
Deru mobil terdengar berhenti di depan halaman luas milik kediaman Rahardian tepat saat jam menunjukkan lewat dari pertengahan malam. Setelah sekian jam lamanya Haris dan juga Viona menunggu kedatangan putri tersayangnya itu, kini mobil yang menjemput kepulangan anaknya itu telah berada di depan rumahnya.
Kedua orangtua itu berlari ke arah pintu utama rumah tersebut, mereka sudah tidak sabar lagi ingin melihat bagaimana kondisi Ara selama berada jauh dengan mereka.
Terlihat seorang wanita paruh baya turun dari mobil mewahnya itu, dia adalah Narsih. Lalu di susul kemudian seorang perempuan muda sambil membawa bocah laki-laki kecil yang berada dalam dekapannya juga turun dari sana, dia Aurora.
Viona langsung menghambur berjalan mendekatinya kemudian langsung membawa tubuh Ara ke dalam pelukan rindunya. Air matanya menyeruak begitu saja tanpa bisa di bendungnya lagi. Sedangkan Haris, papinya Ara itu hanya tetap mematung di tempatnya. Rasanya pria itu merasa sangat tertegun bahagia melihat putrinya yang datang dengan selamat membawa serta anaknya juga.
Haris bukanlah seorang ayah yang bisa kuat dengan keangkuhannya, sebab ia pun juga menitikkan air matanya merasa sangat bersalah dan menyesal karena telah mengusir Ara saat itu.
"Mami!"
Ara menyeru memanggil maminya itu, sambil tangisannya juga memecah darinya. Rasa rindu yang sekian lama hanya di pendam olehnya kepada orangtuanya itu baru kali inilah rindu itu terbayarkan. Saat ini kedua wanita itu telah larut dalam tangis bahagia bercampur rasa haru yang tak dapat di ungkapkan lagi.
Narsih dan Rudy yang juga menyaksikannya tak terasa ikut menangis juga. Suasana haru ini sungguh membuat keadaan menjadi dramatis. Sehingga dapat membuat semuanya menangis pilu menyambut kedatangan nona majikan rumah ini.
"Bunda.... Bunda..."
Ziyyan yang sedari tadi masih berada dalam dekapan Ara pun ikut terbangun. Mata bocah itu memandang heran kepada keadaan sekitar yang sangat asing baginya.
"Cucuku!" Viona langsung mengambil tubuh bocah itu kemudian memeluknya erat dan menciuminya dengan bertubi-tubi.
Ziyyan hanya terdiam. Meski dari raut wajahnya sepertinya ia merasa risih di perlakukan seperti itu oleh orang asing, akan tetapi bocah itu hanya terdiam saja. Tatapannya seakan penuh tanya, mengapa semua orang itu menangis sekarang?
"Mas," Viona melangkah mendekati suaminya yang masih mematung di tempat semula, ia membawa Ziyyan juga ke sana.
"Cucu kita, Mas, dia anaknya Ara." Seakan Viona memang sengaja mendekatkan bocah itu kepada suaminya, dengan harapan agar suaminya itu mau menyambutnya juga.
Haris memandang lekat pada bocah lelaki kecil yang juga menatapnya dengan rasa sedikit takut karena merasa tidak kenal dengannya. Lalu kemudian kedua tangan pria itu terangkat lebar, mengajak bocah itu masuk ke dalam pelukannya juga.
"Kemari Ziyyan, aku kakek Haris. Aku kakekmu, Nak." Pria itu berucap sambil tak terasa air mata yang semula di tahannya mengalir tanpa bisa di bendung lagi.
"Kakek kenal Iyyan?" Bocah itu mulai bersuara setelah mendengar Haris menyebut namanya tadi.
Haris mengangguk senang, lantas ia langsung mengambil tubuh Ziyyan yang semula berada dalam dekapan Viona. Haris sudah tentu tahu kalau anaknya Ara di beri nama Ziyyan, siapa lagi kalau bukan dari Rudy ia tahu nama itu.
Pria yang sudah menjadi kakek itu menangis sesenggukan sambil memeluk tubuh mungil Ziyyan. Bahkan sebelumnya ia masih belum menyambut Ara, akan tetapi dirinya merasa lebih kasihan dengan yang selama ini di alami oleh cucunya itu. Karena sikap keras kepalanya itulah sehingga membuat bocah kecil yang tidak tahu apa-apa itu turut merasakan dampak keegoisan darinya.
Melihat Haris yang begitu menyayangi Ziyyan, maka Ara berlari mendekat ke arah papinya itu berada. Ia bersimpuh di bawah kaki papinya itu, tangisnya memecah kembali mewakili rasa sesalnya yang telah ia perbuat dahulu.
"Bangunlah, Nak," seru Haris sambil sedikit membungkuk meraih bahu Ara.
Ziyyan yang merasa tidak enak dengan posisinya itu memilih turun dari dekapan Haris. Ia turut duduk bersimpuh menemani bundanya, jemari kecilnya terulur untuk mengusap buliran air mata yang mengalir dari pipi bundanya itu.
"Bunda jangan nangis. Iyyan juga sedih, Bunda."
Akhirnya bocah itu ikut mewek juga melihat bundanya yang terus menangis sedari tadi. Dan tangisnya itu semakin menjadi tatkala Haris dan Viona turut bersimpuh dan memeluk erat tubuh Ara dan dirinya.
Saat ini mereka semua melepas rasa rindunya itu lewat tangis bahagianya. Melepas rasa bersalah itu dengan tangis ini pula. Seakan semua rasa yang selama ini hanya terpendam menyeruak bebas lewat tangisan dari mereka.
__ADS_1
"Semoga kebahagiaan ini selalu menyertaimu anakku Ara." Lirih hati Narsih sambil mengusap air matanya itu.
Di saat suasana haru itu masih terasa sendu, Rudy terpaksa pergi dari tempat itu karena tiba-tiba saja ponselnya berdering. Ia lihat dari layar ponselnya ternyata nomor asing yang menghubunginya.
Sebenarnya ia merasa malas untuk menjawab panggilan itu karena menganggap hanya sekedar telepon dari orang iseng yang menghubunginya di tengah malam. Akan tetapi karena panggilan itu terus menerus berulang maka membuatnya terpaksa untuk menerima panggilan itu.
"Ya, hallo!" Sapanya sedikit tak ramah.
"Ini pak Rudy kan?" Tanya suara seorang pria yang menelponnya.
"Iya. Kamu siapa?" Rudy masih terdengar ketus.
"Saya Zayn, Pak."
Zayn tahu nomor telepon milik Rudy karena nomor itu juga tertera di kertas yang di berikan Iwan padanya tadi. Pria itu terpaksa menghubungi Rudy setelah peristiwa naas yang hampir menimpanya selama perjalanan menyusul Ara.
Lima menit sebelum Zayn menghubungi Rudy ia mengalami kecelakaan tunggal akibat kelalaiannya yang mengantuk saat mengemudi. Bersyukur karena saat kejadian itu kondisi lalu lintas sedang sepi. Jadi membuatnya terselamatkan dari kecelakaan tunggal yang di alaminya.
Kondisi Zayn saat ini memang tidak kenapa-napa. Bahkan di tubuhnya pun tidak mengalami lecet sedikit pun. Mobil yang di bawanya pun juga dalam kondisi baik-baik saja. Hanya saja pria itu kini sedang shock saja dengan yang terjadi padanya, sehingga membuatnya terpaksa harus beristirahat sejenak agar tidak mengalami kejadian yang lebih parah lagi yang bisa jadi akan menimpanya lagi, jika ia memaksakan diri berkendara dalam kondisi yang lelah.
"Ooh, maaf Mas Zayn." Suara Rudy langsung berubah nada ketika tahu kalau yang menghubunginya adalah Zayn, COO di Rahardian Group.
"Tidak kenapa-napa, Pak."
Zayn dapat memaklumi kalau tadi Rudy terdengar kurang ramah padanya, karena memang dirinya yang tak tahu diri menghubungi sopir pribadi Haris itu pada jam tengah malam yang seharusnya semua orang sudah tertidur lelap.
"Ara masih sama Pak Rudy kan?" Zayn langsung kepada tujuannya menghubungi Rudy.
"Masih, Mas," sahut Rudy.
"Kenapa malah nanyain Neng Ara?" Pria itu hanya bertanya-tanya sendiri dalam hatinya.
Terdengar helaan nafas Zayn berhembus, pria itu merasa lega setelah mendengar jawaban dari Rudy.
"Oke, sekitar dua jam lagi aku sudah sampe di sana. Jadi tolong Pak Rudy jagain Ara, pliiiss... Jangan bilang sama dia kalau aku mau datang ke sana."
Rudy hanya terdiam dengan segala tanda tanya yang mulai merambat di benaknya. Ini kenapa Zayn begitu terdengar gelisah menanyai Ara? Apa sebelumnya mereka sudah saling kenal?
"Hallo, Pak Rudy?" Suara Zayn menyapa Rudy lagi yang hanya terdiam.
"E-eh iya, Mas," sahutnya kemudian.
"Baiklah, makasih banyak ya, Pak."
"Eh, tunggu dulu Mas." Rudy masih menyela lagi sebelum panggilan itu terputus.
"Kenapa, Pak?"
"Tuan Haris sudah membaik, dia sudah pulang kembali ke rumah."
__ADS_1
Sengaja Rudy menyampaikan hal itu kepada Zayn karena merasa Zayn harus tahu hal itu. Sebab memang Zayn lah yang membawa Haris ke rumah sakit saat itu.
"Syukurlah kalau begitu."
"Mas Zayn tidak berencana mau menjenguk Tuan lagi?"
"Mungkin lain waktu saja Pak Rudy, aku masih banyak hal yang mendesak. Sudah dulu ya Pak." Akhirnya Zayn menyudahi panggilannya itu.
Pria itu menerawang jauh menatap langit malam yang hitam pekat tiada satu pun cahaya bintang di sana. Ia terbayang lagi akan senyum indah Ara, senyum bahagia dari Ziyyan. Tiba-tiba saja ia merindukan kembali sosok anaknya itu.
"Tunggu Ayah datang menyusulmu, Nak." Bathin Zayn selalu melantunkan doanya itu.
.
.
"Ziyyan tidur lagi ya, ini masih malam loh." Ara memeluk tubuh anaknya yang sedari tadi terlihat gelisah berada di kamarnya.
"Iyyan tidak ngantuk," jawabnya sambil menatap keluar kaca jendela besar yang berada di kamar milik Ara itu.
"Tidurlah! Besok pagi Bunda ajak Ziyyan berkeliling di taman belakang rumah. Kita bermain di sana ya." Ara menciumi pipi anaknya itu.
"Ini rumah Bunda sama Ayah?" Tanyanya sambil beranjak duduk menatap ke sekeliling ruang kamar tempatnya tidur sekarang.
Ara menghembus nafas lesu, kenapa lagi-lagi anaknya ini harus mengungkit pria itu lagi?
"Bukan sayang, ini rumah kakek Haris sama nenek Viona. Rumah orangtuanya Bunda." Sepertinya Ara harus lebih giat menjelaskan hal ini kepada Ziyyan, mungkin saja anaknya itu masih merasa kaget dengan lingkungan asing yang kini ia tempati.
"Kalau kita di sini, trus Ayah gimana Bunda?"
"Iiissh, kenapa harus ayah lagi, ayah lagi, yang kamu tanyakan sih, Nak?" Ara hanya bisa mengomel sendiri dalam hati.
Meski sebenarnya ia sangatlah malas meladeni pertanyaan Ziyyan itu, tapi demi mental anaknya ia harus pandai-pandai menyiasatinya. Agar anaknya itu kelak tidak tumbuh menjadi anak yang minder tiap kali mendapati orang-orang menanyainya tentang dimana ayahnya.
"Ayah kamu harus kerja. Dia tidak bisa ikut kesini." Ara terpaksa berbohong lagi.
Raut wajah Ziyyan mulai sendu, entah apa yang tengah di pikirkan bocah kecil itu. Kini yang terlihat sorot matanya itu mulai berkaca-kaca, sepertinya bocah itu akan menangis lagi.
"Kemari, Sayang." Ara membawa tubuh mungil Ziyyan dalam pelukan hangatnya.
"Bukankah kita sudah terbiasa tidak ada ayah? Jadi Ziyyan harus kuat kalau ayah pergi lagi." Ara membelai lembut pucuk kepala anaknya itu.
"Iyyan mau ketemu ayah, Bunda." Akhirnya tangis bocah itu pun pecah di tengah keheningan malam yang menghembuskan hawa dingin.
Ara tak bisa menyahut apa-apa lagi. Ia hanya ingin anaknya itu segera terlelap kembali. Tangannya terus saja mengusap punggung Ziyyan yang menempel dalam dekapannya. Hingga perlahan-lahan akhirnya Ziyyan terlelap, terbawa kembali dalam alam mimpinya yang panjang.
"Maafkan Bunda Ziyyan," serunya sambil tak terasa air matanya kembali menitik dari pelupuk matanya.
*
__ADS_1