
"Bunda?"
Bocah itu langsung tersenyum senang melihat kedatangan Ara.
"Ziyyan, ayo kita pulang, Sayang?" Ara membungkukkan badannya bermaksud ingin meraih tubuh Ziyyan.
Akan tetapi bocah itu malah berlari kecil dan kembali masuk begitu saja, seakan tak begitu peduli dengan kedatangan bundanya yang datang menjemputnya.
Ara masih berdiri mematung di tempatnya. Wanita itu tentu merasa sangat heran melihat perlakuan anaknya itu.
"Ziyyan," Ara menyapanya lagi masih dari ambang pintu apartemen yang tetap terbuka.
Bocah itu kembali muncul. "Bunda, sini?" Tangannya melambai-lambai mengajak Ara ikut masuk ke dalam apartemen itu.
Ara sedikit merengut sambil langsung menggelengkan kepala kepada Ziyyan.
Lalu Ziyyan meraih tangan Ara dan sekuat tenaga kecilnya ia menyeret dan memaksa Ara untuk masuk ke dalam apartemen Zayn.
"Ziyyan!" Ara terpaksa melepas tarikan tangan anaknya itu.
"Bunda kesini mau jemput kamu pulang. Apa kamu sudah tidak kangen sama bunda?" Tanyanya sambil menatap netra kecil Ziyyan.
Seketika raut Ziyyan berubah sendu. Kepala bocah itu tertunduk, seakan merasa bersalah telah membuat bundanya marah kepadanya.
Ara pun berjongkok menyamai posisinya dengan tinggi badan Ziyyan. Ia memegang pundaknya sambil tersenyum manis kepadanya.
"Ayo kita pulang, Nak?" Tanyanya lagi.
Bocah itu langsung menggeleng. "Bunda, ayah sakit," ucapnya sendu.
Mendengar itu tentu tak membuat hati Ara tersentuh, meski raut wajah anaknya sangatlah sendu.
Ibu muda itu hanya bisa menghela nafas panjangnya. Lagi-lagi ia berusaha meyakinkan anaknya itu dengan apa yang akan diucapkannya setelah ini.
"Ziyyan, ayah kamu kan sudah besar, jadi dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri. Bisa minum obat sendiri, makan dan minum sendiri. Jadi Ziyyan nggak perlu sedih."
Yang ada malah bocah itu mulai mewek. "Tapi ayah sendirian nanti, Bunda," ucapnya sambil mulai menangis.
"Cup cup cup... Sudah, nggak usah nangis." Ara merengkuh tubuh mungil Ziyyan kedalam pelukan hangatnya.
"Kita pulang sekarang ya?" Ajaknya lagi.
__ADS_1
Seketika Ziyyan melepas pelukan dari bundanya itu, bocah itu kemudian kembali masuk bermaksud ingin berpamitan kepada Zayn yang saat itu sedang tidur di kamarnya.
Tak lama setelah itu, terlihat Ziyyan kembali datang menemui Ara sambil sedikit berlari dengan wajah panik yang begitu kentara.
"Bunda, Bunda! Ayah muntah!" pekiknya sambil menarik tangan Ara agar bundanya itu bisa membantu ayahnya yang sedang sakit.
Ara hanya melongo tak percaya. Akan tetapi setelah ia cermati dan mendengar sendiri ada suara seseorang yang sedang muntah dari dalam kamar, ia pun terpaksa mengikuti tarikan tangan Ziyyan yang menuntunnya masuk ke sebuah kamar yang Ara yakini itu adalah kamar tidur Zayn.
Huweek... Huweeek....
Terlihat Zayn yang memang sedang memuntahkan cairan dari dalam tubuhnya, berdiri di depan wastafel kamar mandinya. Bahkan pria itu tidak menyadari kalau ada Ara yang berdiri memandangnya saking parahnya rasa mual yang ia rasakan.
Setelah merasa sedikit mereda, pria itu akhirnya menoleh ke arah Ziyyan yang menatap dirinya dengan cemas. Sedang tak jauh dibelakang bocah itu ada Ara yang menatapnya dengan tatapan entah.
"Ara?" Zayn pun terkesiap begitu menyadari tambatan hatinya itu juga berada di kamarnya.
"Aku datang mau menjemput Ziyyan." Wanita itu langsung berucap pada inti maksud kedatangannya.
Zayn melangkah sedikit sempoyongan ke arah Ara berada. Kepalanya terasa sangat pusing, terlihat dari wajah pria itu yang begitu pucat. Entah sedang sakit apa ia sekarang, Ara sudah tidak begitu mempedulikannya.
"Ayah," Ziyyan berjalan beriringan dengan Zayn. Bocah itu melangkah sambil menggandeng tangan ayahnya seakan ia ingin membantu ayahnya berjalan agar tidak terjatuh.
Zayn menoleh kepada Ziyyan, tentu ia sangat bersyukur bisa memiliki anak yang cerdas dan juga peduli terhadap kondisinya yang sialnya kenapa harus sakit disaat bersama dengan Ziyyan.
"Ayah!" pekik Ziyyan sambil mulai menangis. Bocah itu sudah menyaksikan sendiri betapa menderitanya sakit yang di alami Zayn.
Dan Ara yang kembali melihat anaknya menangis, tentu mulai muncul rasa tak tega melihat Ziyyan yang demikian.
"Kamu sudah periksa ke dokter?" Ara mulai menanyai Zayn yang sudah tidak muntah lagi.
Zayn menoleh dan menatap heran kepada Ara yang terdengar sedikit lebih perhatian menanyakan kondisinya. Lalu pria itu tersenyum getir dan kemudian menggelengkan kepalanya.
"Ck! Ceroboh sekali!" Ara langsung keluar dari ruang kamar mandi itu sambil menggulir layar ponselnya.
"Dokter Rima, bisa datang ke apartemen sekarang? Nanti aku chat alamat lengkapnya."
Ternyata Wanita itu menghubungi dokter Rima, Dokter kepercayaan keluarga Rahardian.
Setelah menunggu kurang lebih satu jam, akhirnya dokter Rima sudah datang dan kemudian langsung memeriksa kondisi Zayn yang sedang berbaring lemah di ranjangnya.
"Asam lambung kamu sedang parah. Harus jaga pola makan, tidur, kalau bisa jangan stress." Dokter Rima berucap sambil mencatat beberapa resep obat untuk Zayn.
__ADS_1
"Ini resep obatnya. Diminum sehari tiga kali. Ingat, jangan telat minum obatnya. Suaminya dijaga loh, Ra, biar lekas sembuh."
Seketika bola mata Ara membulat sempurna begitu mendengar ucapan dokter Rima yang menganggap mereka adalah pasangan suami istri.
"Rese banget sih dokter Rima!" Wanita itu hanya bisa menggerutu dalam hatinya.
Dokter itu pun hanya tersenyum meski melihat perubahan air muka Ara yang sebal dengan ucapannya. Seakan ada hal baik yang harus ia infokan segera kepada Haris setelah ini.
Seakan tiada merasa bersalah, dokter Rima pun akhirnya berpamitan dan kemudian langsung keluar dari apartemen itu.
"Sini, aku yang akan beli obatnya." Lebih baik Ara pergi keluar membeli obat di apotek dari pada harus berlama-lama di satu ruangan dengan pria itu.
"Tidak usah. Aku sudah menghubungi security yang membelinya. Sebentar lagi pasti diantar."
Kebetulan Zayn memang sudah mengirim pesan ke pihak security apartemennya, membuat Ara kembali salah tingkah tidak betah berlama-lama berada di sana.
"Bunda, Bunda tidak mau tidur di sini?"
Bocah itu tiba-tiba saja sudah turut berbaring didekat Zayn. Senyum kecilnya terus terukir manis dari sudut bibirnya, berharap bundanya mau tidur satu kasur dengannya dan ayahnya juga.
Deru nafas Ara sedikit bergemuruh mendengar pertanyaan anak polosnya itu. Sebenarnya ia marah karena menganggap anaknya sudah tidak tahu diri menanyakan hal konyol itu. Akan tetapi semua itu tak harus ditampakkan mengingat keluguan dari wajah Ziyyan.
"Bunda harus pulang, Ziyyan."
Lebih baik segera pulang saja dari pada nanti anaknya itu akan menanyakan hal yang lebih aneh lagi.
"Kalau kamu tidak mau pulang bareng bunda ya sudah! Bunda pulang sendiri!" Ara telah siap beranjak dari tempatnya, akan tetapi...
Uweeee..... Uweeeee....
Bocah kecil itu langsung menangis histeris mengundang kepanikan dari kedua orangtuanya.
"Kenapa, Nak?" Zayn menanyainya dengan telaten. Akan tetapi bocah itu semakin histeris menangisnya.
"Kamu maunya apa, Ziyyan!" Ara sudah mulai tak sabar melihat anaknya yang lebih cengeng setelah bertemu dengan ayahnya.
"Iyyan gak mau pulang! Iyyan mau tidur sama ayah! Tapi bunda gak boleh pulang!" Bocah itu berkata dengan sangat lantang.
"Apa?!"
.
__ADS_1
*Bersambung
Tunggu-tunggu, lebih baik Ara setuju apa tidak ya? Silahkan kasi komentarnya ya readers... Jangan lupa Like dan vote nya juga😅