Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 49


__ADS_3

Sore sudah bergilir menjadi malam yang berselimut awan mendung. Seharian sudah Ara pergi tanpa tujuan. Langkah kakinya mulai lemah seiring dengan perasaan hatinya yang sangat kacau.


Gadis itu sengaja mematikan ponselnya agar tak ada lagi yang mengganggu pikirannya yang butuh untuk merenung. Meski sebenarnya ia masih berharap akan ada balasan pesan atau panggilan masuk dari Zayn, ia sudah merasa lelah. Lelah menunggu kabar dari kekasihnya yang seakan lenyap di telan bumi.


Mendung sore itu semakin tebal, angin pun perlahan mulai berhembus kencang. Malam ini ia ingin mendung itu tumpah menjadi hujan yang amat deras. Agar tiada lagi yang dapat mendengar jerit tangis penyesalan darinya, seiring dengan bunyi hujan yang mengalir deras.


Gemuruh di langit sesekali menggelegar, nyatanya masih tak membuat Ara menghentikan perjalanan panjangnya. Hingga tak terasa langkah itu harus berhenti karena tanpa ia sadari ternyata ia sudah berdiri tepat di depan pintu rumah Zayn.


Linangan air matanya kembali pecah tatkala ia mulai masuk ke rumah itu. Kemarin sebelum Zayn pergi, ia sempat menitipkan kunci rumah itu jika suatu saat nanti Ara merinduinya, ia bisa mengunjungi rumah kosong itu yang penuh dengan kenangan mereka.


Nyatanya bukan hanya kenangan manis yang pernah terjadi disini. Semua penderitaannya kali ini juga bermula di rumah ini.


Ara berteriak sepuasnya di dalam kamar Zayn itu. Sedang air matanya terus saja tumpah mengiringi rasa penyesalan yang tak mungkin kembali seperti di awal. Dan, kejadian di malam itu tiba-tiba muncul lagi di benaknya.


Mengapa semua itu harus terjadi? Mengapa lelaki yang sangat di percayainya itu tega merenggut kesuciannya ditengah ketidaksadarannya? Mengapa ia tidak berterus terang setelah melakukan itu?


"KAU PENGECUT ZAYN!!!"


Ara melempar tas kecilnya tepat ke arah foto Zayn yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya. Matanya menyorot tajam memandangi kaca figura foto Zayn yang sudah pecah di lantai.


"Pantas saja kamu memaksaku menerima lamaranmu. Ternyata kamu sudah melakukan hal biadab itu kepadaku Zayn. Aaaaarrrgh......." Tangannya kembali melempar foto itu ke sembarang arah.


Gadis itu terduduk meringkuk sambil mencengkram rambutnya sendiri. Ia semakin frustasi sehingga memukul-mukul sendiri perutnya yang sudah tertanam benih cinta Zayn.


"Kenapa kamu tidak jujur, Kak?" lirihnya pelan. Tenaganya benar-benar telah habis terkuras. Perlahan ia sandarkan kepalanya di tepi ranjang itu, menatap kosong pada ponsel miliknya yang teronggok begitu saja di lantai dingin itu.

__ADS_1


"Kamu di mana?"


"Aku butuh kamu."


"Jangan tinggalkan aku setelah apa yang sudah kamu perbuat kepadaku."


Lelah, kecewa, sakit hati dan penyesalan, semua itu tetap tak bisa membuatnya membenci Zayn. Pria itu benar-benar telah berhasil memiliki seluruh jiwa dan hatinya.


Ara berangsur meraih ponselnya lagi. Ia nyalakan kembali benda pipih kotak miliknya itu, berharap ada panggilan masuk dari Zayn yang nyatanya tetap nihil. Yang ada hanya beberapa pesan masuk dari Sisil yang menanyai keberadaannya saat ini.


Dering ponsel Ara berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari Sisil terpampang di layar ponsel miliknya. Ia memilih mengabaikannya, membiarkan saja panggilan itu berulang-ulang masuk di ponselnya.


"Kalo lo gak angkat telpon gue, gue gak akan bantu lo lagi. Gue akan bilang sama Om Haris dan tante Viona kalo lo punya pacar di kampus." Sebuah pesan masuk dari Sisil untuknya.


Ara terkesiap membacanya. Pesan ancaman dari Sisil itu membuat perasaannya semakin kacau.Jangan sampai Sisil membocorkan hal itu disaat kondisinya yang hancur seperti saat ini. Ara menghela nafasnya berulang-ulang, mencoba meredakan seluruh amarahnya ketika menjawab panggilan masuk dari Sisil yang terus saja berbunyi.


"Lo dimana sih, Ra? Gue telpon dari tadi ponsel lo gak aktif terus. Om Haris tadi jemput di kampus, dia nanyain lo tau."


Ara hanya terdiam mendengar ucapan Sisil.


"Untung gue dah biasa cariin alasan buat lo."


"Makasih ya, Sil." Ara bersuara sendu.


"Iya, iya, tapi jangan terus-terusan ngilang tanpa kabar gini dong." Suara Sisil terdengar sebal, karena memang dirinya sudah terlampau sering membantu Ara membuat alasan kepada kedua orang tua Ara disaat sedang keluar kencan dengan Zayn.

__ADS_1


"Sekarang lo jujur sama gue, sebenarnya lo di mana, Ra?" Sisil masih kepo tentang perilaku aneh Ara semenjak tadi pagi.


"Gu-gue......" Ara tak dapat berucap lagi. Sekuat apapun ia mencoba biasa saja kepada Sisil, luka hatinya teramat perih untuk ia pendam sendiri.


"Malam ini gue gak pulang, Sil. Gue bisa minta tolong gak, kalo mami atau papi nelpon lo nanti bilang aja gue nginep di rumah lo, bilang aja gue udah tidur." Ara bersuara sangat pelan, isakan tangisnya sudah bisa di dengar oleh Sisil.


"Ara, lo baik-baik saja kan?" Sisil mulai curiga.


"Gue baik, Sil. Gue minta tolong yang tadi ya," ujarnya lagi sebelum ia memutuskan panggilan teleponnya dari Sisil.


Ara kembali menangis. Dan ia pun kembali mematikan ponselnya. Biarlah kali ini ia akan menangis sepuas-puasnya hingga air mata itu kering tak tersisa. Hingga lelah itu melanda dan membuatnya terlelap di dalam tangisnya yang berangsur surut.


*


Keanu tak kalah panik ketika mendengar kabar itu dari Sisil. Pria itu sangat ingin mencari keberadaan Ara di tempat yang kemungkinan gadis itu singgahi. Raut gelisahnya begitu kentara di wajahnya. Dirinya yang sebenarnya belum sepenuhnya bisa move on dari Ara, sungguh tak dapat mengampuni perbuatan siapapun yang telah melukai hati dan perasaan Ara. Termasuk Zayn sekalipun.


Tangannya mengepal erat begitu teringat kembali akan penuturan Bella beberapa waktu lalu. Mungkinkah yang di katakan Bella itu benar adanya? Mereka pernah melalui malam panjang dan kini benih itu telah tumbuh di rahim Ara?


Sebab siang tadi ketika Keanu menjumpai Ara di rumah sakit, gadis itu berjalan dari arah jalan ruang dokter kandungan. Di tambah wajah Ara yang terlihat sangat sedih dengan matanya yang sembab, menambah keyakinan Keanu bahwa gadis itu sedang tidak baik-baik saja.


Berulang kali Keanu mencoba menghubungi ponsel Ara kembali, meski kenyataannya tetap sedang tidak aktif. "Dimana lo, Ra?" Desah hatinya yang mulai frustasi.


Keanu menoleh kepada mamanya yang sudah terlelap di atas ranjang pasien itu, ia kembali dilema. Antara pergi mencari Ara, akan tetapi tidak tega meninggalkan mamanya seorang diri di bangsal rumah sakit ini.


Yang akhirnya pria itu hanya bisa memanjatkan do'a, agar seseorang yang masih menghuni hatinya itu dalam keadaan baik-baik saja dimana pun dia berada.

__ADS_1


*


__ADS_2