak bisa ikut atau mengantarmu besok." ujarnya kemudian yang cukup membuat perasaan Zayn sedikit mencelos.


Dengan gampangnya wanita itu membiarkannya pulang malam ini. Dan Zayn hanya bisa mendengus pasrah. Berharap akan ada drama dari istrinya yang akan mencegahnya pergi, rupanya itu masih nihil.


Akhirnya pria itu melangkah gontai keluar dari kamarnya, diikuti Ara yang juga menyusulnya dari belakang. Sebelumnya pria itu pergi masuk kedalam kamar Ziyyan untuk berpamitan, rupanya putranya itu sudah terlelap mengukir mimpinya.


Sebuah kecupan hangat ia sematkan dipipi Ziyyan sebelum akhirnya harus pergi lagi dan mungkin akan bertemu kembali pada dua minggu mendatang.


Zayn berpamitan juga dengan kedua mertuanya yang rupanya masih belum tidur dan sedang bercengkrama santai diruang keluarga. Haris yang sangat tahu jika menantunya itu akan kembali sibuk dengan urusan pekerjaannya besok, tentu langsung mengijinkannya pulang malam ini, agar bisa mempersiapkan sesuatunya yang harus dibawa besok pagi.


"Aku titip Ziyyan ya," ucapnya lagi begitu mereka sudah berdiri disamping mobil milik Zayn.


Ara hanya mengangguk. Tentu ia akan kembali dituntut kreatif agar bisa mengalihkan perhatian anaknya disaat merengek meminta bertemu dengan Zayn.


"Kalo kamu kangen, boleh kok susul aku kesana."


"Dih, Ge-er!" Wanita itu mencebikkan bibirnya, akan tetapi langsung ditangkap oleh Zayn dengan kecupannya yang melummmat.


Mmmph...


Ara melenguh, kehabisan oksigen lagi akibat pagutan suaminya yang semakin brutal.


"Makanya, sama suami jangan manyun begitu. Udah tahu suaminya gemes. Mau aku makan lagi?" Godanya sambil mengusap lembut bibir ranum Ara yang basah dan sudah menjadi candu baginya.


"Iiih... Sudah pulang sana." Kini wajah itu sudah sedikit merona, tak lagi tampak aura dinginnya seperti tadi.


"Masih kangen, nggak mau pisah jauh." Tetiba Zayn merengkuh tubuh Ara dalam pelukannya, dengan rengekannya khas bocah yang tak mau ditinggal pergi.


"Kalau kamu nggak berangkat kerja besok, bagaimana kamu bisa menafkahi aku sama Ziyyan."


"Waduh! Kenapa aku ngomong gitu? Yang ada dianya tambah geer entar." Ara baru tersadar jika dirinya baru saja keceplosan berkata lantur yang melintas dibenaknya.


"Aah... istriku." Zayn menangkup pipi Ara dengan kedua telapak tangannya. "Kamu dan Ziyyan memang selalu menjadi penyemangatku." tuturnya begitu senang.


"Aku pamit ya?"


"Hem..." Lalu kemudian Ara membalas uluran tangan Zayn dan kemudian menciumnya dengan takdzim.

__ADS_1


Kini Zayn sudah pergi. Tinggallah Ara yang masih mematung dihalaman rumahnya. Pikirannya pun kembali tersita dengan foto yang dikirim Keanu padanya. Sebelum ia menemukan kepastiannya, ia masih merasa was was dengan suaminya itu. Hingga pada akhirnya sebuah pesan singkat itu terkirim kepada Keanu. Wanita itu telah berencana ingin bertemu dengan Keanu besok, untuk menanyainya dari mana ia mendapatkan foto itu yang berlatar suasana didepan pintu apartemen Zayn.


*


__ADS_2